Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

AKULAH CINTA YANG TERBUANG

Kau padukan aku dengan rasa Kau larutkan aku dengan gelombang Yang terus menyala-nyala Dalam sejuknya udara menerjang Tapi... Kau masih kuingat Masih tetap memikat Pada langkah dan tatapan ini Izinkah matamu kutatap? Relakah kau tentang serpian luka? Yang menerawang dalam nyata Sampai aku pun tergoda Maka... Godalah aku dengan ilmu Rayulah aku dengan lugu Biar aku tak terjebak rasa Karena... Rasa bagiku adalah kehausan Yang kuteguk dengan nikmat Tanpa ada menara penjara Sekiranya... Aku adalah cinta yang terbuang Mari satukan kami dengan gelombang Menata rumah tempat berlindung Makassar Kamis, 27 September 2018 By: Djik22

MENGINGAT PESAN TERSIRAT

Tanah yang kupijaki Dengan sadar dan rasa Seolah-olah mendaki Di ketinggian gunung tua Yang terus menawan senyum Yang terus merawat bahasa Dalam budaya yang mulai buram Tempat kampung halaman para raja Bukan hanya raja Dalam bayangan semu Berkuasa malu-malu Menatap ragu-ragu Hingga air yang kuminum Dari pipa dan jepitan kayu Melilit suburkan masa lalu Dalam cerita tanah Lamahoda Tak habis kupuja Tak usai kudamba Dalam setiap nafas Dalam setiap saat mata memandang Ketika pesan tersirat kuingat Aku terbuai dalam-dalam Sampai kuingat ayah dan ibu Kuingat saudara dan keluaraga Sebab... Kau, aku, dia, dan mereka Bernaung dalam desa Tersulam jaring laba-laba Dalam dinding bangunan Dalam ruang-ruang sepi Kemudian... Jadi ramai bermimpi Makassar Kamis, 27 September 2018 By: Djik22

BUDAYA DI ZAMAN MENGGILA

Saat zaman menggila Dengan segala keresahan Dengan segala kekerasan Yang berujung duka Membuat tepian budaya Porak-poranda Digilas keangkuhan Tercipta generasi pelupa Tapi... Dalam diamku Kuberi cinta berbukti Tanpa sorotan malu Tentang budaya Tentang kewatek berbalut dada Hangatkan tubuh Pada serpihan sejarah Karena zaman terus bergerak Maka... Aku bergerak dengan budaya Dengan budi adat sebagai kebarek Sebab... Aku dilahirkan rahim purba Serta gugusan pulau Menawan surga bibir merahku Dengan simbol keberanian Kemahalan kata dan laku Di tanah Kraton Menggugah gading pada bayangan Makassar Sabtu, 22 September 2018 By: Djik22

PERNAH ADA

Laut suci hati Tetap dalam eja perasa Dalam kata tak ada benci Lewat kiriman angin raya Angin itu Masih berkisah Mengirimi kabar indah Membuat tanang pikiran lugu Karena kau mengirimiku doa Kau lantunkan bahasa ikhlas Sampai terdengar ke telinga Sampai nafas dirajut membekas Bukankah rasa tak butuh jawaban? Hingga doa tak kalahkan kekuatan Sebab... Mengabari adalah tali pelembab Namun... Semuanya mulai berkurang Kecuali kejujuran Tersisa dari yang pernah ada Makassar Sabtu, 22 September 2018 By: Djik22

KARYAMU TETAP MEMIKAT

Foto: Abdul Rahim (Khalifah05) Ketika doa-doa Telah kau panjat Dengan lemah-lembut Pada Tuhan Yang Esa Tak lupa pula Pintamu Pada para pendahulu Dengan merinding bulu-bulu Begitu dalam penghayatan Bersama angin Bersama waktu Bercampur masa lalu Maka... Yakin pun mendalam Tak secuil akan buram Tampak pada kaca belaka Namun ia selalu melekat Selalu mempererat Antara roh dan jasat Hingga karyamu tetap memikat Makassar Jumat, 21 September 2018 By: Djik22

TENTANG RAHASIA

Benteng hatiku Digoda curiga darimu Penuh sembilu bisu Tak bisa lucu Pada kodisi yang tegang Memilih diam dan menganga Di ulah lunglai kata-kata Diulang-ulang tatapan gelombang Teruslah bergelombang Biar tetap mencoba Di jalan bertebing Menghadang rahasia Makassar Jumat, 28 September 2018 By: Djik22

PERTIWI DI TEPI JERUJI

Kaya... Bukan dari hasil korupsi Adalah ulasan cengeng berbicara Jika dianalisis di layar kaca ini Padahal... Layar kacaku Sama didesain kebal Bertahan kerusakan beling biru Hanya biru yang tersisa Pada sisa-sisa Pergulatan panjang bertahan Dengan benteng dan senapan Tapi... Senapan jadi cerita Kala pertiwi berumur tua Terus menangis dalan penjara pagi Belum lagi dihibur malam Dengam kekayaan alam Namun pergulatan sengketa Yang terus dijual meraja lela Hapuslah air mata pertiwi Dari beling dan utang Biar para tukang Dalam negeri sejahtera Jaminlah pertiwi Di setiap hari Biar tak masuk ke dalam Penjara kelam penuh kusam Makassar Jumat, 21 September 2018 By: Djik22

SAJAK MENJELANG PAGI

Kaget Takut Mendengar lirih Menyimak sedih Belantara raga Berharap iba Kasih lembut air mengalir Basahi cawan sukar Di garis hitam putih Kutelusuri Dengan petuah Dengan berani Di pintu sempit Di tembok-tembok tua ini Tempat bersemayam duka Anak muda menganyam sajak pagi Makassar Jumat, 29 September 2018 By: Djik22

MEMINTA JARAK

Kau adalah alasan Dalam bahasa sunyi Dalam sajak kutukan Yang selalu bernyanyi Kemudian tetap kujaga Doa dan pujamu Harap dan rindumu Dan yanyian marah membara Hangatkan tubuh Dengan balutan ikhlas Penuh khas bau sejarah Menyatu di perantara maya Dengarlah Tataplah Hiruplah Aku ada di tiga bagian itu Yang bukan penuh syarat Penuh ikat-mengikat Membuat diri Meminta jarak Untuk terus mendekat Terus membias Cahaya suci membekas Tenangkan hati mengapit penat Makassar Jumat, 21 September 2018 By: Djik22

SEKOLAH DI JALANAN

Pendidikan Tak hanya di tembok-tembok tua Yang terus dipoles jadi baru Penuh harum bau tekanan Sampai mengungkung ilmu Membredel pengetahuan Dengan sempitnya pandangan Serta ruang gerak yang kaku Namun Cobalah mengasa rasa Balutkan tekad dan suara Pada hentakan berlian Yang tak butakan mata Yang tak tulikan telinga Sampai rabun pada pandangan Sampai pasrah pada pendengaran Tapi... Terjunlah ke jalanan Ajaklah rakyat untuk berjuang Rasakan harum bau wangi Hingga Merasakan panasnya jalanan Di atas aspal Yang tertiup angin polusi Maka... Jalanan dijadikan sekolah Dengungan jadi pengelaman Dalam romantisme tak meleleh Makassar Kamis, 20 September 2018 By: Djik22
Darimu kepalan sayap melalang buana ke ranah alam semesta. Hingga padamu dengan nafas dan rasa. Tersulam ingatan dan dukungan berlian. Sampai kutelusuri alam raya tepat kau mendahuluiku. Lalu, dirimu tetap jadi kekuatan terbaik mengeja batas waktu dan samudera pengetahuan. Hanya terima kasih tak mewakili kebaikan. Hanya maaf tak mampu menyembuhkan. Hanya doa sebagai kekuatan (Teruntuk Ina) Makassar Rabu, 19 September 2018 By: Djik22

UDARA ASA ADONARA

Jika bumi Indonesia Terlalu luas dihirup Maka... Aku sempitkan tanpa redup Tentang tanahmu Tentang bumimu Tentang udaramu Tentang laut tuak manismu Yang terus bergelembung Kalahkan golombang cinta Tertulis pada laut terapung Terbuai pada kaki gunung-gunung Hingga kukirimi keluh Tentang rupiah mencekik Pada pertiwi yang indah Yang didengar gunung, laut, dan udara Bukankah rupiah tak kau keluh? Sebab... Budi luhur kau warisi bersih Masih kuhirup lewat udara Bukankah laut indahmu memberi hidup? Tentang nelayan yang sejahtera Lewat pukat dan mata kail Pada tubuh gemuk dan kerdil Di sana... Tak sengketakan tentang kulit Tak persoalkan benci penjara Yang terus melilit-lilit Pada bentangan tikar Yang disulam dengan doa Sembari selendang rasa Menyulam riak-riak Kewatek memudar Teruslah memberi cita Pada asa masa lalu lewat udaramu Dalam cerita Tanpa naskah lusu Sebagai pedoman anak cucu Yang terus menunggu Seperti udara mulai mahal Pada silang t

CAHAYA ITU MEMUDAR

Garis setengah lingkaran Halangi kaki menjamah naskah Tepat terpeleh warna mengarah Ikuti bujuk hitam menawan Entah apalah makna warna Yang jarang kutemui Di jurang-jurang hati Kian menguji di tebing cahaya Namun ketika mata ini Menatap tajam langit itu Seolah tetap memudar Dengan rabun keluh menjalar Pengaruhi sukma Mendewa pada nasib Yang mulai lembab Jatuhnya air mata Hingga merambat pelan Di separuh lilitan pikiran Tersusun berseri-seri Tanpa berdesakan Tapi... Aku sadar Bahwa hari ini Aku tegar Di antara Langit itu Cahaya Memudar Makassar Selasa, 18 September 2018 By: Djik22

PULAU TUA

Lama telah menunggu Di pulau penantian Yang dinamai harapan Bersiul pulau rindu Aku ingin... Jadi perahu Mengajak laut untuk bersuara Dengan gelombang puja Terus kupuja Kecuali benci Sebagai musuh berduri Pada rumput di tepi pantai Aku tak ingin harapan kosong Disulam janji pada langit Saat pijakan pertama melejit Di bumi yang sedang memandang Maka... Meminta pada semesta Restui pijakan perasa asa Nikmati indah pulau tua Makassar Selasa,  18 September 2018 By: Djik22

RUPIAH MENCEKIK

Rupiah bukanlah raja Yang merajalela di bumi Yang menerawang ke angkasa Sampai terbang di udara duri Untuk apa udara dihirup? Kalau tak ada keadilan sehat Terus menyayat-nyayat Jiwa rakyat yang terselip Seolah-olah Putaran ekonomi Menambah sejarah sampah Dan kemewahan partai Menambah suara Dalam pemilihan bergengsi Taburi kebencian para politisi Berimbas antara kawan dan lawan Untuk apa kawan tapi tak abadi? Dalam catatan panjang Pergulatan krisis ekonomi Memenjara rasa dan suara Ternyata... Harapan rakyat adalah kebebasan Malah diberi sengsara Malah disuguhi kepedihan Sampai suara ikut dibungkam Lalu... Terseret masuk tanpa malu Di meja perundingan membeku Maka... Kembalilah wahai tuan berdasi rapi Pada haluan ekonomi kerakyatan Pada penegakan nilai-nilai Pancasila Makassar Senin, 17 September 2018 By: Djik22

BUMI INDONESIA

Bentanganmu Melilit surga mengapung Dari hasil bumimu Dari hasil alam kian terkepung Kita kaya akan alam Kaya akan orang pintar Dengan harapan sejajar Biar bangsa ini tak kelam Namun kenapa dengan hari ini? Arah condong matahari pun Malu melintas negeri Seolah cahaya telah redup Sampai-sampai Orang pintar jadi gila Orang waras jadi lunglai Di tanah sampah sisa bencana Apa bencana yang tersisa? Bukankah kita sudah merdeka? Dari rahim purba tahun empat lima Kala proklamasi dibaca pendiri bangsa Tapi... Itu dulu Kita merdeka secara politik Sampai dalam keadaan panik Meraja lela penyakit birahi Dengan nafsu korupsi Dengan godaan suap Menjadi budaya mata tak kedip Kenapa maling terjerat rupiah? Sampai krisis terus melanda Dari sembilan delapan sejarah Menete susu ke dua ribu delapan Terus berlanjut lagi Kala sikut kempanye Saling menuduh birahi Krisis rupiah tahun ini Oh... Indonesiaku mulai goyah Sampai bumi melemah Di lempeng hati kesakit

RAGU

Atas ciptaMu Mata selalu memandang Telinga selalu mendengar Kulit terus merasa Dalam bait-bait kehidupan Yang menggema Lantunan suara Teduhkan batin Kecuali... Aku berhadapan dengan manusia Yang sedikit pongah berkuasa Tanpa ragu dengan kebohongan Lalu... Untuk apa semua terungkap Untuk apa tertuang jujur Kalau semua pada pesimis Yang seolah-olah mengemis Makassar Sabtu, 15 September 2018 By: Djik22

SANG PEMULA: Tirto Adhi Soerjo dalam Penggelan Cerita

Sumber foto: Google Tak   elok bila bangsa yang besar ini mulai buram pada catatan sejarah tentang dunia jurnalistik. Dan memberi kabar kepada Republik yang baru berjalan harus mandiri, berdaulat, dan merdeka. Hingga rasa syukur melanjutkan tangan Pram yang telah menggores tinta, tenaga, dan keringat pada roman Tetralogi Buru ("Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak langkah, Rumah Kaca")   tokoh Minke serta catatan khusus pada 'anak rohani' yang dinamai Pram sebagai "Sang Pemula." Baca juga: Mengenangmu: Pramoedya Ananta Toer Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (1880-1918) atau Minke dalam Tetralogi Buruh adalah anak seorang priyayi terkemuka di Jawa Tengah. Tirto adalah murid Hogere Burgerschol ( HBS), mahasiswa kedokteran di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) , dan aktivis pergerakan bergelut sebagai wartawan. Tirto merupakan kepala redaksi Medan Prijaji. Namun bukan hanya sebagai kepala redaksi, Tirto juga menjadi penulis tetap di surat kaba

APIMU MENAGI

Kala seantero bumi manusia Dipenjara suara perkara Lantaran rupiah memerah Bayaran keringat darah Tapi... Darah itu Tumbal masa lalu Yang diulang berkali-kali Dalam zona gejolak bangsa Yang ditimpah krisis Yang dilanda tragis Dengan sistem edan mengada Hingga... Malam mulai pagi Berlantun irama senada Semangat apimu meleganda bahari Makassar Sabtu, 15 September 2018 By: Djik22

RAYUMU

Kau rayaku sejuta kata Seribu ibu membumi Pada jalan panjang usia Mulai memutih bersih sanubari Terus menggoda lagi kata Tanpa berbohong Tanpa berdusta Iri dan sombong Sebagai manusia berusia Dalam kanfas anak kalimat Kemudian jadi paragraf keramat Disulam doa tulus menulis lara Hingga kutemukan ayah Indonesia Yang sedang merayu juangku Taburi bunga di langit khatulistiwa Sampai jadi negara neraka Lalu... Untuk apa ada ayah? Untuk apa ibu pun sedih? Dengan air mata mengalir malu Makassar Sabtu, 15 September 2018 By: Djik22

BAHASAKU

Kau ajari aku Tentang eja mengasa Dalam bilik-bilik rayu Mendayu di kerumunan raga Sontak kau tak mengeluh Sebab... Cintamu ilmu sejarah Membawa raga bermunazab Pada Tuhan Pada alam Pada air Pada api udara Kemudian Membuat rumah pertiwi Jadi angan nyata berisi Manusia yang berbudi bahasa Makassar Sabtu, 15 September 2018 By: Djik22

TENGGELAM

Mata ini Menatap ke bawah Arah darah mengusik pertiwi Yang bermasalah rupiah Tapi... Kenapa cahaya itu mulai buram? Serupa malam-malam kelam Di singgasana empuknya kursi Lalu... Tanah ini direbut Laut direnggut Seperti pristiwa masa lalu Namun... Aku atas nama anak bangsa Tak mudah tenggelam bara Yang abunya menawan badan Hinga nafas terus bertambah Tetap bergelora Dalam bayang-bayang raga Terus berlipat ganda tembok bunga Makassar Jumat, 14 September 2018 By: Djik22

Empat Cara Pram dalam Menulis

Sumber foto: Lukisan Djik22 Pramoedya  Ananta Toer atau lebih akrab disapa dengan Bung Pram banyak menghabiskan waktunya untuk menulis. 14 tahun tahun penjara yang melelahkan saat Orde Baru, 1 tahun Orde Lama, dan 3 tahun penjara kolonial. Pada tiga rezim yang berbeda, Pram tetap berkomitmen untuk menulis. Sebab Pram menulis bukan hanya iseng, kesenangan, lelucon, atau soal ekonomi menambah keuntungan. Tapi bagi Pram menulis adalah tugas nasional dan cita-cita luhur yang tinggi. 1. Menulis itu Ideologis Menulis adalah tugas nasional, maka anak bangsa harus menumbuhkan kejayaan bangsa dan negara. Karena ideologis, maka 'menulis adalah tindakan politik'. Sebab politik adalah memperjuangkan nilai kebenaran dan keadilan lewat jalan cerita. Kebenaran dan keadilan pun perlu adanya tindakan. Maka karya dan tindakan harus satu garis lurus. Karena itulah, bingkai Pram adalah "Politik-Sastra." Baca juga: SANG PEMULA: Tirto Adhi Soerjo 2. Menulis itu Riset Pram berpesan

SAHABAT DAN CINTA

Kaulah mata indah menatap Yang tak ingin berkedip Kala haru dan sedih tiba Dekati gembira dan setia Untuk apa kau setia? Kalau sering bersama Kemudian kau pergi Tinggalkan hari Untukmu yang tercinta Baik yang ada Mau pun telah tiada Di atas semesta cinta Terlalu jauh... Bahtera tak terungkap cinta Sebab... Kaulah sahabat berdaun sejarah Kemudian... Hariku bernafas ceria Terkadang meronta badai Kau datang menghapus air mata Namun... Terima kasih tak bisa mewakili Hubungan apik berdahan Merambat hingga ke akar hati Sampai semesta ikut telibat Dalam hidup dan cobaan Sili berganti menjerit Kau tetap ikhlas menawan Makassar Rabu, 12 September 2018 By: Djik22

TIBA

Derai durasi waktu Telah membawa berlabu Dari ujung matahari terbit Menuju ke kota yang terjepit Sampai di waktu... Tiga puluh menit menunggu Dengan tabah Tanpa ada gerah Hingga mataku menatap Jiwaku bersyukur Saatnya tiba menatap Kota yang membuat geger Perjalanan Mumere-Makassar Selasa, 11 September 2018 By: Djik22

BERTEMU

Bayi yang keluar Dari bimbingan kasih Dan kelembutan sayang Yang tak begitu sukar Sampai... Dididik lembut membelai santai Seirama terbitnya fajar Yang sedang bercahaya menjalar Memasuki langit-langit rumah Didirikan beberapa tahun silam Dengan atap modern indah Sembari cahaya itu tak buram Hingga aku terus menangis Seolah-olah cara yang sadis Hadir dengan tangisan Bertemu dunia pertikaian Maumere Senin, 10 September 2018 By: Djik22

CERITA SEMESTA #3

Ketika kemarin satu tangga aku telah naik dengan senyum dan renungan, maka hari ini apakah tetap tersenyum atau air mata. Namun doa terbaik dibutuh tabah dalam menambah cerita semesta. Karena pulau pesona menawan hati sedang menanti. Tapi belum juga aku sampai di dermaga tempat berdirimu. Tataplah aku wahai penyejuk hati, biar kebahagianmu bersama semesta yang menyulam intaian gemuruh doa setiap kaki ini melangkah. Apakah iklasmu dalam bisikan kata suara yang dikirim? Atau masih ada jelmaan lain dalam diriku? Jika memang masih ada jelmaan dalam diriku, maka kukira butuh waktu untuk menghilangkan ingatanmu tentang pulau lama. Bukan juga aku ingin segera ingatanmu hilang begitu saja. Akan tetapi, masa lalumu bagian dari sejarah panjang penuh dendam dan pelajaran berharga. Maka ambillah pelajaran menawan sukma menambah laju berpikir. Biar jalan menelusuri arus gelombang kehidupan tetap dinikmati tanpa keluh. Sebab, mengeluh sebagai dasar berdiri, maka kebosanan dan pasrah menyayat-nyay

MENJEMPUT PAGI

Lamanya pagi... Adalah alasan menunggu Tapi... Tak ada keluh merindu Dalam persinggahan Di dermaga penantian Membawa jauh Tatapan sejarah Yang terus diulang Dari bangun dan tidur Dari malam ke malam Sampai menjemput pagi Lembata Senin, 10 September 2018 By: Djik22

CAHAYA DI BUKIT CINTA

Sumber foto: hasil jepretan Djik22 Akulah rindu Yang bersemayam Dalam bisikan kelam Selalu mendayu Pada patahan yang lapuk Di bukit tersusun Dengan tangga dari semen Penuh sejarah dan olokan Tapi... Kutemukan cahaya itu Di Bukit Cinta Tanah Lembata Lembata Minggu, 9 September 2018 By: Djik22

CERITA SEMESTA #2

Saat hari Jumat malam panjang di limit waktu yang sengaja dirahasiakan. Kau terus menyapa dengan kaku. Apakah aku terlalu jauh masuk di relung pertanyaan? Hingga seolah memulai dari awal kala bibit-bibit pohon piaraan tumbuh. Kalau memang aku terlalu jauh masuk, maka tariklah tangan dan badan ini untuk terus dilindungi semesta. Karena duri pesimis masih membekas tanpa dikumandangkan. Terus sampai kapan rasa pesimis diusir oleh catatan panjang langkah kaki dan panggilan alam? Apakah alam pun tahu tentang keluh dan derita umat manusia? Atau alam terlalu jujur untuk diajak mendekat tanpa merusak? "Entahlah" jawabmu seperti penggalan kata dari gemuruh nyanyian Bung Iwan Fals. Lalu kenapa banyak yang merusak kemudian pergi tanpa permisi? Bukankah tempat yang bernama bumi selalu mendewasakan makhluk yang menghuninya? Semoga kata-kata singkatmu tak serupa putusan hakim yang selalu memvonis sebuah perkara. Sampai aku bertanya berselang beberapa menit setelah dua kata yang diangga

CERITA SEMESTA #2

Saat hari Jumat malam panjang di limit waktu yang sengaja dirahasiakan. Kau terus menyapa dengan kaku. Apakah aku terlalu jauh masuk di relung pertanyaan? Hingga seolah memulai dari awal kala bibit-bibit pohon piaraan tumbuh. Kalau memang aku terlalu jauh masuk, maka tariklah tangan dan badan ini untuk terus dilindungi semesta. Karena duri pesimis masih membekas tanpa dikumandangkan. Terus sampai kapan rasa pesimis diusir oleh catatan panjang langkah kaki dan panggilan alam? Apakah alam pun tahu tentang keluh dan derita umat manusia? Atau alam terlalu jujur untuk diajak mendekat tanpa merusak? "Entahlah" jawabmu seperti penggalan kata dari gemuruh nyanyian Bung Iwan Fals. Lalu kenapa banyak yang merusak kemudian pergi tanpa permisi? Bukankah tempat yang bernama bumi selalu mendewasakan makhluk yang menghuninya? Semoga kata-kata singkatmu tak serupa putusan hakim yang selalu memvonis sebuah perkara. Sampai aku bertanya berselang beberapa menit setelah dua kata yang diangga

PANGGILAN

Ombak itu Tak bisa dilupa Pada hentakan gelombang Di arus padat berkumandang Panggilan itu Tak asing untuk telinga Tak berat untuk sukma Seirama dermaga tua Lalu... Kaki melangkah rayu Seolah berat adalah alasan Ringan adalah paksaan laut biru Tapi... Kenapa begitu cepat? Panggilan pulang lewat laut Yang selalu menginspirasi Boleng Minggu, 9 September 2018 By: Djik22

CERITA SEMESTA #1

Kucukupkan satu kali jadi pengemis, yang tak murah seperti harga barang-barang di pasar kumuh. Biar tak kaget kala harga melonjak. Namun, aku ingin jadi sebuah diri yang diapit oleh kejujuran tanpa ada persamaan masa silam. Karena masa kemarin telah jauh pergi saat kubertemu pulau tanpa penghuni di semesta yang menunggu. Kenapa kau menunggu? Apakah keberanian bersemayam di relung-relung sukma yang dipendam begitu dalam? Jika memang memendam adalah alasan menguji, maka jangan tergesa-gesa terbawa angin suara dan kata. Sebab, aku dan kau tak ingin hadir sebentar lalu pergi menghilang di cerita semesta ini. Buatlah cerita semesta tetap indah menawan. Seperti kita saling belajar, saling berbagi, saling haru, dan hanyut dalam wejangan istimewa diskusi-diskusi hangat. Atau kau takut semesta merebut kala kejujuran tutur kata tak seirama perbuatan? Ah... kukira ini bukan ujian semester yang harus diisikan soal-soal dengan jawaban memaksa otak. Namun, lembar itu harus dilengkapi dengan komp

BERSATU

Jalan panjang Bersama udara Dilewati saling bergandeng Pegang teguh dalam doa Yang dilantun dengan suci Dalam kerumunan nyata Sembari tiupan angin berelegi Tenangkan  jiwa seolah air membara Oh... Kelembutan yang tak patah Tapaki jalan panjang Bersama tanah tak menentang Apakah kau air? Api Udara Tanah suara Yang selalu mengajak Tanpa ada elakan Untuk tetap bersatu Dalam pengantin baru Waiburak Sabtu, 8 September 2018 By: Djik22

KEHIDUPAN

Kupandangi cahaya itu Seolah mengajak diri Dalam denyut-denyut durasi Yang disaksikan pohon itu Namun... Alam sebagai guru Selalu mendidikku lugu Untuk tetap bertahan Pada kehidupan Pada air mata Dan hamparan berkesan Di diri yang berkuasa Papilawe Jumat, 7 September 2018 By: Djik22

INGATAN

Saat lagu indah dilantun Dengan suara hati menawan Terpesona untuk semua Bagi sejuta mata Ditambah lagi... Alunan musik seolah menagi Pada kenangan masa silam Yang kalau dingat seakan buram Oh... Ingatan telah kuhapus Lantaran memori terpoles Oleh haru barunya sejarah Hingga saat ini... Kumengulang lagi Keindahan babat penghormatan Kelembutan sajak keberanian Sampai tetap bertahan Tanpa ingatan yang mengotori Relung batin Dan pikiran jernih berisi Kiwangone Jumat, 7 September 2018 By: Djik22

SANDIWARA

Dunia hitam putih larutkan mimpi yang terbuai. Sampai annggota tubuh menjerit kesakitan, lantaran kuasa tak mampu menahan sabar disandaran yang berkecukupan. Belum cukupkah kau torehkan luka? Belum pauskah jemarimu melantun kata di lembar kuasa? Sampai posismu aman tapi berbahaya dipandang mata, dirasakan oleh jiwa-jiwa yang meronta. Atau dunia kau artikan sebagai panggung sandiwara? Lalu siapa sebenarnya pemeran terbaik yang pernah disaring? Ah...kukira dunia tak sekejam perbuatanmu, tak segila pemikiran licikmu. Sampai banyak tubuh sebagai korban, banyak badan merasakan piluh sejarah. Perlu kuingatkan, bahwa "Dunia tak seluas pandangan matamu, tak sesempit ruang gerakmu" yang penuh dengan kesopanan buatan. Hingga lagakmu berirama kebencian, parasmu bergaya kain kusam yang terkena noda. Sampai terpoles jelas di langkah kakimu yang penuh kaku. Sandiwara apa yang sedangkan kau mainkan? Apakah dasar pikirmu menganggap yang lain buta dan tuli? Hingga detak jantung dan tar

MAAF

Untukmu... Yang pernah kusinggung Dengan badai kata menderu Riak-riak sajak bergelombang Hingga seantero jagat Merasa takut Dengan sajak berseri Yang dimulai dari hati Jika memang berlebihan Maka... Bukan kesengajaan Membuat malu berkata Namun berkata... Adalah kebebasan Sebagai manusia Di alam pertikaian Maka... Ketika kata tak berkenaan Berilah maaf bersama raga Yang masih terus bertahan Papilawe Selasa, 4 September 2018 By: Djik22

UDARA

Kau berikan raga Untuk bergerak laju Tanpa malu-malu Menutup kebenaran eja Yang terus kuhirup Pada siang berganti malam Demi nafas tak redup Tapaki jalan yang kelam Papilwe Selasa, 4 September 2018 By: Djik22

ANGIN

Putaran kehidupan Di bawah putihnya awan Di atas rerumputan hijau Yang selalu kemilau Lalu... Daun itu Selalu subur Saat dikenai air Sembari Kuhirup udara Pada angin sepoi Di tanah sejarah asa Papilawe Selasa, 4 September 2018 By: Djik22

TAMU

Ketika pintu itu terketuk tiga kali. Hingar bungar hati teringat pada dua ditambah dua kurang satu. Akan sama dengan deretan bola indah enam dikurang tiga. Tapi, mata masih bersemayam dalam rasa dan rabun. Kaki perlahan mendekati pintu itu. Sembari rasa was-was berkuasa di benak membuat buku kuduk merinding. Tanya dalam hati "Ada apa sehingga pintu terketuk pukul 21.30?" Namun keberanian masih berkuasa kalahkan ketakutan. Sehingga langkah kaki ke enam, pintu perlahan kubuka sembari menjawab salam. Wejangan senyum sambil menunggu larutan hitam untuk sembuhkan lara. Ditambah cerita dan balutan kata yang menagi daun yang sedang jatuh di samping rumah. Tapi, ranting itu tak ingin ditinggal pergi dedaunan hijau yang mulau menguning. Ternyata, empat orang dalam ruang ceria kala cerita menghalau. Papilawe Senin, 3 September 2018 By: Djik22

PELUKAN MESRA

Kopi hitam pekat menaburi ruang malam. Sembari tangan kiriku menjepit sebatang rokok berslogan menguning di Lembah hijau. Tepat di kamar segi empat, mata belum sayu dari rasa kantuk yang tak berlebihan. Hingga jemari masih nakal mainkan peran menyulam kata. Namun, kagetku ketika mata menatap gambar. Rupanya, gambar bertanda penuh arti membuat rakyat terpesona. Seolah-olah, panggung politik ditonton oleh para penggemar membela sepenuh hati. Oh...panggung sandiwara yang melupakan sepak terjang para pejuang sebelumnya. Kenapa pelukan terus menipu? Apakah senyum bergelombang menandakan Indonesia sedang dalam keadaan damai? Lalu, badan tetap bertahan di sandaran empuk. Sampai lamunan ini tak membara rupai api hangatkan jiwa. Tapi kedinginan mengigil menyerang sum-sum belulang tanpa dibaluti Garuda dalam edaran darah. Sehingga Garuda hanya dalam ingatan tanpa dicumbui perbuatan sebagai bangsa yang tak buta sejarah. Masih banyak yang belum sadar, kalau perdamain sesaat antara tokoh y