Langsung ke konten utama

Postingan

ANAK JALANG MERAJALELA (4)

Ramainya jalan perkotaan Ditanami pepohonan pelindung Melawan panas menggigit Melawan polusi kendaraan berserakan Dengan cuek pengendara melewati Ada yang singgah tak kala kasihan Di perempatan lampu merah Menunggu nomor berganti Menyodorkan sedikit nafkah Melihatmu begitu lesu Memandangmu begitu loyo dekil Dengan pakian robek tak berbaju Tak bersandal di batas trotoar Sambil menggendong adikmu yang cacat Tertidur di belakang sarung Semangat bertahan hidup Sekolahkan adikmu Sembuhkan bunda menderita cacat Semangati ayah sedang buta Panjangnya barisan berjualan Menantang polesi bahasa Memasang muka kasihan Menyodorkan tangan kanan mengadah Setiap pengendara yang lewat Ada yang benci Ada yang mencaci Karena setiap saat melihatmu Karena tak mau pintu mobilnya diketuk karena tak mau dompetnya menipis Inilah hidup Yang mapan pertahankan gengsi Cara kotor dihalalkan Yang salah dibenarkan Yang miskin terus mecari Tanpa malu-malu Yang penting halal ...

NEGERI BERDURI (3)

Hajatan politik memanggil Gegap-gempita menjemput Saingan elit menanti Serangan partai-partai tak kala seru Menunjuk taring Menunjuk kekutan basis massa Serentak slogan berduyun Ramainya spanduk terpajang Di mobil di tempel stiker Di baju tergambar pose Mainan begitu menarik Menggaet suara beragam cara Katanya demi perubahan Katanya demi kesejahteraan Tunggulah rakyat Nasibmu ada di genggaman Kelak naik akan kami penuhi Senanglah rakyat Tak segan-segan memilih Karena ditaburi uang Ditaburi kesenangan materi Padahal hanya sesaat Mencuri pandang dekati rakyat Agar menang di tahun ini Katanya suara rakyat dibawa Semua atas nama rakyat Payah ini negeri Kalau rakyat dibawa lautan lepas Mendorong badan tenggelam masal Urus saja keselamatanmu Bikin pusing bawa beban berat Begitu bejatnya ironi negeri Begitu terkutuknya negeri berduri Uang yang kau janjikan Kesejahteraan yang kau acungkan Kemaslahatan yang kau gelorkan Sampai penantian tak kunjung ti...

MAINAN IMAJINASI (1)

Kata-kata gelap mengutuk Gelapkan pikiran Butakan analisis sastra Getarkan analisis sosial Getolkan kebencian Mainan imajinasi berlainan Ceritakan mimpi buruk Ceritakan masa silam Sedikit mengorek Sedikit menyedih hina Jangan tangung-tangung Tuangkanlah mainan Tulislah sepuasnya imaji Biarlah sesempit daun Biarlah sekering ranting Tapi kenapa banyak tersentuh? Banyak hinaan Banyak serangan Banyak olokan Itulah mainan imajinasi Besarkan tangan menggaet Tampunglah diksi Kumpullah durasi nyata Padukan bumbu melankolis Mainan imajinasi tetap berlanjut Lanjutlah terbawa buai Lanjutlah meraih dewa mimpi Agar kelak dibahas Agar kelak jadi bacaan menarik Makassar Senin, 1 Januari 2018 By: Djik22

TANGISAN JANUARI (2)

Gunung berapi mainanmu Dihiasi belerang Dihitamkan kabut Dinginkan tubuh jerih Januari telah datang Awali bergembira-ria Jangan takut Jangan ragu Kenapa menangis? Kenapa bersedih? Atau ini tangisan Januari? Terlalu berlalu cengeng Saatnya lembar disediakan Bukalah Lalu tulis penuhi lembar Tentukanlah dengan bijak Tentukan dengan teliti Makassar Senin, 1 Januari 2018 By: Djik22

MENUNGGU DETIK KOSONG-KOSONG

Setahun lalu akan bergganti Perputaran waktu begitu cepat Bak terbangnya pesawat Luncurnya ludar diluncurkan Hanguskan lautan manusia tak berdosa Hantamkan kecanggihan teknologi Ingin putar kembali waktu Ingin tersenyum Ingin gulingkan bantal keempukan Saat-saat manusia purba punah Saat-saat gencarnya demonstrasi Bagian kampus jadi tongkrongan Tamannya jadi diskusi Kantin dipenuhi aktivis Menggodok strategi Membedah polemik birokrasi Yang lalim Yang merampas hak mahasiswa Anak kandung yang ditirikan Miskin di tanah penyuburan Kurus di kebun berlimpah Jadi penyakit menjalar Jadi hama merambat Viruskan yang sehat Pengaruhi yang tegak berdiri Adakah lagi di tahun depan? Atau malah menambah keburukan Menjalarkan penyakit lama Lamanya bernamamakan aksen Bertuliskan detik-detik perlawanan Gulingkan pemerintah yang tamak Turunkan birokrasi bertahta Adakah? Adakah lagi generasi pelanjut? Renungilah Refleksilah menanti detik kosong-kosong Berikan kabar...

MENINGGALKAN BEKAS

Temui dalam perjalanan Bergandeng kekasih baru Munculkan kenangan Ingatan kembali kambuh Angkatan perintis Di jalan perintis dinamai Pertemuan yang lama Pertemuan dulu pernah terjadi Deretan peristiwa besar Deretan nostalgia Yang coba paksa dilupakan Dalam jujur bahasa hati Rasa itu masih tersimpan Kuasa ini masih terawat Meninggalkan bekas Seperti kaki raksasa Seperti tanduknya rusa Sekali tusuk berbekas Sekali luka tetap teringat Mau diapakan Kalau tak lagi milik sah Tak lagi kekasih setia Maka tak mau meninggalkan Bekas yang sama Menemukan yang baru Mencari pengganti sosok Tapi dengan sembunyi Supaya tak ada yang ketahui Biar diketahui di panggung Saat menjabat tangan Bertanda tangan sah pengesahan Makassar Minggu, 31 Desember 2017 By: Djik22

SELINGKUHI IDEOLIGI

Koar bermentalkan keberanian Meninggi omongan berlagak Padahal secuil didapat Padahal baru memulai Pemikiran ini Persembahkan jalannya taring Bukan mencari popularitas Bukan mencari sensasi Dimanapun tempat jadi cerita Dimanapun keadaan tetap perintah Selingkuhi tubuh kebugaran Selingkuhi pemikiran jenius Tapi ingat Jangan selingkuhi ideologi Jangan permainkan yang rapi Jangan jadi bunglon Jangan pertontonkan kepikunan Baik siang Malam Serta senja kehujunan Di tempat pesta Di atas ranjang pelukan mesra Di deretan barisan berkecimpung Inikah gaya anak muda? Inikah dibilang pelacur gagasan? Ataukah kritikus perampok? Jagalah tutur berkawan Jagalah tindakan memalukan Tundai dulu niat Kalau belum siap Kalau dibodohi cinta Kalau dikekang hubungan Makassar Minggu, 31 Desember 2017 By: Djik22