Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

KUALITAS SETETES SPERMA (53)

Gemerlap cerah tiupan angin Sejuki ruang bertingkat tangga Diapit oleh gedung-gedung tinggi Dihuni kesombongan teknologi Serba mesin kurang tenaga Dari mana asal dicipta? Pertemuan tumpas setetes sperma Kualitas melahirkan bibit unggul Jadilah bayi tanpa dosa Bisakah setetes sperma melahirkan kejujuran? Apakah cita-cita jadi presiden? Anggota dewan Apalagi koruptor berwajah rakus Semua tergantung dari kualitas sperma Entah gagal atau lolos berjuang Kenapa cairan terus dibuang? Di dalam lubang wc? Di atas kasur kusam Bercakan dinding-dinding tembok Tapi benarkah pembuangan berlaku Rupanya kualitas bening menjadi murah Jangan hantam sembarang tempat Jangan menuju paha kenikmatan Sebab menghambat kesehatan Memperlambat kedamaian Tak takutkah kalah malam menjelma? Meniduri diri berpasang ruang Berdahak batuk tumpahkan muntah Oh...kepala murah bermain Jadilah pendobrak lindungi pasang Jagalah tiap saat hidup bernapas Menuju mati peradaban Kala menang

ANTARA AKU DAN PERBEDAAN (52)

Lahir dalam kandungan gersang Dididik menantang tak adil Dalang bersembunyi harus terkuak Itulah ajaran perdebatan suci Perbedaan adalah ciri khas garuda Apalagi bicara ragam bangsa Hingga tulang-belulang tak keropos Walau umur menuai maut Oh...kematian dan kehidupan Kebangkitan menuju tiada Saban hari duduk di ufuk timur Sore menjelma mengitari bujur barat Sambil menatap koruptor mencuri harta Yang bukan milik terus dibela Pemilik sah dijeblos ke jeruji Kejamnya ratap tangis bhineka Sisa slogan nilai terisolir bungkam Antara kau dan aku Di mata kuasa sama hasil cipta Menjalani tugas penuh lelah Serba tanya tanpa ragu-ragu Ketakutanku ketika tangan terlepas Tak sempat mata memandang Apalagi kau jaga derasnya perbedaan Seperti jalan terbentang Menuju iringan gereja dan suara di surau Kukira polemik beragam mendewasa Generasi tahan banting cercah Menghadang badai-badai cobaan Yang setiap hari tiada henti sedetik Lantas maukah aku yang mati Tenggelam

MENUAI MIMPI (51)

Meniduri sebatang kara berteduh Arungi sanubari Menuai mimpi indah Sela pagi-pagi buta Kapan jadi nyata? Kemana lagi pengaduan? Kalau yang benar dihukum Yang salah jadi mulia para dewa Atau tetap curiga pembela? Akhiri jalan bercerita Biarlah di batas-batas tenggelam mentari Tunggulah terbit esok pagi Benarkah kalau esok jadi milik? Kenapa tidak... Entah kaca mata salah dimaknai Harus ada jadi dalang Ada ang dihujat Biarlah dilalektika berdewasa Makassar Sabtu, 27 Januari 2018 By: Djik22

PESAN MASA SILAM (50)

Ajaran juang melampaui batas Warisan berani benahi diri Mengisi kekosongan isi kepala Memulai dari bawah menuju tangga Antar iringan amanah Di pundak merinding bulu kuduk Tak kala terpilih percaya Menengahi berbeda rasa Air mata menetes suara terbata Gemetar jari-jemari menguasai Hadir seperti mimpi Hilang perlahan bahasa terbuka Niat baik adalah kemulian Kesamaan angan-angan megah Jejeran pemanas semangat irama senada Nyanyian alam dan rasa kesamaan Ingin tak dengar lagi Kepergian damai kehancuran Takut dampak badai melanda Porak-poranda rusaki gudang ispirasi Salah mari lurusan seksama Saran baik bertampung membangun Idola patokan sampai hayat menyapa Semua tersembunyi di balik canda Pesan kehadiran masa silam Terang bersama bintang Menghiasi langit arah kompas Tatapan itu tetap jadi patokan Pesan masa silam Duka berkepanjangan perlahan riang Keambalilah dalam suci Bernaung di langit-langit batin cinta Makassar Sabtu, 27 Januari 2018 By: Dji

SELAMAT DATANG KAWAN JUANG (49)

Malam telah diretas ruang Mata sayu menatap tanpa kedip Badan gemetar gerogi sontak Yel-yel hembusan perjuangan Selamat datang kawan juang Kau adalah peluru-peluru bahaya Tembakan berduyun sontak Getir relung-relung jiwa Ini tentang persamaan nasib Penghapusan penindasan manusia atas manusia Penindasan bangsa atas bangsa Maukah kau apatis berganda? Atau suaramu tetap hidup bersejarah? Mari tanamlah benih-benih ideologi Berjuang bersama rakyat tertindas Jangan takut menguasai batin Jangan gentar menghadang perampasan Kapan lagi kau tanam sejarah? Masa muda dihabisi sia-sia tersisa Apa patut diceritai generasi pelanut? Kau kusapa sambut kawan juang Atas rasa kesamaan nasib Atas perih lara tumpah berdarah Maukah terus berjuang di garis massa? Ayolah...kawan Jejerkan barisan berapi-api Tak mau kalah sebelum gugur Masih setia ruang-ruang intelektual Selamat datang kawan juang Kusambut dengan tangan terbuka Kuikhlaskan darahku bersamamu Dibaluti merah pe

MEMBACA DI USIA DINI, MELAWAN POLA PIKIR MANJA (48)

Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) harus dilihat dari dua sisi. Pertama, pengguna teknologi memanfaatkan media (internet) sebagai bahan referensi dan alat untuk mengakses bahan bacaan, serta mengupdate perkembangan yang terjadi di belahan dunia lain. Kedua, pengguna teknologi menyalahgunakan media (internet) sehingga kemajuan teknologi mendatangkan malapetaka. Masalah ini dapat dilihat dari banyaknya pengguna internet yang membuka situs-situs yang tidak baik (porno). Hal ini sangat disayangkan karena tidak hanya terjadi di kota, tetapi meluas sampai ke pedesaan. Berikut, tidak heran pula, banyak anak-anak lebih memilih menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar kaca untuk menonton sinetron ketimbang membaca buku atau mengerjakan tugas yang didapatkan di sekolah. Jika kebiasaan ini tidak diretas, maka mau dikemanakan generasi bangsa? Generasi muda membutuhkan perhatian khusus dari orang tua/wali untuk membimbing dan menasehati mereka secara perlahan. Tidak serta-mer

DI BALIK MAKNA (47)

Sembunyi arungi deretan kata Ada singgungan gelora panas Membawa ucap menyapa Seperti ada yang salah Siapa yang benar? Aku bukan hakim pemutus perkara Bukan polisi menjaga keamanan Apalagi tentara dengan tubuh kekar Di balik makna Lahirlah subjektif tafsir Itulah pembaca menikmati Suguhan karya berlatar ragam Susah objektif pemersatu Mainana kata-kata indah Estetika berima irama Buat terbuai alam mimpi Seolah merasa mengalami Makassar Minggu, 21 Januari 2018 By: Djik22

ATAS NAMA TUHAN (46)

Urutan tulisan pembalas Garis awal menuju akhir Sang juara perlombaan Usaha serius bergelora Atas nama Tuhan Pintaku meninggi Usulku blokade batas Ancaman yang lucu Aku bukan sang pemberontak Apalagi preman bayaran Berdasi durasi hari Perut membesar memakan haram Sayangnya kau kurus Kau cepat terikat Suka jalanan tak berdiam Senyum penuh buatan Jangan taburi madu palsu Jangan tambahkan gula serap Apa mau sejatimu? Atas nama Tuhan Atas nama kepercayaan Copot saja kalau tak iklas Pemberian adalah belajar Bukan jadi penipu Tidakkah bosan menutup wajah? Mengaku suci kelakuan bejat Katanya satu Malah gandeng si belakang Mainan penuh kemegahan mewah Makassar Minggu, 21 Januari 2018 By: Djik22

TEGAS BERSELUBUNG (45)

Di depan alibi beronani Beragam alasan kusam Memgancam lapor teror Pundak jejaki langkah Tegas berselubung Ah...kau itu Menghujatku di belakang Memakiku lewat curhat Kau yang keras menghampas Terbuka tutur? Tak salahkah itu? Menuntutku jujur Bermain lenggang bergaul Teka-teki domino Seolah perjudian berkuasa Aktor ulung Tapi terlalu dini ditebak Begitu cepat menghalau Heran atas nama Tuhan Akulah yang salah Akulah pencaci Hanya soal penamaan Tanda dan penanda Lambang omong-kosong Cabut saja nama pemberian Kalau kau benci Kalau kau tak suka Jangan ganggu caraku menulis Jangan kotori niat baikku Anak gerakan atau anak lanang? Makassar Minggu, 21 Januari 2018 By Djik22

GEMURUH GELOMBANG (44)

Senja dihempas badai Gerogoti bersiul hati Tunduk bisu menatapi Amarah di batas pantai Rimba raya belantara Berdiri ilalang berdansa Diapit tiga tembok tua Peninggalan anak paduka Kenapa gemuruh gelombang? Suara mengalah datang Tahun politik berlenggang Banyak tokoh-tokoh pejuang Politik kentara mencela Atas nama kuasa Semua jadi rimba Memakai pola lama Gemuruh disambar hujan Alam seolah tak bertuan Rakus beronani dengan tangan Keluarlah janji penuh kotoran Jangan hujani ruang teduh Jangan ajak berlipat gaduh Saat-saat sedang risih Birahi jadi haus Kocokon saja air laut Tuangkan potensi berbakat Biar tetap mengikat Tanpa berbelit-belit Batu tidak bertampak Hanya ada suara riak Menuju pembaringan kelak Tak ada satupun mengelak Kematian akan mencekik Sebab hidup harus bertahan Berdamailah di atas kebenaran Kalau ingin keadilan Hiasi mutiara nisan Teruslah gemuruh gelombang Ajaklah yang lain terbang Makassar Sabtu, 20 Januari 2018 By: D

AKU DAN LATAR TULISAN (43)

Kau terlalu dekat memanggil Hidup tergantung di ujung bedil Mengorek tubuh berdekil Hempas aku terjatuh terjal Aku dan latar tulisan Pindai nalar penuh kesan Kondisi terus menekan Dalam dada tiada warisan dukun Tapi inilah hidup Keadaan sekitar jadi redup Relakan memilih berkedip Demi binar pancaran aroma sedap Jujur dengan berat sepakat Air mataku jatuh di kertas melekat Inilah kau Paling bernyawa memukau Selamat tinggal latar tulisan Tetaplah hidup bertahan Jangan cemburu pada kawan Jangan rela tentang tangisan Di depan ada latar baru Kau adalah debu Menari menggebu-gebu Tapi tetap jadi belenggu Kapan memintamu kembali? Kalau kau jadi elegi? Makassar Sabtu, 20 Januari 2017 By: Djik22

JARAK TERIAK GRETAK (42)

Permata sembunyi jeruji Penjara memberi kabar Siksa jarak membunuh Berpikirkah kau tentang aku? Janji tak menuai bukti Hampa perlahap harap Teriakan-teriakan gretak Ah... Bulu kuduk mulai berdiri Dinginkan badan Aku mulai takut Bukan tentang kematian Gugur dalam medan menulis Jemari merindukan pena Menanti pembacaan senja Badai terlalu sombong Tak pernah pikir bijak Hinggap suara amarah Tetaplah terbuka Kau sang penatang Bisakah berhenti teriak gretak? Makassar Jumat, 19 Januari 2018 By: Djik22

PERAWAN BUNDA Part#2 (41)

Warung makan belum aku jelaskan. Bagaimana tata-letak dandanan dinding? Gambaran nilai bermakna pada warna cat bertabur tangan keikhlasan. Warung itu, tak jauh terletak di samping kampus pejuang. Ukurannya sederhana: seperti pakaian yang kau kenakan saat pertemuan pertama. Tanyamu berbakat malaikat "Kenapa di dinding warung ini memiliki beberapa warna?" Sambil menunjuk dengan jari telunjuk pada warna merona merah. "Ah...ah...kau ini, menguji atau mencari tahu? Merah yang kau sentuh dengan kedalam jiwa semangat adalah filosofi tentang keberanian mempertahankan kebenaran." Jawaban kuberikan dengan kepala tegak sambil menatap sinar matamu. Seolah pancaran cahaya, mengalahkan penerang lampu menguning di perbatasan kota tua. Perbatasan antara bangsa minoritas dan mayoritas. "Patutkah dengungan lebah? Pada gigitan kecil hina: suntikan jarum imunisasi menusuk di lengan kiri masa kecilku." Dalam hati kuingat memutar memori masa lalu. Belum begitu banyak, aku

ADONARA DALAM JIWA (40)

Parang tombak lambang sakral Tak main bertutur berbuat Tangan kuangkat memanjat Bahwa di tanahmu tercatat sejarah Akulah generasi penerang Pada merah darah kutaburi Makna biru langit kusukai Iringi semangat berpijak Di kejauhan pulau tanahnya nyawa Tapi kaulah hati tak terpisah Restuilah usia bernapas Sebab hari ini adalah bahagia Gadis ketinggian gunung Lelaki penakluk ulung bergumam Hutan berkeliling lindungi indah Aku dijuluki pewaris gunung Dari saudara bertiga terakhir Adonara dalam jiwa Kapan kubakar api iklasmu? Kalau buku adalah kemuliaan Pena bagai jelmaan kata hati Namamu penuh kumaknai Salahkah suka pada sesama? Ikuti tebing-tebing alami Berbaris angka ganjil mengganjal Tapi tetap kutahan linangan air mata Terang-benerang berujung emas Siapakah lebih giat? Kala medan laga memanggil Mari mengabdi tiada ragu Memberi seluas isi hunian bumi Berat kupikul Seperti pertanyaan hadir Menjelma ayah bersama ibu Siapa paling dicintai? Makassar Kamis, 18 Januari 2018 By: Djik22

KITA ADALAH PENERUS LEMBAGA (39)

Ujung pena mencoret Tancapkan gagasan berlian bangga Dinding tembok bersaksi bisu Lindungi lingkaran pelantun syair Berbisik telinga berdasar hati Lahir butiran buai para penikmat Nama tercecer lembar kusam Mencabik-cabik dihempas jemari Sadarkan yang terlelap Memberi semangat estafet juang Himpit himpunan wadah kejayaan Penuhi anggota beragam karakter Saling mendukung merangkul Tanamlah jasa korbankan waktu Lembaga jejaring laba-laba Bulatkan lilitan rapi menghipnotis Mata kejora memandang Tubuh kekar menambah haus Kita adalah penerus Kau penyuplai gugatan kritis Aku menyelam memberi tambah Tetap tegar dialektika kecil membesar Tapi kenapa sibuk berdandan apatis? Bukankah kecintaan pegangan kokoh? Copotlah gelar mahasiswamu Kalau kebenciaan mengakar busuk Sebab idealisme bukan ruang-ruang hampa Ingat... Kumandang panggilan berdatangan Asal lautan selam sulam mutiara Gunung berapi kokoh menancap Sambutlah napas panjang berjuang Sebagai generasi

ANAKMU DIBUTA BATA (38)

Dulu zaman tradisi membudaya Alang-alang penutup damai Tikar bentangan menjalar merata Kiri kanan sudut-sudut lilitan Anakmu dibuta bata Arah modern memanggil rupa Berganti kelas-kelas elit Tahu bertahun mengakar Moyang leluhur berbangga Buaikan meletak hutan terjal Berdirilah perkampungan ramai Bermain anak cucu berkulit cokelat Ajarkan memanah kenai sasaran Pada musuh berbuat dosa Mangsa pengotor warisan sakral Bambu runcing kekuatan bacaan Baris doa-doa hafalan Mantra mematikan Lawan-lawan tak berkutik Kupanggil namamu dalam langkah Tidur berseragam lusuh Bangun senyum melamun Oleskan mata bernanah Kupanjat memanggil batin jiwa Terangi langkah sang perantau Di kejauhan menulis kuburan kumuh Pada jasad tak kutemukan Barisan nisan mengukir nama Anggaplah aku penjaga Keburukan lepas jauh mengusir Rangkurlah tutur semboyan Lagi dan lagi Tuhan tak bertuhan Alam ejakan sepenggal baris Makassar Rabu, 17 Januari 2018 By: Djik22

POLEMIK LATEN (37)

Jalan bergandeng beragam Loncati hempasan menusuk Mengelak diserang payah Kondisi jarum-jarum sakit Tusukkan cerita di belakang layar Kau layak aduh-domba Menjual atas nama jabatan Menawari seribu elakan kuasa Sembah menakut Getar bisikan angin meniup Berlantun kau perusak logam Munafik patron gerakan nihil Apa yang sudah ditanam? Kapan kau petik buah sejarah? Kalau pola pikir berdusta Sang pelajar mendikte melacur Polemik laten anak darah Hingar-bingar bayi menjerit Pada Adonara kau bertutur Lamaholot merampung semangat Oh...oh...tidak Terlalu fulgar telanjangi badan Pakian terlepas tak kau sadar Malah...menggila Ocehan jelek-jelekan namaku Lantas berpihakkah yang benar? Menangkis soal resah gelisah Jembatani raih cita senggama Teruslah tulus asah pedang Tajamkan tombak berilmu Isilah benalu kosong ruang nalar Agar kau tak sesat Telusuri jalan-jalan berliku Makassar Rabu, 17 Januari 2018 By: Djik22

KAUM MUDA MENJAWAB (35)

Indonesia adalah negara yang berlandaskan hukum. Kesatuan dan keberagaman bangsa terdiri dari suku, ras, etnis, dan budaya yang berbeda-beda mulai dari Sabang-Merauke. Inilah kekhasan yang dimiliki oleh Indonesia. Bukan hanya pada keberagaman, tetapi bangsa Indonesia terkenal dengan tempat-tempat wisata yang memukau. Tak heran bila wisatawan luar negeri maupun dalam negeri selalu mengincar keindahan-keindahan alam. Beriring majunya zaman. Polemik bangsa ini tak berkesudahan, baik di tingkatan nasional dan regional. Pada tataran nasional, banyak isu-isu yang berdampak terhadap perkembangan ekonomi-politik regional. Mulai dari pendidikan, kesehatan, korupsi, pembungkaman gerakan mahasiswa, kemiskinan, dan perseteruan tanah ulayat yang berkepanjangan. Dari beberapa paparan masalah di atas, terus-menerus menyerang masyarakat secara luas. Apalagi keadaan ini, diperparah dengan masyarakat pada tingkatan menengah ke bawah. Seolah masyarakat kelas menengah ke bawah, jadi lahan pembodohan

JALAN SETAPAK (36)

Percikan hujan tenggelam Genangan kenang durasi Hitungan ritme berjedah Sejenak perlahan melatah Menempel pada tembok Bersandar tegar tajam batu Memakai gelang hitam Terpasang molek tangan kiri Jalan setapak berliku Kembali lagi kulewati Mengingat memori lama Pertengahan bulan berlayu Tapi pada pijakanku berpusat Setidaknya jalan-jalanan kisah Begitu dekap berkedip Perlahan hilang terbawa kabut Makassar Selasa, 16 Januari 2018 By: Djik22

JUALAN MURAH (34)

Kelilingi los-los pasar kumuh Menawar menutup malu Jualkan keringat Tawarkan dagangan usaha Kau temukan miskin Kau jumpai yang kaya Penampilan memukau Kenapa meminta tawar? Yang kaya terus-terus menggoda Seolah kaulah sang rugi Iya... Bila budaya dilantun Maka seiya sekata Aku iba merasai Nasib penjual di los pasar Berpindah menghimpit Makassar Senin, 15 Januari 2017 By: Djik22

TULISLAH KISAH (32)

Hening malam terbangun kaget Saat-saat janji kulewati pukul satu Carikan cerita menghibur hati Temani detik menuju akrab Entah apa yang muncul menyusul Seolah begitu dekat melekat Tapi tetap menatap misteri Jarak terbatas menuju pulau Dari jauh jemariku menari Di atas biasan senyum sempit Tak usah lebar tertawa Takutmu kalau terbang gombal Protesmu pada tatapan belakang Hasil mengajar ajal buruk Ah...kisah itu Cerita tentang pembunuh pulau Tragis mengais lucuti gerogi Takutku pada seberang pulaumu Yang lebih kejam menelanjangi mimpi Mari berhiforia dalam sadar Tulislah kisahmu tentang ratapku Akan kubalas berlinang penuh abadi Makassar Minggu, 14 Januari 2018 By: Djik22

CAHAYA MALAM (31)

Lalu-lalang jutaan manusia Nikmati emperan-emperan pantai Desain panggung membahana indah Ratusan pengunjung berpasang Cahaya malam Tiang-tiang kecil berdiri lurus Tak bengkok mata memandang Tak bosan kelopak berkedip Lampu-lampu penerang Larutkan dingin malam Cahaya malam semakin menyejuk Lantaran badan tak menahan Hampir tangan berhenti menulis Inilah penampak apik dunia Kota ditata jadi wisata Dipaksa merugi menjilat-jilat Memupuk capai kota dunia Bahasa banyak tak mengerti Setiap keluar manis dari lidah Sambil tangan mengambil cemil Ditawari minum penjual dadakan Andai cahaya tak malam Bukan malam cahaya asli Ingin menikmati sekali lagi Makassar Sabtu, 13 Januari 2018 By: Djik22

SAJAK PUTIH (30)

Putih adalah kesucian Putih adalah keikhlasan Kedamaian dalam warna Seperti hijau muda benerang Makna sejahtera sang jagat Sembilan belas dua belas Hadirmu penyatu kokoh Menampung perbedaan merajalela Dalam rahim bumi Yang namanya Nusantara Sampai saat ini Kibaran bendera dimana-mana Mengajak kalangan kembali Meminta golongan tetap bersatu Pertahankan sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah Perpecahan atas nama bendera Perbedaan atas nama kuasa Berhentilah saling mengelak mencela Akhiri tak kala panjang Sebab terus mengecil bersatu Kembalilah saudara Kembalilah saudari Pada-Nya maha tak ada tara Pencipta langit dan bumi Dari ada ke tiada Hari ini berkumpul para pejuang Dalam warna bersajak putih hijau muda Bersorak-sorai beri kabar gembira Selamat milad kampus Muhammadiyah Kupang V Sekali lagi... Teriaklah lebih lantang mengguncang Makassar Sabtu, 13 Januari 2018 By: Djik22

PERAWAN BUNDA #1 (29)

Lama telah datang emberio mungil berwatak pejuang. Saat dalam kandungan diasuh dengan kasih melampau sayang. Setiap hembusan napas bunda kala tangannya mengelus-elus perut. Tangan bunda adalah tangan halus, yang tidak ada tara dalam dunia peradaban. Kisah ini kau (baca bunda) ceritakan padaku saat di atas gunung berapi lagi mengamuk keluarkan asap panasnya. Gelombang badai, penumbangkan pohon-pohon tua mulai bosan hidup. Lantaran tangan rakus durhaka manusia. Bertambahnya umurku, kutatap mata bunda dalam-dalam. Ternyata bunda mulai lesu. Matanya mulai rabun, kulit keriput, dan rambut beruban putih yang tidak ada hitam sedikitpun. Bisikku pada telinga kanan bunda "Apa cita-cita bunda menginginkan aku lahir?" Sambil memeluk hangat badan yang tidak lama lagi menuju pembaringan. Sambil membelai rambutku bunda berkata "Waktu kau masih dalam kandungan, bunda selalu mendoakan kelak berilah pengabdian kepada nusamu: inilah alam pertiwimu yang memiliki beragam etnis dan keha

HUJAN RIBUT MELEKAT (28)

Indonesia dijuangkan atas darah Air mata mengucur mengaliri Hujan ribut melekat basahi pejuang Tapi semangat terus bergelora Atas satu niat pelangi merdeka Bawa terbang jauh sayap-sayap garuda Tua-muda berduyun memantik Lelaki-perempuan megelak menyerah Kini hujan ribut melekat Terbang angin porak-poranda Tumbang pohon-pohon berserak Longsor tanah di mana-mana Gemuruh letusan gunung berapi Seperti tembakan penjajah kala itu Belanda menanam ribuan penyakit Merosot nasib kaum-kaum telanjang Oh... Belanda yang melanda Saat-saat hati terseret lesu Jepang datang lewati Sumatera Sembilan belas empat dua Atas nama saudara asia Tapi itulah hujan dulu melekat sejarah Merdekanya bangsa terbelenggu Teenyata keributan di sana-sini Korupsi merajalela bermakhota Kesombongan berpangkat rakus Tuduhan tak kalah tak menang Bagaimana hujan ribut berhenti? Makassar Jumat, 12 Januari 2017 By: Djik22

DUA PULUH DUA NYAWA (27)

Seruan azan Subuh berkumandang Lantunan merdu bergelombang Tenangkan gelisah menuntut jalankan perintah Berat penat terlahap tidur tenang Mati sesaat bernapas halus Membuai mimpi putarkan raga di pembaringan Pada pohon-pohon beranting Di bebatuan keras menghitam pekat Telah tertulis penuh Ada yang masih terlihat Ada yang masih terawat Dimana lagi harus kutulis? Spanduk-spanduk tak lagi butuh lukisan Dinding hitam merah sudah dioles Yang tersisa pada lembar dua puluh dua Buku catatanmu kupinjam menggores coret Mengais memilih kata berirama rima Sajak tak terikat berakhiran bebas Panjang bait pada baris Bau halus kertas putih Harum tinta hitam sisa sedikit Hitungan nyawa sedikit lagi berakhir Kubutuh terbuka hamparan kamar-kamar Dikelilingi tumpahan literasi berserak-serak Seolah lama tertinggal pergi merantau Padahal penghuni ramai memasuki Mengkaji mengaji melurus Dua puluh dua nyawa Tambahkan ungkapan imajinasi baur Rebutan membawa kabar bara sukma Bagaimana membalas budimu? J

TELAH LEWAT (26)

Lama berjalan beriring Dilindungi pohon penghijau Ditutupi awan mendung mengamuk Berguyur tak kala ganas Telah bersama mengisi Nikmat pahit bergetir Syukur bajik menimpa Bersayap sayup ganti Penguat tebaran mulia Saat petisi datang Terbuka minta sembah Akhiri yang terawat Memilih masing-masing Makassar Kamis, 11 Januari 2018 By: Djik22

MENCARI (25)

Di kota tak kutemukan percaya Jargon-jargon kepentingan Mencari pengaruh parah Mendonor tak ikhlas Terselip tuntut Di gunung bersemedi lagi Jauhi bising Dekati alam Raih tenang perasa Hutan belantara tebang terbakar Ulah virus napsu Tangan melemah Kaki nyilu Mencari terus mencari Makassar Kamis, 11 Januari 2017 By: Djik22

TANAH DIRAMPAS (24)

Lengkap senjata Tiba dini hari Dalam kompi puluhan tameng Jangan tumbal manusia Jangn ancam warga Tapi tak mau dengar Tetap layangkan laras Tetap tampar Usir hadang tragis Tanah dirampas Rumah digusur Harus cari baru Harus buka lembar baru Jadi buruh kotor Jadi gelandangan kota Makassar Kamis, 11 Januari 2018 By: Djik22

GONJANG-GANJING PEMILU (21)

Pelataran rumah ditaburi panflet Dihiasi dasi merah jas hitam Gambar tuan berpasang wakil Aduhai gagah berkarismatik Calon pemimpin rupawan budi Pengikut bertambah jejaki kaki Yel-yel slogan perubahan Gegap-gempita laruti kemanusiaan Tokoh pemberani mengutang saham Gonjang-ganjing pemilu Nama tuan meninggi Jasa janji tebar pesona menarik Senyum magnet bibit koruptor Peran zaman lawan akal licik Siapa mau kalah bertarung? Ini soal kemaluan Kalah rentenir menagih Menang setor pada pemilik Mahasiswa tuan giring Buruh ajaki barter tenaga Preman senjata perangkat keras Swasta pelicin minyak kampanye Sampai dialog masuk kampus Jalan raya tebari pose Dukungan dosen main media Gaet warga kotori nurani Bukan semua buruk Menusuk dengan kata Menampar lewat racikan sambal Biar mata tuan pedis Telinga tuan jadi bising Tidur tuan penuh ketakutan Inilah kritik radikal Solusi-solutif kaum muda Siap menantang bila salah Tancap gas kalau janji mengingkar Ma

BUNGA REVOLUSI MENUNTUT (23)

Persimpangan kiri Batas keramaian Pedalaman lindungi tubuh Kuatmu setara lelaki Pelosok penuh tugas Ringan ke berat Kotor ke jijik Dengan tabah berani kasih Kaulah perempuan malang Di batas ramai kota Tubuh molek berjual pamer Masuki satu keluar ganti Padahal mimpimu mulia Cita-citamu berlian Ingin berdiri sejajar Di mata hukum Padangan budaya Politik apalagi Perempuan persimpangan kiri Kalau lawan ditembak Mengamuk dilucuti Negara lindungilah kami Pintamu suatu ketika Tak kala ekonomi melemah Tak kala tanah terjual Berlaku hukum rimba Ditugaskan di sumur Dapur menuju kasur wangi Kapan teriakan perempuan tentang revolusi? Ayo...sekali lagi bunga revolusi Apakah terus ditindas? Makassar Rabu, 10 Januari 2018 By: Djik22

TITIK NOVEMBER (20)

Lajunya kereta senja Pancari pandangan heran Menatap dari sela-sela kaca Sambil membaca buku bergambar merah Terpancar wajah binar Berseri jatuhi air Kisah tragis membawa lamunan Mimpikan nyata bermelodi Sayap-sayap burung berjatuh Terbang ikuti arah sepoi angin Bulan November penyaksi Pada gelap-terang kursi kereta Di samping telah duduk Tersenyum memutiara Saat tangisan panjang Tiada salah Lesung pipi berwatak keras Banyak sama relung raga Tak mau diatur Sebab terbakar malam tiba Stasiun penantian angka Tertulis dua-dua Bukan pada kematian Tapi pada kelahiran sama rupa Berjabat pelaminan drama Penuhi episode berseri Satu menuju akhir Temui kereta bergembira Di titik November Makassar Rabu, 10 Januari 2017 By: Djik22

MAHASISWA TERSISA (19)

Ujung tombak tajam menusuk Kala gelap redup datang menantang Lahirkan gagasan berlian memutiara Sepak terjang rentetan sejarah tercoret Julukan dan peran pelopor bergema Solusi terangi gelap derita Dengan penguasa tak segan beradu Rakyat teman main bercerita Seperti dua sisi mata uang Tak bisa lepas-pisah berlari Heran dan kagum Kala kutatap banyak ronda melanda Musibah momentum hentakan suara Keraskan slogan luruskan barisan Tak ada yang tersisa Tak ada yang sia-sia Kenapa dekati politisi? Lupakah pelopor sepak terjang Lupakah sejarah mahasiswa Yang relakan nyawa tanpa duit Tapi itulah beda zaman Ah...enteng jawab berlagak Mahasiswa tersisa Benarkah amplopmu sejuta Atau malah lebih setiap koarmu Seolah sucimu telah kotor Idealismemu jadi jualan Bagaimana penindasan diberantas? Bagaimana keadilan ditegakan? Semua serba bingung Atas tindak memilih kompromi Koalisi menawar jasa murah Jadi bohong kalau atas nama rakyat Jadi budaya warung kopi Bo

BERTANYA KATA (16)

Kabar membawa celaka Percaya telah lama tertanam Dalam napas damai Dalam relung-relung sepi Saat di tengah badai Saat di tengah menggoda Noda kata perciki memudar Basahkan celaka rapi terurai Hindari kotor melengket lagi Takut mata berair mengalir Takut air mata berlarut-larut Bertanya kata Mengusap leher senja Menyaksi terbenam lautan Di bukit tertinggi alam damai Tak ada yang lebih jujur Tak ada yang lebih sabar Tak ada yang lebih sopan Bila pengulangan kata-kata keluh Kata-kata berselip asap Menutup berkabut keliling Menunggu akhir senja Dalam gelap Dalam ragu Makassar Senin, 8 Januari 2018 By: Djik22

JERITAN (18)

Sontak suara gegerkan pikiran Ganggu menguasai bersih alam nalar Dalam kondisi rintik-rintik membasahi Bocorkan sedikit lahap membesar Bentuk gumpalan-gumpalan bakteri Jadi tumor pelekat otak bekerja Jeritan demi jeritan berlomba Mulai dari tani ke buruh Mahasiswa ke kaum miskin kota Birokrasi ke politisi berdasi Pengusa menuju jeruji besi Teriak mencari solusi berdalil menguat Sambil memegang batu lempari musuh Membidik senjata kenai sasaran Lantunan pelatuk pecah membelah Tumpahkan darah derai air mata Tanah penuh lautan luka darah Di sana-sini merajalela tangis kemiskinan Ada yang menete meminta Ada yang perkosa demi jabatan Ada yang senggama raih hawa napsu Rakus apalagi yang diterapkan Bila bangsa berslogan rasis Bila negara buta menutup mata baka Pengakuan atas nama kebaikan Malah perlakuan membaik tak bercontoh Jeritan kian mengeras haus Butuh penyejuk basahi hati bernoda Agama telah jadi jargon-jargon Budaya porak-porandakan kompetisi Ekon

KARYA YANG HILANG (17)

Luka belum mengering Baru-baru menganggu Kini telah datang menerjang Tanpa pamit berbisik Telah banyak kutulis bergores Lantunan gemuruh kupadukan Terjalnya badai berendap tsunami Kerasnya batu hidup kulukis Alam indah senyum menawan Semua jadi cerita belaka Kisahmu di medan laga Berjuang menentang lalim Tak berbaju di atas mobil Itu tak lagi ulang kubaca Kau adalah roh suci Kau adalah semangat berikat Kenapa begitu cepat? Tanpa pamit meninggal nyawa Kaulah umur yang pendek Seperti bayi yang baru lahir Tapi tak bernapas Seperti kapas memutih Dikotori hitamnya arang Yang hilang Karyaku... Jujur belum ikhlas Belum berani lagi Menggores menyusun ribuan kata Kau adalah anak yang gagal Belum sempat kubalas budi Belum sempat kuucap syukur Ratusan kata bermaknamu Telah kau bawa hilang Seperti hembusan angin Hanya dirasai tak digenggam Makassar Senin, 8 Januari 2018 By: Djik22

BERTEMU (14)

Maju laju tekhnologi Berduyun bahan bacaan Bertemu begitu malu Bahasa rasa curiga Sapakan abang terbaik Sapakan kakak menambah Sambil mengedit pesan Bertemu manis mengoles Cerita berteman kopi pahit Ramalan begitu tepat Tak ada rayuan Tak ada kelam memandang Jalanan terkesan mulus Seperti berjuang tiada henti Bertemu dalam kejayaan Bertemu menuju sejahtera Teruslah asa mata buta Teruslah oles berbaris Makassar Minggu, 7 Januari 2018 By: Djik22

MIMPI (13)

Jatuh merengek bertubi-tubi Hujan basahi pakian Panas membakar raga Bawa lari telusuri mimpi Gantikan pena Gantikan nama menulis Lebih singkat bermakna Lebih mengingat saling mengisi Mimpilah bersajak jujur Raihlah mimpi cemerlang ulung Kelak abadi menemani Seperti hujan basahi pakian Seperti panas membakar raga Lalu kapan torehan berhenti? Tahun ini menuju Makassar Sabtu, 7 Januari 2018 By: Djik22

TEMUAN BERGUYUR (15)

Ibu adalah sapaan akhir Selipkan kekasih Gabungkan gunda duka Dalam untaian kata keluh Hadir dalam bayangan Pancarkan jelmaan imajinasi Bawa larut lautan luas Bayang-bayang nan memukau Ajak mata memandang Hati merestui bergetar Tangan gemetar berdesah Bertemu alam mimpi Entah kapan hadir Esok atau lusa Tetap pada bayangan Bertemu menanti berguyur Datang dan datanglah Bersama pelangi mewangi Harumi tubuh yang resah Dapat sejuki rasa lara Dan lagi terusi niat Sampai pertemuan datang Kenalan begitu cepat mengilat Tiba masa telah pergi Makassar Minggu, 7 Januari 2017 By: Djik22

TAK TERGADAI (12)

Semangat belantara daya Di tempat ini, masih berdiri menanti Perjuangan adalah cita-cita menari Kiri-kanan penuh dorongan Penuh tantangan gelora sejati Dari yang kecil menuju berkembang Dari yang sedang menuju dentupan besar Tahanlah posisi ironi Negeri berdayu mainkan lantunan Kau awal pendobrak Kau sepoi-sepoi tiupan angin Tak mudah goyah patah ranting Tak rapuh batang benci akar Tak tergadai kompromi politisi Buat catatan penuhi lembar Tinta teruslah basah Bersama keringat berani Kau ajari selingkuh birokrasi Bergaul habisi-bohong belaka Padahal ada mau setubuhi-selubung Padahal niat kau pisahkan jalan Tak tergadai dengan uang Kau tak bisa didikku jadi pelacur Jasmani masih bercahaya melambai Jadi kau tak bisa diktekan idealisme Jadi pelacur-pelacur intelektual apalagi Tidak...kukatakan berulang Perut kujadikan dulu kala Penampilan sederhana menjelma Penampilan sesuai tubuh Jangan warisi lugu bunglon Suka berubah warna hinggapi pohon Ah...itu ti

SENJATA PENJURU (10)

Dalam hembusan angin malam Pada batas nadi Gemetar membahana Menguasai dalam gurau Gerakku bergejolak Tangan gemetar tak teratur Pandangan tetap pada cahaya Meneropong kompas bersumber Lautan bisiki gelombang Buih bibir pantai Di kelilingi lautan manusia Menagi meminta semesta Kekuatan dasar berlembaga Memanjat dalam cahaya berpijak di tanah gersang Menyubut menghidupi isi jagat Makassar Jumat, 5 Desember 2018 By: Djik22

MERAYU KEMARAU (11)

Ilalang layu tunduki akar Penuh obatan galian dalam Tusuki dengan jemari mengotori kuku Terus kutambah menggali cabut perlahan Temui warna putih gelap susu Rawatan napas terganggu Bayang-bayang selimuti berkuasa Saat-saat pohon menusuk Lucuti pangkas pada batang Di sanalah kau berdiri Melambaikan tangan tak berdaya Kurayu manis basah bibir Oleskan sedikit pada lidah Karena kerongkongan mengering Berat menelan ludah Tapi kupaksakan diri merayu kemarau Biar awan menutup pancaran beringas Di bawahnya awan-awan kubisiki Kapan kemarau menjawab? Kenapa begitu lama kunanti? Kasihan sang tani menunduk Melawan kerasnya tanah Tanam hasil tumbuh kecewa Tapi tetap ditanami menutup usia Datanglah basahkan hangat Jangan lagi pergi Jangan lagi ganggu hasilku Sebab bibit telah lama kuwarisi Kujaga, kurawat ia tumbuh Menuai hasil jerihku Setiadaknya aku berjuang bersama belukar Karena badai terus merayuku Mengajak bersahabat Seribu datang seribu telah kutolak

GIGITAN MERAH (8)

Sengat-sengat gigitan mengeras Sayup-sayup terdengar ketakutan Bermainan dalam persembunyian Larut malu-malu nampak Tapi doyan gigitan merah Gigitan membekas beberapa hari Membawa perasaan Memutar otak susunkan setingan Tambahkan gigitan dalam-dalam Biar kepedihan menambah lubang Galian sedikit nampak Seperti alirkan air tenggelam Banjiri tanah tandus tak lama terjama Rayulah dengan kemesraan Godahlah dengan keikhlasan menawan Biar erat dalam temali Yang mengait memberi kuat Merahlah warna pemberani Semprotkan sedikit basah Tetesan mengalir perlahan membasahi bumi Bumi merayu dengan menawan Giurkan harta kuraskan pikiran Ingatlah pijakan kekuatan Akan tambah merah gigitan Akan tambah dalam kesakitan Bila malukan menggunung meninggi Bukit pun ungkit bejat berbuat Dalaman hutan dirusaki Binatang buas mencengkram benalu Tak kala lapar memakan sesama Memeliharakan anaknya liar Gigitan merah Taring menajam tancap menunggu Gigitlah terus Tancamplah gi

MENGGIGIT KELUH (9)

Keluhku bermatakan cahaya Berwarnakan pelangi bergentayangan Memilah antara setiap warna Ada ketertarikan pada suatu warna Menggigit menggigil tubuh berdesah Dengan suara berbisik Bukan mencari siapa salah siapa benar Bukankah ajaran demikian? Memandang objektif bermuara Kenapa seolah gigitan membuat sekat berduyun Menyerangkan keluh memancing Menambah luka bertaburkan bakteri Buanglah ludahmu berjilat Jangan taburi topeng senggama Sebab tak ada kenikmatan diraih Tak ada manfaat dijalankan lara Malah menambah beban bertubi Bukankah gigitan masalah kecil? Bukankah keluh lupa diajarkan Saat-saat umur menua baru kusadari Di menara puncang kemegahan Di gedung-gedung bertikarkan kebohongan Di ranjang bersihkan tangan Haluskan badan oleskan cairan Oleslah sampai keringat menemui kebenaran Jangan gigit bertemankan nafsu Tak kurasai pukulan dalam gigitan Biar hunian berdiam memberi hormat Biar dalam ruangan tertata rapi Mewangi semerbak warnakan merah genta

HILANG (7)

Enam bulan masa silam Malu membahana Memadu lautan perasa Sedikit hambar telah dicicipi Hilang terbawa tangan Ini kemalangan Seperti saat-saat ini terakhir Menanti panjang di pulau penantian Akan bertemu di keindahan Yang hilang Yang tak lagi sempurna Yang sedikit tergores Jangan lagi digoreskan Jangan lagi merusaki perlahan Berhentilah Sebab ini yang terakhir Hari-hari jadi menanti Rindu bersayembara berlawan Jagalah pulau penantian Jagalah dari serangan badai Gelombang tsunami Kekejaman bahari mengotori Hilang Kapan lagi saat-saat indah? Hari ini jadi terakhir Besok ke lusa menanti Empat tahun baru bermula Tangan yang nakal Tangan yang keliru Kembalilah percaya Kembalilah bersandar Itulah sayembara berliku-liku Seolah jalanan sengsara Berdiri di ujung penantian Menyambut dengan kehangatan Makassar Rabu, 3 Januari 2018 By: Djik22

PERGERAKAN MENUJU PEMBEBASAN (6)

Terlintas menguasi otak Menghayal lewat tontonan televisi Penuh mainan menakjubkan Tergoda pada demonstrasi Yang sukanya bakar ban Yang sukanya berbaris merah Nyanyikan lagu Lagunya tentang perjuangan Lagunya tentang pembebasan Ah... tertarikku pada organisasi Seperti tarikan magnet Selalu menempel kuat Membawa tubuh kebingungan Tapi aku suka Tapi aku kagum Apa yang harus dikerjakan? Jangan-jangan dipermainkan Jangan-jangan dipermalukan Dinamika memanggil menantang Menanamkan niat Mengikuti rutinitas tak kenal lelah Tak istirahat Malam kujadikan siang Siang kuhabiskan membaca diskusi Tak peduli tubuh ini kurus Akulah perempuan Dengan sendirinya berteman malam Kepercayaan berduyun menghampiri Membawaku jauh Rupanya semakin difitnah Rupanya semakin dimusuhi Rasa iri karena caraku Konsisten dan tegas dalami keputusan Maukah memilih mundur? Bayangan rakyat berkuasa Bayangan keresahan menyerang Mundur berarti pecundang Mundur berarti kalah Hanya

TERMOTIVASI (5)

Angka ganjil mengganjal Hitam putih bertebaran Memilihnya putih yang suci Melepas hitam kekelaman sengsara Pundak ini ribuan amanah Haruskah berhenti? Atau laju berusaha? Sedangkan hati tersayat Menyeret ke badai Menghempas ke gelombang Terombang-ambing terpaan sunyi Bawalah jauh pergi Alasan menyendiri Tanpa sebab Tanpa kepastian penjelasan Perasaan sedang dilukai Mungkin terlalu percaya Di jarak yang berjauhan Dimadui bahasa menghibur Tapi apa hasilnya? Sakit meracik merasuki Percayalah Ada saatnya kebaikan terasa Ada baiknya badai dimaafkan Bukalah jalan baru Taburi awal bulan bersahaja Di depan telah menunggu Badai akan berlalu pergi Tanamkan kepercayaan Jangan lagi gelisah Bangkitlah meneropong Makassar Selasa, 2 Januari 2017 By: Djik22