Langsung ke konten utama

LUKA YANG TIADA BERUJUNG [9]

Ada saatnya kita saling memaafkan
Pada suatu ketika yang terjadi
Pada sebuah masalah kesedihan
Di cahaya buram berkali-kali

Nampak jelas di bola matamu
Dialiri dengan air mata
Lewat angin dan udara
Lewat ruang waktu yang menunggu

Hingga dermaga penunggumu
Menjadi buram kemudian samar
Dari yang terang ke gelap pijar
Berkisah tentang luka dan laku

Maka...
Maafkanlah laku kaku ini
Dari hari ini
Untuk mewakili segala rasa

Karena cinta juga menyatukan kita
Cinta juga membelah kita
Di tangga naik menuju puncak
Di tangga turun menuju gubuk

Sampai kau temukan sebuah sandaran
Dari bahu pengganti rasa
Dari segala kecewa
Dari segala luka mendekam menekan

Cerita tentang dermaga penungguan, mulai sunyi sepi tergores rasa. Yang dahulu tak terganggu oleh siapa pun. Kemudian membuat percaya tak goyah pada gaduh yang menyerang. Karena yakin itu, tempat berdiri di Pulau Penunggu. Masih saja memanggil dengan suara lemah serupa sumpah serapah di tepi dermaga. Akan tetapi, aku membendungnya dengan pinta meminta maaf, lalu mengharap tak ada kutukan.

Lantaran kesadaran dari keadaan yang ramai ke sunyi, membuat gunda-gulana di batang-batang kayu terhalang tembok dermaga. Hingga akhirnya warna yang dulu cerah, terganti oleh sebuah keburaman masa lalu yang belum lama terjadi.
Ternyata pasang bola matamu, di bibir pantai berteman gelombang dihiasi arus selat-selat di pinggiran Pulau Kelimutu, tepatnya sketsa danau tiga warna diringi tangga panjang menaiki puncak. Sampai temuanmu pada negeri Pancasila sekaligus menuai luka.
Samar-samar, raut bahagia terganti sedih kala kabar buruk mendekati telinga. Saat tanya sapa mulai berubah, saat tanya kabar mulai jarang, dan muncul curiga dengan dasar kekuatan alam semesta. Tanyamu "Kenapa harus mengambil sikap sejauh itu?" Kalau percaya sempat terpatri tapi tak bertahan dengan kokoh.
Sebagai perempuan, perasaanmu tak akan terlupakan. Karena cintalah menyatukan kita, cintalah yang memisahkan kita, cintalah membawa malapetaka romantisme. Biar kata maaf mampu menghapus luka. Akan tetapi, luka itu butuh penawar mujarab untuk sembuhkan hati. Dengan perlawanan ruang dan waktu untuk melupakan segalanya. Sampai di suatu waktu, cahaya purnama datang sebuah sosok baru tempatmu bersandar.
Tepat di hari Selasa awal bulan November tahun 2018. Keterusterangan curiga itu mulai menemui luka yang dalam. Sampai pinta dari gemuruh angin menekan tanya tentang luka. "Kenapa sebagai lelaki harus mengambil tindakan seperti itu?" Dalam keadaan yang penuh was-was, membalas tanyamu dengan memberi jawaban. Walau konsekuensi luka bertambah parah.
Ternyata, orang ketigalah penyebab luka. Lantaran akulah biang dari setengah dusta, akulah buih cahaya yang kemudian redup, akulah puing rapat jadi pemisah dari serpihan yang terhempas bersama desiran pasir. Maka, kita memilih untuk jadi kawan yang abadi. Karena luka yang kesekian harus dilupakan. Lantaran garis perjungan kita masih panjang untuk dikumandangkan dan tetap objektif dalam menilai. Maka, pikiran subjektif tenggelam bersama luka yang sempat terkubur lalu hilang.


Makassar
Rabu, 14 November 2018
By: Djik22

Komentar