Langsung ke konten utama

KARENA PENDATANG BARU (89)


Bukan soal gugatan keluh; bukan tentang menerawang batas-batas kesabaran. Bagaimana tidak? Kejayaan yang sudah bertahun-tahun telah kutaburi, eh…malah kau larutkan abu panas ditiup angin. Ini bukan soal penolakan, tapi soal kepercayaan.

Kenapa aku yang selalu dituduh berbuat salah? Padahal sudah jelas kukatakan berulang kali, ‘kalau pelabuhanku adalah dalam dirimu’ Saat aku bisikan di telinga kananmu sambil meremas-meras tanganmu di hari Sabtu pagi. Kau dan aku sudah saling percaya tanpa keraguan. Kenapa harus ada pendatang baru? Dimana letak prikemanusian berbudaya?

Ketika semua berlumbung kesucian dirampas oleh sosok lain, maka mengharapmu tapi tangan dan badanmu ditiduri oleh lelaki lain. Bagaimana aku tidak percaya? Kalau aku pernah melihat film kau dan dia mainkan di dalam kamar sempitmu.

Ini bentuk kekurangajaran yang sengaja kau lihatkan; sengaja kau tampakan dalam drama semumu. Kalau memang ada bayangan lain, maka itulah pilihan bejat menodai dirimu dalam zina. Sayangnya kau masih polos yang harus diajari dengan kelembutan.

Karena ada pendatang baru, maka sudah berdiri tegak arah pijakanmu. Bahu kiriku tak lagi berat, karena tak ada lagi yang bersandar sambil ceritakan tentang alam semsesta ini ada.

... ¤ ¤ ¤ ...
Bila yang datang adalah pilihan,
maka harus merelakan dibawa bayang.
... ¤ ¤ ¤ ...

Makassar
Kamis, 15 Februari 2018
By: Djik22

Komentar