Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018

Catatan Semesta

Makassar, 311218 | Djik22 1 Semesta berharap dengan cahaya. Ia butuh dilindungi. Tapi, sebagian malah merusaki. 2 Dekati aku, maka ketenangan akan datang menggoda dirimu. Karena akulah semesta. 3 Yang subur, kini mulai gersang. Akibat ulah tangan dan kaki para pencuri yang menggadaikan alamnya. 4 Di mana kalian yang mencintaiku? Umurku sisa sedikit dilapuk dengan jatuhnya daun. Dan rapunya batang. 5 Akulah mata yang bersinar. Akulah hijau yang menawan. Karena dariku tempat kita berdiri sementara. 6 Kemesraan bukan hanya dengan manusia. Tapi, harus dirajut dengan cintamu pada alam. 7 Alam raya menjadi sekolah tanpa meminta tinta. Malah, ia menyediakan segudang inspirasi. 8 Akulah tempat kau beraki. Akulah muara debu dan kotoran. Yang terus dihantam dengan sombong. 9 Jika di kota kau jarang temukan aku, maka pergilah ke alam terbuka untuk menjagaku. 10 Karena kota butuh perawatan dan pupuk untuk membesarkanku. Sedangkan di hut

DIDIKAN TANPA TEKANAN

Sumber foto:  Bung Marianus Engel Bell Seperti hening yang merindukan ramai. Aku ingin di antara keduanya. Tepat, di titik tengah, aku berdiri. Saat nafasmu berhembus lembut tanpa tangis. Ialah nafas para pejuang. Dan periang raut kharismatik para penyambung langit-langit suara yang jatuh di kaum yang lemah. Sekiranya, suara tepat membawa reruntuhan yang butuh perbaikan. Di tengah arus gelombah si lemah membutuhkan tenagamu. Iya, akulah salah satu dari sekian banyak mereka yang lemah. Kemudian terengah-engah minta harap pada para penolong. Saat itu, kau hadir lewat gambar. Yang kugenggam dengan tangan kanan sambil mengangkat tangan kiriku. Kata orang 'tangan kiri sebagai bentuk protes perlawanan; tangan kanan sebagai bentuk semangat' yang menggebu. Kita masih bersama dalam dua bentuk petanda dan penanda pasang raga yang berbeda. Kita sama dalam kaca mata dan arah teropong perjuangan. Berdiri saling menghimpit di deru dan debu angin ribut dan bisingnya kemiskinan.

AKU MENUNGGUMU DI SINI

Sumber foto: Hartatty Shartika Hamid Nusantara yang dulu kudengar lewat cerita dan bacaan sejarah. Kini mulai terasa asing digilas oleh rodi kepentingan. Hingga kebanyakan orang sudah lupa pada sejarah Nusantara lama. Nusantara yang penuh dengan kesuburan, kekayaan alam yang melimpah-ruah, dan ragam budaya terpelihara dari desa. Tapi, Nusantara kini hanya tinggal cerita. Sudah banyak orang tak mempelajarinya lagi. Karena, orang-orang mulai sibuk dengan dunianya masing-masing. Bukankah sejarah penting untuk dipelajari? Atau sejarah terlalu kaku untuk dilahami? Sekiranya, kita sebagai generasi emas abad-21 mampu meneropong lebih jauh, membuka lembar demi lembar setiap catatan sejarah. Oh... Nusantaraku yang menunggu tanpa ada yang tiba. Aku ingin datang bersua. Walau hanya lewat teks dan naskah yang diselundupkan. Karena, aku tak ingin mati tanpa mempelajari sejarah. Apalagi, sejarah kini mudah diputarbalikan. Masih saja tentang keburaman sejarah. Sampai, banyak yang

EFEK DUNIA UNTUNG-RUGI

Efek Rumah Kaca membuat kita buta dan terkungkung dalam lingkaran penuh tekanan. Karena di dalan rumah kaca dan etalase megah, banyak tumbuh lahan subur dunia untung-rugi. Apalagi, kaca yang sering dibilas dengan bayaran upah. Coba renungilah tempat bernaung yang dihimpit gedung megah. Masihkah kita dilarang dengan pakian yang sederhana? Atau kita harus mengikuti segala bentuk aturan? Bagaimana jika tak mau mengikut? Sekiranya julukan 'Para pembangkang' tidak dilayangkan. Kita bukan kerbau yang harus ditarik ke sana-sini. Biarkanlah kita merdeka dalam Rumah Kaca. Jika dalam gedung megah pun begitu mahalnya obrolan kebebasan. Maka, mari kita bermain di alam yang lebih terbuka. Karena semesta selalu membawa kita untuk lebih dekat dengan lingkungan sekitar. Karena alam adalah sekolah terbaik tanpa diktat dan dikte para penjual kata. Makassar Sabtu, 29 Desember 2018 By: Djik22

Catatan Tanpa Titik

Makassar, 181218 | Djik22 1 Kutulis namamu di dinding ini Kelak menjadi sebuah cerita Sampai kita terus mengabadikannya Dalam catatan yang tak bisa diakhiri 2 Kisah akan tetap berlanjut Biar dalam keadaan terhimpit Kakiku akan tetap melangkah Tanpa harus mengeluh sedih 3 Di mana pun tempat Selalu kugunakan dengan tepat Biar tersulap menjadi patahan kata Kemudian berkisah dari tulusnya semesta 4 Karena semesta mengajarakan ketulusan Maka serpihan dedaunan pun Tetap dijaga dengan benar Biar tak akan tercecer 5 Sebenarnya... Masih banyak cahaya Yang terus memberi pijar Saat kita di gedung tua yang angker 6 Tetap fokus pada cahaya itu Suatu saat kita akan bertemu Di sebuah purnama yang merayu Untuk kita saling mengungkap rindu 7 Negara terlalu memberi janji. Hingga hanya mengurusi kepentingan kelompok dan golongan saja.g Sampai, lupa jerit tangis rakyat yang merajalela. 8 Rakyat semakin terpuruk dengan kondisi yang dialami. Namun, mereka yang ber