Langsung ke konten utama

Postingan

BUKALAH HATI YANG TERTUTUP (427)

Perjumpaan singkat Pada sengketa masa lalu Mencekam benci merajut dendam Yang tak dibahasakan terus terang Rupanya... Panah membara telah dibidik Sampai terus melekat saat berjalan Baik jauh mau pun dekat Namun kau tetap diam Sementara aku memilih tegak Pada berjalannya waktu Yang tak bisa kuhentikan Atau kau terlalu cepat melangkah Seirama kilat menyambar Yang kusaksikan saat hujan redah Di belantara perumahan kumuh Iya... Aku lebih tepat sebagai saksi Dan kau berlantun dalam drama Dipentaskan pada air yang mengguyur Hingga membasahi tubuhku Namun keadaan tetap kering Sampai sedikit mengenai hati Mengajak untuk kembali Aku yang memilih kembali Lalu... Kuberbisik dengan ikhlas Membuka hatimu yang tertutup Papilawe Sabtu, 30 Juni 2018 By: Djik22

HITAM YANG MEMBEKAS (426)

Putih yang kau sucikan Dalam belenggu mendayu Membawa kabar kepada angin Hingga terdengar ke telinga semesta Padahal... Semesta tak butuh mendengar Dengan sengaja dalam ratap Seolah pertikaian terus berlanjut Bagaimana keadaan tetap aman? Kalau putih kau hitamkan Membekas dalam aliran darah Yang padahal merah menyala Lantas tetap membakar Membuat dahaga saat berhembus Udara yang dihirup Dirasai tak berjiwa Apakah mati? Ternyata masih utuh Bertahan dengan hari Getarkan dada yang lapang Bukalah hati yang tertutup Ajaklah mata untuk melihat Biar buta segera pergi Tanpa harus datang lagi Tapi... Kenapa hitam terus membekas? Semoga segera hilang Dalam keadaan tenang Biar kegaduhan segera usai Tanpa dipaksa menjauh Dari hidup yang sementara Untuk memupuk kebajikan Papilawe Sabtu, 30 Juni 2018 By: Djik22

TERANG YANG BERHENTI (421)

#Part 01 Tentang sinar dan cahaya adalah sebuah jalan. Sebab terang melahirkan sinar yang berjalan di malam ketika gelap. Pasti akan muncul tanya, bagaimana dengan pagi? Tetap akan ada sinar kapan pun. Baik siang menuju malam dan malam menuju pagi. Kala tangan terbata mengukir di gelap yang sedikit terang di akhir bulan perjuangan menggugah hati membuat tertarik. Hingga tetap melukis tentang indah yang sebentar lagi akan pergi. Walau pun datangnya penuh usaha dan perlawanan, sampai meraih yang diimpikan. Tapi saat ini, hari mulai berbisik dan lebih berpihak untuk pergi. Entahlah, bila pergi adalah pilihan. Maka jangan sisahkan kenangan yang mendalam. Apalagi tak kala yang ditinggalkan adalah sakit. Maka sepanjang waktu, lebih banyak menerima luka yang membara bersemayam dalam kalbu. Bisakah kau hentikan luka kalau kau tak berada di sampingku? Bagaimana kau tahu tentang keadaan diri? Ketika kau pergi tinggalkan air mata? Semoga akan tiba saatnya, kalau air mata mampu dihapus den...

TERANG YANG BERHENTI (425)

#Part 02 Sudah aku memilih untuk pergi dari kehidupan yang terikat. Baik tentang ikatan berikrar, maupun ikatan yang berantai. Sebab ikatan menguncang hentakan sampai lelah. Seraya berkumandang lantang dalam jalan sunyi. Jalan antara kau dan aku lalui, pernah disinggahi orang lain. Karena kuberdiri di batas pertemuan, namun aku tersingkir di ajakan menggoda. Kenapa kau goda dalam kata berbalut kalimat? Bukankah sumpah dan kutukan selalu kuterima? Ternyata, kau bahagia tak kala duka yang kuterima. Lalu kau tersenyum saat sinar yang kutunggu tak kunjung tiba. Kemana kau bawa hati? Di mana sulam yang kau sembunyi? Rupanya tak secuil pun kutemukan titik memberi kode. Seolah aku yatim dalam sengsara dan hinaan. Iya... kau yang menghina, sampai di depanku sikap manis tak kau lupa. Kemudian senyummu selalu kuartikan sinis. Karena bola mata dan kata yang kau pilih. Mulai jauh dari pendirian tak kala kumengenal dulu. Pasti setiap jawabanmu penuh alasan berlogika. Tapi, aku sudah mera...

KAU UNDANG LEWAT PINTU (424)

Masih tentang tuan Yang lembut tapi serakah Raut linang namun kejam Dalam penjara drama Sulit memang membuka tabir Saat kau telah jatuh Ditambah tangga yang keropos Menimpahmu dengan senyum Lembutnya tuan bertuhan Bangga dengan riang Di kepala tanpa makhota Hingga bukan raja dijuluki Tapi kenapa kau gulingkan? Saat baik telah dinikmati Dari dusun ke dusun Hingga pintu ke pintu Kemudian... Di himpitan rumah Tanah milik orang Tempat istirahat atas dunia Tuan memang pandai Dalam segala hal Seantero jagat lima batu Julukan ayah berjalan Hanya tinggal ayah Sambil ibu menyulam Menapaki jalan setapak Sampai kau undang lewat pintu Papilawe Jumat, 29 Juni 2018 By: Djik22

MISTERI ALAM SEMESTA (423)

Darat adalah menawan Tempat yang kau sukai Sejuki hati lalu menyapa Dengan senyum tanpa malu Bagaimana tentang laut? Yang berkali-kali kugali Sampai di dasar sajak rindu Seolah tanda dalam pelangi Padahal... Langit dan bumi Begitu menakjubkan Hingga heran kuterima biru Belum lagi... Hijau yang menyulam Di dedaunan bunga Yang kau pinta penuh harap Sampai tertulis Dalam limit waktu Menyurati sebelas tanya Dalam misteri alam semesta Bele Jumat, 29 Juni 2018 By: Djik22

TERIK MENYAPA (422)

Alun-alun perempatan Terbentang rata dan ratap Di pertengahan Pulau Pembunuh Yang terus menguji sunyi Ternyata... Ramai begitu lugu Dalam budaya menyala Pada merah darah mendayu Tetaplah mendayu Sampai gelombang  tepi dermaga Tempat menuju kembali Kala kaki telah bersatu Belum lagi... Tanganmu menyapa kata Sebagai sakral atas tanah Air mata darah hunian surga Surupa surga yang hilang Tenggelam kembali tampak Negeri para raja Dari penjuru ke penjuru Kenapa kau menyapa? Oh... nusaku yang damai Sejukan jiwa dalam duka Riangkan hati kala luka Ajaklah aku tetap berpijak Di tanah bumi penghuni keramat Kala kata dan bahasa dirajut adat Sampai terik menyapa senja Waiwerang Jumat, 29 Juni 2018 By: Djik22