Langsung ke konten utama

Postingan

PERJUANGAN TERUS BERLALU (323)

Umat manusia pernah bersaksi Di bawah kolong senja berwarna Mengibas-ngibas angin kesulitan Beri dampak memutar pola bersih Sampai temuan baru menjadi arah Perjuangan dulu jadi mata sandaran Pijakan berdiri usaha para pelanjut Hingga tak mampu dikotori diri Dalam lamunan membara Sampai tak pojokan... Jadi selisih paham Perjuangan akan... Terus berlanjut kawan Tetap gandeng pupuk diri Hingga meraih kemenangan Yang diusaha dengan darah Sampai jatuh membasahi tanah Saksi mata banyak yang masih hidup Jadilah saksi sejarah pelanjut zaman Tak lekang oleh waktu terbatas Tapi usaha terus menggenjot Dari keadaan-keadaan sosial Membentuk kesadaran Makassar Selasa, 8 Mei 2018 By: Djik22

DIBESARKAN DENGAN KERINGAT (322)

Tanah subur ala sisa pertikaian Di sanalah tempat menuai harapan Ketika lama ditinggal para raja-raja Sampai kini hanya tinggal cerita purba Tanahmu terbentang luas tersenyum Banyak yang belum terjama tangan Dikotori, dijual, dijadikan bisnis Karena itu adalah larangan Nusa para air bah roh Aliri sampai pesisir Tempat bermain Para pelaut Aku, dia, mereka Sama-sama saudara Satu air susu ditimangan Kasih paling lembut mesrah Hingga selalu diajak pulang Menemui pangkuan benih surga Yang terapung di selat-selat api Kau besarkan dengan keringat linang Saat-saat peperangan belum usai Hingga bunyi teriakan serang Seperti ditusukan tombak Dihantamkan parang Yang tak gampang Menyerah hati Laut bersihmu Bagaikan catatan Pena tak habis tinta Alam indah pepohonan Ranting rindang menawan Tempat berlindung besarkan Raga tanah bermaharkan baja Sampai semangat menyala merdu Pegangan hidup pada kebenaran Makassar Selasa, 8 Mei 2018 By: Djik22

TIMBANGAN TANPA HITUNGAN (321)

Abjad amal baik telah dicatat Dengan tangan suci para malaikat Yang melaksankan tugas atas kuasa Hingga mengawal menuju kematian Ketika ditimbang baik dan buruk Segara ditebak atas perbuatan Selama berada dalam dunia Tempat persinggahan Sementara waktu Kali ini berbeda Timbanganmu lain Hingga tak terhitung Sudah berapa berhasil Dari tetesan perbuatan Atas kreasi tangan nakal Meminta gandeng penggoda Rasanya aku harus pergi jauh Tinggalkan segala kenangan ini Dari batas-batas ampuh menjalar Dalam edaran darah dan isi kepala Yang mulai penuh dengan bisikan laju Kalau memang betul hanya perbuatan Perlu ditimbang dari dua sisi nilai Hingga tak terjebak berpihak Pada kesalahan serupa Yang dipanggil tiba Dalam keadaan Belum siap Sedia Berilah Kesempatan Untuk perbaiki Diri dari niscaya Kelak bertemu tiba Dengan legah bicara Dengan lancar berkata Sesuai hitungan pekerti Dalam landasan merinding Makassar Senin, 7 Mei 2018 By: Djik22

DIGANTUNG PADA BATASAN KE SEKIAN (320)

Tanganku dan tanganmu Masih lancar menggenggam Tentang pembahasan berseri Yang kumulai dengan penanda Yang kau diakhiri dengan batas... Di tengah malam sepi tak bersuara Oleh satu golongan manusia peramal Sebenarnya angin ribut turut berduka Atas perlakuan gelombang suara Dengan volume pelan-pelan... Menerobos masuk di dada Saat kuberbaring santai Menunggu balasan Kata mutiara Dari tangan Melayu Diamku Mulai gila Diajak rayu Oleh tanyamu Pada alam semu Dunia berlarut di... Pikiran berlian hati Sampai tutupkan mata Seolah udara telah akhir Kuhirup sebagai pengganti Atas laku dan tindakmu layu Katamu sibuk memberi batasan Hingga berkata setuju pun berat Dalam timbangan tanpa hitungan Yang menghasilkan harapan salah Kenapa kau gantungku pada batasan? Bukankah ini yang ketiga kalinya? Atau lupa adalah alasan sibuk? Hingga aku larut dalam... Penungguan kerdil Yang tak bisa Berbuat Apa-apa Makassar Minggu, 7 Mei 2018 By: Djik22

Tiga Belas Memberi Kode #4 (319)

#Part 04 Foto latar: Aslin Hasdi Angin yang membawa kabar. Kuhirup dengan senangnya. Walau pun daerah perkotaan sudah dicampuri polusi. Tapi tak jadi soal. Ada rasa legah setelah perkataan terbuka yang pernah kulayangkan. Saat itu aku berkata di hadapan Fajar dengan sebuah pengakuan terburu-buru. Pengakuan tentang cintaku jatuh pada tulisannya. Tapi bukan pada Fajar. Ada rasa penyesalan ketika sendiriku dalam lamunan. Penghayalan seolah meminta kesempatan itu diulang lagi. Tapi nyatanya tak ada kesempatan datang untuk ke dua kalinya. Biar terus menunggu di kesempatan lain. Akan tetapi rasa itu tetap akan berbeda. Suhu dingin mengendapkanku dalam kegigilan. Sampai keringat dingin basahkan sebagian pakianku. Apakah aku terlalu memikirkan kenangan yang telah lewat? Atau karena demam rindu yang mulai berkuasa. Lalu bertahan dalam diriku yang harus diobati dengan pertemuan? Obat rindu tak ada yang dijual; tak ada yang di apotek mau pun di tempat-tempat para pedagang. Lantas bagaim...

Tiga Belas Memberi Kode #3 (318)

#Part 03 Foto latar: Aslin Hasdi Tepuk tanganmu sesekali dilakukan. Tetapi kumenghitung secara keseluruhan, maka sepuluh kali kau layangkan tepuk tangan untuk melambaikan. Menyapaku dalam keadaan sendiri di larutan jerit yang memanggil-manggil. Rupanya selaras dengan meminta izin pakai gambarmu di latar tulisan "Tiga Belas Memberi Kode" . Setidaknya sepuluh kali telah melewati satu angka sebagai tanda sukamu pada angka sembilan. Angka ganjil pertama setelah berselisih dengan sepuluh, sebelas, dan dua belas hingga menuju angka tiga belas sebagai kesukaan angka terakhir. Adanya tiga belas merupakan deretan sederhana. Hingga kepercayaan akan turun sebuah keajaiban untuk penyatuan ganjil dan genap. Biar hidup dipandang dari dua sisi. Yaitu, sisi baik/ buruk dan sisi genap/ ganjil. Hingga di bagian ketiga. Pelataran rumahku masih saja belum berpenghuni. Hanya kesendirian yang berteman sepi; berteman gundah masih bertahan menguasai. Sebab kesendirian adalah kenyamanan un...

PERSINGGAHAN (317)

Dua tahun lebih Kutinggalkan alam Tempat bernapas luka Hembuskan udara darah Begitu tragis pola keadaan ini Sampai bayang-bayang menakut Mengingat parang serta tombak tua Ketika diangkat tanda perang dimulai Perang karena sengketa dan perempuan Yang dipandang sebagai ketinggian Penghormatan atas jasa leluhur Dan penghargaan menjaga Walau dengan bayaran Darah dan air mata Sampai hilang Tanpa nama Dalam cerita Persinggahan Masih menambah Mengais pengetahuan Di tanah pemilik bertuan Yang kuhadir sebagai anak... Perantau negeri pulau Adonara Bila yang kusinggahi adalah tanah Yang kupijak adalah gersang mengeras Tetap namamu kubisik dan hormati Dalam langkah menuju istana Tak memiliki raja muda Sebagai panglima Penunjuk Makassar Minggu, 7 Mei 2018 By: Djik22