Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Mengingat Kelabu Lalu (225)

Sinar mata Mengaliri air susu Di raut ina Duduk di pojok lalu Tangan ikhlas membelai Sontak pagi Yang menerjemah petani Lahan indah menguji lagi Tak ada keluhan Apalagi rasakan penat Di pelupuk mata menahan... Air muka begitu menyayat Mengingat kelabu lalu Tubuh ina di gubuk tua Tangan yang tak terbaca Mimpikan sarjana berbudi lugu Belum tuntas tugas ini Mimpi yang telah diretas Terus menguji... Bersabar penantian memanas Percaya adalah bisikmu Kelak berdiri berdamping Usai penjara dikalahkan ilmu Dengan bahagia bergandeng Masihkah ina percaya? Bila tahun depan bersua Sambil memeluk hangat Menjawab tak lagi cerewet Makassar Sabtu, 31 Maret 2018 By: Djik22

Samar-samar Melamar (224)

Posisi terbaring Kau sapa riang Sambil perbaiki tidurku Rapikan letak bajuku Tapi... Tak sadar Siapa yang menyamar Dengan tusukan api Memaksa otak Mengingat kelabu lalu Tetap digapai buta Dengan mata katarak Ternyata... Mata indah tak melihat Senyum tipis seolah menggoda Kaulah si pemikat Relakah bila aku pergi Atau dengan cepat Kau mencari ganti Sampai aku di liang lahat Makassar Sabtu, 31 Maret 2018 By: Djik22

Berilah Sedikit Waktu (223)

Hari-hari telah diganggu Dipaksakan menaiki... Puncak menara Yang ditiup angin kencang Saat tubuh penuh luka Tak ada yang malu Mengganggu tenggorokan kering Diterpa penyakit hati Samar-samar melamar Hampiri raga Dengan cahaya Di samping arus menjalar Dua musibah Mencekik sukma Mengidam lara Seuntai lagi sedih Kejujuran... Sudah tak ditaati Walau penuh tangisan Memberi penjelasan bernadi Hanya meminta Tapi tak memohon percaya Kalau bisa... Berilah sedkit waktu Perbaiki segala bencana Makassar Sabtu, 31 Maret 2018 By: Djik22

Berdoa Pada Kuasa (222)

Malam Jumat Di samping comberan Kota tua menekan-nekan... Nasip yang bernapas maut Sekali kuberpijak Di kolong langit Tak dianggap menelisik Merobek keruh memanjat Dunia yang mulai congkak Ditertawai lalu-lalang pelawak Yang menyertai tawa Memancing banyak pelupa Saat itu aku sadar Di keheningan kliwon Keramaian yang bersandar Pintaku tak henti memohon Hanya padaMu Tempat awal mulai Tempat menuju kembali Aku ingin menghadapMu Kuasa yang tak tertara Di dunia pelantun syair Dengan merdu merana Tak bersaing mengikat ingkar Berilah sedikt waktu Biar kuperbaiki tabu Yang pernah berlalu Yang pernah kuberlabu Makassar Jumat, 30 Maret 2018 By: Djik22

Berhenti Mengada-ngada (221)

Pemberontakan Tak ada henti bertepi Di panggung kuasa pelantun Disasksikan ribuan telinga tuli Propaganda Terus berlanjut berdansa Di bawah sanjungan harga Murah menawar jasa Semua serba kepentingan Yang lalai ditawan Yang setia diagungkan Yang menolak dikira pikun Sepertinya mengada-ngada Kalau menerawang... Di pembatas gerbang Menuju ruang megah istana Lalu kenapa penuh tipu? Siasat merayu-rayu Strategi keritingkan bulu Di permainan pemilu Mau diapakan jerit tangis? Dibiarkan berlalu? Atau ada tokoh lugu Tiba dengan raut bengis Jangan mengada-ngada Kalau keadaan bersedih Dipersempit limit nada Diperlebar dana mendidih Jadilah sederhana Dekatilah yang lagi sengsara Hapuslah air mata Timanglah dengan raga Balutlah selimut rasa Makassar Jumat, 30 Maret 2018 By: Djik22

Tertuang dalam Bahasa (220)

Genap tulisan Yang di pampang Sebuah kode rahasia Menjalar batas semesta Semua yang berliku Sisa yang rumit Digandeng pemanis mudah Yang melawan dipasung jerat Tiada henti berduka Hitungan sekian yang menjarah Semua aku tuang... Lalu kau lupa berlapang Seperti para pendosa Bersembunyi lewat bahasa Apa sebenarnya peran bahasa? Bukankah sebagai komunikasi? Kenapa dipakai bercocologi? Semoga berhenti mengada-ngada Makassar Jumat, 30 Maret 2018 By: Djik22

Penutup Bulan (219)

Sebentar lagi... Pergimu sisa sehari Yang tak ada rela Untuk menatap berkata Seolah suara terkikis Dilambaikan dedaunan Membayangi undangan manis Dalam pesta perkawinan Kenapa secepat itu? Bukankah kau masih setia? Rupanya... Ikuti ritme masehi berlalu Lalu untuk apa? Kau sisisakan luka Kau titipkan dermaga Yang mengguncang neraka Aku ingin di bumi Belum menggapai... Surga berdasar cerita Tertuang dalam bahasa Makassar Jumat, 30 Maret 2018 By: Djik22

Masih Setia Bersamamu (218)

Keagungan hari Beriring salam berjanji Di balut mata sayu Kubisikan bersama layu Sekitaran diamku Dilambangkan penamu Semenanjung pantai selatan Jadi puing azimat kepercayaan Masihkah kau mengelak? Kalau keramaian mengajak Pada duri... Dan belukar wemangi Selama nyawa ini ada Maka, rerumputan pun... Akan tunduk menyapa Memeberi jalan menawan Aku masih setia Biar ganjil angka Penutup bulan tiga Kala manusia menuju gereja Maukah terus berdoa? Atau lalai dalam durhaka? Makassar Jumat, 30 Maret 2018 By: Djik22

Sendiri Lagi #1 (217)

#Part 01 Jangan tanyakan kenapa aku berubah. Kemana harus pergi berlindung. Seolah semua jalan sudah tertutup lantaran percaya. Lagian percaya, tak sesuai gambaran keadaan yang gelap di pelataran rumah kayu. Yang dicat berbagai warna dipadukan menawan. Ada hitam, merah, putih, dan masih banyak lagi campuran. Dipoleskan pada dinding-dinding sebagai seni bercampur mitos bacaan kepercayaan. Tiba-tiba, datang sebuah badai yang sulit dilupakan bersamaan datang orang dari belakang menempuk pundakku. "Kenapa mengelamun?" Jawabku "Aku tak mengelamun." sambil menoleh ke arah sumber suara. Ternyata yang datang adalah kenalan baikku. Usianya tak jauh beda denganku. Dia berusia 21 tahun, yang biasa dipanggil Raka. Raka adalah anak anggota DPRD dari kota kelahiranku. Kebetulan kami sama-sama berdomisili untuk melanjutkan pendidikan tinggi di kota yang sama. Tapi berbeda kampus dan jurusan. Raka orang yang pengertian dan punya banyak cara menenangkan hati. Banyak keleb

Hingga Hilang Tertelan (216)

Dengarlah paduka Aku ingin memberitahumu Dengan suara disesaki harapan Sambil berbisik perlahan Mendayu nada... Terbata-bata luka Aku masih di sini Mengingat bersama bumi Yang berbentuk bulat Dampingi bola mata cokelat Kulit bersih Semenawan pendobrak sejarah Suara yang tak mati Dipasung, dikejar, digesek api Dengarlah... Aku memilih menyendiri Lantaran mulai... Banyak kasat mata gerah Akulah martir... Yang dicurigai berjejer Seolah dahan percaya Tak lagi ada Hingga malam datang Baluti sepi menerjang Tak ada lagi membela Apalagi berpihak bata Terakhir seperti bangun Kesadaran mulai pulih Yang pernah mencerah Hingga hilang tertelan Dan aku... Masih setia bersamamu Yang kunamai mahaguru Makassar Kamis, 29 Maret 2018 By: Djik22

Sampai Kini Jadi Misteri (215)

Pandangan jauh... Melewat batas mampu Tak ada cara ampuh Menerka bersama merah Yang kini... Mulai hilang buram Di bawah langit biru Di atas tanah tandus Bertumpukan batu-batu Dihalang kayu hitam Sampai sejauh ini... Tak ada beri penjelas Kenapa jauh pergi? Bersama angin lalu Saat duka belum usai Dihantam rasa pilu Mata dilucuti senapan Diseret dengan bengis Dituduh membawa keributan Jadi ketakutan penguasa rakus Mati yang bukan takdir Dijemput paksa Yang tak terbaca Sampai menurun di fajar Kapan kembali? Atau niat jadi... Pejuang tanpa pamri Yang menyisakan sisi Seperti barisan puisi Kenapa jadi misteri? Gugur mengikuti pahlawan Berjuang... Hingga hilang tertelan Tapi tak dimakan usia Makassar Kamis, 29 Maret 2018 By: Djik22

Menambah Kematian (214)

Yang telah hilang Bersama zaman darah Air mata bersimbah Luka tak bisa dibuang Tentang kematian Dicatat dari petani Diukir dari buruh Dilukis dengan nelayan Digambar oleh si miskin Diingat kala duka para napi Masihkah eksekusi? Ketika salah dijeblos Ratap tangis keluarga Meminta ampun tak peduli Tuan tuli Kuasa tirani terbalut... Kemewahan derita budi Singkirkan aroma bangkai Ingatkah lubang dalam Memangsa ala buaya Ditembak dilucuti api Jadi momok sejarah biru Terbawa di atas meja Lama menunggu diekspos Sampai kini jadi misteri Makassar Kamis, 29 Maret 2018 By: Djik22

Dalam Lubang Terpahat (213)

Galian belum begitu dalam Dibacai mantra para dewa Meminta sembah Ditambah hormat mulia Lubang yang terpahat Di dasar tanah Di atas menguning Warna keemasan pudar Berjelma menjadi pusaka Yang lama... Di kegelapan bisu Telah ditemukan sinar Lubang yang digali Tak sembarang dirabah Apalagi disentuh buta Maka seolah tak dilihat Jangan lupa... Panjatkan lagi doa Lagi... dan lagi... Biar tak tertutup tanah Menambah kematian Makassar Kamis, 29 Maret 2018 By: Djik22

Berhentilah Patah (212)

Ranting kayu itu... Masih bersiul merdu Ketika hujan turun Dengan suara gemuruh Di batang  licin Pandangan yang cerah Kenapa hujan mengguyur? Dikala terik sukma berduka Disambar kelakuan aneh Sambil menyapa sabar Waktu berjarak rata Saat kondisi tersentuh Dimana patahan? Seolah persembunyian... Mulai terkuak berlantun Sama deras mengirim pesan Kenapa setega itu? Bukankah telah kuat? Rupanya sengaja merindu Biar dalam terikat Cahaya telah pudar Patahan tambah lengah Di batas-batas kraton Yang sempat tertulis nama Yang samar-samar Tak terelakan menekan Saat-saat retak resah Detak mulai hilang jua Berhentilah patah Walau kondisi begitu parah Tetap kuat Walau dalam lubang terpahat Makassar Rabu, 28 Maret 2018 By: Djik22

Proyek Perubahan Bersama (211)

Lantunan lagu dan semarak euforia didengung lantang. Seolah hari-hari adalah dihabiskan untuk berjuang; seperti setiap menit dan detik dihitung dengan ritme starategi taktik. Pemahaman menghitung pola yang matang menunjukan, kalau sebuah perubahan tak bisa diraih dengan 'semudah mengembalikan telapak tangan'. Belum lagi banyak yang mengejek. Lalu masihkah ejekan dipandang perlu untuk menurukan semangat? Kenapa ada yang mengejek kalau bicara soal perubahan besar yang maha dahsyat? Seharusnya ejekan adalah harum bunga yang mewangi; menawari seuntai ketidaksukaan. Tapi inilah masalah kecil untuk ditelaah lebih jauh lagi. Biar 'si tukang ejek' mampu disadarkan dalam barisan massa yang berjuang. Jangan-jangan pemahaman yang keliru dan ditambah dengan minimnya bahan bacaan untuk mengartikan dunia yang penuh dengan mainan. Entah yang bermain jujur atau bermain penuh penipuan. Seharusnya, perlu di tanam mimpi besar untuk meraih sebuah tujuan dengan arah kompas atau pijakan

Alam Raya adalah Sekolah (210)

Politik balas budi Tetap membekas iringi musim semi Yang mengkoyak bangsa berumur tua Didengung bersama semangat merdeka Kini perlahan digilas Sejarah peradaban diserang Binasa, pencemaran, dan longsor Tak dipandang dari dampak serakah Lewat penebangan liar Dan tak berganti menanam yang baru Demi hijau alam biar tak tegang Di kemilau suara yang merdu Bukankah alam raya adalah sekolah? Lalu kenapa tak ada perawatan... Dengan tangan halus menawan Sambil dibalut otak yang tak salah Seolah tak ada... Lagi penghormatan atas hutan Tempat pelindung kemajuan dunia Dengan benteng bagai penahan Kemana lagi harus berlindung? Jika alam tempat pelampiasan Kejar target membuka keran Atas suburnya kuasa menerjang Hargailah pejuang terdahulu Biar tak ada yang lupa sejarah Apalagi dilaknat, dikutuk murkah Demi penjaga tak lupa waktu Berulang kali... Pencurian lewat kemajuan Pembungkaman lewat uang Penutupan kasus amplop menawan Hingga alam jadi incaran... Bagi pe

Melawan dengan Pendidikan (209)

Kondisi tak lagi baik-baik Carut-marut kesenjangan Memberi dampak... Mencekik leher demokrasi Hak rakyat banyak direbut Gelora suara mahasiswa Dianggap berbahaya Maka, lahirlah kebijakan mengikat Kampus bukan hanya alam bebas Yang jadi ketakutan Bila lewat mimbar bebas Berbisiklah dalil birokrasi menekan Hati-hati... Kalau tidak dilengser dari status Ditakuti dengan skorsing Diancam dengan nilai Yang begitu miris Yang begitu menegang Betulkah pendidikan menuju cerdas? Kenapa seribu aturan dilahirkan? Kemana demokrasi? Meminta mahasiswa duduk bersama Yang bicara dengan hati Tanpa ada kebohongan Apalagi kepentingan pemodal waras Menanam saham seolah jenaka Masih adakah mimbar bebas? Sesuai dengan konstitusi negara? Atau pura-pura tuli dan buta Semoga saja... Bukan alasan malas Dimana pendidikan sejati? Yang katanya memanusiakan manusia Dengan pola bebas berdialektika Semua mulai dilalai Lalu untuk apa pendidikan? Kalau jadi lahan bisnis Demi k

Sajak Tak Mengelak (208)

Ruang waktu Tak sesempit batas... Pikiran yang dibunuh Apalagi melarang lewat semu Ketakutan kalau ektrim menelaah Hingga pada pandangan bergaung sinis Dunia ini... Bukan hanya tempat kebaikan Bukan hanya kesopanan jadi ukuran Tapi... Penuh dengan kepunahan Yang diganggu oleh kecantikan Dirayu oleh tawaran yang tinggi Angin yang dihirup Tanah tempat berpijak Laut bagian sumber kehidupan Air yang menghapus dahaga Api yang menghangatkan suasana Hutan tempat pelindung Semua telah jadi rebutan Jadi barang dagangan Apalagi sajak ini... Dikutuk tak memberi ampun Dihina dari kealiman Atas nama kepentingan Seolah sajak bermakna sesempit ini Makassar Selasa, 27 Maret 2018 By: Djik22

Kata-kata (207)

"Wanita itu sukanya dimengerti, tapi susah jujur kalau soal rasa." "Perempuan suka dibohongi, terkadang kata puitis dipercayai dengan penuh hati" "Yang lupa angka istimewa, adalah tak akan sampai ujung bahagia" "Tak semua suka jajan adalah menghabiskan kesenangan, tapi mencari udara dan hawa yang nyaman" "Memaafkan itu lebih mudah, dari pada melupakan kesalahan yang telah lewat" "Tak semua laki-laki labil adalah cemburu. Tapi dia mencari letak dasar membangun kekuatan" Makassar Selasa, 27 Maret 2018 By: Djik22

Yang Tak Terungkap (206)

Aku yang sedang diserang gelombang rasa, terobang-ambing di batas bantingkan diri. Seolah tak ada keadilan atas pengakuan yang jujur: pengakuan yang dibalut emosi sedikit main-main. Aku kira, tak ada yang sedang bermain 'petak-umpet', tapi nyatanya pengelakan menimpa tanpa ditimang. Sehingga kau dan aku terlihat sedang buai dalam alam romantika. Kenapa kau hadir membawa penyakit? Di mana aku mencari obat? Biar sakit ini cepat sembuh. Tapi tak ada yang bisa menunjuk arah; tak ada yang mencampuri urusan malam dihabiskan pagi. Seperti mata lain memandang, kalau kau dan aku lagi menjalin secercah magnet di lingkaran segi tiga. Badai itu, tak mampu kubendung; tak sanggup kuhelai untuk pergi bersembunyi. Sepertinya kau curiga dalam-dalam. Kalau kau dan aku sedang dikejar oleh denyut nadi yang menggebu; diburuh oleh patahan kata; didampingi oleh perbuatan. Kenapa semua tak kau elakan? Padahal, tak ada ikatan dan ikrar yang pasti. Aku ingin kejujuran, tapi kau beri dengan candaan. Ak

Jauh dari Orang Tua (205)

Ibu... Aku rindu raut penyemangat Temani waktu bersama kala itu Di lubuk hati sambil rangkul mengapit Aku ingin pulang Biar dekat bersama Sebab... Keaadaan tak lagi mendukung Membatas pada panggilan bunda Kapan kita bertemu ayah? Ketika yang sukar... Tak lolos pergi dari gerah Yang kuperbaiki setiap saat mahir Jauh dari orang tua... Adalah pengujian mental Biar mandiri tak bertukar bandel Lansan pegang tegu pada budaya Makassar Senin, 26 Maret 2018 By: Djik22

Karena Sakit (204)

Keluhanmu Karena bosan hidup Terombang-ambing kemilau Lintasi lemah tenaga mengendap Lalu tutur meminta jujur Yang tak biasanya dalam menyapa Menyebut nama... Tiga huruf dibalik membongkar Dengan bangunan pasrah Dambil menarik napas mengalah Kenapa sakit menimpa? Kenapa yang lain srlalu sehat? Ingin biasa... Tapi banyak larangan resep berjepit Karena sakit... Terkadang hampa berputus asa Kecepatan menunggu jasad bermayat Di perantauan jauh dari orang tua Makassar Senin, 26 Maret 2018 By: Djik22

Berdebu (203)

Angin ribut... Di penghujung waktu Mengajak bertahan sambil melotot Dengan lebar memandang rindu Kapan ada kesenagan? Bila batin ditekan tak tertahan Hati disiksa keadaan Raga digilas kesenjangan Terdengar keributan... Yang tak ada habis Selalu menyapa berbisik perlahan Keluhan suara iba diiring tangis Kemana lagi meminta? Kalau angin dihirup mahal Tanah yang dipijak menjadi mangsa Dan semua milik pribadi dijual... Bersama perginya badai Makassar Minggu, 25 Maret 2018 By: Djik22

Membakar dengan Semangat (202)

Medan laga sedang menunggu Memanggil riang menyapamu Di kejauhan kota kediaman Yang dijuluki nama kraton Bakarlah semangat lewat... Membaca, menulis secara ketat Biar kau tahu tentang... Pribadi perempuan pejuang Kau dan aku... Dibatasi jarak berbeda kota Seperti etalase ruang dan waktu Dari bumi menuju ke langit bercuaca Sempat ada pertemuan Tapi dimana tempat penantian Sembari mendukung berlarut peran Menambah ragam bacaan perjuangan Kapan kau bakar aku dengan semangat? Yang menyala-nyala menjerat Sambil berlomba memikat Pada ideologi gagasan berbobot Apakah kau sedang mencari api? Maka, aku siap jadi objek berhari-hari Walau waktu dihabiskan berselingkuh Tanpa ada keluh berlambai kesah Makassar Sabtu, 24 Maret 2018 By: Djik22

Lantangkanlah Suara Sebagai Bentuk Protes (201)

Tengah malam sekitar pukul 23.14, malam yang sunyi senyap. Hanya kudengar bunyi mesin pompa air yang menggikuti detak jantung. Getaran pada mesin menemani tangan ini, menulis karya dengan keringat melelah mengering tanpa dilap sedikit pun. Suasana berbeda, walau aku berteman bunyi-bunyi yang begitu asing. Sebab, ketika aku dilahirkan tak mengenal dunia modern. Hidup yang jauh dari keramaian kota. Ternyata, malam adalah sebuah suasana yang menenangkan. Tak ada gangguan mengacaukan pikiran. Malah menambah semangat bertubi-tubi seperti terangnya lampu malam di kamar kediaman. Lampu yang kuistilahkan sebagai pembantu penerang. Kalau dahulu orang-orang menggunakan penerang dengan lilin, maka sekarang lilin hanya ditemui dalam hajatan perenungan. Atau ada yang memakai filosofi lilin. Kata mereka "Jadikan diri seperti lilin; rela korbankan dirinya untuk menerangi semesta; menerangi orang lain biar keluar dari kegelapan." Ternyata begitu perkasanya sebuah penerangan. Sehingga zona

Ini Negara; Bukan Neraka (200)

Hujan peluru Adalah perlawanan rakyat... Berujung duka beri dampak menyengat Panaskan tubuh keluarkan darah beku Di Indonesia Tengah Tepat penggusuran berjilid Selayak perang saudara sudah... Mulai sengit seperti sedang berjihad Inilah bengis tragis bumi Hukum alam tak berlaku halau gerak Berpindahnya titik didih lautan manusia Dengan suara tak gentar mengelak Prikemanusiaan telah dilanggar Dengan sumpah aturan seolah boneka Kapan saja digendong irama belaka Walau usia hari berganti mengakar Ramalan sang proklamator Mulai nyata menimpa bangsa tua Usia tujuh puluh lebih bagai teror Saat-saat peringatan pemilu berpesta Tak bisa ditunggu begitu enteng Sebab penindasan tak bisa dibiarkan... Berlarut hingga penguasaan menerjang Tekanan perlawan harus dilayangkan Biar mata dunia memandang Kalau hukum tak berpihak sejajar Semua bisa dibeli selagi punya wewenang Apalagi jabatan terus rapi berjejer Ini negara bukan neraka Yang perlu ditakut-takuti Yang

Rindu Minggu Kelabu(199)

Genap tanggal dua puluh dua Di bulan Maret dua ribu delapan belas Empat kali lebih tak bersua Antara lubuk-lubuk malam mengemis Yang tak ada... Satu setanpun mengganggu berkelana Tepat di pukul sepuluh Lewat sembilan belas menit Putaran waktu jarum jam berdetak Ikuti rindu yang menangis memanah Tepat dihitungan detik berlimit Aku ikut sontak tergeletak Rindu Minggu kelabu Membawa sepucuk harapan berlabu Tak sampai di tengah ulu hati Dengan selisih menunggumu Di saat ketegangan beberapa hari Kapan pertemuan mengukir cerita? Kalau sang waktu belum berpihak Mengintai setapak jalanan tua Yang dilalui tak muluk-muluk Atau sudahkah kau bosan? Di saat kurayu dengan gombalan Kuhalau dengan kasih tiada tara Sebagai pembeda bukti rasa Bukankah kau juga sedang rindu? Atau rindumu sudah terkubur? Bersama bosanmu... Yang tak lagi tegar Makassar Kamis, 22 Maret 2018 By: Djik22

Hajatan Perpolitikan (198)

Pamflet, brosur, dan media cetak... Mulai ramai bertebaran visi misi Terpampang jelas memikat Rakyatpun tergiur janji Rupa pasangan yang elok Saringlah setiap perkataan Walau manis dan pahit... Pasti terselip kepentingan raut suara Jangan sampai ditekan kemauan Memilih dengan rupiah menyeret Dari desa sampai ke kota Jadilah pemilih cerdas Menimbang dengan akal sehat Apalagi marak-marak pola blusukan Penuhi pasar ruang yang sempit Berjalan bersama grombolan Yang penting lolos Yakinkah kalau janji dipenuhi? Benarkah tak ada lagi barisan korupsi? Semoga saja massa tidak dibodohi Apalagi getir suasana berirama pelangi Hajatan politik yang seksi Kerutkan jidat tentukan pilihan Jangan ada lagi pemaksaan Apalagi... Membawa isu ras cederai lawan Sudah saatnya... Anak muda sebagai garda depan Bersama masyarakat yang lagi susah Biar suara dan keinginan tercapai Walau perlahan-lahan... Yang penting tiada dusta antara kita Yang sekarang sedikit resah Pada jan

Anak Bumi (197)

Kau, aku, dia, dan mereka Hadir bukan sebatas takdir cuaca Apalagi pemimpi rahim nusa yang purba Hanya terima takdir tak bicara Anak bumi Pertiwi ini tak ada dengan sendiri Dijuangkan bersama kobaran tekad Begitu kembali beberapa abad Jangan diam berpangku tangan Melihat sandiwara di pemutaran alam Tontonan yang menakutkan ala Orba Yang benar akan disalahkan Yang tahu ditiup bungkam Tapi banyak yang rela... Bersuara Anak bumi... Sudah berapa kebajikan kau buat? Demi menyambung para pendiri Demi menjaga ikhtiar gretak Ayolah anak bumi... Dimanapun dirimu berada Tangan ini diwariskan seribu cara Dengan tujuan menjaga negeri ini Takutkah bila ditembak peluru emas? Apakah yang dulu hilang sudah kembali? Jangan jadikan ketakutan kuasai hati Andai hidup tak ada pilihan mengenas Makassar Kamis, 22 Maret 2018 By: Djik22

Babuh di Negeri Sendiri (196)

Kekayaan pertiwi... Seperti hamparan pasir Yang tak dapat dihitung nalar Pada zona bertabur ombak dinanti Belum lagi emas, mutiara, dan logam Jadi gumpalan kekayaan alam Dikola oleh bangsa lain Diraut penggusuran Alan indah menawan Surga yang kini telah hilang Pergi bersama para pencuri asing Dengan enteng bermain lewat atutan Katanya negeri ini kaya tak ada tara Ragam budaya ciri khas beragam Sampai terang jadi buram Dengan mata yang buta Kebapa banyak pencuri? Seolah haripun sudah dibeli Tenaga jadi kulih di negeri sendiri Hanya memberi untung kado petinggi Tenaga kerja didatangkan dari... Luar negeri alasan cekoki alibi Anak bumi nusa pertiwi Jadi babuh di negeri sendiri Makassar Kamis, 22 Maret 2018 By: Djik22

Dibalut Kecewa dan Kecaman (195)

Ketika tutur bahasaku mulai melenceng, maka hakmu adalah untuk menegur. Tapi sampai sejauh ini, kekecewaan terbalut bersama gejolak massa yang digusur tanahnya: dibredel rumahnya; diusir dari lahan milik mereka sendiri. Sehingga marah dan kecaman kepada kaum yang berpakian rapi. Bukankah kau tahu tentang seberapa dalam kepemilikan hati? Atau kau golongkan aku sebagai pengacau yang suka berkoar menuntut keadilan? Rasamu akan tetap kecewa, tapi itu belum seberapa. Karena kau dan aku hanya sebatas dua tubuh yang mau dijadikan satu. Hingga, terkadang menjadikan diri ini lupa pada tugas yang lebih besar, yaitu menjaga dirimu yang periang dan berdiri di barisan demi membela hajat hidup orang banyak. Terkadang, aku harus berjalan di dua sisi; menjalankan tugas sebagai pelindungmu; menerima amanah yang lehih berat atas ketamakan atas nama sebuah pembangunan. Aku ingin, dari dua sisi ini kau ikutsertakan juangmu dengan cinta dan keringat. Supaya liku hidupmu adalah penuntun kaummu. Dan ter

Ikuti Pikiran (194)

Dunia nyata Penuh tangis keresahan Dibalut kecewe dan kecaman Sambil menggusur rumah jadi duka Dukanya adalah kemamanusiaan Hajat hidup orang dilupakan Semua sedang dilakukan Atas nama penguasa Bila pikiran ini... Sudah ditekan keras Maka, jangan lagi hujani... Dengan senjata-senjata buas Bangga pada pakian rapi Lawan warga dengan tangan kosong Solah hidup di tanah diusir kencang Lalu, alibi bangun kepetingan tirani Dimana hati nurani membela? Kalau perintah komandan Tak bisa dielak bertanya Untuk bersama kaum jelata melawan Makassar Rabu, 21 Maret 2018 By: Djik22

Berkuasa Malu-malu (193)

Antara luka Yang terucap lancang Adalah membuatmu marah meradang Sampai aku pada pijakan salah kata Bukankah kau dan aku terbawa emosi? Lalu, kita sama-sama menyalahkan Kau merasa benar membenahi Aku salah tak dimaafkan Padahal... Kuasa malu-malu Sebagai manusia kebal Diredup benci berpanjang pilu Malu matamu menatap kala bertemu Saat aku sering bertanya menembus... Kemilau malam mencederai kasus Berjalan ikuti pikiranmu Makassar Rabu, 21 Maret 2018 By: Djik22

Sebuah Cerita (192)

Di sudut-sudut ruang rindang Pandangan mata merayu menghadang Di lelingkaran bundaran ban hitam Menatap seleksi seisi alam Sebuah cerita Kudapatkan saat kau bersandar... Di bawah pohon dicat merah merona Tatapanmu tajam dengan sadar Entahlah... Siapa dirimu yang menyandar? Rupamu pernah kutemui di ruang mimpi Tapi, masih terlalu samar-samar Memaksa menerawang jenuh Cerita itu... Kugadaikan mata Tapi tak berharap kau sapa Sebab, takut yang berkuasa malu-malu Makassar Selasa, 20 Maret 2018 By: Djik22

Yang Ditinggal (191)

Sengketa jadi selisih Tapi tetap sebagai kekasih Di antara yakin pada perbedaan Selat-selat sebuah pulau kesamaan Pulau kategori dominasi mendunia Yang diawali dengan siul cinta Iringan seolah berpihak... Pada pemisah unik Konten yang banyak sama selaras luka Yang ditambah abu diracik panas Maka, lubang sebelumnya... Lebih besar membekas Kenapa tanda cacat? Lewat nilai bahasa kasar Yang tak terkontrol emosi nyasar Sampai, pesan perintah yang tercatat Biarlah, kalau semua adalah sandiwara Sempat berperan jadi editor ceria Yang sedikit malu-malu... Saat-saat bertemu Tapi yang tertinggal Membangunkan air mata Di tengah malam jelang pagi Di situlah akhir trauma sebuah cerita Ada yang harus ditinggal Makassar Selasa, 20 Maret 2018 By: Djik22

Kesaktianmu (190)

Tonggak telah berkuasa Momentum peringatan suara Dari corong pengeras berganda Dikibarkan dengan warna Tak lelahkah bila terus berjuang? Dengan waktu digilas tegang Semasa delegasi... Sampai kini Kesaktianmu... Atas nama ketertindasan Hak hidup bangsa ditekan Kau bela dengan sekuatmu Tetaplah jadi saksi Pada kesaktian pendiri... Makassar Senin, 19 Maret 2018 By: Djik22

Tak Ada Layu (189)

Kaulah bunga Harum berlipat ganda Dihirup musuh jadi ketakutan Kocar-kacir menutup dalil kesalahan Apalah daya... Kaulah pendobrak jiwa Kaulah pembangkit raga Hanguskan cadangan tenaga Kenapa kau tak bosan? Kenapa tak ada layu juangmu? Wariskanlah api Tapi jangan abu-abu... Yang latar belakang ditiupi Seperti para pendahulu Apakah kau bunga penutup abad? Dimana kesatianmu bersama abjad? Makassar Senin, 19 Maret 2018 By: Djik22

Tanpa Batas (188)

Empat tahun telah berlalu Berputar tak henti-henti Pada sebuah duka Pada suatu hari Abjad abad berangka delapan Genap menambah kegenapan Seperti tanpa batas waktu Di udara meniup puja lugu Berikan pembeda batas-batas larangan Yang jadi ajaran Yang dipercaya Sebagai kekuatan sukma Jadilah waktu Biar seenaknya berputar Biar pada poros yang bersinar Hingar-bingar tak ada layu Makassar Minggu, 18 Maret 2018 By: Djik22

Generasi Periang Mata (187)

Mata adalah alasanku memandang Walau samar-samar menerka Sebab... Seni menyimpan sejuta arti Yang banyak melekat di dinding Kalau datang hujan jadi lembab Tak bisa hanya ditangisi Aku memberi julukan Yang kunamai... Generasi periang mata Dengan ragam alasan Bersembunyi isi puisi Diapit rima berirama Jagalah nama itu... Teruslah berbuat baik walau semu Inilah dunia nyata diramal mitos Budaya ditinggal tanpa batas Makassar Minggu, 18 Maret 2018 By: Djik22

Yang Telah Hilang (186)

Saat karya ini ditulis Detak jantung seakan putus Air mata meleleh dibendung jatuh Gemetaran tapi tetap diam ini tubuh Firasat mengekang Ada yang telah hilang Tak baik kalau hanya dikenang Apalagi sebetas ikatan mengekang Padahal... Harta terbaik, saat hidup labil Kesan coretan yang bernyawa Pada celoteh berbisik sambil berdoa Yang telah hilang Hidup tapi tak bernyawa Mesra tapi sekarang tak lagi di sisi... Kiri dan kanan yang mendukung Apakah hanya terus berdoa? Atau menulis dengan hati? Hati ini... Menolak kembali Bila hanya jadi sengsara Memakan bulan berganti hari Sampai... Perasaan tak mempan berdamai Kapan menulis yang sama? Dimana merah? Kemanakah putih? Lahirkan banyak anak karya Wariskan generasi periang mata Makassar Minggu, 18 Maret 2018 By: Djik22

Rela Berpisah (185)

Yang maha hidup Bernapas selama muda Bau-bau yang dihirup sedap Pada kecemasan emperan jelata Di sana Duduk melingkar membaca Dengan gigih di rerintik tembok Saat rerumputaan berdiri tegak Subur itu Datangnya sesaat Hanya angin lalu... Kemudian hilang tergeletak Rela berpisah Atas suhu yang berdamai Sebuah pilihan ditimbang cerai Pasangan yang belum menikah Makassar Minggu, 18 Maret 2018 By: Djik22

Berakhir Layu (184)

Lamaran terperosot jauh Membalut erat memerah Dengan setetes darah Jatuh kenai wajah Sontak merasa sedih Terelus napas terengah Menatap mata yang buta Saat sengsara mulai berkuasa Tanda itu Telah bersemayam luka Menyengat terjerat malu Sendiri yang berakhir layu Haruskah rela berpisah? Dimana lagi ada pertemuan? Kalau larangan datang mengeluh Pertemuan yang tak diiyakan Makassar Minggu, 18 Maret 2018 By: Djik22

Perbedaan Gagasan (183)

Bom bardir, jatuhkan peluru sekutu, lawan dengan rakus memburu, kejar-kejaran di bagian hulu. Bukan tentang kebangkitan, bukan pencetus ingin menyusun, dasar jadi pijakan, ketokohan. Tujuh kata, jadi ulangan senada, pengaruhi bumi pertiwi. atas kemauan ideologi. Apakah susunan jadi masalah? Dimana kesalahan bersembunyi? Sepertinya, rayuan sedang disengaja. Mari berangkat, mari berlayar, kibarkan suara bumi rakyat, tancapkan cemerlang menjalar. Semua sudah sah, semua sudah menggugah, demi tanah bertumpah darah, demi basis massa yang resah. Perdebatan gagasan, penikaman berakhir pembunuhan. Di negara pengayom dikebiri. yang terus terang diselidiki. Aktualkanlah gagasanmu, Satukan niat tulus bersama, tak ada yang berakhir layu, kalau perjuangan pada niscaya. Makassar Sabtu, 17 Agustus 2018 By: Djik22

Kepentingan Kondisi (182)

Bangsa yang lalai, negara melepas tangan, ketika kemauan yang bernurani. hampiri kuasa sedang bertahan. Kepentingan kondisi, tuntutan parah para berdasi, diisolasi bungkusan hiasi pegawai, malas berlabuh menampakan diri. Mau dirusak, mau digodok berdesak, entah harus haus bergerak, yang tergesa-gesa atur taktik. pertontonan, lagi-lagi mengancam, koalisi serang berseragam dengan modal berlian gagasan. Makassar Sabtu, 17 Maret 2018 By: Djik22

Hilang Seketika (181)

Dulu perbuatan, jadi bahan pijakan, moral budaya satu kesatuan, bertahan begitu ampuh kemesraan. Kini, aku, dia, dan mereka, bertanya-tanya menerka, seakan tak percaya, yang bercahaya. Hilang seketika, pundi-pundi mulia, tinggal bersama angin lalu, peradaban berkeping membisu. Kapan kembali lagi? kala mata tak menatapi, jiwa sedang diperparah dengki, memberi berharap kembali menagi. Diamlah dengan berani, sambil memilah lepaskan untai, saat-saat meniduri di pantai, menyuarakan kepentingan kondisi. Makassar Sabtu, 17 Maret 2018 By: Djik22

Di Batas Wajahmu (180)

Permainan sedang dimulai, percobaan terus digenjot lihai, saat percarutan politik yang seksi, seakan berpihak meminta ditangisi. Bukan sedang meminta, bukan sementara berdoa, hanya soal kecil ada teki-teki, yang harus cepat dijembatani seni. Ternyata, di batas wajahmu, aku temukan miliaran makna, yang tak lagi ditawar-tawar lucu. Tetaplah di batas itu, batas penentu hidup mendua, uji kelayakan sekuat tenagamu, dengan penanaman kokoh menara. Ajaklah, aku yang terlelap, walau mereka sedang berkedip, dengan cepat hilang seketika mengalah. Makassar Sabtu, 17 Maret 2018 By: Djik22

Iringan Berdidih (179)

Kau tak layu, suaramu yang tetap merdu, seolah berjalan di tengah debu, tak ada yang sedang malu-malu. Adakah kau selalu beriring? Kenapa kau takut kalau mendidih? Kurasai menguras, huru-hara api panas, yang jadi pemantik sejarah, yang banyak korban berdarah. Iringan mendidih, berbarislah biar cerah, dengan dunia yang nyata, dengan kehidupan tak lagi manja. Akulah rindu, kaulah zaman menunggu, lewat mainan angka-angka, pada hitungan delapan berkala. Marilah yang manis, menggoda senandung paras, antara rautku, di batas wajahmu. Makassar Sabtu, 17 Maret 2018 By: Djik22

Di Atas Cairan Kopi (178)

Nuansa pegunungan, bertabur sejuta impian, semerbak pesona bertebaran, hiasi balutan tak ada pertikaian. Harum bau halia, semulia hati pemberi iba, ibu yang mengaduk kopi, di atas keringat penikmat santai. Di atas cairan kopi, perubahan dalam diskusi, menata arah gerak langkah, yang tak gentar takut pengaruh. Cairan kopi sedikit pahit, digulai gelegar hangat, menengok kondisi sekitar, mulai dikuasai alibi berkoar, Atas nama kegelapan, atas nama kepongahan, mendalangi sisi kepedihan, hadir memberi taburi kepeloporan Jangan ganggu, yang sudah manis, jangan campur pahit memanas, membuat pecahan di depan muka. Istirahatlah, selagi ada rasa damai, biar tentram dari dua sisi, tetaplah jadi iringan berdidih. Makassar, Jumat, 16 Maret 2018 By: Djik22

Laku Tak Berlalu (177)

Ketenangan membawa tenar, menawar masa pencari, yang tak banyak berbuat onar, sambil bertahan mempelajari. Di keramaian, ala tanah perkampungan, batas tanah suasana dingin, bergaul berbalut kegembiraan. Habiskanlah waktu, pemuda bertopang laku, tak mudah pergi berlalu, apalagi harus pasrah lesu. Hei... pemuda, kepalkan semangat, rautlah gerakan setiap masa, dengan terus berpegang ikat. Lindungilah pemuda, jagalah generasi pusaka, berkibar di bawah bendera, merah dan putih para penama. Janganlah takut, berjalan terus berdenyut, laraskan dengan pakian peminat, jadi sosok yang berani memikat. Inilah alam cuaca, sedikit dingin di Seburi, selalu subur menyejuk raya, sebagai peninggalan pewaris berantai. Makassar Jumat, 16 Maret 2018 By: Djik22

BERSAMA PENYEDAP (176)

Rasa bersama, di teba-teba jalan berirama, langkah mengikuti ringan lagu, yang kau nyanyikan lugu. Bersama penyedap, yang terkoyak begitu dekap, yang kau buang tak kala benci, aku diperlakukan sampah mewangi. Buanglah jelmaanku, di karpet warna merah, biar saat tertekan mudah berlaku, aku mengerti tentang juang tanpa berserah. Janganlah berlaku sebuah tawar, ketika lidah tak mampu mengecap, ketika pedih merobek jarak, di satu kota pelacak yang mulai redup. Makassar Rabu, 14 Maret 2018 By: Djik22

Diserang Keresahan (175)

Aku yang lagi cemas, mendengar kau mengeduk miras, hangatkan badan di kedinginan, bersama cerita para rekan. Aku yang mendengar, Aku yang menggelegar, bersama amukan halilintar, di malam saat kutulis mengejar. Diserang keresahan, spontan menjawab sembarang, tertular oleh alkohol berserakan, bersama sedikit penyedap gorengan. Makassar Rabu, 14 Maret 2018 By: Djik22

Rahasia Hati (174)

Atas nama hati, yang terbalut dalam suci, kesucian yang menggugah janji, akhirnya sedikit berubah pada hari. Rahasia hati, yang telah padam, memudar bersama pagimu, kini hanya sebatas untai. Katamu bersama duka, berdamping hingga fana tiada, yang ujungnya kita sementara berjalan, walau terluntah diserang keresahan. Makassar Rabu, 14 Maret 2018 By: Djik22

Hujan Turun di Bulan Maret (173)

Tiga jam tertidur pulas, di bulan ketiga awal tahun, ratap-ratap piatu mengais, pada sisa letak kekeringan raga. Derasnya hujan, tak mengalahkan kebisuan malam, yang dijaga dua makhluk di kiri-kanan, yang terlelap dengan kusam. Bersyukur tanah, telah basah, kedinginan tak bisa dilawan merontah, gesekkan badan bertempelkan lintah. Makassar Rabu, 14 Maret 2018 By: Djik22

Nusa Para Air Mata (172)

Sujudku bersama rerumputan, hiasi pohon ilalang menguning, di pagar Nusa Nipa, yang dulu naga jadi jelmaan. Nusanya Nusa Bunga, hijau, subur, mencari gaya, tidak diganggu masih terjaga, seperti para nelayan mendayu daya. Semua akan tumbuh, walau batu karang tajam, masih jadi saksi peradaban lampau, saat datang penyebaran para tokoh. Masihkah alammu dirawat? sucikah kilauan dilihat? sembari bergandeng rupa gading, sebagai ganti kawin-mawin si sulung. Rahim yang sisa terpesona, belahan air mata jadi mata air, saking susah menjaga, pada kedalaman restu berakar. Dimana para penyelamat? ketika sakral tak jadi keramat, lantaran ilmu berbuat sesuka, sama mencela tak tinggal dusta. Nusa ibarat Pulau Bunga, di sana negeri matahari bermula, bergegaslah, berduyunlah berenang tak kalah. Makassar Selasa, 13 Maret 2018 By: Djik22

Kata ini Milik Kita (171)

Kata adalah melawan, menggambar kemilau ukiran, yang terangsang dari bacaan, yang ditulis ulang penuh desain. Kata ini milik kita, maka habiskan selama muda, biar terang menjelma jadi bara, membantah dengan kesadaran guna. Kata tak akan habis Kata adalah senjata pengeras, yang membawa benalu perlawanan, hingga mengutuk gelap jadi keterangan. Ketika gelap tetap gelap, dialaskan pada kepentingan gemerlap, maka mata rantai sulit terputus, kalau hanya satu mampu menguras. Dunia terjangkau lewat kata, dari melihat sampai mengeja, dari mengeja sampai membaca lancar, maka anak negeri tak kehabisan tegar. Makassar Selasa, 13 Maret 2018 By: Djik22

Terkesan Teman dan Mantan (170)

Delapan tahun silam, penggulingan waktu yang sempat digores hilang dari bejana otakku. Meninta seolah memaksa; merayu kaku lantaran wawancara. Tanganmu dan tanganku tak pernah bersalaman secara sengaja. Seperti masa remaja yang dikuasa rasa menggebu membara. Saat itu, penyatuan warna hitam dan putih belum jadi kentara. Hanya sebatas warna yang mengiringi kelakuan benci merajut dendam. Ingatkah nakalku lantaran di bukit depan Puskesmas? Saat olahraga dijadikan permainan yang mahadasyat bergembira. Lantas aku dianggap teman? Bila belum mengiyakan pergi lalu datang lagi? Atau hanya sang mantan yang kembali kala keadaanmu sedang jomblo. Entahlah, aku yang terlalu percaya pada kesesatan atau dilalui dengan kesalahan ingatan. Ingatkanlah bila aku keliru; tegurlah aku bila terlalu lebay . Teman rasa mantan ditulisan yang ke seratus tujuh puluh. Dengan sepuluh pertanyaan dipoles memancing. Itu seperti aku mengajak cicipi Jagung Titi  makanan budaya kesukaanmu. Soalah, kita terlarut dalam je