Langsung ke konten utama

Sendiri Lagi #2 (278)

#Part 02

Bayang-bayangku silih berganti menghantui sosok periang dan kharismatik. Dari kepolosan serta kesederhanaannya, aku banyak belajar tentang perubahan. Baik itu, perubahan yang kecil sampai menuju sebuah perubahan mahadasyat.

"Kenapa aku terjebak masuk di sebuah lingkaran yang berpikir tentang bangsa dan negara?"
Tanyaku dalam hati saat berada di tempat tidur.

Aku memaksa untuk memejamkan mata, agar rasa kantukku mampu dikalahkan oleh getaran dalam dada. Getaran itu, baru pertama kurasakan. Seolah-olah rasa ini, lebih berkuasa dan tak mau pergi. Rasa yang bergelembung sel pori-pori tak dapat kujabarkan. Sebab aku tak sepintar alat pembesar yang mampu mendeteksi benda sekecil apa pun.

Tapi ini hal yang berbeda. Mata manusia tak dapat memandang sampai sejauh ke dalam hati yang sedang aku rasakan. Karena aku adalah sosok perempuan yang sulit ditebak bila hanya lewat analisis pandangan mata sesaat. Bola mataku selalu menawarkan bingkisan makna, patahan sengsara, dan gumpalan kesenangan.

Biarlah orang-orang menebakku dengan penilaian seperti apa. Aku tak kuasa membatasi dari sisi apa pun. Atas dasar penilaian, banyak hal yang harus aku rubah.

"Bagaimana cara merubah hasrat yang bergelora?"

Pertanyaan ini, akan menjadi teka-teki sepanjang malam menuju pagi.

Tepat pukul Dua Belas malam arah jarum jam dinding, mataku belum bisa ditutup. Pada kesunyian yang sepi, kesendirian yang tak berteman, sepi yang merobek memberi ketakutan. Sebagai penanda kalau keadaan tidak sedang baik-baik.

"Kenapa hatiku begitu gusar?"

"Kenapa Raka terus ada dalam pikiran?"

Pertanyaan-pertanyaan itu, tak dapat kuelakan. Kalau saat ini, aku sedang dihantui asmara sebelah pihak yang hanya mengorbankan diriku.

Untuk menghilangkan bayang-bayang Raka, aku mengambil sebuah buku yang ditulis oleh Simon Reid Henry dengan judul 'Fidel & Che: Persahabatan Revolusioner Tak Tertandingi'. Buku yang berlambang bintang ditaburi warna kuning. Lalu disampul depan, terdapat gambar dua sosok pejuang yang tak asing lagi di kalangan aktivis.

Ketika menatap gambar Che Guevara, bayang-bayang Raka terus memanggil namaku.

"Dil...! Kenapa kau mengelak untuk membaca buku?"

"Yakinkah bacaanmu jadi referensi kalau pikiranmu lagi digoda oleh sosok lelaki?"

Tiba-tiba aku kaget. Kalau ingatanku adalah refleksi atas pristiwa yang telah lewat. Baik itu tentang Raka, organisasi, orang tua, dan urusan perkuliahan.

"Bisakah aku membaca buku tentang gerakan?"

"Kenapa Raka dan kawan-kawannya bicara tentang revolusi?"

Aku merasa terus kebingungan. Seolah aku terjebak pada filsafat yang tak dikaji sampai ke alar-akarnya (radikal). Ketika filsafat bicara tentang 'Cinta dan kebijaksanaan' secara akar kata, maka aku rerlalu dini memaknai cinta yang hari ini menimpa generasi muda. Generasi yang berlipat tangan, memandang sebelah mata kesengsaraan yang terjadi di negeri ini.

Aku terus membaca buku karangan Simon Reid Henry sampai di halaman Dua Puluh Satu. Ketika kubuka lembaran berikutnya, ternyata lembarannya kosong. Mataku melirik ke halaman Dua Puluh Tiga yang tertulis '2 Zarpazo'. Aku menghentikan bacaanku, karena Hp-ku berbunyi. Kubukai aplikasi WA tertulis sebuah pesan baru.

"Dil...! Kenapa kau belum tidur?"

Tanya Raka lewat chatt.

Tanganku gemetar membaca chattnya Raka sambil berusaha untuk membalas. Lalu badanku penuh dengan keringat dingin. Kuatur napas panjang sambil merapikan rambut dan posisi dudukku. Kujawab dengan singkat.

"Iya ni...".

Berharap Raka membalas chattku, tetapi ia hanya membaca. Aku pun merasa bersalah. Seakan-akan Raka adalah lelaki yang tidak suka dengan dunia maya yang penuh manipulasi, penuh dengan kebohongan.

"Tetapi inikan chatt pribadi...!"

Tanyaku heran dalam hati.

Aku beranikan diri bertanya kepada Raka.
"Raka kenapa belum tidur?"

Dengan cepat ia membalas.
"Aku baru habis diskusi sama kawan-kawanku. Kami diskusi tentang penguasaan Sumber Daya Alam Indonesia oleh negara lain. Yaitu negara China dan Amerika Serikat."

Gila ini cowo, rela begadang demi memberikan kesadaran untuk golongan muda. Mewariskan semangat untuk menjadi kaum muda yang selalu berdiri di garis terdepan demi menyuarakan 'Perubahan'.

"Bagaimana orang seperti Raka dilipatgandakan dalam perlawanan?"

"Bagaimana mereka mengorganisir massa untuk turut berjuang?"

Di kepalaku akan terus muncul pertanyaan-pertanyaan yang kulayangkan tanpa jawaban. Sepertinya Raka dan kawan-kawannya memiliki misi besar.

"Betulkah apa yang dikatakan Raka barusan?"

Aku membalas pesannya Raka.
"Sukses selalu dan terus semangat di medan juang. Besok sore, aku minta waktumu untuk kita diskusi. Aku pamit tidur terlebih dahulu. Besok sore kita bertemu di taman kampus Universitas Hasanuddin Makassar. Sekaligus menikmati suasana kampus rasa pasar. Wasallam".

Makassar
Minggu, 22 April 2018
By: Djik22

Komentar

Populer

FILOSOFI DAUN PISANG

Harapan dan mimpi dari setiap kepala tidak semua terpenuhi dengan usaha dan praktik. Tapi masih membutuhkan untuk saling dekat dan merespon segala polomik. Di masa yang akhir ini, perutmu telah melahirkan bayi yang masih merangkak dipaksa berjalan di kerikil jalan persimpangan. Dari rawat dan buaian, telah membuka mata batin, mengevaluasi adalah jalan yang tepat. Karena kurangnya menilai dari setiap sisi. Sehingga lahir dua persimpangan kiri kanan jalan. Mata telah terang, langkah sudah tepat, bersama sudah terpupuk, kesadaran mulai bangkit. Berdiri dan bergerak. Saatnya cahaya jadi penerang. Titipan amanah 20 21 11 14 jadi bahan belajar bersama. Filosofi "Daun Pisang dan Bidikan Panah yang Tepat" telah ditemui jawaban dan makna yang dalam. Dia bukan sekedar kata, tapi dialah nyawa setiap yang di dalam. Makassar, April 2017 By: Djik22

TOGAKU TAK IBU SAKSIKAN

Perjuanganmu ibu Mengantarkanku meraih mimpi Mataku lembab berhari-hari Setiap saat mengingat ibu Harapan ibu Aku tetap kuat Aku tetap melaju Tapi ibu Saat bahagiaku Takku tatap lagi ibu Wajah bersinar hadir dalam mimpiku Kala itu ibu Ibu Toga dan pakian kebahagiaanku Semua untuk ibu Togaku tak ibu saksikan Karena ibu telah tiada Yakinku ibu senyum melihatnya Tetap tersenyum di sisiku ibu Dua puluh tiga November dua ribu tiga belas Dua kali dengan angka tiga Ibu telah berbaring bergegas Makassar Minggu, 1 Oktober 2017 By: Djik22

PERLUKAH JEMBATAN PALMERAH?

Sedikit menggelitik, ketika wacana pembangunan jembatan Palmerah. Wacana ini, hadir di beberapa tahun terakir. Di tahun 2017, tidak kala seksi pendiskusian jembatan Palmerah. Maka muncullah pro dan kontra. Padahal merefleksikan wacana ini sangat penting. Kenapa Wacananya Jembatan Palmerah? Mari kita menganalisa secara seksama. Pertama, jembatan Palmerah adalah sejarah pertama di Indonesia bila terbangun. Karena menyambungkan dua pulau, yaitu Pulau Adonara dan Pulau Flores (Larantuka). Jarak jembatan Palmerah dengan panjang bentangan 800 meter akan dipasang turbin 400 meter. Kedua, persoalan proses pembangunan jembatan Palmerah dibutuhkan dana tidak sedikit. Diperkirakan dana mencapai Rp. 51 triliun. Hal ini, perlu dipikirkan. Karena Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTT pada tahun 2016 hanya mencapai Rp. 3,8 triliun. Sama halnya pemerintah mengajak kita mengutang dengan investor (swasta). Ketiga, jembatan Palmerah bukan proses meninabobokan masyarakat Flores Timur

ADONARA DALAM PUISI

Petuah kata sejarah Masih temani kaki untuk melangkah Dalam bayang-bayang ibu kuatkan hari Dalam jelmaan ayah pancarkan cahaya hati Hingga tebal awan kota Ingatkan suasan desa Dihimpit berdiri megahnya Ile Boleng Didekatkan Bukit Seburi tanah kampung Karena kitalah gunung yang berdiri Karena kitalah bukit yang menyapa Membawa bisikan bahari Ketika menghadap ke arah pantai Sampai kata dan petuah terus mengikut Wariskan api dari generasi ke generasi Tentang pentingnya menjaga kata Tentang indahnya memakai tenun ikat Maka... Tak kulupakan petuah indah dan keramat Tak kuingkari segala kata-kata bernyawa Di atas alam ditaburi darah dan air mata Karena air mata Bukan hanya tentang tangisan Bukan hanya tentang derita tanpa rasa Namun air mata darah tanda perjuangan Maka... Untuk mengingatmu yang di gunung Untuk mengenangmu yang di pantai Aku mengisi kata-kata lewat puisi Karena darah dan bisikan kata terus diasa Biar perang telah terganti buka dan pena

ANTARA (576)

Sering ada perbandingan pada kata 'antara' ketika diapit oleh kalimat. Antara kau dan aku ternyata banyak perbedaan, antara kau dan dia memiliki banyak kesamaan. Antara pacar dan mantan adalah orang yang pernah berlabu dan sementara bertahan. Baik terkandas di tengah jalan, mau pun mampu melewati batas getir yang melampau kesabaran. Namun, pada kata 'antara' seolah jadi misteri yang tersembunyi. Serupa kolom kosong yang disembunyikan dengan untain doa. Lalu, dipercaya menjadi sebuah legenda atau mitos. Bagaimana sesuatu yang dipercaya tapi tak pernah diinderai? Apakah setan yang berpenampilan putih pada malam Jumat hanya menakut-nakuti? Kemudian muncul pertanyaan, siapa yang menjahit pakian putih yang dipakai setan? Ulasan ini, aku dapati saat duduk di bangku SD. Sang guru selalu menakut-nakuti pada setiap siswa. Bahwa malam Jumat selalu ada tanda ketika melewati tempat-tempat gelap. Saat itu, aku dan kawan-kawan sebayaku selalu percaya. Namun, batang hidung p

KARYAMU TETAP MEMIKAT

Foto: Abdul Rahim (Khalifah05) Ketika doa-doa Telah kau panjat Dengan lemah-lembut Pada Tuhan Yang Esa Tak lupa pula Pintamu Pada para pendahulu Dengan merinding bulu-bulu Begitu dalam penghayatan Bersama angin Bersama waktu Bercampur masa lalu Maka... Yakin pun mendalam Tak secuil akan buram Tampak pada kaca belaka Namun ia selalu melekat Selalu mempererat Antara roh dan jasat Hingga karyamu tetap memikat Makassar Jumat, 21 September 2018 By: Djik22

PEMUDA SAHABAT PERUBAHAN (397)

Indonesia adalah negara yang terdiri dari ragam perbedaan. Baik suku, ras agama, budaya, dan corak berpikir. Inilah bagian kekhasan dari bangsa ini. Dengan kekhasan tersebut, maka tak heran bangsa Indonesia dikenal dengan kemajemukan dan menjujung tinggi perbedaan. Sebab perbedaan adalah varian dari semangat menuju persatuan. Belum lagi menerobos batas wilayah yang terdiri dari beberapa provinsi. Perlu kita menelisik lebih jauh lagi tentang bagaimana membangun tatanan bangsa. Supaya mampu keluar dari zona ketertinggalan. Ternyata, ketertinggalan adalah salah satu masalah dari apa yang dirasakan setelah revolusi Indonesia didengungkan. Walau merdeka secara pengakuan sudah memhudata sampai ke telinga anak cucu. Tapi pertanyaan besar yang harus dijawab, Kenapa merdeka secara praktik/ penerapan jauh panggang dari api? Ketika secara penerapan dalam kehidupan berbangsa mulai melenceng dengan dasar negara, maka harus kembali mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang telah diletakan oleh