Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

OLAHRAGA MEMUPUK PERSAUDARAAN (457)

Selasa, 31 Juli 2018 lapangan bola kaki Nubalema (Papilawe) dipadati oleh ramainya para penonton yang menyaksikan acara seromonial pembukaan sepak bola antardusun. Namun, tak kala seru di pembukaan pertandingan mempertemukan Perak (Dusun I Desa Nubalema II) dan Dusun I Desa Nubalema. Kali ini, ajang olahraga di dunia sepak bola melibatkan tiga desa dari satu rumpun Nubalema. Yaitu, Desa Nubalema, Desa Nubalema II, dan Desa Oesayang yang terdiri dari sepuluh tim. yang mewakili tiap dusun. Bola kaki antardusun dari ketiga desa sebagai salah satu momentum untuk memperingati HUT RI ke-73. Ajang sepak bola ini sekaligus memupuk rasa persaudaraan dan membina mental anak muda. "Tujuan kegiatan ini adalah membangun sportivitas dan kesolitan Apolo (Nama Tim sepakbola dulu) yang sudah pudar (mati suri)" ungkap Pius Peka dore selaku ketua Panitia. Di sela pembicaraan, Wasis Kadir (selaku pemangku adat) menegaskan dalam sambutannya "Paling tidak, ajang ini mampu membangkitkan

SEMESTA BERGETAR (456)

Harum bau parfum Menembus ikuti nafas Dihirup bagi yang lewat Antara sadar dan tidak Tapi... Ada keanehan Saat pristiwa datang melanda Membuat yang wangi jadi amis Pada teba-teba jalan Yang dilewati anak darah Tak lupa bersiul memanggil Kemudian menoleh ke arah itu Sontak mata tertuju Getarkan hati Kala rasa tak bisa dibendung Serupa keinginan begitu kuat Lantaran kuasa Menjerit pada kepentingan Yang bukan untuk alam Namun untuk secuil birahi Seolah... Bumi yang dipijak mulai marah Tanah tempat bersandar mulai malas Pada tingkah laku yang aneh Karena tak ada terima kasih Hingga membuat semesta bergetar Sampai mengutuk Datangnya badai melanda Papilawe Minggu, 29 Juli 2018 By: Djik22

TETAP TERTANAM (455)

Lantaran kebohongan Tuan berkoar dalam kata Terbukti pada tingkah-laku Sampai tersesat bagi pendengar Kenapa tuan berbuat? Padahal... Raut kalahkan ulama Belum lagi sikap penuh dendam Atau tuan sebagai penjuru? Dalam setiap keputusan Baik di musyawarah Mau pun di tingkatan terkecil Kalau memang benar Simbol keramat bersuara Maka... Jangan bermain dengan keputusan Sebab... Banyak yang mengikut Bila laku dan kata Seiring sejalan Dalam lautan kalimah Serta ranting-ranting bahasa Yang dulu tuan berkuasa Sampai semua tunduk dan patuh Ternyata darah pembesar Membuat tuan lalai Dalam drama sandiwara Yang tuan cipta sendiri Setidaknya... Kesalahan jangan tertanam Biar akar sebagai penguat Dan biji sebagai bibit unggul Papilawe Sabtu, 28 Juli 2018 By: Djik22

MENJAUH (454)

Kehidupan adalah panggung dari sebuah drama sementara. Lantaran persinggahan sesaat, maka banyak yang berbondong-bondong untuk memupuk kebaikan. Namun ada juga yang tetap berdiri dengan ketidak hati-hatian. Sampai yang salah jadi sebuah kebenaran. Apakah sebuah kebenaran tak perlu dicari? Atau bersikap biasa-biasa dalam kehidupan yang penuh trauma masa lalu? Kalau memang masa lalu merupakan bagian dari sejarah, maka jangan lalai dengan pristiwa masa silam. Karena kejadian-kejadian kemarin sebagai loncatan menuju tangga perbaikan. Bagaimana meraih tangga ketika pijakan mulai kuat? Namun panggilan 'selamat tinggal' terus berbisik. Belum lagi, bunyi hasutan menguji kesabaran dengan berdalil tanpa bukti. Rupanya, kata-kata tak lagi mewakili prikemanusiaan. Hingga mendesak dalam keadaan ramai. Setidaknya diri ini bukan politisi yang suka berjanji, bukan juga koruptor yang menabur senyum di layar kaca. Apalagi, calon pembohong dan penggobral kata demi paras jabatan. Namun, dir

PESTA DAN CINTA (453)

Guncangan getarkan tanah Dalam alunan musik Penuh riang bersuara Pada malam yang menyengat Hingga kaki terus bergerak Ikuti irama berlantun semangat Sampai keringat mengering Kemudian basah lagi Oh... Goyangan yang luar biasa Seolah menunggu begitu lama Nada cinta yang memanggil Teruslah bergoyang Hilangkan rasa dendam Pupuklah damai dalam detik Merajut menit tali persaudaraan Sebab... Jiwa muda adalah berlian Semangat muda adalah senjata Untuk perubahan maha luas Tetaplah dalam alur Menjalar pengaruhi rasa Sontak berlaga mura rame Dibalut dolo-dolo Yang ramaikan... Tanah Papilawe bersejarah Dengan pesta pemersatu Dengan cinta terus menyejuk Papilawe Jumat, 27 Juli 2018 By: Djik2

AKU DAN CITA-CITA VI (452)

Kalau memang benar hidup butuh pengaturan. Maka, janganlah bermain dengan aturan yang telah dibuat. Karena jika tidak, maka akan membawa malapetaka yang dirasakan bersama hembusan angin dan jatuhnya dedaunan. Kenapa daun terus jatuh mengotori bumi kita dibesarkan? Lalu kenapa sudah beranjak dewasa kebanyakan yang lalai? Ah...Ternyata permainan terus berlanjut. Serupa hidup penuh drama yang dilakoni dengan curang. Sampai di batas patok pun orang-orang beranikan diri untuk melanggar. Hingga kesalahan dianggap sebagai budaya yang perlu diteruskan. Terus kapan tanah ini subur dengan kemajuan? Belum lagi, banyak yang menikung. Sampai tak mengenal lagi dengan sehat dan pikiran berlian. Seolah kekuasaan jadi incaran dan jabatan mengalahkan akal budi dalam putaran drama keadilan. Drama yang membuat penonton terbawa ke alam mimpi. Hingga tak sadar, ada aktor terbaik yang bersembunyi dengan kepentingan pribadi. Apakah hidup tak butuh kebersamaan? Atau kebersamaan tercipta lewat 'darah

TERBUANG (451)

Saat kau sanjung Aku terbang begitu jauh Melintasi batas nafas Meluap dalam riang Seolah... Sayap mata berkedip Tak henti tiap hari Sampai terus mengingat Tapi... Kenapa kau begitu tega? Serupa kesenangan hanya mimpi Dan gembira hanya khayal Yang datang kuasai hati Menggoda dalam sukma Hingga tak dapat menimbang Antar lukamu dan sendiriku Oh... Aku tahu tentang rindu Yang kecil dan dewasa Dalam batas umur Rindu hilang sekita Mengalahkan kata manis Dan pelukan hangat Ketika dingin datang Anggaplah... Kau bawa aku ke alam mimpi Saat sadar tiada nyata Sampai aku terbuang tanpa kata Papilawe Kamis, 26 Juli 2018 By: Djik22

ANTARA PERTEMUAN DAN KOMITMEN (450)

Waktu begitu lama berputar, saat kakiku melangkah menuju antrian panjang yang namanya perubahan. Bukan hanya soal gagasan yang jauh dari hangatnya realitas. Tapi, kau dan aku sembari bergandeng tangan dalam babak tragis kehidupan. Hidup memang penuh dengan teka-teki. Terkadang penuh dengan tanya yang harus dicari jawaban. Seolah, kotak kosong yang harus diisi dengan hati yang ikhlas. Bukan dengan kepentingan yang bersembunyi. Boleh bersembunyi, tapi jangan kau acungnkan jempol pada pijakan yang salah. Sebab, aku telah lahir dari rahim pergulatan kebenaran. Atau kau tetap bersembunyi? Hingga yang dulu kau kutuk kini kau mengemis. Yang dulu kau lawan kina kau jual dengan murah idealisme. Oh... rupanya, kau bersembunyi dibalik kepentingan yang sudah tepat kuanalisis di kejauhan hari, di kejauhan jarak, dan di hembusan angin yang tak membenci ruang dan waktu. Padahal, pertemuan kau dan aku sudah dibangun atas dasar panggilan tanah lahir. Namun, kini kau sudah lebih dahulu masuk dala

DI HENING KUBERNAFAS (449)

Kaulah detak yang bernyawa Dalam pelukan malam Terbalut sarung bergaris menyulam Antara sandaran menunggu kata Hingga teka-teki Jadi pengaruh berarah Dalam nafas beresejarah Kau berkata menunggu pagi Oh... Kaulah sang malam Menawar rindu tak terucap Sampai terus memendam Tapi... Kenapa kau tak bisa kujauhi? Pada sadar dan sukar Telusuri garis jalan sejajar Seolah... Kaulah penerang Pelita dan harapan berpanah Yang tak bisa bergerak Kapan kau mengungkap rasa? Biar bimbang tak bertuan Sampai bahasa tak berkuasa Untuk mengatak kejujuran Namun... Kusadar dengan sandaran Penuh lara yang membekas Di hening kubernafas Kenotan Jumat, 20 Juli 2018 By: Djik22

HARI TERAKHIR BERSAMA SANG PETUALANG (448)

Indonesia begitu luas untuk ditelusuri. Namun indahnya panorama dari Sabang-Merauke ibarat surga yang hilang di tanah pertiwi ini. Hingga tak heran, banyak di antara anak bangsa yang menghabiskan waktu untuk berkeliling (Petualang) di Nusantara. Hal ini, dilakukan oleh Mas Muhammad Mahir. Beliau adalah orang muda yang menjalankan ekspedisi di Nusantara. Kali ini, tepat tanggal 10-20 Juli 2018 beliau menginjakan kakinya di Pulau Pembunuh (Adonara). Beliau sempat mendaki gunung Boleng yang terletak di Kecamatan Ile Boleng pada tanggal 14 Juli 2018. Saat berpetualang di Adonara Tengah, beliau banyak menghabiskan waktu untuk berdiskusi. Namun, diskusi yang diselenggarakan lebih banyak di tingkatan pendidikan formal. Karena bersilahturahmi dan sosialisasi tentang pentingnya literasi. Ada pun beberapa sekolah yang pernah kami kunjungi bersama beliau pada hari pertama yaitu, SDK Waibreno dan SMP Negeri  I Adonara Tengah. Hari kedua di SMA Negeri I Adonara Tengah. Pada Hari ketiga di SM

JIKA NANTI (447)

Tangan yang telah digariskan Penuh dengan makna Tertuang dalam kata Yang tak berkesudahan Hingga alam pun... Mulai setia bernada Memainkan ritme nostalgia Yang terus berputar tentang kenangan Sampai ada yang mengulang Pada pristiwa yang sama Di waktu yang berdering Memutar dengan senyum bernyawa Pada anak manusia Yang berlenggang ramai Dari malam ke pagi Hingga terus mengasa Asalah dengan hati Biar tetap tajam Yang tak bisa tenggelam Melewati lajunya hari Jika nanti Datang kemarau berdebu Maka... Siapkan hari dan terus melaju Papilawe Kamis, 19 Juli 2018 By: Djik22

BERPETUALANG LITERASI DI ADONARA TENGAH (446)

Selasa 17 Juli 2018 tepat di SMAN I Adonara Tengah, Desa Kenotan ada pengisian materi khusus literasi oleh kawan Muhammad Mahir dari Jakarta. Beliau adalah seorang petualang menggunakan sepeda keliling pulau yang ada di Indonesia. Sekarang beliau sedang berkeliling di Provinsi NTT, Kabupaten Flores Timur, Kecamatan Adonara Tengah. Beliau menggunakan metode pengajaran merangsang siswa untuk mudah menangkap atas apa yang disampaikan. Ternyata sekitar 70 lebih siswa yang menyimak pun tak ada ketegangan. Sebab pola penyampaian yang luar biasa dan kontekstual. Sekitar kurang lebih satu jam memperkenalkan dunia literasi, beliau juga berpesan. Bahwa "Di Eropa orang sudah naik sepeda, ternyata kita belum memulai. Maka sudah saatnya memulai dari cara berpikir dan bergerak bersama". Tanya jawab pun berlangsung. Sehingga siswa diberikan kesempatan untuk berekspresi. Ini juga bagian dari keterampilan mengarahkan siswa untuk berani dan selalu siap dalam hal keterampilan berbahasa.

KAULAH KASIH TERBAIK (445)

Hadirmu... Seolah tak mengenal waktu Antara sadar dan tidak Pada desiran angin Hingga menghempas... Di dedaunan yang jatuh Saat sinar penerang Pancarkan cahaya ke bumi Tapi... Kau tak berubah Digilas waktu dan hari Pada hembusan nafas Anak manusia Berpijak di alam raya Sebagai guru... Dan tempat berlindung Namun kala pagi menjemput Seusai bangun Kala mata masih kaku Dalam keadaam yang ramai Warnamu memberi makna Tentang kedalaman Lahirkan imaji tak pudar Di atas batu kala aku duduk Menulis bait bermelodi Dalam sajak bebas Harus kubutuh dirimu Biar tetap berada di sisiku Kaulah pahit yang menarik Hitam yang memikat Dalam gelas kaca Kau berikan aroma kasih terbaik Papilawe Minggu, 15 Juli 2018 By: Djik22

LUKA MULAI PERGI (444)

Kemarin adalah luka Yang tertanam begitu dalam Sampai isak tangis Belai air mata Yang jatuh basahi pipi Menembus ke tanah Nubalema yang bersejarah Tertanam di bait Papilawe Setidaknya tanah telah basah Maka... Jangan lagi tiba duka Bila air mata belum kering Sebab... Jatuhmu tak bisa dibendung Dengan tenaga lemah Dan harapan lesuh Tapi... Semua diterima Dengan baris doa Yang berlantun ke langit Hingga terang benerang Seperti langit saat pukul sebelas Lewat tiga puluh menit Waktu lantunan bernada Mengikuti detak jantung Melepas kepergian Dengan ikhlas tanpa amarah Menekam dalam dada Papilawe Sabtu, 14 Juli 2018 By: Djik22

BARA DI KEDINGINAN (443)

Suasana malam Dibalut dingin menyengat Sambil datang... Angin sepoi-sepoi Menghibur hati Terdengar suara indah Tercampur nostalgia Begitu nyanyi bergemuru Ternyata... Keadaan menjadi gelap Ketika menatap datar Kiri dan kanan Saat melihat ke atas Bertabur bintang-bintang Dengan senyum menggoda Sambil mendengar bunyi gitar Lalu... Alunan musik Bersama kutikan tali temali Berlantun lagu Gereja Tua Nyanyian menghibur luka Bangkitkan semangat Melawan bernostalgia kelam Dengan bara menyala-nyala Papilawe Rabu, 11 Juli 2018 By: Djik22

DARAH YANG MENGALIR (442)

Masa silam Di babat tanah suci Subur membuana kata Kala petuah melingkar Sambutan bergejolak Sirami tanah yang kering Dengan kata... Penuh kedalaman Oh... Wujud menyembah Dengan kedalaman hati Tanpa harus selisih Antara satu Dibalut dua seirama Dalam dentingan Bunyi menyulam lagu Tapi... Kenapa masih menuntut? Atas apa yang diperbuat Di waktu ke waktu Sampai tarik ulur Perkataan manis Hilang tinggal pahit Di hembusan angin Ada air mata Dibalut tangis Dengan darah yang mengalir Atas pristiwa pembunuhan Papilawe Rabu, 11 Juli 2018 By: Djik22

MENDUNG DAN DUKA (440)

Saat bencana Datang melanda Kala keramaian pagi Yang bermain dengan damai Oh... Harapan bersama Ketika tarikan nafas Dengan riuh memanah Tapi... Kenapa tiba tak disangka? Antara sadar dan rasa Di atas ranjang bergulat Terdengar suara tangisan Mengaliri pipi Terengah-engah meronta Menuju kepulangan Saat pagi mulai pergi Bahagia berganti Penuh kaku dan laku Di tanah kering perkampungan Setidaknya mendung Harap jangan hujan Biar tak menambah Air mengalir terbagi Namun... Mendung tetap betahan Seolah tak bisa pergi Dalam duka kematian Papilawe Selasa, 10 Juli 2018 By: Djik22

DERU ANGIN BERGELOMBANG (439)

Kaulah yang kuhirup Dari pagi menuju pagi Hingga siang menjemput malam Membawa rasa yang menggila Iya... Aku tetap merasa dengan ratap Namun kau bahagia... Dengan corak berlagak Melangkah dengan sengaja Pada ayunan kaki Kibaskan hati untuk dinanti Setiap mata yang menatap Tapi... Kenapa mata belum terang Memandang indah Pada bola dan rautmu Yang terus tersenyum Bagi mereka terhipnotis Namun tak berlaku... Untuk diriku yang layu Sebab... Aku tahu dari yang bersembunyi Dan aku diam ditelan waktu Pada sepoi angin rindu Biar rindu tetap bergelora Dengan senang dan tenang Bersama kosongnya raga Tersisa deru angin bergelombang Papilawe Senin, 9 Juli 2018 By: Djik22

ZAMAN MEMINTA (438)

Deru angin bergelombang Lantunkan lara Libatkan bahagia Kibarkan suara menggoda Hingga dalam limit waktu Siklus mulai bermain Mengajak canda dan cumbu Terbalut cemburu Dalam hidup penuh liku Yang tak bisa dibendung Terima pada ratap... Dengan tangan terbuka Hidup ini terus berlanjut Pada lelaki Berlaku hingga ke hawa Tua dan muda lengkap merasa Akan majunya pesona Terjalin romantika Mematok batas penghubung Pada manusia di alam semesta Rupanya... Tua menjadi muda Yang muda bertahan awet Karena zaman terus meminta Palilawe Senin, 9 Juli 2018 By: Djik22

YANG BERLARI (437)

Pekat malam kelam Mengantar dalam bayang Pada cahaya dan noda Yang membekas masa silam Aku yang berharap Kau yang pergi Kapan tiba malam berganti pagi? Sampai tujuh kata setuju Yang pernah terukir Yang digambar pada pose Saat kau dan aku berdiri Seolah sepasang tak bisa dilepas Kenapa begitu cepat? Hingga tak kusadari Dari hari ke hari Sampai aku terpuruk Jatuh dalam patahan luka Di pahatan hati Yang lukanya mulai bengkak Seirama tanda status yang ramai Terpampang di dinding Tertempel di taburan duri Yang menusuk perlahan Sampai lubangi hati Kenapa setega itu? Adakah harapan kedua Yang ajarkanku... Tentang cara berlari Menuju pundak indahmu Hingga duduk di samping Sambil berbisik... Inilah dunia yang dinanti Papilawe Minggu, 8 Juli 2018 By: Djik22

AKU DAN CITA-CITA V (436)

Kalau benar hukum bisa dibeli dengan sepecer rupiah, maka dongeng cerita dibalut kebohongan masih terus berlanjut. Hingga tangan Tuhan tak mampu menegur. Karena egoisme begitu berkuasa dengan alur naik turun suara parau orang kesakitan. Sampai membutuhkan obat untuk tenangkan rasa sakit. Andaikan hanya rasa yang digunakan dalam berkecimpung di dunia nyata. Maka logika akan berontak meminta keadilan pengunaan. Sebab, hanya rasa akan mudah mengalahkan banyak hal. Apalagi belum terlalu matang corak berpikir dalam alunan musik berirama pada warga desa. Belum lagi musik yang sempat memuncak namanya di lingkaran kerabat desa. Sekarang perlahan mulai redup bersama semilir angin malam menuju siang. Ditambah senja menuju pagi. Jikalau pagi adalah lembut nafas menghelai kehidupan baru. Tapi kenapa tak ada pembaruan yang ditemukan semenjak dua tahun terakhir? Apakah tahun pun mati suri seperti meminta diputar lagi jarum jam? Kalau memang mengiyakan jarum jam berputar lagi. Maka keadaan pun

AKU DAN CITA-CITA IV (435)

Rupanya predikat dari mereka yang memberi pandangan tak sah bila disalahkan. Sebab, hidup manusia harus butuh penilaian. Karena manusia secara individu tak bisa menilai dirinya sendiri. Ia harus membutuhkan penilaian dari orang lain. Baik itu yang menilai dengan pandangan bijak dan begitu juga sebaliknya. Sebagai manusia, harus mampu dan terima atas apa yang ditafsir oleh mereka yang dikategorikan sebagai maha tahu di atas bumi tempat berpijak. Apa pun yang dikatakan, dibicarakan, dan didiskusikan dari mulut ke mulut sampai menggunakan perasaan adalah siklus dari pola pikir manusia. Karena pola pikir dipengaruhi oleh lingkungan dan cara bergaul. Bersyukur kalau mereka yang bergaul melewati batas wajar. Maka sedikit tidaknya mata pena pengelaman lebih unggul dari bidang tanah datar yang dipersoalkan. Karena sampai dengan hari ini, tanah ulayat terkadang menjadi sengketa berkepanjangan. Sehingga kebencian membuat perceraian antara keluarga, sanak keluarga, dan saudara se air susu.

AKU DAN CITA-CITA III (434)

Karena tanahmu tak pantas menumbuhkan rasa dengan suara tuduhan tanpa bukti. Apalagi, perbuatan baik terus dikutuk. Hingga membuat tabu kalau banyak yang melakukan perubahan besar dianggap tak pantas. Namun ketika dua pasang perbuatan yang mencakar langit bangunan rumah, maka bangunlah dengan hati dan kerjakanlah dengan jiwa yang besar. Biar sedikit perlahan, tabu keburukan terus dibenahi. Sebab keburukan akan terus dipertahankn, maka kemajuan berjalan perlahan mulai lambat hingga pudar. Untuk warnanya pudar, tapi bagaimana alam semesta ikut pudar sampai tak terlihat oleh mata yang jujur? Lalu kemana telinga menyimak pesan indah menenangkan jiwa? Sadarlah untuk mata yang melihat, untuk telinga yang mendengar, dan kulit yang merasai segala hiruk pikuk tanah lahir yang berumur tak lagi muda. Biar umur terus bertambah, tapi jangan bendung usia masuk ke liang lahat bersama papan catur penuh warna. Berilah makna setiap warna yang dijadikan simbol. Ingatlah pesan pada hitam yang telah

AKU DAN CITA-CITA II (433)

Kuputuskan untuk tak kembali jika pergi nanti adalah kebulatan niat yang ditimbang matang-matang. Bukan karena emosi yang berkuasa, hingga waktu pun tak bisa diajak kompromi untuk berhenti. Tapi inilah hidup yang penuh konsekuensi. Paling tidak ada pilihan, biar yang dipilih merupakan jalan penuh pertimbangan. Menimbang dengan air mata yang mengalir akan membasahi tanah Nubalema yang telah membesarkan diri. Namun air mata terus mengalir sampai tak sadar kala tempat pembaringan ikut basah. Seolah hujan turun di musim panas dengan sinar yang menghitamkan kulit. Bagaimana tidak? Di tanah Adonara begitu gersang kala musim kemarau tiba. Debu dengan senang hati memainkan ritme mengikuti langkah kaki warga desa. Langkah dengan rambut terurai kala gadis desa dan para ibu-ibu melewati lorong setapak yang dibangun satu tahun yang lalu. Sampai hari ini, sisa sedikit menuju pembenahan demi kemolekan desa dari tata letak bangunannya. Semoga menjadi mata dan tenaga yang gembira. Walau sebagia

ANGIN MENYAPA DI PAPILAWE (432)

Terik begitu menyengat Dalam keadaan kering Yang meronta pada debu Meminta di kerasnya tanah Lalu... Tanah para leluhur Tetap kering mengharap basah Namun musim belum berganti Jika meminta ganti Maka... Harap menunggu satu tahun Dengan berganti air hujan Datanglah dengan lembut Walau kau beri petunjuk Lewat angin ribut Pada hening yang sesaat Ketika hening bisa diganti Larutkanlah raga Pada setiap suguhan Air mata yang kering Gantilah hening dengan angin Tapi... Jangan lagi ada malapetaka Sebagai tanda kematian Namun hati dan keaadaan Tetap tenang Dengan datangnya angin Yang menyapa di Papilawe Papilawe Sabtu, 7 Juli 2018 By: Djik22

AKU DAN CITA-CITA I (431)

Sudah sekian tahun. Aku memupuk rasa untuk dedikasi kepada yang mengagumi sekaligus yang membenci. Tapi rasa dan ingin terlalu cepat dibatasi. Hingga aku dipojokan dengan kata dan kutukan. Padahal, dengan kepulangan membawa harapan besar. Namun sayang, semuanya tak direstui. Entah apa jadi alasan dalam zona dunia fatamorgana. Tapi alam semesta yang indah mengiyakan. Akan tetapi, keindahan yang melahirkan telah membelahku masuk ke jurang yang begitu dalam. Sehingga kuputuskan dalam kata, kutuang dalam sanubari, dan kubatalkan yang terpupuk. Bahwa apa pun salah yang sengaja tercipta adalah kebuntuan yang kutemui. Bukan aku tak mampu melewati tantangan yang bermelodi, namun jalan panjangku selalu dibrenggus dengan sadis. Apa pun yang kulakukan semenjak menginjakan kaki di Pulau Pembunuh adalah dengan ketenangan, keikhlasan, dan air mata bahagia. Tapi yang kupinta selalu dilanda dengan kata 'jangan' oleh bumi yang membesarkan. Kusadari dengan analisis yang tajam. Bahwa 

CAHAYA DI NUBALEMA (430)

Saat dingin menyapa Suasana hening mulai ramai Bersama rerintik hujan Basahi tanah yang berdebu Tapi... Hanya sesaat Kemudian tenang lagi Kala dentuman suara mobil Mengalahkan panggilan ibu Sembari ayah bersiap senyum Hingga alam datang berbisik Pada telinga penghuni desa Namun mata tetap menyaksi Tempat sejarah penuh tragis Yang kini mulai damai Dengan gembira kalahkan panas Oh... pagi yang ceria Sisa embun mengendap Di daun pada tiap rumah Berdiri tembok merah Iya... warnanya keberanian Ditambah luka lama Yang belum disembukan Sampai tersisa angin ribut Hati ini tetap bergembira Seolah membawa penawar rindu Sembuhkan raga berudara Datangnya cahaya di Nubalema Papilawe Kamis, 5 Juli 2018 By: Djik22

KEMBALI KE MUASAL (429)

Derai air mata Kala usia menua Antara rasa dan maut Begitu dekat di alam sadar Oh... umur ditakluk takut Seolah mati tak mau Hidup pun tak ingin Di atas dunia penuh luka Luka datang... Bersama udara menyengat Ceritamu tak henti Melawan dengan petuah Berilah hangat Yang menawar dalam hati Sampai petuah tetap dibawa Hingga cerita tak usai Iya... Cerita yang datang Di atas bukit Lamahoda Mengajak kembali ke muasal Lamahoda Rabu, 4 Juli 2018 By: Djik22

MENUJU SENJA (428)

Enam pasang mata Datang dalam kata Mengajak untuk akrab Biar jadi karib Padahal... Mata ini menjadi terang Kala digabung yang lain Sampai tetap menatap senja Namun senja tetap menyapa Dalam ramai tercipta Atas karsa dan rasa Menggugah relung batin Oh... Hati yang menawan Kenapa kau datang? Menawar jenaka Hingga tertawa dalam riang Yang semakin gelap Condong ke ufuk barat Sampai kaki ingin melangkah Tetaplah melangkah Dengan damai dan setia Biar mengukir rayu Di empat sisi penjuru Papilawe Minggu, 1 Juli 2018 By: Djik22