Langsung ke konten utama

TERIK MENYAPA (422)


Alun-alun perempatan
Terbentang rata dan ratap
Di pertengahan Pulau Pembunuh
Yang terus menguji sunyi

Ternyata...
Ramai begitu lugu
Dalam budaya menyala
Pada merah darah mendayu

Tetaplah mendayu
Sampai gelombang  tepi dermaga
Tempat menuju kembali
Kala kaki telah bersatu

Belum lagi...
Tanganmu menyapa kata
Sebagai sakral atas tanah
Air mata darah hunian surga

Surupa surga yang hilang
Tenggelam kembali tampak
Negeri para raja
Dari penjuru ke penjuru

Kenapa kau menyapa?
Oh... nusaku yang damai
Sejukan jiwa dalam duka
Riangkan hati kala luka

Ajaklah aku tetap berpijak
Di tanah bumi penghuni keramat
Kala kata dan bahasa dirajut adat
Sampai terik menyapa senja


Waiwerang
Jumat, 29 Juni 2018
By: Djik22

Komentar