Langsung ke konten utama

DUA PULUH DUA NYAWA (27)


Seruan azan Subuh berkumandang
Lantunan merdu bergelombang
Tenangkan gelisah menuntut jalankan perintah
Berat penat terlahap tidur tenang
Mati sesaat bernapas halus
Membuai mimpi putarkan raga di pembaringan

Pada pohon-pohon beranting
Di bebatuan keras menghitam pekat
Telah tertulis penuh
Ada yang masih terlihat
Ada yang masih terawat

Dimana lagi harus kutulis?
Spanduk-spanduk tak lagi butuh lukisan
Dinding hitam merah sudah dioles
Yang tersisa pada lembar dua puluh dua

Buku catatanmu kupinjam menggores coret
Mengais memilih kata berirama rima
Sajak tak terikat berakhiran bebas
Panjang bait pada baris

Bau halus kertas putih
Harum tinta hitam sisa sedikit
Hitungan nyawa sedikit lagi berakhir
Kubutuh terbuka hamparan kamar-kamar
Dikelilingi tumpahan literasi berserak-serak
Seolah lama tertinggal pergi merantau
Padahal penghuni ramai memasuki
Mengkaji mengaji melurus

Dua puluh dua nyawa
Tambahkan ungkapan imajinasi baur
Rebutan membawa kabar bara sukma

Bagaimana membalas budimu?
Jagalah canda-tawa
Jagalah kawan jeritan kata-kataku
Kelak dibaca melepas penat

Jangan patahkan pena basaku
Jangan robek sedikit perlahan kertasmu

Jika larangan tak lagi diresapi
Permintaan tak lagi dipenuhi
Maka air mataku tak kering
Sedih terbawa sampai di batu nisan

Karena aku dihidupkan dari kertas
Dibesarkan pada lembar demi lembar
Diperlancar patahan-patahan kata menggugah
Pelengkap hidup yang tak mau kutinggalkan

Tapi apa daya aku miskin
Harus merelakan napas berdesah
Singkat kematian berduyun
Mengajak...
Ayolah pulang ke pemula
Nyawamu telah berakhir

Makassar
Kamis, 11 Januari 2017
By: Djik22

Komentar