Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

SOROTAN MATA

Mata telah kau gugah Dalam puisi-puisi Mengeja berhari-hari Dalam sejarah sedikit RESAH Kemudian hitam diputihkan Dengan timangan angin Yang menyejukan hati Tanpa ada mengebiri Oh... Sorotan mata Menawan surga Bak riak tanda tangga Setidaknya... Ajaran sastra Terus diperdalam Pada kekelaman yang buram Maka... Gunakanlah mata Untuk menatap Jangan terus menutup Melihat Kebohongan Melihat Ketidakadilan Jangan terus merasa was-was Pada percikan budaya malas Sebagai pemuda bangsa Sebagai mahasiswi, sebagai mahasiswa Sebagai anak kandung FKIP Biarlah semesta Mencatat dengan cinta Mengalahkan pujian Yang dibuat penuh tipuan Tapi... Saat ini kita yang sadar Dibentuk kemudian terbentur Sebagai ujian memberi Tetaplah bernafas Teruslah melanglah Dengan kaki yang kuat Dengan sorotan mata keramat Makassar Selasa, 30 Oktober 2018 By: Djik22

BAHASA DAN SASTRA DALAM GENGGAMAN PEMUDA

Seiring pergulatan zaman Pergulatan, pertikaian Antarsastrawan Sampai mengotak menekan Tapi... Itulah polemik Sedkit pelik Dalam dada dan nadi Sebab polemik membuka asa Mengeja bait-bait sajak Bagai gemuruh riak Yang tak hanyutkan raga Namun raga terus bergema Seolah-olah ikrar keramat Yang terus bersuara Dalam ingatan pemuda Lalu... Dimanakah peran bahasa? Dimanakah peran sastra? Kalau tak bergelut buai masa lalu Jangan lupa Pada bahasa, pada sastra Pada air, pada tanah Pada udara Sebagai tiga inti Yang begitu dahsyat Terus menyayat-nyayat Untuk diamalkan Maka... Jangan lupakan peran bahasa Jangan lupakan peran sastra Sebagai penopang cinta budaya Mari melangkah Teruslah menganisis Dalam ibu sejarah Dan ayah analisis kritis Makassar Selasa, 30 Oktober 2018 By: Djik22

PELOPOR GERAKAN

Sejarah dunia Adalah sejarah pemuda Sejarah perubahan Adalah perjuangan mahasiswa Tak bisa dielak Tak bisa ditolak Pada zaman milineal Banyak yang mengganjal Sampai terus bergelora Menawan dalil penguasa Dengan janji Yang tak dipenuhi Lalu... Apakah kita diam? Apakah tetap kalem? Saat gemuruh mulai layu Maka... Mari satukan simpul Kobarkan semangat juang Yang mahal nilainya Sebab... Kita adalah pelopor gerakan Yang terus lembab Biar terik kelaliman menekan Biar mereka punya sepuluh Kosa kata bercandu Kita punya seribu Cara-cara ampuh Dalam batas Sumpah Pemuda Ingin kembalikan marwah Satu bahasa, satu bangsa Dan satu tanah air Titipkanlah ketingat untuk bangsa Wariskan api kepada generasi Biar gerakan tak mati Biar semangat terus menggema Makassar Senin, 29 Oktober 2018 By: Djik22

TANYA KABAR

Dalam gubuk-gubuk rumah Tempat-tempat ibadah Selalu mengajarkan Tentang kebenaran Tentang keadilan Yang mulai mahal terjual Bagi pemburu rente yang nakal Mengebiri demokrasi untuk ketenaran Bertanya kabar Apa kabar hari ini? Apa kabar gerakan mahasiswa? Bagaimana kabar mahasiswa Makassar? Semoga baik-baik saja Dalam kungkungan pelik Yang didesain rapi Seolah-olah hanya ilusi Maka... Bangkitlah gerakan mahasiswa Mulailah dari ruang ideologis Menuju kritikan-kritikan pedas Sebab... Kita sudah memberi patokan Siapa musuh kita Siapa lawan kita Yang coba menenangkan Dengan cara-cara halus Ibarat lembutnya kapas Tak bernoda pengkhianatan Marilah bersama rakyat Berteriak lebih lantang Bersama gelombang Massa aksi yang selalu memikat Makassar Jumat, 26 Oktober 2018 By: Djik22

LANGIT RUMAH KITA BERUBAH

Kau awali dengan cinta Aku akhiri dengan kagum Pada kain-kain kusam Sulaman ibu bangsa Oh... Ibu bangsa penuh sejarah Penuh luka tangis para penghuni rumah Yang dinamai Indonesia Rupanya memang merdeka Namun laksana sampah berserak Terbawa angin, debu mencekik Saat hidung menghirup udara Sebegitu terganggu Pekarangan rumah kita Dijadikan santapan segar perasa Bagi pengejar kelejatan bisu Atau rumah perlu ditata ulang? Sesuai keinginan anak bangsa Dari Sabang sampai Merauke bersuara Tanpa ada kekerdilan bahaya perang Aku masih ingat... Ayah memupuk tanah Menjaga kebersihan rumah Sampai racun ditakuti lalat Maka.. Terus jagalah rumah kita Seperti pesan ayah Dalam pidato panggung sejarah Makassar Jumat, 26 Oktober 2018 By: Djik22

KEKASIHKU DIREBUT

Matamu berkaca-kaca Dari letihnya tangisan Dari gersangnya duka lara Yang terus ditekan Kekasihku... Aku mengerti tentang lukamu Yang disayat-sayat kuasa Yang rirajut tali laba Sampai kantong nafsu Dipenuhi senyum palsu Dari mereka Yang merebut cintamu Masihkah kau bersedih kekasihku? Bila melihat ekonomi dikuasai Yang bukan anak cucumu Namun dari beragam negeri Apakah tenagamu mampu menanggung beban? Yang terus disandar kepentingan Yang terus dibuai suap Sampai tetap gagap Kekasihku... Apabila pendiri bangsa masih bernyawa Maka mereka akan lantang bersuara Tentang tanah, air, udara adalah milik kita Tapi... Hanya jiwa dan api semangat Masih bergelora setiap hari Dai mereka yang bertahan membela suci Kekasihku... Selama kran demokrasi dikebiri Pasal dari bait-bait konstitusi dibeli Ikuti kepentingan dungu Maka... Haluan ekonomi kita perlu diganti Pendidikan kita harus banting stir Demi mencerdaskan anak bangsa Makassar Jumat, 26 Oktober 2

CINTA BUDAYA BAHASA

Tak ada yang ingkar Tentang suatu pristiwa besar Namanya sejarah memerah Dengan semangat bersih Itulah peristiwa Sumpah Pemuda Dengan semangat menyala-nyala Pada penyatuan pemikiran Pada budaya bertarung gagasan Maka... Hilanglah stigma kedaerahan Dalam ranah kesepakatan Satu bahasa, bangsa, dan tanah air Terus kemana semangat itu? Apakah tergilas zaman tuli? Terkeropos lapuk jadi malu Di generasi milenial ini Cintailah budayamu Cintailah bahasamu Cintailah bangsamu Tanpa ada paksaan dari penjuru Karena Indonesia butuh pemuda Yang berpikiran jernih Tanpa mengada-ngada Dengan buram pada sejarah Teruslah berpijak pada kebenaran Apakah kita semua sepakat? Tanpa ikat-mengikat Kerdilkan corak pikir cemerlang Lalu... Lalai pada ilmu Cuek pada pengetahuan Yang menambah wawasan Jangan terengah-engah Jangan cepat menyerah Dalam menyulam budaya Dalam mengeja asa bahasa Cintailah bahasa seperti ibu Cintailah budaya seperti ayah Kemudian kita mengaku

RODA JALAN KEHIDUPAN

Kemarin... Bersama adalah cita Yang terus bertahan Dalam putaran nada suara Terus mengawal Sampai di tengah sukmah Sempat jadi sejarah Namun hanya sementara dikawal Padahal... Mimpi bersama menggebu Kalahkan jalanan berdebu Yang dibredel Sekiranya... Roda kehidupan terus menguji Tentang siapa pantas mengasa Dalam kerasnya sandiwara jeruji Ketika nafas terus menghembus Maka... Teruslah melangkah Janganlah menyerah Karena Tuhan begitu dekat Seolah-olah magnet Saling bertemu Walau kutub berbeda kubu Makassar Kamis, 18 Oktober 2018 By: Djik22

YANG LUPA BUDAYA

Carut-marut Kegaduhan negeri ini Tak kunjung usai Yang terus menyeret menjerat Lalu... Untuk apa bersenyum budaya? Kalau korupsi membias binasa Tembusi gedung megah kekuasaaan Belum lagi banyak terjerat pelakor Sampai terus mengakar Dalam arah gerak bangsa Yang semakin susah berkata Maka... Kembalilah ke ajaran budaya Ikatlah diri dengan agama Pada negara hukum berdasar Pancasila Makassar Rabu, 17 Oktober 2018 By: Djik22

KENANGAN MENUJU TOGA

Permulaan di babak masa sejarah Yang terjadi Di gedung kotak bergaris Bernama kampus biru Kau, aku, dia, dan mereka Kita pernah bersama Menangis, haru Lalu meneteskan air mata Itu semua dilewati Seolah-olah puisi-puisi Kemudian menjadi fiksi Dalam catatan sastra hari ini Namun tintamu tetap mengenang Terus menetes Mengajak jemari Menuliskan kisah Antara gedung satu dan dua Langkah terus mengayun Walau raga semakin lemah Tapi tak ada kata menyerah Bagaimana ketika mimpi kau raih? Sembari senyum ibu dan ayah Ditetesi air mata yang berkaca-kaca Karena toga telah dipindahkan Apakah kau bahagia setelah meraih bintang? Dengan jalan panjang berkelikir Di teba-teba jalan Dan lobi-lobi kampus Tak banyak yang kami pinta Kawan yang kusapa senior Dari kenangan menuju toga Itu pun belum cukup melepas pergimu Maka... Titipkanlah kami beribu kebaikan Kecuali dengki yang tersemat Kemudian kami mengirimi doa terbaik Lepaskanlah kami dengan kasih sayang Seo

KEMANA SETELAH INI

Hari adalah proses Waktu adalah usia Jam adalah ukuran Sebatas formalitas Maka... Tetaplah menjadi KIRI Yang berkaca objektif Yang berbayang analisis kritis Kenapa harus diam? Kalau teriakanmu Tentang kemakmuran Tentang keadilan Yang coba dibungkam senjata Masihkah kita takut kawan? Kupikir... TIDAK Alam pun akan merestui Kita akan bergerak Kalau teriakanmu tentang komprador Dari yang berkhianat Atau mau jadi parasit? Yang berpindah-pindah Tanpa pendirian Penuh kebimbangan Kukira... Tak semurah itu Sebagai anak KIRI Tak semurah itu segai bibit unggul LMND Tetaplah berpegang teguh Pada asa demokrasi Jangan lagi bimbang Jangan lagi takut kawan Sebab... Dunia membutuhkan kaum muda Sebab... Dunia membutuhkan analisis objektif Kemanakah setelah ini kawan? Apakah terus berdiam diri? Atau melangkah melawan Dalam batas harga diri Tentukanlah pilihanmu kawan Ajaklah rakyat berjuang Lalu... Ciumlah bau wangi Rakyat jelata Kaum miskin kota

KAUM PENDOBRAK

Malam telah letih Kala pagi menjemput sejarah Berkumandang suara semangat Yang terus menjerit menjepit Seirama dua puluh Serasa peluru-peluru Yang ingin menusuk-nusuk Sampai terus mengkritik Maka... Ciptakanlah sejarah Rubahlah dunia Bukan hanya dunia maya Tapi... Dekatilah hati rakyat Sampai menutup usia Sebagai kaum pendobrak Teruslah menggema Dengan kata LAWAN Lalu... Kau bayar lewat tenaga, keringat, darah air mata Kau buktikan dengan keringat Sampai darah sebagai bayaran Demi pesona kemakmuran Dinikmati oleh rakyat Indonesia Kaulah pion kawan Kaulah gemuruh gelombang Tercipta dari rasa tanpa tekanan Mengayun di asas gotong-royong Makassar Jumat, 13 Oktober 2018 By: Djik22

PERGINYA CAHAYA DI BUKIT CINTA

Kau begitu kukagumi Dalam dentupan suara musik Yang terus mengusik Untuk dikenang walau pergi Kenapa ada kepergian? Kemudian membawa duka Tinggalkan luka Saat sendiri kuberdiri Jika memang... Sendiri pun terasa gelombang Lalu... Membuat pohon itu layu Namun harapan selalu ada Biar renungan cahaya Meraja lela pudar Layu kemudian tegar Padahal... Aku ingin jadi pohon itu Di atas tanah masa lalu Tinggalkan kesan sejarah Biar ranting dan daunnya Tetap jatuh ke tanah Kemudian jadi bersih Samai cahaya di Bukit Cinta Makassar Kamis, 11 Oktober 2018 By: Djik22

UTANG MERNERJANG

Kala suara pendukung Membela mati-matian Tentang pamor sepak terjang Sebagai pemimpin yang militan Namun... Kaca mata berkaca Basah jadi air mata Penuh utang menekan Kemudian tuan dan kolega Sibuk mendidik rakyat Dengan pikiran sempit Mainkan isu berbalut sara Lalu... Untuk apa jadi pengemis? Kalau dalam rahim pun sadis Tentang lilitan utang masa lalu Oh... Pemerintah yang suka perintah Mencoba berdiri Di atas isak tangis para penghuni Yang selalu meminta Yang selalu memohon Tentang keadilan Dijanjikan tuan Makassar Rabu, 10 Oktober 2018 By: Djik22

SEPENGGAL KISAH TENTANG NOAM CHOMSKY

Noam Chomsky telah lama masuk dalam daftar pengarang paling banyak dikutip sepanjang zaman. Namanya ada di dalam baris ke delapan (setelah Marx, Lenin, Shakespeare, Aristoteles, Injil, Plato, dan Freud). Sejauh ini Chomsky adalah kritikus sosial paling penting di seluruh dunia. Akan tetapi, gagasan politiknya malah terpinggirkan di negara asalnya (Amerika Serikat). Chomsky adalah bintang media di banyak negara. Karena setiap penampilannya selalu dihadiri audiens yang penuh sesak. Tetapi Chomsky justru sangat jarang tampil di televisi Amerika. Comsky tak bisa menjangkau publik Amerika dengan opini-opini yang kritis. Akan tetapi ketepatan wawasan dan analisisnya sungguh luar biasa, dia menjelma menjadi salah satu tokoh yang paling kritis terhadap kebijakan Amerika Serikat. Avram Noam Ghomsky lahir pada 7 Desember 1928 di Philadelphia, Amerika Serikat. Chomsky masa awal usia 20-an di Kibburz. Dia adalah ayah dari tiga orang anak dan kehilangan istrinya, yaitu Carol pada tahun 2

AKHIR DARI PERJUANGAN ADALAH RUMAH

Panggilan kondisi tak bisa ditawar protes untuk bersikap masa bodoh. Karena siapa yang menjauhkan diri dengan kondisi, maka seleksi alam akan menjadi puncak akhir menyaring jalannya prinsip hidup. Apalagi, bagi orang-orang yang menaklukan kondisi dunia menggila dimakan roda zaman yang pongah. Dunia hitam putih perjuangan, tak mudah hanya diarahkan dengan praktik 'mengembalikan telapak tangan' yang sedang merayu layu. Tapi, hitam putihnya perjuangan adalah gerak langkah kita mampu menerobos batas uji adrenalin. Karena semakin masuk ke dalam gelanggang impian, maka rintangan selalu menghadang dengan jaring laba-laba. Seolah mulai menulis lilitan pada ukiran memberi kode untuk dibuka. Kecuali, pilihan datang dari pola pikir alamiah. Yang mengatakan 'tak perlu bersusah payah dalam menakhodai hidup' dalam dunia nyata. Karena problematika dan kebengisan tatanan sosial adalah sebuah takdir. Apakah terus diam dimakan rentetan sejarah yang bukan kita ciptakan dengan bara api

IBU ADONARA DAN AYAH INDONESIA

Panjangnya cerita Menaruh harap bermuara bara Yang selalu memberi hangat Yang selalu membagi penat Inilah tantangan zaman ibu Biar penat menggebu Di atas tanah kekasih Di bawah rumpat-rumput bersih Di sinilah... Kami menemukan kisah Monoreh asa aksara kesadaran Sebagai pemuda memiliki keberanian Maka... Dengarlah wahai ibu Adonara Tetaplah berada di sisi sepi Tetaplah menuntun di keadaan ramai Tak lupa... Restu ayah Indonesia Sebagai pelengkap doa suci Menghirup dan menatap indahnya hari Makassar Selasa, 9 Oktober 2018 By: Djik22

NEGERI SURGA

Indonesia begitu luas untuk diperbincangkan. Baik dari keindahan alamnya, sampai dengan menceritakan para pencuri dari rahim pertiwi yang rela menjual-belikan kekayaan alam ini kepada negara lain. Atau lebih tepat, dipadankan dengan bahasa 'kaya dengan aneka ragam keindahan alam, tapi miskin di negeri sendiri' dalam pergulatan sejarah. Saat mata mengeja aksara asa dalam cerita yang ditulis oleh Anak Bangsa. Mulai dari yang tua sampai golongan muda. Tetap saja, memuji puja pada bentangan khatulistiwa. Seolah ajakan terus merayu jiwa berkeliling dari Sabang-Merauke. Namun pertanyaan yang harus dijawab, kapan memulai ekspedisi berkeliling menyentuh wilayah-wilah indah itu? Karena untuk kondisi mileneal sekarang. Banyak yang lebih memuja keindahan yang ada di negara lain. Lalu, menegasikan keindahan alam di rahim bangsa sendiri. Lihat saja, tak banyak yang bersyukur atas indah rayu ibu pertiwi minta dirawat, minta dijaga, serta minta dilestarikan. Tapi, malah kita hadir seb

TENTANG RUMAH

Mata ini terus melotot pada pergulatan semesta. Ingin terus bergerak melaju di batas-batas trotoar dan rumah kumuh. Kemudian melantunkan lagu-lagu gemuruh tentang perjuangan. Bukan hanya sebatas lagu, namun lagu itu mengajak massa rakyat untuk terus berkobar. Sampai keringat dan darah sebagai sejarah. Karena bukan hanya sejarah yang menjauhkan diri dengan rakyat. Tapi sejarah yang terbuat dari harum bau wanginya keluh kesahnya penghuni gubuk-gubuk tua dan anak-anak yang tak punya rumah. Akan tetapi, sebagai satu kesyukuran atas embrio dari dinding-dinding rumah yang menghipnotis para penghuni. Sampai mengajak terus menganalisis segala kondisi. Baik dari sejarah awal nation sampai membaca ke depan bangsa ini menjadi tamu di tanah sendiri. Terus apa yang harus diperbuat kalau rumah mulai tua digerogoti jaring laba-laba dan rayab merajalela? Tak ada kehabisan akal untuk perbaiki rumah tua. Kerena keberanian yang kau didik bukan ketakutan, kejujuran yang kau wariskan bukan janji dan a

DUKA

Belum genap Hitungan tahun kumenatap Pada langit pertiwi Di bawah tanah ini Tapi... Inilah kuasa Ilahi Tanpa ada yang menolak Tanpa ada yang mengejek Kalau memang Semua adalah kehendakMu Maka... Berilah ketabahan yang bergelombang Karena atasMu duka dan tangisan Yang dibuktikan Dengan bencana Dari tsunami dan gempa Mencukupi doa Tak bisa cukup Menghapus luka-luka Yang mulai terang dari gelap Makassar Senin, 1 Oktober 2018 By: Djik22