Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

TANPA KATA BERBALAS (293)

Putaran arah jarum jam mengikuti, Arah pikiran yang terpenjara, Dalam nuansa kuasa batin, Belum pantas diungkap, Pada bidang umpan, Yang sudah mulai, Membuka pintu, Lalu menegur, Kemudian, Terhenti. Di depan, Mata menagi, Mengingat kelam, Terbawa arus hitam, Beri saksi air terjatuh, Di pertemuan yang lama, Tak dapat dihitung dengan, Sekedar halusinasi khayalan, Banyak memilih tanpa bahasa, Apalagi berkata tanpa berhenti, Yang tak bisa ditebak serasa buta, Jalan yang tak ada arah penunjuk, Hingga terbawa arus kebingungan uap, Bak udara hanya dirasa tanpa dilihat, Lewatkan perasa mulai mati terjepit, Dengan tiada jawaban dari pemikat, Dipinta atas nama kemesraan diri, Tapi yang tiba adalah kegelisah. Kenapa tanya tak dijawab? Apakah hanya harapan? Sengaja dimanja bisu, Terus-menerus bisik, Sampai sulit memaknai aliran darah, Dengan tekanan gejolak urat nadi, Mainkan peran kalahkan ingin, Tak terkontrol arah un

BENCI TAK BISA DILUPAKAN (296)

Memaafkan adalah persembahan istimewa, Yang toreskan bangga tanpa salah, Berjalan tak ada malu berdamping, Diri yang terlarut dalam serakah, Dalam barisan para penunggu, Mainkan nada-nada sumbang, Mulai memanggil merayu, Lalu kau dekati mereka. Dengan berjalan serius, Di sebuah ilalang berduri, Kemudian tertoreh luka menggenas darah, Menetes, jatuh, basah, kering, dan basah lagi, Layak darah pertama kali keluar masa muda, Begitu kesakitan menjerit-jerit ampun. Aku yang tak punya salah kau jauhi, Kau benci berkepanjangan padaku, Sampai menuduh semua salah, Atas kelakuan dan tindakku, Digolongkan pendamping nakal. Padahal kedua sudah direstui, Tinggal menunggu di pelataran, Pintu masuk menuju rumahmu, Yang disambut sederhana. Makassar Senin, 30 April 2018 By: Djik22

TEMUILAH AKU (295)

Lama telah kumenunggu datangmu, Yang kau janjikan dengan bijak, Sampai diri ini percaya penuh, Tak bisa diluapkan benci, Tabah mengingat, Pada waktu, Kala itu. Kapan kau temui aku? Seperti janji sepucuk harapan, Terus memanggil untuk aku tanya, Dimana gerangan pasangan jiwa? Kini sendirian temani hari, Tanpa ada hadir raga utuh, Hanya bayang-bayang jelamaan, Ingatan kembali kala bahagia, Suka, duka, pahit, getir, Bercampur satu rasa rindu. Kapan jiwamu datang? Dimana pertemuan yang abadi? Atau sudahkah lupa, Lewat tutur kesetiaan, Lewat sumpah berikrar keramat. Makassar Senin, 30 April 2018 By: Djik22

BERGERAK (294)

Hari-hari telah dilalui, Dengan kepastian gerak, Yang bukan hanya momen, Apalagi lupakan tentang jati diri, Pelopor semangat tak kenal lelah, Hingga meminta ampun menyerah, Tanpa syarat dengan janji-janji berbau, Kepentingan individu maupun kelompok. Terus kenapa bergerak? Kalau leher dicekik bungkam, Suara protes dikutuk penjahat, Digolongkan kaum suka anarkis, Dari jalanan sukar terjepit, Sampai tatanan banci. Bergeraklah dari sekarang, Tanamlah benih-benih sejarah, Penghormatan pada jasa pendahulu, Melanjutkan tongkat gagasan berlian. Sampai dimana nyali diuji? Kalau hanya sebatas, Simbol dan warna, Mengungkung, Diri sendiri. Waktu terus mengejar, Mengaja, menulis, membaca, Hingga ke penghujung, Sebuah pembuktian, Kalau setia saatnya, Belum ada pengakuan, Kalah tanpa perlawanan. Dengunglah dengan lantang, Rayulah dengan cara manis, Dekatilah pada kemesraan, Biar tetap sinergis, Temui buah penat, Hasil jerih payah. Dari penjuri mana pun, Ha

DILARANG UNTUK MENULIS (292)

Jebakan pertanyaan membuat marah, Dari ragam observasi berlantun rasa, Yang tak henti menyayat-nyayat, Kisah yang harus dibuka jujur, Sampai paksakan diriku ini, Membuka yang tertutup, Hingga terus terang, Tak ada subuah, Kesepakatan, Kepastian, Memikat, Teduh. Sedih, Menatap, Raut mulus, Sertai senyum, Tampak memutih, Dengan malu-malu, Tanpa kata berbalas, Merespon segala jenaka. Dipoles dalam kalimat rasa, Larutkan dirimu tak terjawab. Kenapa melarang untuk menulis? Bukankah istana megah jadi tujuan? Tempat kedamain dari dua hati Yang pernah bertemu gembira, Saat kuketuk palu di acara, Pembukaan mengusik isi, Tertera catatan kisah, Berlabu tanpa diam. Makassar Munggu, 29 April 2018 By: Djik

HADIAH SERTIFIKAT (291)

Sudah lama kau tempati, Merawat, memupuk tenaga, Korbankan raga kucuri keringat, Hingga pulang dalam keadaan lemah. Tanah ini milik siapa? Tak bertuan atau bertuan, Dengan sombong pengakuan, Milik yang bukan milik. Datanglah kebijakan penguasa, Atas nama pembangunan, Semua cara dilakukan, Lengkap senjata. Tak ada protes kalau damai, Tapi ini soal kehidupan nyawa, Demi generasi menjaga lahan, Mungkin hanya tinggal cerita. Kenapa tanahku diberi lebel? Hadiah sertifikat dinas pengukur, Dua teng mobil anti huru-hara, Kalau melawan ditembak, Korban luka dan nyawa. Sertifikat oh... Sertifikat lebel kepentingan, Ketika warga merekam dipuli, Lari terbirit-birit ketakutan. Untuk siapa pengukuran tanah? Kalau tak ada kejelasan? Mengambil tindakan, Dengan napsu, Perintah. Makassar Sabtu, 28 April 2018 By: Djik22

BAYAR KEMENANGAN (290)

Langkah kaki, Telah berkali-kali, Diayunkan melaju maju, Petugas keamanan menunggu. Dengan seragam yang rapi, Ada yang memakai topi, Gagah dipoles senyum, Menunggu diam. Ini bukan kawan dan lawan, Biar sarang singa telah keluar, Dalam barisan-barisan massa, Didengungkan tanpa henti. Apa yang dicari? Kalau suara dilawan senjata? Maukah mati demi kebenaran? Atau menuju merdeka sejati, Sebagian milik para penguasa, Dari alat-alat modern, Sampai ke primitif. Kalau hanya bayar kemenangan, Maka capain politik demi utang, Yang ditagi rentenir dan kolega, Saat mau loloskan calon. Makassar Sabtu, 28 April 2018 By: Djik22

HUJAN TELAH BERHENTI (289)

Air menetes dari gedung lantai dua, Hempaskan percikan mendingin, Menggigil paksakan keadaan, Hingga tampak mulai basah. Tangan gemetar menahan, Demi abadikan potret buram, Sementara tanganku gemetar, Saat hujan telah berhenti sapa. Bergantilah angin ribut mengamuk, Jatuhnya daun-daun segar, Tampat kotori keadaan, Jadi sampah berserak. Kumenoleh ke arah suara, Sedikit senyum di raut linang, Tak besar panggilan menjerit lagi, Pintamu paksakan diri menuju teduh. Tapi aku merasa bersalah biarkanmu, Terlantar sendiri dibalik tembok, Sebagai pembatas kaum licik, Dengan angkuh berlaku. Padahal tanah tempat berpijak, Para petualang menagi janji, Dengan semangat tak takut, Pada siapa pun menegur. Karena lonceng kematian, Masih lama menjemput raga, Sisihkan pengelaman berbagi iba, Sebagai loncatan memupuk semangat. Kini hujan sudah redah menangis, Kurun waktu begitu melelahkan, Datang pada musim depan, Hinga lama menunggu. Biarkan tanah kembali gersang,

TAK KUTEMUKAN DIRIMU DALAM DIRIKU (288)

#Part 01 Lamunan membara terhempas pandangan menerobos batas-batas samar. Di kejauhan pandangan terganggu mata buram terpeleh rumah kaca. Rumah yang menyimpan segala luka; segala misteri; segala berkas tak tersentuh siapa pun. Kecuali membiarkan debu menempel kotoran  kemudian jadi rusak. Begitu kurangnya pemerhati merawat tumpukan yang menyimpan sejarah tersebut. Mestinya tabir gelap harus dibuka demi mengungkap penerangan sebagai pijakan bersandar. Baik itu sebagai bahan bacaan; bahan referensi; maupun menjelajahi dunia lewat tafsir isi yang tersusun dari ribuan paragraf. Tapi waktu yang mencekik langkah, memepetkan ruang gerak. Sehingga tak bisa kusingggah bersihkan kenangan telah lewat. Sebab belum mampu mencapai kepastian dari setiap yang hidup. Apalagi yang datang adalah kepalsuan; yang singgah adalah kebohongan. Setidaknya tubuh ini, belum terkoyak-koyak lemah membatasiku bergerak. Itulah kesyukuran atas kesehatan masa muda. Tetapi perlahan hitungan maju memanggil menjerit

NYANYIAN MASIH ADA (287)

Gehap-gempita, Suara-suara pendobrak, Yang tiada henti bergema, Mendunia melalang-buana bunyi. Nyanyian masih ada, Atas nama perubahan datang, Atas nama senasib seratap tangis, Terus diderita tanpa berakhir. Kau tak bisa hentikan laju, Apalagi hanya ancaman, Menakut-nakuti dengan laras, Yang tak berani kau tembak. Kenapa nyanyian kau kutuk? Seolah ini pekerjaan tabu, Lalu bersembunyi, Dibalik tirai. Kalau nyanyian dilarang, Suara mengeras terus bergema, Hingga telinga normal, Matamu berani memandang getir, Lalu merangkul bersama. Makassar Kamis, 26 April 2018 By: Djik22

BULAN BAHAGIA (286)

#Part 01 Gelombang besar telah membawa arus di babak baru. Yang bertepatan dengan rintihan tangis tanah lahir; ibu pertiwi yang terpesona hamparan indahnya alam. Tapi hanya dari beberapa orang yang menikmati. Entah keuntungan atau kesenangan dalam dunia untung rugi. Lalu sampai kapan peristiwa  kegilaan melanggar kemanusian? Kapan pelanggaran Hak Asasi Manusia dihentikan? Tepat bulan bahagia, yang tak ditemukan harapan penuh membalas kegagalan masa silam. Rasanya aku ingin menghindar dari segala kenangan buruk yang melanda. Biarkan sang penyinggah hati yang mengingat bertahun, tapi aku memilih tak ingat apa-apa. Karena akan mengganggu pola pikirku yang terjebak pada perasaan dan kenangan terpahit. Biarkan damai jadi rahasia membuat hati tersenyum sambil kugandeng banyak kawan dan kenalan baru. Kali pertama hitungan matematis, aku terharu sedikit bangga. Saat kutatap bayangan sesok misteri datang sampai lima kali. Saat itu dia berkata "Angka ganjil adalah angka sial. Ketika

BERDALIL PENUH RAPUH (285)

Telah kau hadiahkan beribu alasan, Yang sebenarnya sebagai penguat, Dalam dalil penuh kerapuhan, Berulang-ulang kau berkata, Dengan nada parau sengit, Sampai tatapanku tajam, Memandang hati-hati, Biar segera kutahu, Di akhir kata. Biar kau ulangi lagi, Menyusun dengan tepat, Kata-kata penyejuk jiwa, Tapi aku tak goyah mengarah, Pada tumbang sebuah pohon tua. Aku akan pergi untuk selamanaya, Bertemu dengan dunia yang damai, Yang tak ada lagi dusta serta ingkar, Apalagi menyamai dalil-dalil kegelapan, Hingga pada sebuah jebakan, Yang menuduh kalau aku yang salah. Makassar Selasa, 24 April 2018 By: Djik22

TAK LAMA LAGI (284)

Segala tentang rindu berkedip-kedip, Seumpama mata tersengat beling, Tak bisa lagi kututup ragamu, Di hadapanku tersenyum, Memegangi jemari, Begitu menawan, Tak lama lagi, Kau bosan, Berdalil, Penuh, Rapuh. Jagalah, Wahai manisku, Kelak pahamanmu kuat, Kalau kau dan aku mengakui, Tak berkeinginan berpisah di jalan, Yang biasa sebagai hindaran berpijak, Sebab tanda-tanda bahaya mematikan tawa. Ketika waktu tiba tak bisa diberi tawaran, Maka aku pun berserah pada sang pemilik sejati, Kelak dirimu menemukan ragam pendamping setia. Makassar Selasa, 24 April 2018 By: Djik22

DALAM PUISI (283)

Jelmaan demi jelmaan, Berganti latar bahaya maya, Hingga nyata berkata terbata-bata, Penuh ketakutan berguling merajut. Dalam gelisah tak berkedip, Matamu menatap tajam, Marah memuncak, Mulai rendah. Dalam puisi, Kau terus ada, Yang bukan diada-ada, Tapi datang karena rindu. Jangan lagi membisu, Di abad dua satu, Bertepatan, Bulan April. Tak lama lagi, Judul karya akan berganti, Tak bisa meminta bertahan, Temani aku dalam makna mantra, Jadikan dirimu bait-bait batas, Biar aku tak begitu takut, Tentang serangkai abjad, Dalam ruang, Fatamorgana. Makassar Selasa, 24 April 2018 By: Djik22

SEPANJANG WAKTU (282)

Hari-hari menari irama, Yang kubalut dalam puisi, Tersusun diksi pilihan rasa, Sepanjang waktu kugores tinta. Kaulah mata cahaya yang berlinang Saat-saat kehampaan tiba, Menanam benih-benih, Jadi bibit merana. Kau hadir begitu lama Mengapit nyaman, Di sandaran, Bahu senja. Matamu meratap, Tenggelamnya bola jingga, Di batas laut bertemu langit gelap, Lalu setetes jatuh menunduk, Tak ingin kutinggalkan, Dalam waktu dekat, Atau tak dihitung, Hingga tentang, Kapan diriku, Kembali, Pulang. Makassar Selasa, 24 April 2018 By: Djik22

BIAR GANTIKAN RAMAI (281)

Biar hatiku, Telah protes merontah, Dalam kesendirian sepi memangsa, Menjerit histeris tiada peduli. Sepanjang waktu berganti hari, Kondisiku tak berubah, Biar gantikan ramai, Yang kunikmati sendiri. Aku ingin bahagia, Terus bersemayam dalam, Ketabahan akal budi pekerti, Kau wariskan sebagai amanah. Dengan hati pernah kucoba, Untuk melewati batas, Petanda tragis, Piluh menyeka, Air mata. Jangan lagi, Kau gantikan yang lain, Yang bukan pilihan menentu, Apalagi keterpaksaan memanggil. Gantikanlah semua perasaan, Dengan keteguhan jiwa, Yang bukan, Sandiwara. Makassar Selasa, 24 April 2018 By: Djik22

DILANDA SEPI (280)

Ketika semua pergi, Hanya aku yang melawan, Dengan perang sengit bertanding, Tapi bukan menuju kemenangan. Apalagi... Tak ada yang pamit, Dengan cara baik-baik, Di kala aku sedang tidur pulas. Dilanda sepi sepanjang haru, Ditambah kau tak juga, Kunjung, Muncul. Kapan sepi pergi? Biar kau gantikan ramai, Yang lebih membawa warna, Sebagai ciri khas kesukaanmu. Makassar Minggu, 22 April 2018 By: Djik22

Sendiri Lagi #3 (279)

#Part 03 Keesokan sore, pelataran rumah dipancarkan kondisi yang mendukung. Menatap langit, senyum membalas tujuanku. Apalagi kupandang sebelah kiri,   tampak seorang bocah laki-laki menendang bola ke arahku. Lalu si bocah itu, menghampiriku dan berkata.  "Kak... Kenapa senyum-senyum sediri? Boleh tidak kak menemaniku bermain bola?" Sebelum kumemberi balasan, tanganku mengelus rambutnya yang disisir rapi. Langsung aku teringat kepada adikku. Banyak kesamaan antara mereka berdua. Bagaimana tidak...! Si bocah ini, menghabiskan waktunya dengan riang gembira. Pakian yang dikenakan selalu berpasangan antara baju dengan celana. Saat itu, sang bocah mengenakan baju dari salah satu club sepak bola tersohor dunia. Iya... Ia menggunakan baju Barcelona dengan nomor punggung 10 tertulis namanya, yaitu Faruqh Al-Habsyi. Lalu si Faruqh pergi meninggalkanku tanpa mengingat lagi ajakannya. Mataku terus memandang, menatap dengan sedikit haru. Ternyata si Faruqh begitu mencintai bola

Sendiri Lagi #2 (278)

#Part 02 Bayang-bayangku silih berganti menghantui sosok periang dan kharismatik. Dari kepolosan serta kesederhanaannya, aku banyak belajar tentang perubahan. Baik itu, perubahan yang kecil sampai menuju sebuah perubahan mahadasyat. "Kenapa aku terjebak masuk di sebuah lingkaran yang berpikir tentang bangsa dan negara?" Tanyaku dalam hati saat berada di tempat tidur. Aku memaksa untuk memejamkan mata, agar rasa kantukku mampu dikalahkan oleh getaran dalam dada. Getaran itu, baru pertama kurasakan. Seolah-olah rasa ini, lebih berkuasa dan tak mau pergi. Rasa yang bergelembung sel pori-pori tak dapat kujabarkan. Sebab aku tak sepintar alat pembesar yang mampu mendeteksi benda sekecil apa pun. Tapi ini hal yang berbeda. Mata manusia tak dapat memandang sampai sejauh ke dalam hati yang sedang aku rasakan. Karena aku adalah sosok perempuan yang sulit ditebak bila hanya lewat analisis pandangan mata sesaat. Bola mataku selalu menawarkan bingkisan makna, patahan sengsara, d

YANG SALAH (277)

Seribu bahasa, Tak bisa mewakili salah, Yang dibuat berulang-ulang, Sampai merobek, menyayat hati. Biar apa pun yang dilakukan, Tetap diterima membayar kesalahan, Sebagai manusia yang penuh khilaf, Tak bisa diingkari penuh kekurangan. Sebenarnya bukan lalai, Bukan juga lupa pada keluarga, Tetapi kesibukan tak bisa dibendung, Ditambah dengan kondisi serba salah. Maukah kami dimaafkan? Atau malah menambah beban, Sebagai penerus lupa pada sejarah, Yang tak memberi kabar keluarga. Pengulangan maaf, Tak dapat meredahkan marahmu, Tak bisa menghibur emosi memuncak. Akan kami temui, Siap memasang badan, Diberi nasihat atau pukulan, Untuk menebus dosa dan salah. Makassar Sabtu, 21 Maret 2018 By: Djik22

LEKASLAH DATANG (276)

Katamu... Kau menunggu pendoa Entah alasan atau kebenaran Aku di sini... Tetap percaya Semoga ucapmu... Adalah kepastian menyatu Lekaslah datang Biar kau meminta... Waktu untuk tambah lagi Sebagai pendamping keluarga Pintamu... Dua minggu kau akan pulang Seolah begitu lama Waktu yang kau patok lagi Bolehkah dipercepat? Jawabmu... Tidak akan bisa Sebab... Demi penyemhuhan sakit Yang kau derita... Begitu lama Lalu... Sampai kapan kau sembuh total? Biar tak ada penungguan... Membuat hati seakan gelisah Makassar Sabtu, 21 April 2018 By: Djik22

KAU MEMBUAT RINDU (275)

Izinmu menyita waktu, Membuat rindu bergelombang, Yang hanya aku dengar suara, Dari jarak jelmaan di kejauhan. Kenapa kau betah di kotamu, Kapan kau kembali untuk bertemu, Di saat hatiku yang sedang menunggu, Entah sampai kapan hati ini membisu. Kau membuat rindu satu minggu, Yang kini telah lewat, Kalau dihitung, Sudah lewat. Jika kau berbuat, Sampai kini tak sembuh, Maka lekaslah datang, Temui aku di taman tua, Tempat kau dan biasa menulis. Makassar Sabtu, 21 April 2018 By: Djik22

YANG RUMIT (274)

Heningan yang terakhir, Membawamu jatuh tergeletak, Tanpa seorang pun tahu posisimu, Dalam pusaran remang-remang bisu. Satu sisi kau begitu bahagia kemilau, Dalam waktu singkat jika diingat, Sampai tak bisa terlupakan, Oleh aku yang terbuang. Tapi kenapa begitu cepat? Sebelum kundang untuk hadir, Biar kusiapkan segala daya upaya, Berikan terang dalam dekapan mata. Sisi yang lain banyak memberi kaget, Kepalsuan tulus dan ikrar sampah, Yang selalu kau dengung pelan, Seketika ada pertemuan. Kau meminta padaku, Kembalikanlah, Pada semula. Makassar Jumat, 20 April 2018 By: Djik22

Larangan (273)

Banyak tanda bahaya, Yang dijebak dengan masa lalu, Tepat diriku sebatas sandaran hama, Meninggalkan gumpalan umpan. Hadirku hanya sebatas jelmaan, Mungkin banyak kecocokan, Masa lalumu yang rumit, Ada dalam ragaku. Separuh riwayatku, Telah banyak kau tahu, Tentang hitam, putih, merah, Sebagai simbol makna pernah dirasai. Tapi kenapa aku kau larang mematuk? Menghantam campurkan lukamu, Yang bukan pada masaku. Apalagi detak rasa. Dimana kau bersebunyi? Kalau pelampiasan tak kau akui, Pelarian tak akan kau iyakan senada, Dipertimbangkan dengan bijak, Jadi tak ada keliru buta, Salah serapah apalagi. Makassar Jumat, 20 April 2018 By: Djik22

Aku Akan Menyusul (272)

Jalan panjang, Adalah usaha iklas, Melewati gelombang, Sabar menapaki batas. Di awal kita telah bersama, Tapi sang waktu mendahului, Sampai aku terlambat pada akhir, Hingga hanya bergandeng dalam pose. Jadilah setiap keluhan dan getir, Mampu kau bendung tabah, Biar gelar guru mengabdi, Menuju masa yang nyata. Selamat dan sukses kawan, Kalian adalah pilihan terbaik, Sang mata cahaya diiringi ilmu, Yang kau peroleh lewat kuliah. Lembaran kertas butuh biaya, Tenaga, air mata, dan keyakinan, Sampai aku yang tertinggal di kota, Aku yang lagi mencari-cari catatan. Aku akan menyusul kawanku, Di waktu dekat tahun ini, Dengan sendiri menelan, Biar pahit dan manis, Akan jadi senjata. Doa terbaik dipanjatkan, Sisihkanlah semangatmu berapi, Pada aku yang banyak membutuh, Dengan kesabaran tanpa henti. Makassar Kamis, 19 April 2018 By: Djik22

Penilaian Hati (271)

Aku memang terbuka, Dalam bertutur, Bergaul. Tapi prinsip hidup, Jadi dasar memilih memilah, Tak sembarang menerima suara, Apalagi waktu singkat mengakui rasa. Sebenarnya caraku berbeda-beda, Demi menambah bobot karya, Kelak dikaji, dibaca, Oleh para bibit. Sudah saatnya pertukaran pengelaman, Antara kau dan aku harus dibagi, Menambah bobot-bobot kritis, Hingga berceloteh tak kaku. Penilain hati adalah pantas, Sebagai pilihan yang tepat, Yang tak ada penyesalan, Serta air mata luka. Makassar Kamis, 19 April 2018 By: Djik22

Menawar Perasaan (270)

Hujan begitu lebat, Sekitar berjam-jam, Menghantam ganasnya abu, Mencoret namamu dengan tiga huruf. Kau protes mengajakku untuk pulang, Dengan cuek dan biasa-biasa, Kurespon hanya singkat, Biar kau tak sakit. Penilaian hati... Butuh waktu tak sedikit, Untuk membangun romantika, Yang selalu kau mengelak kaget Kenapa menawar perasaan? Bukankah memilih sendiri? Ternyata kata-katamu... Sedikit mengelak isi. Makassar Kamis, 19 April 2018 By: Djik22

Keanehan Menawan (269)

Tingkah dan sikapmu... Masih jadi tebakan ambigu Dengan kedekatan diri Baru-baru saling mengenali Apakah dibuat-buat? Kenapa layaknya kekasih? Dinilai mata terpanah Yang curiga kaget Keanehan menawan Menahanku untuk pulang Kau protes mengajak bertahan Biar tetap empat pasang Jangan kau permudah... Membuat dirimu jatuh Sambil menunggu diri Untuk kuakui Maaf saja... Tak semurah praduga Lewat pikiran terburu-buru Membuka ruang demi merayu Tapi... Tak ada niat bersembunyi Sampai aku mengatakan... Ketika tak ada kepastian Ingatlah... Aku tak memulai Biar kau tawar perasaan Kau buka ruang mencintai Demi bayar kegelisahan Tak berujung cerah Makassar Kamis, 19 April 2018 By: Djik22

Turun Bersama Hujan (268)

Sebalah kiriku Kau terus tersenyum Kuajak cerita lucu Dengan tawa... Kau pendam Entah apa Anehnya... Getaran mulai berbeda Keburu turun hujan Cerita terpaksa dihentikan Kau mengikuti dari belakang Terletak tas abu-abu di samping Rasa itu hilang seketika Bersama turunnya hujan Yang tak diundang Yang kumulai dengan cinta Tapi tak mengingat mantan Yang pernah digantung Hujan pun tak berhenti Malah tambah deras Tapi kau dan aku... Saling diamkan diri Untuk mencari kesibukan Sambil malu-malu Yang menguji adrenalin Teruslah basahi dedaunan Biar aku melihat... Kesuburan alam semesta Yang banyak tergambar Di wajah polosmu memikat Tertawa menggelegar Sampai tak tertahan Apakah hujan mengganggu? Bukankah kau benci hujan? Makassar Rabu, 18 Maret 2018 By: Djik22

Tak Ada lagi Kemesraan (267)

Berbeda arah... Sudah membuat batas Yang tak lagi terarah Dengan tanda-tanda ikhlas Padahal... Kau telah mengantarku Tidur manis di bantal Mimpikan tentang dirimu Lalu... Aku terbangun Kau telah berada di sisiku Sambil menyapaku dengan senyum Yang di rautku tampak kusam Sampai terus menahan sandaran Kini hanyalah cerita Telah lewat dan berlalu Tak bisa kembali Apalagi... Mengungkap kata rindu Yang tak terasa Tak ada lagi kemesraan Bila terus-terus disengaja Semakin merubah tujuan Pernah digagas bersama Jadi... Tentukanlah pilihanmu Yang layak bersama waktu Makassar Rabu, 18 Maret 2018 By: Djik22

Bukan untuk Menunggu (266)

Sudah saatnya... Aku harus pergi Demi waktu yang lama Dengan warna-warni pelangi Pertimbangan matang... Telah berkompromi hati Sebagai suatu yang suci Menuju arah juang Karena keseringan menunggu Membuat bosan berharap Sengaja kau tutup Menabur senyum malu-malu Aku berjalan terus... Walau datangnya keras Sampai tak berdamai Apalagi... Untuk menunggu Di samping lorong buntu Tak ada lagi penungguan Tak ada lagi kemesraan Sebab... Hatiku sudah damai Di kurun waktu Kau membelok janji Dengan pedang lidahmu Makassar Rabu, 18 Maret 2018 By: Djik22

Walau Terus Dikejar (265)

Yang kukejar... Adalah amanah lama Terus mengingat waktu Bahwa... Pesan harus dibayar Bukan untuk menunggu Semakin kuhalau... Mengajak, membujuk, membuka Biar tak tampak haru Bersembunyi dibalik jenaka Walau terus dikejar Kau semakin bangga Kalau aku meminta Aku mengemis binar Semoga saja... Segera kau pahami Kalau kekuatan bersama... Temaniku yang sendiri Biarlah kau kucatat... Sebagai bacaan mengingat Untuk tak kembali jatuh Apalagi... Menyerah begitu sedih Makassar Selasa, 17 April 2018 By: Djik22

Yang Tak Lagi Terdengar (264)

Semua begitu hampa Menguji dalam waktu lama Terus diselimuti ketakutan Tapi... Bukan menyerah sebagai pengakuan Dalam suaraku Kau hadir membantu... Menyusun, merapikan, menghangatkan Sedikit kuraih lagi ketenangan Sadar nyatamu hilang Bersama perginya cahaya Lalu... Hilang seketika Dalam bayang-bayang... Yang tak lagi terdengar Ketika terus kupanggil pulang Tapi... Lebih dahulu disambar Tanpa ada kecuali Jika selamanya jadi abadi Yang kulawan sendiri... Maka hatiku semakin kuat Berbeda sebelumnya biasa menjerat Untuk kali ini... Tak lagi berharap kembali Di suatu tempat rahasia Sebagai isyarat bersua Makassar Selasa, 17 April 2018 By: Djik22

Menolak Tunduk (263)

Hujan air mata Jeritan berdengung seantero Penderitaan menimpah bangsa Sambil terpasang ramainya baliho Keresan terus meningkat Kebongan berdampak buruk Tapi... Tetap diucap demi memikat Lewat suntikan kepentingan Hadir dengan kepincangan Tanpa tiang yang jelas Hingga hilang mengeras Membeku, mengganas, mengerikan Menghajar hantu kuasa Gila pada paras jabatan Terus dikejar tak usai Dilakoni para politisi Dengan wajah-wajah lama Ruang kebebasan Dicekal beragam aturan Muncullah pengokatan persepsi Menyinggung para pemimpi Apalagi... Jadi tim pelakon judi Mainkan kartu berlambang raja Sambil menaiki kuda Ketika kelengahan terus terjadi Kebobrokan menjulang tinggi Maka sudah wajib bergerak Walau terus dikejar Dari pada... Menerima sambil menunduk Ibarat prajurit pada raja Kepala yang diikat palsu Meminta ampun mengibas mata Sampai amukan petir Yang tak lagi terdengar Dengan sikap menunggu Tanpa menyusun cara... Untuk menegur Kembalilah ke am

Tiba-tiba Bertanya #1 (262)

Part#1 Pada anak tangga berderet dibalut tehel. Ruang yang dibersihkan setiap saat. Lalu dilewati pada pagi, siang, sore, dan bahkan malam. Tapi kebanyakan menjadi ramai adalah di pagi hari. Sebab dengan semangat pagi, rasa ini seperti memulai kembali sambil menghembus angin segar dengan jatuhnya dedaunan di pelataran halaman kampus. Jatuhnya daun, tak lama bertahan. Karena langsung dibersihkan oleh para penjaga yang bekerja dengan giatnya. Masih tentang pagi yang menjadi permulaaan mengingat. Begitu dekatnya hari. Sampai aku tak bisa membedakan, mana yang menjadi panggilan dan mana yang harus kuberpihak. Karena khawatir jika salah memilih; menimbang, dan menentukan. Maka sama halnya kejatuhan sudah mulai mendekati detak jantungku yang memikirkan keindahan, sederhana, dan apa adanya bila bertutur. Ketika kakimu dan langkahku bertemu di sebuah lantai empat gedung dua. Sambil lalu kulewati pada sebuah pandangan. Kalau itulah penanda dan petanda kode mimik. Tapi saat itu, aku menebak b

Merindu di Kejauhan (261)

Kukunyah Dengan bisikan Berbunyi sertai masukan Bagai nasihat sang ayah Aku yang rindu Pesona racikan megah Tak kujumpai di alam sejarah Hanya di bumi sahdu Ingin kupegang terus Tak ingin habis... Sampai penat menjamu Pada wejangan liku Setiamu berbisik... Memanggil menuju pulang Jalan itu terus menelisik Menuai jalan yang panjang Jauhmu... Oh... yang setia Di kejauhan lama bersua Yang selalu bertanya Dekatlah aku Temanilah sisa usiaku Biar diam membagi arti Tiap potongan bermelodi Makassar Minggu, 15 April 2018 By: Djik22

Mulai Tak Dihuni (260)

Jendela hatimu Masih kau tutup... Kode diberi garis-garis Terbentang menunggu Tampak misteri berjurus Gedung pertemuan janji Mulai tak dihuni Kala kau tak berkunjung Apalagi aku dibendung... Dengan segala ironi Bagaimana aku jadi pintu? Kapan kau buka jendela tua? Lalu kita petakan teka-teki Sambil kau rasa... Tiupan napasku membelai Yang tak ada henti merayu Semua akan terang Ketika tatapan pemberi arah... Membawa kau dan aku menghadang Biar gedung tua bergaris tak roboh Makassar Minggu, 15 April 2018 By: Djik22

Batas Telah Dipatok (259)

Aku anak malang Yang jadi hinaan Tiap orang memandang Penuh dengan hujatan Apalagi... Batas telah dipatok Sembari perkuat alibi Jadi susah dibuka kedok Sedari awal aku sadar Pada buram-buram berkelana Menguasai separuh dunia Bersama pohon tak berakar Makassar Minggu, 15 April 2018 By: Djik22

Aku Kaget Menatap Duka (258)

Cerita yang sengaja kulupa Mulai terbuka lewat ulangan bahasa Yang mirip pristiwa kelam Dalam dekapan suram Aku kaget... Kenapa menyinggung? Saat sukma terpahat Hati yang tak tenang Engkau menabur luka Aku yang merasakan duka Yang begitu mengerikan Pada kelakuan... Tak biasa menerpah mata Tiba saatnya... Angin membawa kabar wajar Dibius remuk-remuk nyawa Perih kemalangan menghajar Semua kuanggap takdir Tapi... Tak kuterima begitu saja Dengan ketinggalan jejak maya Menuju ujian batas pijar Makassar Minggu, 15 April 2018 By: Djik22

Sebuah Kisah (257)

Terbata-bata Aku mengungkap kata Lewat hati... Rasa yang bisu menguji Pada ungkapan Yang dipendam bertahan Di sebuah penghujung... Acara yang begitu tegang Sebuah kisah Naas menimpah... Sampai tertusuk hening Datang tak diundang Lalu... Aku kaget menatap duka Di sudut tatanan kota Tempat duduk masa lalu Ketika kumenatap lagi Bayangan samar-samar Telah diduduki orang lain Dengan rambut terurai Begitu menawan Dan hatiku tak tegar Kenapa posisimu diganti? Apakah aku terlalu sunyi? Semoga saja... Inilah sejarah pemula Mengajakku kembali... Untuk bisa mengenang ilusi Makassar Minggu, 15 April 2018 By: Djik22

Tentang Kepergian (255)

Hitungan jam Tak mampu memejam Mata terus melirik Arah perputaran mengukur Aku tahu... Tentang rasa yang merindu Jiwa yang sepi Dipadukan angin sepoi-sepoi Tapi... Inilah resiko hidup Nakhoda membawa pergi Sambil yang lain tetap terlelap Tentang kepergian Ingatlah pada kecintaan Biar... Tak jauh menjalar Rusaki kesepian Musnahkan harapan Aku percaya... Di sebuah purnama Pergimu untuk kembali Sambil aku menjaga hati Makassar Rabu, 12 April 2018 By: Djik22

Kesepian (256)

Langit... Telah menjadi pelindung Saat-saat memikat Di bawah kibaran mendung Hujan telah redah Basahkan sekujur resah Yang salah dimaknai Di tepian tak bertepi Tak ada... Yang menemani jasad Kerelaan ikhlas berdoa Dengan sampai di abjad... Menuliskan sebuah nama Maka telah jadi satu Yang digauli debu Karena tanah masih basah Seolah... Kesuburan menuju merdu Kesepianku... Bergulat bersama Sambil mengingat wajahmu Yang masih terus menyapa Makassar Rabu, 12 April 2018 By: Djik22

Ketakutan dan Kematian (254)

Semasa hidup, banyak waktu yang dihabiskan dengan hura-hura; melupakan dunia nyata. Sampai terlarut dalam dunia khayal sebagai imaji semu. Padahal keadaan selalu menekan dengan sombongnya sambil menggunakan topeng. Seolah menunggu kapan maut datang; kapan nyawa dilayangkan dengan mudah lewat penembakan misterius. Kenapa sosok 'penembak misterius' susah dibuka kedoknya? Bagaimana akan tersampai? Padahal, dalam diri ada dua sisi yang saling berlawanan; kebaikan-keburukan. Tetapi, banyak yang lebih memilih pada penilaian keburukan tanpa mencari sebab pokok. Dengan mudah tuduhan dan klaim pembodohan yang mendidik generasi untuk jangan mengungkap tentang kebenaran; jangan bicara soal kesetaraan; jangan jadi cerdas. Cukup jadi budak yang tunduk dan patuh. Sebab, hanya ada dua nilai untuk bertahan dan bersaing. Nilai berdasarkan pengkajian objektif dan penafsiran subjektif. Maka muncullah antara kawan dan lawan. Sama halnya pertarungan yang diselip politik; dibesarkan dengan media;

Aku Kembali (253)

Perputaran waktu Menggiring sukma menagi Catatan yang kuat Tertunda di bawah langit Sebagai saksi Yang sedang membisu Menatap keindahanmu Banyak berubah penuh cumbu Mengajak aku bermain Tetapi hanya kesendirian Iya... Aku kembali Mengais mata pena Diturunkan oleh ilahi... Melalui perang berganti Diejekan bahasa Aku yang dibalut sendiri Tak sama sebelumnya Ketika... Kau bersama temani hari Engkau sudah usai Kecuali aku... Sedang dikuasai hati Untuk meraih ilmu Terbentang begitu memudahi Telusuri jalanku tertangkap bisu Makassar Rabu, 11 April 2018 By: Djik22

Masih Melekat (252)

Di awal... Keraguan bukan pembatas Melarang dengan keras Memilih puing-puing... Tersisa yang mengawal Tak sedikit menyerang Kaidahmu... Masih bersama angin Menyejukan panasku Yang lagi sendiri berhayal Di episode ganjil Di tonton terus menawan Semua masih melekat Dengan daging ikhlas Beredar lewat darah Nada-nada waras Samakin menjauh... Dan tak lagi terikat Tapi... Aku masih menjaga Biar kau pergi... Tanpa pamit bersuara Sebab... Kumemilih yang baik Kutinggalkan yang buruk Makassar Senin, 9 April 2018 By: Djik22

Aku yang Hina (251)

Kata-katamu... Berlumuran benci menyayat Bagai sembilu... Merobek tulang-belulang Melukai kulit Yang lama sembuh Dengan suara gemuruh Sambil terengah meraung Alasan... Aku hina Masih melekat Dalam otak kiri-kanan Walau memejam mata Melepas penat Lebih sulit melupakan Kata-kata ejekan Dari pada... Menyimpan segala kebaikan Kau beri dengan nada-nada... Yang tiada dilukiskan Aku yang hina Lalu... Dengan sesukamu Memojokan di ruang hampa Tetinggal gelap sunyi Tanpa sehelai... Drama yang diakhiri Makassar Senin, 9 April 2018 By: Djik22

Tumbuh Lalu Patah (250)

Ranting dahaga... Diuji sebuah badai Pada bulan April Yang tal disangka Patahkan cabang sembilan Jatuhi kuman Temua ajal Kumandang tak ada Rapuh begitu saja Hilang Sirna Patah Tumbuh Kembali layu Di batang Roboh jatuhi daun layu Tumbuh lalu patah Sampai menghilang Dengan dua hari mendatang Pergi dengan darah Serahkanlah... Kepada sang pemutar Tapi... Tiada kembali menghajar Dengan badai bersejarah Yang sampai nanti Makassar Senin, 9 April 2018 By: Djik22

Luka-luka Lama (249)

Mencabik-cabik Dengan ganas mengenas Lucuti keheningan mengelak Saat datangnya tangis Tegakah hati? Bila jauhi... Aku yang masih butuh Malah kau paksa menyerah Bagaimana luka lamaku sembuh? Kalau kau sirami bakteri Yang tak bisa diobati Sedemikian tumbuh resah Pergilah... Jika mau bebas Bersama para pemanah Menancap tembakan perih Yang kau katakan nyaman Sama-sama membalas Gapai siksaan Makassar Minggu, 8 April 2018 By: Djik22

Kebesaran yang Tenggelam (248)

Laut masih berwarna biru Menyapa desir-desir... Ombak menggelegar Perkasai durasi semu Walau nyata Matamu memandang Pada bola mataku yang terang Yang tak bermain rahasia Sebagai seorang diejek benci Dia, mereka, dan yang lain Menghardik tenggelami... Bawa pergi bersama tekanan Tak habis nasib murung Kalahkan benci Dengan kemenangan cinta Bersama derasnya gelombang Kenapa kau tenggelam? Dimana lagi kau sembunyi? Tampakan diri... Seolah-olah lugu Bukanlah kau tak tenggelam? Lalu... Paksakan carut-marut senyum Saat luka-luka lama Yang belum hilang semua Makassar Minggu, 8 April 2018 By: Djik22

Untuk Diceritakan (247)

Beberapa kali Kau rusaki... Tubuh dengan tumpahan Dibuang begitu mematikan Baik kata-kata mencela Menuduh kalahkan fitnah Kau serang sambil merabah... Bukti yang tak nyata Masikah kau menuduh? Dimana letak salah? Kau begitu baik Tapi kebanyakan mengalak Yang mengalahkan hitam Lahirkan abu-abu malam Setidaknya... Jalanku banyak didampingi Sembari cerita... Kutulis berhari-hari Untuk diceritakan Dikupas dengan jujur Ditelaah bukan hanya tutur Tapi... Dari segala sisi Hingga buta tak mewarisi Menambah kebodohan Makassar Sabtu, 7 April 2018 By: Djik22

Yang Penuh Misteri (246)

Musim susah ditebak Semar-samar mengelak Sebuah tempat angker Jadi bahan mengajar Berbagai macam bacaan Kau lafaskan Seolah membaca teks Pada urutan delapan berkelas Kau mengira... Aku pembawa hambatan Tertabur dalam asap Dengan kata yang diselip Kalahkan mantera Tapi bukan bacaan dukun Lalu... Kode rasia telah terbuka Kalau aku bukan pertama Ditunjuk dengan sikapmu Misteri jadi nyata Setelah tak ada badai Perubahan tampkan diri Bersama terbuka... Bahasa-bahasa Semua jadi pelajaran Untuk diceritakan Sebagai tambahan dusta Biar pelanjutku tak mendua Makassar Sabtu, 7 April 2018 By: Djik22

Lebih Baik Mati (245)

Kematian akan datang Dalam kondisi apa pun Mau tak mau menerjang Maut sebagai ketentuan Mimpiku dipenjara Seperti kado berharga Tapi... Tak kunjung kucapai Rumah sakit Angan kedua Dengan jarum ditusuk-tusuk Akibat ulah penyakit seraka Berkali-kali gagal Dihasut, dikecewakan nakal Mau dijual tenaga Dengan uang diterima Liciknya permainan Berlakon topeng-topeng Sembunyi merangkak Cucikan tangan Bagai si suci Yang penuh misteri Makassar Jumat, 6 April 2018 By: Djik22

Menuju Kematian Sunyi (244)

Tak tahan Di dunia modern Yang menyepeleh angka Mengebiri kaumku bersuara Sabar, sabar, dan sabar Telah kudengar... Begitu berulang-ulang Yang di dengung-dengung Apakah ini takdir? Permainkanku Bodohi kaumku Dengan sayup-sayup sadar Ah... Kalau seperti ini terus Maka... Lebih baik mati Dari pada hidup sengsara Yang bukan takdir sunyi Menolak pikiran kritis Ternyata... Hidup adalah sandiwara Dilakoni umat manusia Yang sepelehkan kaum hawa Makassar Jumat, 6 April 2018 By: Djik22

Apa Guna Aku Hidup (243)

Sisi budaya Telah jadi biasa Merenggut tubuh Percepat nyawa merontah Sambil menjunjung tinggi Kepala yang tak berisi Maka... Bekerja keras seperti penjara Apa guna aku hidup? Ketika pekerjaan rumah... Harus kuselesaikan lahap Atau pembeda sebagai alamiah? Sengsara begitu ngeri Sampai aku tak tahan Dalam tekanan... Menuju kematian Makassar Jumat, 6 April 2018 By: Djik22

Digilas Keras (242)

Tubuhku dicicipi Dengan berganti lelaki Ada yang bersih terawat Dan ada berpenampilan kolot Apa guna aku hidup? Kenapa maut begitu jauh? Dunia telah berpihak... Semua digagas, diatur Oleh lawan mencekik Sampai hidupku diatur Dimana kebebasan? Sebagai negara hukum Sedikit perlahan Buru-buru dirancang buram Atau nasibku terus digilas? Atau sengaja dihantam keras? Makassar Jumat, 6 April 2018 By: Djik22

Memaksa Berhenti (241)

Jalanmu liku dan sunyi Seolah tak dianggap benar Di lingkungan sekitar Berteman dengan sepi Apalagi... Kaulah sosok pemberani Tak takut siapa-siapa Biar kau taruhkan nyawa Kau memegang keberan Dengan slogan perubahan Aku begitu juga Memegang prinsip baja Yang tak memohon Yang menyembah kesalahan Dengan tiba-tiba Kau pinta... Berhenti di tengah jalan Memilih dengan tangisan Tak adakah cara lain? Dimana menaruh harapan? Hanya bimbang Yang tak dibimbing Makassar Jumat, 6 April 2018 By: Djik22

Saat yang Biasa (240)

Sudah berulang kali Angin segar kuhirup Legah dirasai berkali-kali Memanjat di keadaan redup Pada saat yang biasa Kudigiur sebuah misi Yang dipertegas dalam visi Menenangkan hati berlaga Sampai tiba waktu Keadaan yang parau Memaksa berhenti Di persimpangan kiri Kudiamkan gusar Biar napas tetap tegar Memandang pertikaian Sambil menabur kebaikan Makassar Jumat, 6 April 2018 By: Djik22

Antara Dua Pilihan (239)

Ke sekian kali Aku terjebak tanya Dikala harapan memberi... Batas wajar digoda usia Kau terlalu menawan Dalam keadaan apa pun Yang dihiasi sederhana Yang dijagai kelana Saat yang biasa Aku yang menerima... Sebuah kehendak aturan Di antara dua pilihan Maka... Tak ada lagi pembela Apalagi membendung Pergimu dengan bergandeng Entah siapa yang salah Tapi aku tiada lelah Sambil mencari Ribuan selusi Makassar Kamis, 5 April 2018 By: Djik22

Yang Tak Bisa (238)

Jangan kau ragukan Tentang kesopanan Apalagi tentang setia Di saat hati sedang bahagia Biarkan waktu... Akan menjawab Kalau matamu lembab Kala diserang rindu Tetaplah berjalan... Di atas kebenaran Yang berlarut... Gembira Belum lagi... Ditambah kesakitan Ketika melawan ketakutan Datang berganti diri Jadilah dirimu sendiri Jangan jadi orang lain Karena akan jadi beban Yang tak bisa kau pikuli Makassar Kamis, 5 April 2018 By: Djik22

Cahaya Pada Ayah (237)

Pancaran cahaya Sebagai penerang semesta Yang ditimang manja Dengan jujur mengasa Cahaya ayah... Diletakan pada kertas Diukir tanpa pamrih Saat pengabdian berdesus Tawaran sejarah kini... Masih tertata rapi Setiap jalan setapak Dilanjutkan seuntai sajak Ayah... Kau tak melahirkan Tapi aku dibesarkan Lewat timang air kasih Ayahlah cinta murni Sejujur mutiara hati Yang memberi semangat Melatih, menimang, dan memikat Cahaya itu masih terang Bersama waktu usia berjuang Akhir yang melelahkan Tapi belum jujur kukatakan Kapan kubalas baikmu? Kalau tanganku belum mampu Tapi... Ayah tetap menanti Sambil membaca batasan... Yang telah dijanjikan Makassar Kamis, 5 April 2018 By: Djik22

Sendiri (236)

Aku sendiri Yang memperbaiki Dengan tragedi Hadir berkali-kali Tak ada ketakutan Apalagi kekacauan Pengaruhi nalar Yang sudah berdasar Batang dan ranting Tak ada daun-daun Di gurun Di bawah mengenang Aku masih sendiri Seperti bersemedi Dengan terpecah-pecah Tampak jelas pada tanah Apalagi kulitku terkupas Terserang sengat angin Pada kibaran Hawa yang keluhkan panas Makassar Kamis, 5 April 2018 By: Djik22

Rayulah Aku (235)

Aku ingat... Di keheningan memikat Mengajak bercerita Sampai disambut pagi Aku ingin... Kau sambut aku Dengan tangan terbuka Sambil membelaiku mesra Dimanakah jawaban? Jika semua meletus Bangunkan... Aku yang sedang malas Maukah kau rayu aku? Bila bosan berderu Tentang kedamaian Yang dibarengi kegelisahan Rayulah aku dengan caramu Ajaklah aku bersamamu Walau semakin berat Cobaan datang menjerat Menyeret raga Menghantam dada Tapi... Aku telah siap sedia Dengan cara... Yang kau maini Teruslah rayu Jangan kedepankan malu Karena aku tahu Apa yang sedang kau mau Makassar Kamis, 5 April 2018 By: Djik22