Langsung ke konten utama

Dibalut Kecewa dan Kecaman (195)


Ketika tutur bahasaku mulai melenceng, maka hakmu adalah untuk menegur. Tapi sampai sejauh ini, kekecewaan terbalut bersama gejolak massa yang digusur tanahnya: dibredel rumahnya; diusir dari lahan milik mereka sendiri. Sehingga marah dan kecaman kepada kaum yang berpakian rapi. Bukankah kau tahu tentang seberapa dalam kepemilikan hati? Atau kau golongkan aku sebagai pengacau yang suka berkoar menuntut keadilan?

Rasamu akan tetap kecewa, tapi itu belum seberapa. Karena kau dan aku hanya sebatas dua tubuh yang mau dijadikan satu. Hingga, terkadang menjadikan diri ini lupa pada tugas yang lebih besar, yaitu menjaga dirimu yang periang dan berdiri di barisan demi membela hajat hidup orang banyak.

Terkadang, aku harus berjalan di dua sisi; menjalankan tugas sebagai pelindungmu; menerima amanah yang lehih berat atas ketamakan atas nama sebuah pembangunan. Aku ingin, dari dua sisi ini kau ikutsertakan juangmu dengan cinta dan keringat. Supaya liku hidupmu adalah penuntun kaummu. Dan terang pilihanmu sebagai corak berdirinya para pengikut bergelut di medan laga.

Masalah tak akan usai, kalau kau tetap bersikukuh menyalahkan; saling bertahan pada ingatan buruk. Ini adalah kehidupan yang tak main-main. Akan berbeda bila bahasa rayuan untuk menenangkan hatimu. Tapi ini adalah melawan senjata dengan pengeras suara; melawan yang berdiri dengan tameng tapi aku menggunakan tangan kosong. Pasti mudah ditebak siapa yang kalah. Ingat, ini bukan kompetisi, akan tetapi ini adalah memancing kepada yang lain untuk berpartisipasi.

Apakah kau menjuluki aku penjahat yang kasar dengan julukan yang diberikan oleh mereka yang rapi itu? Atau kau memilihku untuk mengakui aku kalah biar kuhabiskan waktu terus bersamamu? Kukira kau dan aku sudah dalam pemikiran dewasa. Sehingga kita tak hanya dituntut untuk terus berimajinasi tanpa berbuat.

Atau kau malah membenci bila aku semakin berubah dengan sikap yang sedikit kasar? Lalu kau kirimkan kata-kata singkat seolah aku adalah orang asing. Aku tak ingin jadi orang asing yang didatangkan pemerintah untuk dipekerjakan di buminya Indonesia. Karena nanti kau dan aku akan jadi penganggur dan babuh di negeri sendiri. Terus bagaimana dengan golongan rakyat yang lain.

Maka, lepaslah kecamanmu yang berhari-hari. Biar kau juluki aku tipikal sedikit kasar dan kurang peka. Tapi sebagai manusia, jangan berpanjang-panjang merawat kebencian dengan air mata. Mengabiskan waktumu mengorek yang telah lewat. Masa lalu memang penting, tapi masa lalu yang memberi dampak kebaikan. Bukan tentang luka sejarah kehidupan.

... ¤ ¤ ¤ ...
Jangan lagi kau balut,
kecewa dengan dendam berlebih.
Sebab aku takut akan luka.
Karena dendam sejarah
belum usai.
... ¤ ¤ ¤ ...

Makassar
Kamis, 22 Maret 2018
By: Djik22

Komentar

Populer

FILOSOFI DAUN PISANG

Harapan dan mimpi dari setiap kepala tidak semua terpenuhi dengan usaha dan praktik. Tapi masih membutuhkan untuk saling dekat dan merespon segala polomik. Di masa yang akhir ini, perutmu telah melahirkan bayi yang masih merangkak dipaksa berjalan di kerikil jalan persimpangan. Dari rawat dan buaian, telah membuka mata batin, mengevaluasi adalah jalan yang tepat. Karena kurangnya menilai dari setiap sisi. Sehingga lahir dua persimpangan kiri kanan jalan. Mata telah terang, langkah sudah tepat, bersama sudah terpupuk, kesadaran mulai bangkit. Berdiri dan bergerak. Saatnya cahaya jadi penerang. Titipan amanah 20 21 11 14 jadi bahan belajar bersama. Filosofi "Daun Pisang dan Bidikan Panah yang Tepat" telah ditemui jawaban dan makna yang dalam. Dia bukan sekedar kata, tapi dialah nyawa setiap yang di dalam. Makassar, April 2017 By: Djik22

TOGAKU TAK IBU SAKSIKAN

Perjuanganmu ibu Mengantarkanku meraih mimpi Mataku lembab berhari-hari Setiap saat mengingat ibu Harapan ibu Aku tetap kuat Aku tetap melaju Tapi ibu Saat bahagiaku Takku tatap lagi ibu Wajah bersinar hadir dalam mimpiku Kala itu ibu Ibu Toga dan pakian kebahagiaanku Semua untuk ibu Togaku tak ibu saksikan Karena ibu telah tiada Yakinku ibu senyum melihatnya Tetap tersenyum di sisiku ibu Dua puluh tiga November dua ribu tiga belas Dua kali dengan angka tiga Ibu telah berbaring bergegas Makassar Minggu, 1 Oktober 2017 By: Djik22

PERLUKAH JEMBATAN PALMERAH?

Sedikit menggelitik, ketika wacana pembangunan jembatan Palmerah. Wacana ini, hadir di beberapa tahun terakir. Di tahun 2017, tidak kala seksi pendiskusian jembatan Palmerah. Maka muncullah pro dan kontra. Padahal merefleksikan wacana ini sangat penting. Kenapa Wacananya Jembatan Palmerah? Mari kita menganalisa secara seksama. Pertama, jembatan Palmerah adalah sejarah pertama di Indonesia bila terbangun. Karena menyambungkan dua pulau, yaitu Pulau Adonara dan Pulau Flores (Larantuka). Jarak jembatan Palmerah dengan panjang bentangan 800 meter akan dipasang turbin 400 meter. Kedua, persoalan proses pembangunan jembatan Palmerah dibutuhkan dana tidak sedikit. Diperkirakan dana mencapai Rp. 51 triliun. Hal ini, perlu dipikirkan. Karena Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTT pada tahun 2016 hanya mencapai Rp. 3,8 triliun. Sama halnya pemerintah mengajak kita mengutang dengan investor (swasta). Ketiga, jembatan Palmerah bukan proses meninabobokan masyarakat Flores Timur

ADONARA DALAM PUISI

Petuah kata sejarah Masih temani kaki untuk melangkah Dalam bayang-bayang ibu kuatkan hari Dalam jelmaan ayah pancarkan cahaya hati Hingga tebal awan kota Ingatkan suasan desa Dihimpit berdiri megahnya Ile Boleng Didekatkan Bukit Seburi tanah kampung Karena kitalah gunung yang berdiri Karena kitalah bukit yang menyapa Membawa bisikan bahari Ketika menghadap ke arah pantai Sampai kata dan petuah terus mengikut Wariskan api dari generasi ke generasi Tentang pentingnya menjaga kata Tentang indahnya memakai tenun ikat Maka... Tak kulupakan petuah indah dan keramat Tak kuingkari segala kata-kata bernyawa Di atas alam ditaburi darah dan air mata Karena air mata Bukan hanya tentang tangisan Bukan hanya tentang derita tanpa rasa Namun air mata darah tanda perjuangan Maka... Untuk mengingatmu yang di gunung Untuk mengenangmu yang di pantai Aku mengisi kata-kata lewat puisi Karena darah dan bisikan kata terus diasa Biar perang telah terganti buka dan pena

ANTARA (576)

Sering ada perbandingan pada kata 'antara' ketika diapit oleh kalimat. Antara kau dan aku ternyata banyak perbedaan, antara kau dan dia memiliki banyak kesamaan. Antara pacar dan mantan adalah orang yang pernah berlabu dan sementara bertahan. Baik terkandas di tengah jalan, mau pun mampu melewati batas getir yang melampau kesabaran. Namun, pada kata 'antara' seolah jadi misteri yang tersembunyi. Serupa kolom kosong yang disembunyikan dengan untain doa. Lalu, dipercaya menjadi sebuah legenda atau mitos. Bagaimana sesuatu yang dipercaya tapi tak pernah diinderai? Apakah setan yang berpenampilan putih pada malam Jumat hanya menakut-nakuti? Kemudian muncul pertanyaan, siapa yang menjahit pakian putih yang dipakai setan? Ulasan ini, aku dapati saat duduk di bangku SD. Sang guru selalu menakut-nakuti pada setiap siswa. Bahwa malam Jumat selalu ada tanda ketika melewati tempat-tempat gelap. Saat itu, aku dan kawan-kawan sebayaku selalu percaya. Namun, batang hidung p

KARYAMU TETAP MEMIKAT

Foto: Abdul Rahim (Khalifah05) Ketika doa-doa Telah kau panjat Dengan lemah-lembut Pada Tuhan Yang Esa Tak lupa pula Pintamu Pada para pendahulu Dengan merinding bulu-bulu Begitu dalam penghayatan Bersama angin Bersama waktu Bercampur masa lalu Maka... Yakin pun mendalam Tak secuil akan buram Tampak pada kaca belaka Namun ia selalu melekat Selalu mempererat Antara roh dan jasat Hingga karyamu tetap memikat Makassar Jumat, 21 September 2018 By: Djik22

PEMUDA SAHABAT PERUBAHAN (397)

Indonesia adalah negara yang terdiri dari ragam perbedaan. Baik suku, ras agama, budaya, dan corak berpikir. Inilah bagian kekhasan dari bangsa ini. Dengan kekhasan tersebut, maka tak heran bangsa Indonesia dikenal dengan kemajemukan dan menjujung tinggi perbedaan. Sebab perbedaan adalah varian dari semangat menuju persatuan. Belum lagi menerobos batas wilayah yang terdiri dari beberapa provinsi. Perlu kita menelisik lebih jauh lagi tentang bagaimana membangun tatanan bangsa. Supaya mampu keluar dari zona ketertinggalan. Ternyata, ketertinggalan adalah salah satu masalah dari apa yang dirasakan setelah revolusi Indonesia didengungkan. Walau merdeka secara pengakuan sudah memhudata sampai ke telinga anak cucu. Tapi pertanyaan besar yang harus dijawab, Kenapa merdeka secara praktik/ penerapan jauh panggang dari api? Ketika secara penerapan dalam kehidupan berbangsa mulai melenceng dengan dasar negara, maka harus kembali mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang telah diletakan oleh