Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

LIMA NILAI (370)

Keributan congkak ditonton Lewat cara penampakan Permainan di istana Jubah terus dieja Tanpa heran Malu dirasa Keanehan Lima sisi Kunci dasar Mulai dicumbui Nada-nada kelakar Inilah dunia tua berburu Mengejar kenikmatan saham Masuk dalam kantong kelambu Yang terus ditiduri dalam kelam Kemana lima nilai pijakan dasar? Kenapa selalu huru-hura terjadi? Di bangsa kaya harta terus dikejar Datangnya kepentingan partai Bangsa ini majemuk Tak ada minoritas Tak ada mayoritas Sampai nanti kelak Kembalilah kepada pijakan Beralaslah di dasar sentuhan Dengan penjiwaan mendalam Tanpa ada air mata tampak buram Makassar Jumat, 31 Mei 2018 By: Djik22

KOTA TEMPAT BERTATAP MUKA (369)

Sore menyapa dalam rimbunan taman Saat aturan telah difonis sepihak Tanpa menimbang secara seksama Hingga ada yang dirugikan Bagaimana tidak? Taman yang diduduki pun Kini sudah dijaga ketat Dengan segala kebijakan Apa pun kebijakan Tapi... Tidak mendukung kepentingan Banyak orang... Maka ada yang dirugikan Belum lagi... Ketakutan mulai bercumbu mesra Dibarengi bunyi ambulance yang lewat Memuat yang hidup atau pun mati Hanya kau pandang heran Saat terlintas di sela percakapan Rupanya ada yang mengganggu Ceritamu yang begitu dahsyat Menyayat-nyayat gerogi Dalam tatapan mesra Biar kota penuh dengan kemacetan Penuh dengan keresahan Di taman, trotoar Tapi... Kunikmati indah menawan Raut yang lama dinanti Alasannya sederhana... Sebab kota adalah tempat bertemu Tak ingin kehilangan ketika pergi Setidaknya ilmu kebajikan Kuperoleh darimu tanpa henti Makassar Kamis, 31 Mei 2018 By: Djik22

PESAN PARA PENGKHIANAT (368)

Negeri ini sudah begitu rusak Dalam kaca mata memandang Dari jarak dekat berteriak Sampai mengawang Di udara biru Yang buta Warna Sumpah serapah Tiada henti berlantun Di ingatan dengan petuah Tentang cara bertahan Pada kebenaran Tanpa menyerah Ketika kau melanggar Itu berarti... Ikrar sakral mulai menghajar Atas dusta berlinang mulai menjatuhi Prinsip hidup pada kebajikan Peroleh tujuan Tanpa cara kotor Kalau tak ditepati Maka... Alam semesta Tak diam menagi Perlahan-lahan Kebohongan terbongkar Walau sekecil keburukan Yang dilihat kabur Aku selalu ingat... Dari kata pertama Hingga belum kutemukan Akhiran yang penuh bait Berbentuk rima ala pantun Tapi... Jika kau merasa Maka pesan para pengkhianat Masih tumbuh subur di nadi Terawat di kepala Aku terus menunggu Apakah kau yang berkhianat? Atau kau masih berjuang dan memburu Mereka yang selama ini kau laknat Makassar Kamis, 31 Mei 2018 By: Djik22

DALAM KELAM MENYELAM (367)

Kaki telah melangkah di depan gerbang Dengan sikap dingin menawan rupa Sambil memungut gerak-gerik Dalam literasi di seberang Libatkan diri bersua Tanpa diejek Prinsip hidup Mengeja batas Tanpa menyelip Dengan mengais Entalah... Tangan tengada Atau tangan berjabat Yang dulu sempat resah Di belenggu yang menjepit Kota tempat bertatap muka Atau sudah lupa tentang rasa? Yang bergelora semangat nadi Sampai merembes di udara Masuk di kedalaman hati Jika kini telah terang Maka... Jangan lupa berdengung Dengan prinsip tanpa... Mengada-ngada Biar dalam kelam menyelam Bertemu cahaya penyejuk masa silam Sebagai ajaran yang penuh juang Makassar Kamis, 31 Maret 2018 By: Djik22

ISTANA YANG DIKOTORI (366)

#Part 01 Tahun 2014 silam janji berlantun semarak euforia berdengung seantero belahan Sabang-Merauke. Kala itu, semangat blusukan tertusuk-tusuk merasuk kemauan meminta perhatian. Alam pikiran tergadai pada godaan perhati seolah dekat pada tangan yang lemah, badan yang lesu, dan penampilan yang sedikit kumuh. Penampilan compang-camping dihiasi benalu luka lama warisan peradaban tak bermartabat. Memang benar, kalau letak peradaban bermartabat tak hanya dilihat dari penampilan semata. Tapi penampilan lantaran kemiskinan meraja menjara. Sudah sekian tahun hitungan mundur martabat peradaban sisa dari rakus dan tuli para pemangku. Jangan menyiksa di alam penjara dengan pemikiran kerdil; jangan lelap tidurmu dalam gelisah yang berkepanjangan. Sebab jadilah orang-orang gila di keganasan kota yang mulai ribut. Belum lagi ditambah bunyi klakson setiap pengudi yang lewat karena geram. Ah, lalu bagaimana dengan anak jalanan yang berpenampilan yang compang-camping? Apakah masih ada hati

JANGAN PADAMKAN CAHAYA DI ISTANA (365)

Jiwa membara dalam kelam Saat bahagia berpihak retak Pada keputusan yang buram Samar-samar mulai mengelak Dengarlah tuan bertahta Yang sedang di istana megah Berlibat tangan gembira ria Di atas penderitaan tangis sedih Tuan mulai belajar memakai dasi Disemprotkan harum bau parfum Waktu lalu sempat kau gengsi Seolah mendukung malam Tanpa ada cahaya Yang ditangisi Nestapa Rumahmu jadi gelap tuan Semua kekayaan kau jual Dengan bergaung pilihan Tanpa harga yang mahal Ingin semua meluap Tumpahkan resah berdesah Atas mainan berganti wajah Tanpa mata berkedip Tuan dan kolega mulai lupa Saat ibu nusa dihadang badai Kalau ayah pertiwi berduka Akibat ulah zaman bergengsi Budaya kebenaran sempat berkoar Menggelegar seantero jagat Terdengar membakar Dalam tali berikat Hanya seketika Kian hilang Di dilema Panjang Kalau pilitik adalah pilihan Maka... Jangan tuan wariskan sengsara Untuk cerita anak pulau nisan Berhias ragam mahkota Yang tak terpakai Ha

AKULAH RINDU JEMBATAN PENANTIAN (363)

Taburan kopi pahitku Lama tak kusuguhkan Di pelataran taman layu Yang sedang dinanti-nanti Hingga lama meluap aroma Memikat yang jauh di batas rindu Masihkah rindu memanggil pulang? Atau kutanam batas menahan diri? Bila rindu adalah obat bertemu Maka... Izinkanlah aku menambah waktu Biar pertemuan kubuat tak mendadak Seperti penungguanmu di dermaga Yang kau beri dengan nama Negeri dua puluh dua Bagaimana gelombang lautmu? Apakah masih bertahan? Atau sudah sedikit meredah Saat turun hujan di negeri Pancasila Napasmu adalah tangisan perempuan Yang kau lantunkan dalam ketuban Tanpa celah menerobos bakteri Cacati sesama apalagi musuh Pintamu tak meninggi berbaris bukit Mengalahkan deretan sederhana fana Dalam dunia roman dan babak lunak Berkain sutera para pewaris tangga Kapan tangisan berhenti? Seperti membaca sajak lirihku Membuat bulu kuduk berdiri Lalu... Tak sadar air mata meleleh Di malam Jumat tahun genap Bila akulah rindu jembatan penantian

INA SEDON MENGEJA BUDAYA (362)

Naskah purba tak ditemukan berjilid Di lembar pustaka alam indahnya nusa Merajut pristiwa berbentuk abjad Tentang Kapitan beranak ina Ina yang disapa sopan menawan hati Dibekali merdu semboyan kemuat Bisik beragam ucapan bernilai Melukai tapi tak menyekat Batasan telah digariskan Seperti ama yang mengadu nasip Mencari di balik kartu perantuan Tak kunjung pulang menyapa suap Suap telah kau tolak Lamaran telah kau kurung Di tujuh bilik mainan anak Yang telah kau eja riang Kaulah ina Sedon sapaan santun Mengeja dalam budaya Tak pernah bosan Di dunia nyata Makassar Jumat, 25 Mei 2018 By: Djik22

KAULAH MATA DARI SEMUA MATA (361)

Mengalirnya air di batas bendungan Sebuah besi tua menancap tegak Berdiri karat yang menekan Ditikam dasar mengorek Luka yang bukan darah Mengalir bukan karena banjir Porak-porandakan susunan sawah Diambil dari bibit relung berucap ikrar Sumber kehidupan telah kudekati Dengan ketulusan dari awal Dari mula yang dimulai Tanpa para peramal Ketika air terus menetes Sampai terlihat basah menghitam Basahkan yang tandus mengeras Perlahan mengering buram Kaulah mata dari semua mata Dengan air yang jadi mata air Makassar Kamis, 24 Mei 2018 By: Djik22

KAU AJARKAN TENTANG SETIA (360)

Kaulah lembaran buku yang kubacai Di perpustakaan hati tak kusam Yang kujagai seperti mentari Terangi alam beri senyum Kaulah abjad kata tak berakhir Hingga lebihi dua puluh enam kata Dalam eja bergumam bahan ajar Sebagai guru mengenal dunia Dunia memberi tahu Ditepis tanpa saring Bergulat malamku Saat mengarang Kaulah mata dari semua mata Mampu melibat pijaran hitam Membedakan putih bernoda Biar kubersihkan kelam Kenapa mataku menetes air mata? Tak kusadari saat membaca puisi Dikirim dari serpihan penanda Dalam gelap terangnya jari Tapi... Ketika hitam tak kau putihkan Putih bernoda tak kau bersihkan Maka percuma kau ajarkan setia Makassar Kamis, 24 Mei 2018 By: Djik22

TERPAKSA TINGGALKAN KENANGAN (359)

Foto latar: Iin Faradilah (IF) Saat hatiku berlipat gunda Di bawah kibaran kraton Yang kau sulam maya Menatap yang ada Dengan tekanan Di alam pikiran Aku yang sempat kau besarkan Lewat tinta kumencoret cinta Bergelembung corak batin Sampai terus mengasa Di tengah perjalanan Laut asinku terasa tawar Walau kemilau warna menawan Dihempas badai diadu gelombang sukar Kudapati semua ketika kutinggali desa Berpindah ke kota mencari ratap Kusulam nama dengan pena Di tembok-tembok redup Saatnya kukembali hilang Kuwariskan sejarah tanpa ada Dirasai dengan denyut nadi miring Berpisah di jarak-jarak udara Yang kau ajarkan tentang setia Kunikmati dengan kebohongan Yang kau jiwai belantara Kuterima dengan duka Menawan bertahan Di kota setiaku Tak bertuan Para tani Menagi Rukun Akulah puteri si petani Tapi berubah jadi lesu Yang mampu ditangisi Mengibas sembilu Aku tak lagi bertahan sadar Di pagar-pagar mesrah bertahan Hingga kuberi sebuah keputusan a

NAPAS-NAPAS BATAS (358)

Serambi rumah dipenuhi riuh Menyeret badan dekati tungku Sambil mengangkat batu tak lengah Rupai irama nada lagu Napasmu tak habis berhembus Dengan rentan mamahat kayu Lilitan tenun mengalung selendang Penguat rahim masa lalu Yang diwariskan membekas Sambil berdengung-dengung Ajari cara menari Ejakan bait dolo-dolo Di atas bukit-bukit pengintai Dihiasi bunyi di pergelangan kaki Kaulah napas-napas batas Melampui nyawa dan usia Makassar Kamis, 24 Mei 2018 By: Djik22

PEREMPUAN RAHIM PURBA (357)

Menjunjung kala terik matahari Bekal yang kau bisikan dengan tanda Tak mudah hilang termakan muara hari Membuat hatimu tetap basah berasa Saat pesta datang memanggil Lemari tenun sutra ditarik Perlahan tersusun rapi Di rumah-rumah tua Marga yang sakral Kekuatan serasi Tanpa jarak Kaulah perempuan Yang kemudian kusapa Dengan panggilan bunda Dituruni dari gunung Boleng Bertemu lelaki menyalin kata Lahirkan anak-anak cemerlang Terkadang tak bisa jauh berperan Saat-saat kondisi sedang genting Mengajak perang beradu darah Bergumam memanggil saudara Seolah darah jadi murah Perempuan rahim purba Dengan ajaran budaya Tiada henti mengalir Napas-napas batas Dari tanah pesisir Menagi gunung Beri ranting Rindang Makassar Kamis, 24 Mei 2018 By: Djik22

PENIDIDIKAN ALA PENJAJAH (356)

Tipe penjajah masih punya lahan Lewat aturan mengebiri warga Sistem mengikat menekan Atas nama rahim kuasa Mencerdaskan anak bangsa Jadi penjara pembodohan Menyekat sel-sel rasa Kelam penghinaan Dimana pendidikan sejati? Bila demokrasi jadi nestapa Anak negeri merantau pergi Hingga hilang di rantau bejana Kenapa pendidikan terbagi kelas? Metode ceramah gaya klasik Pengajar bicara busa tak puas Menolak siswa mengktitik Pemerintah melepas tangan Soal sektor pendidikan ilmiah Tentang pendidikan gratis Menjunjung nilai budaya Hanya jadi ajaran mitos Peninggalan pernjajah Yang terus menekan Pada nilai semata Tanpa akhlak Berbudi mulia Makassar Rabu, 23 Mei 2018 By: Djik22

UDARAKU BERUPA BAU-BAU KESEGARAN (355)

Sekeliling jagat menawan hijau Di bumi nusa pertiwi ibu sekaligus ayah Hamparan alam luas terjangkau Negeri khatulistiwa pernah marah Marah, darah, air mata, tanah Gabungan senyawa memberi nyawa Panjangkan nasib perparah nanah Luka-luka akibat tangan manusia Perintah, penembakan, pembunuhan Pernah melayang bengis di udara Menyamai burung kelaparan Bila dijual tak ada harga Parah memang membuka Tabir kusam bersembunyi Di deret-deret naskah purba Akan beresiko dalam sel jeruji Udara yang dihirup semakin sesak Di bawah tekanan-tekanan batin Ketika penyakit kembali terciduk Sengsara menyiksa keadaan Kuingin menghirup udara rimba Udara damai bersorak menikmati Jatuhnya ranting-ranting tua Tak ada yang mengintai Kembalilah Wahai udara berbau kesegaran Berupa yang hilang dinanti tiba Di pangkuan dahaga kekeringan Hati yang begitu resah Tapi jiwa tetap bangga Bangsa berganti rupa Desainer maling bermental sampah Makassar Rabu, 23 Mei 2018 By: Djik22

TANAHKU ADALAH KERAMAT RAYA (354)

Pijakan sebagai awal mula kekuatan Dari tanah kembali ke tanah Yang dipandang rentan Pada sebuah sejarah Kini tanah jadi jual beli Terbit akta membagi rasa Sedikit menipu berlapis judi Dengan permainan ritme lama Orang-orang mulai lupa Pada kepentingan berdaulat Tak ada berbeda di mana saja Selama republik masih mengikat Mereka juga tahu Aku pun tak lupa Di sebua bait lagu Sorak-sorak bergembira Sebab... Tanahku adalah keramat raya Makassar Rabu, 23 Mei 2018 By: Djik22

BUMIKU ADALAH PERLAWANAN (353)

Tanah ini pernah dibasahi air mata Pernah lumuri darah pejuang Bersaing dengan senjata Melawan dengan pedang Meriam, bambu runcing, dan golok Sering kali beterbangan di udara Mancari musuh lalu mengutuk Maut dibayar air mata Saat rakitan terus dilancarkan Dengan segala upaya beradu Napas terakhir raih kemenangan Yang kini dinikmati tanpa malu Bumiku adalah perlawanan Tanahku adalah keramat raya Udaraku berupa bau-bau kesegaran Menguap-nguap seperti api membara Makassar Rabu, 23 Mei 2018 By: Djik22

LIBATKAN NADIMU DI ALIRAN DARAHKU (352)

Aku tahu tentang kedalaman manja Dari sisi laku berbaur di alam pikiran Yang menjurus di puing-puing raga Tanpa berontak hanya kelembutan Menjawab semesta dengan tanya Seolah-olah tak ada tekanan Dari bumi yang berumur tua Bumiku adalah perlawanan Di baris-baris kata bersulam duka Sengaja ditaburi jenaka permainan Lalu prahara di ujung pena permata Bumimu kupijaki sembari menari Dengan nada-nada bergelombang Turunkan bacaan naikan suara kiri Banyak pergulatan sadis mengaung Bumiku bersama bumimu bersatu Jadi kekuatan berseragam senjata Tanpa tembakan anak peluru Seperti senjata para tentara Bagaimana dengan detak-detak nadi? Yang butuh alat deteksi tekanan Walau bukan setiap hari Berteman kesakitan Libatkanlah nadimu Di aliran darah merahku Biar tetap berdenyut-denyut Tanpa ada rasa sakit Makassar Rabu, 23 Mei 2018 By: Djik22

BERUJUNG PADA LUKA (351)

Dua puluh Mei sebuah kode peringatan Yang tak akan hilang tali-temali Percayaku dengan kesadaran Memainkan dengan hati Tapi... Tali itu telah putus Hingga terus mencari Pegangan tanpa bias Memancar segala arah dan lini Makassar Rabu, 23 Mei 2018 By: Djik22

NADA KRITIS TERUS DIOLOK (350)

Dunia boneka buatan China Dilirik hasuti alam mulia Dengan godaan licik Malalui aturan Sedikit polos Permudah Untung Dunia Yang tua Ditimbun beban Atas dosa tuan kuasa Suka mengada-ngada Yang ada dihilangkan pelan Ketika kemesraan mulai memanas Rahasia terkuak ke telinga bisu Yang buta dapat melihat Dengan mata batin Dibantu kata hati Sebagai jalan Perlawanan Rakyat Sudah bosan Oh tuan kuasa Yang berbaju rapi Berpenampilan bersih Bila mulut busamu berkoar Kemudian suara kritis kau olok Dianggap mengganggu kemanan Ketika melanggar batasan berdalil Maka senjata laras panjang bertameng Perintah penembakan membabi-buta Penuh memar darah bertumpah Disaksikan riwayat kejam Dengarlah tuan-tuan kuasa Dengarlah pagar bambu cokelat Gajimu adalah air mata keringat Dari upah kaum-kaum lemah kau olok Jangan lupa pada abdi dan bakti tuan Sebab kekuasaan dibalut kebohongan Tak akan bertahan lama Hingga saat tiba Keruntuhan Segera Tiba Makassar Sel

MENEWASKAN BANYAK NYAWA (349)

Yang telah hilang belum kembali Tak ada membuka tabir gelap Dalam lirih suara menagi Saat perbuatan keji Jadi lautan rayap Memakan daging anaknya sendiri Begitu kejam prilaku suatu rezim Suara perlawanan dibungkam licik Azaz tunggal mainan buram Nada kritis terus diolok Terbagilah golongan pendukung Ada yang tidak sepakat Segala macam tameng Sebagai lindungan sekat Dimanakah kubur yang telah mati? Adakah tanda penunjuk hati? Biar tak banyak lagi... Yang menewasi manusia pertiwi Yang berjuang dengan nurani Makassar Selasa, 22 Mei 2018 By: Djik22

YANG TAK USAI (348)

Malam telah dihabiskan lewat cerita Dari yang kecil menuju ke besar Kupas perlahan mengeja asa Biar tetap jadi bahan ajar Perdebatan tak pernah usai Kalau masih bertahan Pada kebenaran individu Yang ojektif ditolak bertahan Terkadang membuat lucu Sampai senyum menyapa pagi Kenapa harus berdialektika berbusa? Kalau perubahan tak segera diraih Dalam waktu-waktu dekat menyapa Biar tak ada lagi yang mendidih Jangan yang mudah disulitkan Jangan yang sulit disukarkan Sebab... Pergulatan teori akan percuma Ketika hanya sebatas bicara Tapi... Tak tertuang dalam tindakan nyata Sampai di penantian menagi Jadikanlah diri tetap merdeka Jangan biarkan jeratan Menghardik leher menyala Bagai api yang berkobar kebakaran Yang menewaskan banyak nyawa Di sebuah kotak pengasingan Makassar Selasa, 22 Mei 2018 By: Djik22

Tiga Belas Memberi Kode #7 (347)

#Part 07 Foto latar: Aslin Hasdi Kini purnama telah berganti dengan sesuka hatinya, tapi tak kulihat dirimu bersama purnama melambaikan tangan menyapa. Apakah sengaja kau tak datang di saat purnama? Atau sekali lagi aku yang jadi korban yang telah lama kau bidik? Jika memang bidikanmu adalah aku, maka jangan kau lukai hati untuk ke sekian kali. Sebab aku sudah tak kuat lagi menahan perih dalam penungguan. Apalagi luka-luka lama belum disembuhkan dengan obat yang paling mujarab. Sempat kuberpikir untuk gantikan kerinduan dengan menyusun bait-bait puisi. Tapi tanganku selalu gemetar ketika kumemulai. Ditambah lagi keringat-keringat dingin basahi tubuhku saat berhadapan di meja belajar. Lama tak kusadarkan diri dalam lamunan penuh khayal. Berhayal tentang pertemuan; tentang cerita indah menawan hati; serta sepenggal pengetahuan baru yang kau bagikan. Kupaksakan diri menulis beberapa bait puisi, akan tetapi tanganku terhenti di bait ketiga ketika ketukan pintu rumah tepat pukul 20

SATU HARI YANG TELAH LEWAT (346)

#Part 01 Foto latar: Alawia Yabkenyanan Sengaja tepat tanggal dua puluh bulan Mei tak kutuliskan cerita tentang sebuah kesepakatan. Kubiarkan waktu berlarut hingga bergeser ke arah pukul satu lewat sembilan puluh tujuh menit. Tepat satu menit tambahan menuju pukul dua nol-nol. Setidaknya menunjukan angka dua dan nol. Bila disatukan, maka terlihat seperti angka dua puluh. Sebuah angka keramat sepanjang babat pengejaran di tanah Karaeng. Tanah para Karaeng telah kupijak dengan jalur pasang surut. Jalur pasang ketika gemuruh suara dalam lingkaran semangat menerawang batas-batas yang tak diketahui oleh banyak orang. Sedangkan jalur surut adalah saat sendiriku tak berteman satu manusia pun. Maka yang kutemani adalah kesendirian di malam gelap sambil menunggu teriakan-teriakan mengadu nasib. Baik yang bertahan sepanjang hari, mau pun yang lalai karena tak sanggup bertahan. Bertahan demi hidup yang baik merupakan suatu ajaran yang tak hanya didapat melalui ejaan terbata-bata. Tap

Tiga Belas Memberi Kode #6 (345)

#Part 06 Foto latar: Aslin Hasdi Percaturan hidup harus disusun sedemikian rupa. Sehingga hitam putihnya hidup mampu diretas dengan cara yang baik; cara yang indah menawan hati. Biar sontak riaknya perjalanan hidup tak dinikmati dengan kepasrahan yang membabi buta. Sebab kepasrahan adalah salah satu penyerahan tanpa melawan. Apalagi memilih diam dirampas waktu membawa pergi. Setidaknya waktu dan hitungan menit pergi, mampu menitipkan seberkas kebaikan. Biar tetap jadi cerita yang membuat senyum menghapus duka. Duka telah lama bersemayam di dalam hatiku. Hingga berperang dengan perasaan siapa yang akan keluar jadi pemenang. Bukan kemenangan peroleh piala. Tapi kemenangan menyirami keinginan yang tak bisa diatasi kalau hanya memendam. Karena memendam akan membuat korban luka di dalam edaran darah yang mengganggu corak pikiran. Hingga kebuntuan meretas masalah jadi kegundahan untuk sementara waktu. Lantas kenapa bayang-bayang hitam masih melekat dalam otak suciku? Kenapa keabad

MELAWAN DENGAN DIAM (344)

Saat semua pergi tanpa bekas terkesan Di sebuah dinding beton penuh coret Mengukir nama dengan lukisan Kalau diingat begitu pahit Dalam diam melawan Menahan lapar Minuman Tutur Sebagai Bukti tabah Yang diawali Sedih dan letih Hidup telah teruji Dari godaan dan siksa Benturan duiring badai Di bulan Mei sedang puasa Hidup yang penuh keributan Gambaran celeka sudah dekat Akan menimpa pada keramaian Hingga maut datang menjemput Makassar Minggu, 20 Mei 2018 By: Djik22

SEMUA BERGERAK TIBA-TIBA (343)

Tanyamu di pagi yang terlalu awal Dengan suara-suara tak biasa Menegurku dengan karya Dari kata tak mahal Bagaimana kumerangkul? Kalau jarak begitu jauh Dalam bayang-bayang bedil Seolah tercatat sejarah Tanganmu bergerak menawan Mainkan dengan pikiran Hingga ada kekakuan Menguasai menekan Teruslah bergerak Ajaklah aku ikut bermain Dengan tangan yang tak galak Menjemput pagi di penantian Kenapa kau begitu dekat? Adakah sedikit sisa perasaan Yang disisipkan melekat Pada kemauan yang sepadan Ketika getaran benakmu sama Selamatkan pahit jadi manis Yang dilarutkan doa para dewa Tapi tak meninggalkan tangis Semua bergerak tiba-tiba Di jalanan yang belum terang Tanpa penunjuk arah berwarna Iringi cinta yang sedang berjuang Makassar Minggu, 20 Mei 2018 By: Djik22

BANGUN TIDUR DENGAN PENA (342)

Suara terbata-bata Di atas tempat empuk Yang dilantunkan manja Dalam ajakan tidur nyenyak Teruslah istirahat dengan aman Biar bangunmu tak diganggu Bagi yang berniat menekan Dengan segala rayu Kenapa tanganmu gemetar? Mingikuti suara-suara malam Yang perlahan tak menjalar Takut terdengar jadi kelam Kapan kau bagun lagi? Mendayu di alam khayal Dalam sehat seisi mimpi Tanpa ada yang mengganja Cepatlah bangun dari kelahan Coretlah dengan senang hati Tanpa sedikit pun keraguan Yang melemahkan Makassar Minggu, 20 Mei 2018 By: Djik22

TUHAN ADA DALAM KARYA (341)

Susunan diksi dalam karya ini Adalah campuran perintah Dari tangan Tuhan memberi Menabur kata-kata teduh Tuhan ada dalam karya Peran penaku menjelma luas Mulai dari kritikan ke romantika Di dataran terhempas Lautan diganti tinta Mengukir aksara tanpa wajah Hanya sepenggal makna Dari yang kotor ke bersih Tuhan selalu ikut dalam renungan Saat-saat merajut kasih mesra Tertuang dalam teks terkesan Membelenggu alam raya Makassar Munggu, 20 Mei 2018 By: Djik22

BUKAN PENGOBRAL MURAH (340)

Dunia semakin maju berganti gaya Dalam bentuk yang berbeda-beda Dengan dalil berserak berantakan Memyamai pelataran pendirian Sebagai manusia Harus menjiwai lewat hembusan napas Keluarkanlah dengan bebas Biar tak tertahan menyesaki dada Akulah lelaki Yang telah kau artikan keliru Samakan dengan yang di sekitar Berdiri sambil mengirim kata bergetar Perlu kusampaikan pada angin Kalau suaraku masih lebih lembut Bila disetarakan dengan ajakan Pada pagi hari yang mulai ribut Tenanglah pada kesendirianmu Tegarlah dalam sujud dan rukumu Seperti menasihati pergi menghadap Dengan mata yang tak berkedip Bila ketakutanmu adalah ranah cinta Tak satu pun jawaban memberi pasti Terus ragamu lari menekan tombol Sambil sembunyi kebenaran rasa Sedikit terkikis huruf tak diakhiri Dari empat susunan nama tak ganjil Hanya mau memberi kabar Kalau diri dan tujun ini Pengobral murah berani Yang terus berkoar Makassar Sabtu, 19 Mei 2018 By: Djik22

SAMPAI KE RELUNG HATI (339)

Tiga kali bertepuk tangan Tanda gembira memberi kode Gembira mulai menggoda menawan Bila diri dihitung dalam urutan episode Teruslah mengingat tentang lara Segera jiwa akan keluar dari bara Yang sedang ditunggu-tunggu Di batas kediaman tugu Aku ingin merajut meminta izin Dengan penggalan kalimat pendek Sebagai ucapan balasan Dari puisi yang kukirim apik Balasanmu bukan hanya tentang rayu Tapi pagiku diisi oleh barisan doa Yang dirasai sampai ke relung hati Hingga kubataskan sajadah Di bentangan tehel putih Mengirimi doa-doa suci Biar galau tak kuasai Layar cahaya senyum androidmu Jadilah cahaya terang membias Biar mengenai tulang-tulang Yang semakin hari meriang Membuat diri tak jadi malas Makassar Sabtu, 19 Mei 2018 By: Djik22

KUCULIK DIRIMU DI AKHIR KATA  (338)

Belum jauh kubawa dirimu pergi Jelajahi separuh bilik alammu Butuh waktu menuju ke pagi Sampai melepas belenggu Culiklah diriku masuk dalam-dalam Akan kubalas menculik dirimu Di cubitan akhir kata kusam Sambil kau meminum susu Saat ini akan diikat detik waktu Sebuah aturan telah menunggu Dengan tiada bantahan gaung Sampai aku tak membendung Bawalah duniaku Kisahkanlah di halaman hati Ketika berdiriku di depan rumahmu Menyalami dengan suara berani Tapi kupercaya akan perpaduan Yang kau pinta dengan cepat Seperti rupa dialiri keringat Basahi separuh badan Makassar Sabtu, 19 Mei 2018 By: Djik22

MATA RONAH (337)

Foto latar: Mirnawati (#MataRonah) Berkedip-kedip menahan tatapan Yang kuingat ketika laku berlalu Di sebuah pantai berderet susun Lima pasangan menghafal lugu Saat itu teriknya matahari Basahi sekucur tubuh Yang belum dibasahi Air riak bersih Semakin kudalami teks puisi Semakin kunikmati Menuju penampilan singkat Yang terlatih hati memikat Sulam batasan tembok Sambil berteriak Mata ronah Di abad masa lalu Seolah jadi sejarah Yang tak terungkap rindu Lalu... Kuyakinkan diri Dalam drama sesaat Hingga terus memanggil menggali Dalam menikmati Hati yang sudah dipunyai Oleh sebuah saksi ragam mata Makassar Jumat, 18 Mei 2018 By: Djik22

BERGURU DI HAMPARAN SUBUR (336)

Panorama di arah matahari terbit Menyingsing bertabur menjerat Fajarnya memukau dunia Semakin kelam menua Di hitungan jagat Mulai terasa Hampa Apalagi... Bentangan Laut maha tua Bertabur bidadari Berjejer di pantai Bulir pasir menawan Dengan berbeda makna Setiap warna-warni Dihiasi cahaya Sebagai juri Peradaban Marilah berguru Di hamparan subur Alam terbuka suka Yang memikat sukar Hingga menjelma sukma Di tebing-tebing bisu Makassar Jumat, 18 Mei 2018 By: Djik22

Tiga Belas Memberi Kode #5 (335)

#Part 05 Foto latar: Aslin Hasdi Ketika kehidupanku terasa kosong dan hampa, maka arah pancarian jalanku terkandas dalam sebuah mimpi yang tak tergapai. Lantaran pertanyaan membutuhkan jawaban, tapi kali ini menunggu jawaban sebagai hitungan waktu menuju hari kesukaanku begitu lamban. Kenapa aku dibuat semeranah ini? Apakah pintaku pada waktu tak didengar? Ataukah angin tak lagi membisikan kabar? Biar kurajut dalam hirupan udara pagi menuju malam. Akan tetapi, sama saja dengan udara penyakit yang menambah kesakitan. Hingga rasa ini tercampur baur tak terlihat dengan mata telanjang. Apalagi kupaksakan diri untuk terus tersenyum kepada siapa pun yang lewat; siapa pun yang menatap; serta para sahabat yang menegur. Duniaku semakin gelap walau aku berjalan di sebuah bulan; di sebuah peradaban suci sebagai penghadapan diri kepada Sang Pemilik Jagat. Tapi tetap tak bisa kubendung mengaung terdengar ke telinga si Fajar. Oh... kau lelaki yang hanya memberi kenyamanan, tapi kau sengaja

KAU CORET BAHASA (334)

Ketika kuhitung dengan cara sadar, Dilapisi cahaya malam menyulam, Berdengung suara panggilan, Menyejukan perasaan, Menahan amarah. Kubuka perlahan, Memori lama membara, Membakar tanpa menyalai, Seperti api yang menghangat, Padukan lipatan kaki menunduk. Saat kubacai semua pilihan kalimat, Yang kau susun berderet senyawa, Seolah maut begitu mendekati, Antarkanku dengan gerogi, Tangan yang bergetar, Keluarkan keringat, Di atas papan tua. Kusapu wajah basahku, Kueja cotetan bahasamu, Tak kutemui sebagai damai, Mengajak bergandeng temali, Yang mulai usang berputus asa. Harusnya kau coret dengan hati, Biar kau pergi jauh tanpa arah, Aku mengambil sari pelajaran, Walau dalam sebuah kata pena, Tanpa ada tertera nama penjelas, Untuk menutup pertengahan bulan ini, Yang terus-menerus paksakan terima, Entah dalam hitungan tak ternilai, Sampai waktu menjawab perlahan. Makassar Kamis, 17 Mei 2018 By: Djik22

DI BATAS TEKANAN MENGGILA (333)

Dua tahun menjalin samudera, Yang dinakhodai hati berdawai, Menahan remuk-remuk belulang, Berantakan tercecer campuri duri, Menyengat bertahan dalam lautan, Begitu gelap di dasar mengenai pasir. Lalu aku yang terlena di dua gelombang, Melawan dengan pijakan menimbang, Hasilnya akan kau raih kesakitan, Kemudian menuduhi sumpah, Kutukan serapah menekan, Pinta semua pemberian, Untuk dikembalikan, Dengan tagihan, Yang mengeri, Menggila. Di batas, Tekanan, Menggoda, Tuk berkata, Paksakan aku, Jujur banjirkan, Air yang tak bersih, Basahi sekucur tubuh, Yang tak pantas basah. Kenapa aku terus ditekan? Bukankah sebuah keputusan, Harus diterima walau terpukul, Yang bukan dengan tangan hina, Menyambar dalam kata-kata duka. Jangan lagi kau menekanku, Dengan tata krama trauma, Menyalahkan pribadiku, Membongkar meludahi, Memaki di bulan suci, Kuanggap sebagai, Godaan bertahan, Menjaga diri ini, Biar selalu dalam, Keadaan pancingan, Yang kau coret bahasa,

BERSAMA ORANG-ORANG (332)

Tak ada yang hidup tanpa pegangan Saling mendukung satu sama lain Dalam putaran waktu menentu Mulai dari yang paling kecil Sampai ke detik-detik Yang paling besar Hingga berputar Kembali lagi Terulang Setiap Hari Kini Usaha Meraih Menuju Mendekati Menimbangi Ke titik-tolak Puncak-puncak Capaian terjama Yang diraih adalah Benang yang disulam Berbentuk lipatan rapi Yang sisanya berantakan Biar berantakan tak dirawat Walau pun bersama orang-orang Di sekeliling sekucuran tubuh hidup Pelit berbagi untuk saling menolong Sebagai manusia anak mata tantai Yang tak harus saling bercerai Dalam keadaan paling aneh Hingga napas terakhir Berdenyut-denyut Dengan cepat Makassar Kamis, 17 Mei 2018 By: Djik22

BOLA MATAMU MALU-MALU (331)

Terangnya lampion bergantung Tanpa suara hanya berainar Pancaran menawan manis Sambil bergerak tangan Berkedip bola mata Lantaran lelah Kutatap lagi Bola mata suci Yang malu-malu Dengan garis batas Tanpa ada lagi dusta Antara bola lampu bias Tercampur gerogi berkuasa Kenapa matamu berkedip sayu? Dimana kuselami dasar tumpuan? Lantaran mata mulai berbohong Rambatkan jemari memberi kode Kalau malu-malu bersua rindu Seolah telah lama berakhir Makassar Rabu, 17 Mei 2018 By: Djik22

DUNIA DALAM MEDIA (330)

Apa yang kurang? Saat kecanggihan membeludak Memuntahkan segala mual Memusnahkan racun Yang dikaji sepele Tanpa pertimbangan matang Dunia ini luas kawan Tak bisa kau jangkau Hanya dalam angan Sebatas mimpi serapah Tanpa pembuktian nyata Jangan kau ajak bersenggama Dengan maya yang tak nyata Lalu... Maya kau jadikan nyata Yang nyata kau anggap maya Marilah kawan...!!! Tanpa kehadiran diri Semua berjalan pelan Perlahan menggapai Lambat laun kebosanan berpihak Seolah raja dalam istana Perintah dengan seenaknya Sesuai niatan Tanpa perbincangan bersama Dunia ini... Telah banyak ditafsir kawan Dengan pendekatan tertentu Dalam kaca mata buram Yang bukan menerangkan tatapan Hingga penglihatan Mampu dibutakan kawan Kembalilah kawan Inilah masa gemilang Saatnya menanam benih Akan kau petik di masa datang Sambil senyum bertabur legah Jika itu pun tak kau mampu kawan Maka... Percayamu pada media Mampu membawa ragamu Pada sebuah kelengahan nyata Yang

KESAMAAN NASIB YANG BERGESER(329)

Kau dan aku ditakdirkan hidup Diturunkan dari pertemuan lembut Kemesraan melahirkan yang bernyawa Sampai tumbuh dengan gaya dan bahasa Sekarang saling menatap hari Masa kemarin kau dan aku Masih mencari jati diri Menuju kedewasaan Masa kini sedikit bertemu Dalam prinsip dan cita-cita Bicara soal kelembutan kata Yang terbalut dengan prilaku Masa depan adalah arah tatapan Menuju tujuan meraih mimpi Berusaha tak segampang Memutar telapak tangan Apalagi... Hanya berkedip mata Padahal... Kesamaan nasib Kau dan aku dijadikan pemimpin Yang mampu menjalin mengapit Antara satu dan yang lain Ketika merefleksi Maka... Kesamaan nasib yang bergeser Membagi jurang pemisah Memegang prinsip Berjalan terus Dengan cara Sendiri-sendiri Tanpa saling mendengar Saling menegur Sapa Bertemu Bernostalgia Menatap lagi Dalam pijaran Bola mata Yang menyimpan Segala rahasia Tertutup dengan kedipan Makassar Rabu, 16 Mei 2018 By: Djik22

HUKUM BERPIHAK LICIK (328)

Getirnya tangis Di negara Pancasila Yang diletakan alot Sampai dinikmati Setiap generasi Butir-butir nilai Kini mulai menetas Melenceng dari azaz Keluar dari harapan Perpecahan di sana sini Akibat ulah kepentingan Yang dibawa dengan simbol Menyatakan diri dalam hati Tapi kenapa kata tak sesuai? Bukankah dasar sebagai pijakan? Rupanya sengaja dilupakan Menerapkan gagasan besar Diputar dengan iringan Pada keributan tuli Belum lagi... Hukum berpihak licik Membela yang berduit Menghukum yang tak punya Lantas apa guna berdengung? Kalau toh hanya sia-sia Sampai terbagi-bagi Antara majemuk Menjadi celaka Sudah saatnya Hukum berpihak tak memandang Entah si kaya atau si miskin Entah dari desa atau kota Dari pesisir atau gunung Tapi... Hidupnya warga Di atas bumi pertiwi Butuh perlindungan Setiap warganya Makassar Rabu, 16 Mei 2018 By: Djik22

ALUN-ALUN SENJA (326)

Bunyi berbeda berganti Di sepanjang jalan raya Nampak lelah pada raut tulus Saat pulang dari bertarung Alun-alun kota mulai padat Dengan segala macam kesibukan Mendapat kesenangan duniawi mewah Sampai banyak yang terlantar Digilas roda zaman serakah Senja pun malu-malu Mengakhiri terang Diganti gelap Menuju Malam Keramain telah diraih Kemenangan masih berusaha Untuk bergerak maju bersama Keramaian bertambah gila Oh... Alun-alun senja Teruslah ada tanpa kesombongan Makassar Rabu, 9 Mei 2018 By: Djik22

AKU PERGI DENGAN RASA KOPI (325)

Sisa setengah dari gelas kaca Yang diputar dengan balutan Mesra pada racikan tangan tua Memberi aroma rasa endapan uap Ketika rasa itu mulai hilang perlahan Terbawa pada suguhan berkicau Ibarat burung yang menari Dengan riang menanti Ajal malam hari Tapi tetap damai Hati yang bergelora Dengan sayatan kata Betabur silet yang tajam Kenapa tembakau masih ada? Seolah inginku menambah Dengan tawaran salah Hingga ketenangan Tak kuraih lagi Di tempat Terkecil Maka... Aku harus pergi Bersama rasa kopi Makassar Selasa, 8 Mei 2018 By: Djik22

NASIB KAUM TERLANTAR (324)

Perjuangan bangsa ini begitu liku Digabungkan dari ragam golongan Relakan diri demi meraih merdeka Sampai semua aset dikuasai sendiri Kenapa kaum terlantar meraja lela? Sampai negara melepas tangan Demi wujudkan tatanan Masyarakat makmur Nasib kaum terlantar Jadi boneka penguasa Yang tiba mendatangkan Segala macam kepentingan Mampukah tatanan dirubah? Yang mulai didikte oleh... Negara kuasa lain Cukuplah pembodohan Berhentilah berdengung Perubahan bermomentum Yang tidak terus berlanjut Dengunglah dengan suara lantang Sampai titik darah penghabisan Bebaskanlah kaum terlantar Dari kekangan apa pun Dari hulu ke hilir Makassar Selasa, 8 Mei 2018 By: Djik22