Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

BUKALAH HATI YANG TERTUTUP (427)

Perjumpaan singkat Pada sengketa masa lalu Mencekam benci merajut dendam Yang tak dibahasakan terus terang Rupanya... Panah membara telah dibidik Sampai terus melekat saat berjalan Baik jauh mau pun dekat Namun kau tetap diam Sementara aku memilih tegak Pada berjalannya waktu Yang tak bisa kuhentikan Atau kau terlalu cepat melangkah Seirama kilat menyambar Yang kusaksikan saat hujan redah Di belantara perumahan kumuh Iya... Aku lebih tepat sebagai saksi Dan kau berlantun dalam drama Dipentaskan pada air yang mengguyur Hingga membasahi tubuhku Namun keadaan tetap kering Sampai sedikit mengenai hati Mengajak untuk kembali Aku yang memilih kembali Lalu... Kuberbisik dengan ikhlas Membuka hatimu yang tertutup Papilawe Sabtu, 30 Juni 2018 By: Djik22

HITAM YANG MEMBEKAS (426)

Putih yang kau sucikan Dalam belenggu mendayu Membawa kabar kepada angin Hingga terdengar ke telinga semesta Padahal... Semesta tak butuh mendengar Dengan sengaja dalam ratap Seolah pertikaian terus berlanjut Bagaimana keadaan tetap aman? Kalau putih kau hitamkan Membekas dalam aliran darah Yang padahal merah menyala Lantas tetap membakar Membuat dahaga saat berhembus Udara yang dihirup Dirasai tak berjiwa Apakah mati? Ternyata masih utuh Bertahan dengan hari Getarkan dada yang lapang Bukalah hati yang tertutup Ajaklah mata untuk melihat Biar buta segera pergi Tanpa harus datang lagi Tapi... Kenapa hitam terus membekas? Semoga segera hilang Dalam keadaan tenang Biar kegaduhan segera usai Tanpa dipaksa menjauh Dari hidup yang sementara Untuk memupuk kebajikan Papilawe Sabtu, 30 Juni 2018 By: Djik22

TERANG YANG BERHENTI (421)

#Part 01 Tentang sinar dan cahaya adalah sebuah jalan. Sebab terang melahirkan sinar yang berjalan di malam ketika gelap. Pasti akan muncul tanya, bagaimana dengan pagi? Tetap akan ada sinar kapan pun. Baik siang menuju malam dan malam menuju pagi. Kala tangan terbata mengukir di gelap yang sedikit terang di akhir bulan perjuangan menggugah hati membuat tertarik. Hingga tetap melukis tentang indah yang sebentar lagi akan pergi. Walau pun datangnya penuh usaha dan perlawanan, sampai meraih yang diimpikan. Tapi saat ini, hari mulai berbisik dan lebih berpihak untuk pergi. Entahlah, bila pergi adalah pilihan. Maka jangan sisahkan kenangan yang mendalam. Apalagi tak kala yang ditinggalkan adalah sakit. Maka sepanjang waktu, lebih banyak menerima luka yang membara bersemayam dalam kalbu. Bisakah kau hentikan luka kalau kau tak berada di sampingku? Bagaimana kau tahu tentang keadaan diri? Ketika kau pergi tinggalkan air mata? Semoga akan tiba saatnya, kalau air mata mampu dihapus den

TERANG YANG BERHENTI (425)

#Part 02 Sudah aku memilih untuk pergi dari kehidupan yang terikat. Baik tentang ikatan berikrar, maupun ikatan yang berantai. Sebab ikatan menguncang hentakan sampai lelah. Seraya berkumandang lantang dalam jalan sunyi. Jalan antara kau dan aku lalui, pernah disinggahi orang lain. Karena kuberdiri di batas pertemuan, namun aku tersingkir di ajakan menggoda. Kenapa kau goda dalam kata berbalut kalimat? Bukankah sumpah dan kutukan selalu kuterima? Ternyata, kau bahagia tak kala duka yang kuterima. Lalu kau tersenyum saat sinar yang kutunggu tak kunjung tiba. Kemana kau bawa hati? Di mana sulam yang kau sembunyi? Rupanya tak secuil pun kutemukan titik memberi kode. Seolah aku yatim dalam sengsara dan hinaan. Iya... kau yang menghina, sampai di depanku sikap manis tak kau lupa. Kemudian senyummu selalu kuartikan sinis. Karena bola mata dan kata yang kau pilih. Mulai jauh dari pendirian tak kala kumengenal dulu. Pasti setiap jawabanmu penuh alasan berlogika. Tapi, aku sudah mera

KAU UNDANG LEWAT PINTU (424)

Masih tentang tuan Yang lembut tapi serakah Raut linang namun kejam Dalam penjara drama Sulit memang membuka tabir Saat kau telah jatuh Ditambah tangga yang keropos Menimpahmu dengan senyum Lembutnya tuan bertuhan Bangga dengan riang Di kepala tanpa makhota Hingga bukan raja dijuluki Tapi kenapa kau gulingkan? Saat baik telah dinikmati Dari dusun ke dusun Hingga pintu ke pintu Kemudian... Di himpitan rumah Tanah milik orang Tempat istirahat atas dunia Tuan memang pandai Dalam segala hal Seantero jagat lima batu Julukan ayah berjalan Hanya tinggal ayah Sambil ibu menyulam Menapaki jalan setapak Sampai kau undang lewat pintu Papilawe Jumat, 29 Juni 2018 By: Djik22

MISTERI ALAM SEMESTA (423)

Darat adalah menawan Tempat yang kau sukai Sejuki hati lalu menyapa Dengan senyum tanpa malu Bagaimana tentang laut? Yang berkali-kali kugali Sampai di dasar sajak rindu Seolah tanda dalam pelangi Padahal... Langit dan bumi Begitu menakjubkan Hingga heran kuterima biru Belum lagi... Hijau yang menyulam Di dedaunan bunga Yang kau pinta penuh harap Sampai tertulis Dalam limit waktu Menyurati sebelas tanya Dalam misteri alam semesta Bele Jumat, 29 Juni 2018 By: Djik22

TERIK MENYAPA (422)

Alun-alun perempatan Terbentang rata dan ratap Di pertengahan Pulau Pembunuh Yang terus menguji sunyi Ternyata... Ramai begitu lugu Dalam budaya menyala Pada merah darah mendayu Tetaplah mendayu Sampai gelombang  tepi dermaga Tempat menuju kembali Kala kaki telah bersatu Belum lagi... Tanganmu menyapa kata Sebagai sakral atas tanah Air mata darah hunian surga Surupa surga yang hilang Tenggelam kembali tampak Negeri para raja Dari penjuru ke penjuru Kenapa kau menyapa? Oh... nusaku yang damai Sejukan jiwa dalam duka Riangkan hati kala luka Ajaklah aku tetap berpijak Di tanah bumi penghuni keramat Kala kata dan bahasa dirajut adat Sampai terik menyapa senja Waiwerang Jumat, 29 Juni 2018 By: Djik22

TENTANG TANDA DAN TANYA (420)

Elakan tanya sedang membara Menghapus malam dalam diam Tak kala sendiri dengan sepi Sampai tangan tetap bergerak Tapi... Apakah kau tetap ingat? Tentang laku yang menimpa Air mata yang menetes Jatuh di pembaringan Lalu... Tertidur lagi dengan rayu Sampai terbawa alam mimpi Hanya pesan yang kau kirim Begitu singkat Seperti kau bermimpi Kemudian aku yang bercerita Memaknai setiap adegan Dalam tokoh para pemimpi Saat bangunmu dari tidur Yang kutemukan indah dalam bayang Kenapa kau tega? Sampai kesempatanku... Kau tak kau iyakan Walau hanya berjabat Sebagai bentuk maaf Dan menghapus luka Ternyata... Pertanyaan tak akan usai Jika kau dan aku Masih di bumi lahir yang sama Papilawe Rabu, 27 Juni 2018 By: Djik22

TERSISA (419)

Tak mengapa Bila yang lewat Dengan laju maju Terbawa hembusan angin Aku yakin Udara yang kau hirup Adalah sisa kenangan Yang kau bayangkan waktu Entahlah... Berapa purnama datang lagi Bersama senyum dan luka Hingga menambah luka lama Kau dan aku... Merasa tak bersalah Seolah mengelak menyebrangi pagi Yang telah berjanji dengan suci Lantaran janji adalah air mata Tanpa harus menetes bila diingat Dalam getar yang tak dijelaskan Dengan kata dan logika Sebab... Yang kurasa adalah luka Yang kau rasai adalah bahagia Seakan kenangan jadi milikku Hingga kau putuskan menghilang Namun aku tetap bertahan Bersama sendiri dalam kelam Sampai yang tersisa kupupuk lagi Papilawe Rabu, 27 Juni 2018 By: Djik22

PINTU YANG PERNAH DIBUKA (418)

Saat dulu tak ada warna Tercoret di baris dinding Yang didesain begitu menawan Sampai mata tetap memandang Namun seketika... Kau diguling berjilid Hingga mengapit yang lain Untuk turunkan kuasa Oh... Dunia punya mau Manusia yang lalai Sampai merampas yang kokoh Ah... Tuan memang pandai Dalam segala hal sebagai dewa Ditakdirkan Tuhan titel pembesar Kini pintu selalu terbuka Bagi siapa saja yang mau Ingin memasuki galanggang Biar dengan niat yang kotor Lantas di mana kebajikan? Kalau mulut berbeda dengan hati Sampai dibuka lewat raut Atas laku bejatnya tuan Ketika pintu ini sebagai petunjuk Maka... Semua mata tak buta Walau kau undang lewat pintu Papilawe Selasa, 26 Juni 2018 By: Djik22

MENELAN YANG BIJAK (417)

Getirnya hidup Di pertengahan pasang surut Dunia jenaka membuat sepi Yang bertepi di dini hari Ketika dingin menghantam Dengan sedikit rayu Menarik yang bergaris Dalam hening menunggu pagi Namun pagi tak menjemput Hingga terus menunggu Seolah begitu lama Tiba dengan mentari Ternyata... Hidup yang rupa-rupa Di batas tiang bernakna lima Pada pintu yang tertutup Di mana pintu yang terbuka? Biar jalanku terus bergerak Sampai kuraih dengan nada Yang menawan pada hati Sampai di detik dua puluh dua Tak kunjung tiba bersama embun Yang sedikit kurasai dingin Menggetarkan relung sukma Biarlah jantung tetap bergetar Entah kapan ia berhenti Menelan yang bijak Namun segera kusingkir yang buruk Papilawe Selasa, 26 Juni 2018 By: Djik22

BILA DIAM DALAM KATA (416)

Keributan tak usai Di akhir bulan Juni Dari luka yang melekat Dari maut yang mencekam Hingga relung batin Bersaing melawan takdir Yang tak lama lagi... Menyusul dalam tanah Apalagi... Umur panjang jadi pendek Lantaran mulut kau hujat Pada bahasa tak mampu dijaga Sampai menuduh yang lemah Sebagai dalang ulung Mengatur stategi bumi tuli Dalam riak-riak cuaca dingin Kenapa diam dalam kata tak usai? Dengan detak penuh teka-teki Butuh tenaga kuras pikiran Bukan hanya si tuli, buta, dan pikun Tapi... Berlaku bagi yang bernafas Tanpa memandang status Untuk kategori pelaku peradaban Apalagi... Mulut yang kau jaga Dalam detik dihitung rupiah Sebagai tambahan usaha haram Jangan kau halalkan yang haram Jangan kau haramkan yang halal Untuk zaman berakal budi Yang terus menggali potensi Sampai melampaui dunia aksara Menelan yang bijak dan mulia Lalu... Meninggalkan buruk menuju abadi Papilawe Senin, 25 Juni 2017 By: Djik22

TETAP MERENDAH (415)

Tak ada ketinggian Yang kau daki Dengan diam biasa Menghelai napas indah Yang kau sulam Dalam cinta mengajak pijar Tetap berdiri dalam kelam Hingga tak mampu keluar Tak ada guna Bila diam dalam kata Lalai dalam perbuatan Tanpa berpijak pada nilai Bukan tentang predikat Yang diperoleh dengan sengaja Sampai meraih kata pujian Dalam abat yang meninggi Ketika terlalu tinggi Kau peroleh impian bahasa Tak dimengerti dengan sabar Menuang segala asa lewat emosi Maka... Setiap yang kau sudahi Dari asa yang mengasa Dari duri menjadi lembut Mingintai pola dalam lamun Sampai berdirimu di ketinggian Yang tak bisa disaingi sehat Pada nurani bersemayam Maka... Jangan kau anggap besar Walau usahamu ikhlas Namun tetaplah merendah Dengan sadar Dengan tabah Dalam gemuruh angin malam Pada desiran debu yang menempel Papilawe Senin, 25 Juni 2018 By: Djik22

BILA TAK KAU CORET (414)

Namamu terus menggema Terdengar seantero jagat Dari timur mendekati barat Sampai terbenan mengikut senja Tapi... Warnamu mencolok Di batas laut seolah terpotong Dipandang hingga hilang Ketika tenggelam... Saat mata menatap Kududuk di hemparan batu Diterangi pojok empat tiang Namun tetap berpijar Dalam arah gerak tak gerah Ketika pakian... Masih basah di badan Hingga tetap kering Yang kugantikan basah Dengan tinta bersulam budaya Berbisik tiap langkah Sebab... Tintamu terus kulanjut Kertasmu kutambah menyusun Yang wajib kutulis melawan waktu Lembata Sabtu, 23 Juni 2018 By: Djik22

DALAM MAJU DAN LAJU (413)

Putaran waktu tak henti Diiringi tekanan detak jantung Bertambah hembusan nafas Mengagah akibat ulah manusia Kapan langkah buruk berhenti? Kalau pikiran baik terus dijajah Rupai tekanan dalam keluarga Atas perintah keras mengutuk Lalu... Diam dalam malam Menutup telinga kala dibutuh Namun tetap berlipat tangan Buat apa tangan tercipta? Bila tak kau coret... Tentang kebaikan Mengajak yang lain terlibat Harusnya... Tujuan terus bergelora Pola lama digenjot baru Terapkan mengakar dahaga Jadikanlah haus mencari Jangan bosan dalam bertindak Apalagi... Soal tangis dan luka Buatlah air mata... Jadi mata air Menyirami dahan hidup Sampai subur maju dan laju Lembata Sabtu, 23 Juni 2018 By: Djik22

LUKA DAN TANGIS (412)

Desiran ombak adalah hidup Melawan dengan perahu Sebagai sandaran yang kering Kala pukat dilepas dengan harap Oh... Laut tempat kehidupan Yang berabad turun-temurun Hingga siang menjemput malam Tapi kenapa tuan kesampingkan? Tentang sejahtera nelayan Sebagai ahli bahari Dari hari ke hari Rasanya pariwisata sebagai tujuan Yang digembor dengan ramai Dari sudut ke sudut tanah pesisir Sampai tertulis Bukit Cinta Indahnya memang menawan Kala cerita ditambah janji Yang tak ada dalam nyata Tercoret di baris dinding Lalu... Kemana pemuda ditampung? Apakah menambah pengangguran? Atau menyamai ruas-ruas jalan Semua penuh tanda Seolah misteri dalam ruang Yang coba bersembunyi Dibalik jubah  kemegahan Ketika jeritan terus menggema Maka... Jangan hanya diam Berpangku tangan menutup mata Tapi... Hapuslah tangis air mata Dari yang kecil ke besar Dari yang muda sampai tua Bebaskan pemuda mengasah asa Libatkanlah segala lini Jangan pandang remeh Atas usah

TEMANI RAGA BERGERAK (411)

Tatapan arah depan Membuka mata Menguatkan jiwa Besarkan hati bergelombang Di atas laut birumu Kuberjalan perlahan Berteman getaran suara Membawa raga ke nusamu Sebab... Tanah yang menawan Air yang sebagai sumber... Kehidupan para petarung Jadikan aku para pengikut Yang tak lalai Yang tak lupa Pada duri riaknya laut Belum lagi... Bertambahnya laju Kalahkan takut bersemayam Anak gunung mencari cahaya Saat cahaya belum redup Maka... Temani raga bergerak Kala tinta kuraih degan tabah Boleng-Lembata Sabtu, 23 Juni 2018 By: Djik22

MELANGKAH KE PULAU (410)

Pancaran cahaya Menembus getar nadi Saat kuturuni tangga Di pesisir Pulau Pembunuh Pada hitungan menit Jarum berputar Tak dapat kupandang Di ujung tangga dermaga Bawalah aku... Tegakanlah kaki ini Rapatkan jemari Kala doa tulus kupanjat Kekuatanmu tak lagi ragu Mengalahkan bebatuan Saksi perang darah Hingga air mata bahagia Izinkan darah perkasamu Temanilah raga bergerak Panggilan alam terus bergema Hingga melangkah ke tanah Lomblem Boleng Sabtu, 23 Juni 2018 By: Djik22

BERMALAM DALAM SEJARAH (409)

Denyut nadi bernada Bersuara perlahan Dalam malam tak kelam Namun bernyawa bersih Jika hanya putih... Disimbolkan suci Namun melupakan merah Sebagai lambang pusaka Oh... Pusaka mengibar melambai Hanya dalam ingatan Mulai lapuk dalam nyata Semoga yang buta Tak tambah tuli Sampai lalai Dalam keabadian bermakna Malam belum lekas pergi Hingga aku bertahan... Di gubuk berlatar merah putih Terpampang foto para pejuang Kusadari atas tanah Tempat berpijak Dari pendahulu ke pelanjut Membuatku bermalam dalam sejarah Lamahala Sabtu, 23 Juni 2018 By: Djik22

YANG TERPAMPANG (408)

Kumelakang buana Menelusuri teba-teba jalan Terhempas di sebuah pojok Tertulis Taman Baca Aku tersentuh Jatuh pada hati Meriang di belahan bambu Terpoles kuning merona Belum lagi... Putih temani malam Atap mengikat jiwa Pada dahan kelapa tua Oh... Malam yang indah Aku diajak kembali Ke budaya asal mula Ternyata... Budimu mengingat Jasamu menerjang asa Hingga pendidikan dinikmati Kaulah mata yang cerah Pukiran yang berlian Sampai melewati alur dunia Hingga gambarmu tetap terpampang Lamahala Jumat, 22 Juni 2018 By: Djik22

JALAN PULANG (407)

Hembusan angin Menerobos batas patok Di bagian kiri kanan jalan Berteman senja diiringi kedipan Sampai debu dengan gembira Memasuki mata yang luka Akibat jalan panjang Dari Boleng ke Terong Tapi... Kunikmati jalan Bersama hamparan alam Merayuku terus dipandang Hingga gelap Datang perlahan Menuju jalan pulang Bermalam dalam sejarah Terong Jumat, 22 Juni 2018 By: Djik22

DIBALIK MERAH (406)

Kaulah keberanian Yang sempat singgah Di lubuk hati menawan Sampai luka menoleh Tapi... Saat bola mata binar Terpancar kala kutatap Di raut yang pernah singgah Hingga kini... Sinarmu telah redup Terpeleh oleh ranting muda Terjaga akar tua berserabut Akulah saksi Atas tumbuhnya dahan Serta jatuhnya daun Sampai termakan tanah Namun diriku tak kosong Ketika pijakanku kokoh Di atas batu tajam Ditambah debu menempel pohon itu Pohon yang kunamai tiang Lapuk dimakan waktu Tinggalkan warna Dibalik merah besarkan jiwa Lewopao Lamahelan Jumat, 22 Juni 2018 By: Djik22

BERTARUNG LEWAT OLAHRAGA (405)

Ajang olahraga telah tiba di Pulau Pembunuh (Adonara). Kali ini, olahraga sepak bola yang akan diadakan di Desa Kolilanang, Kecamatan Adonara, Kabupaten Flores Timur sekitar bulan Juli 2018 mendatang. Tak heran setiap desa mulai menggembleng para pemainnya untuk bertarung di ajang bergensi tersebut. Mereka sering latihan di lapangan yang ada di desa. Latihan ini, menggodok fisik dan stategi taktik demi menyokong mentalitas. Kali ini, beberapa desa yang ada di Adonara Tengah sudah memulai latihan. Sebut saja Desa Lite dan Desa Lewobele. Para pemain di Desa Lite mengadakan latihan di lapangan sepak bola Lite. Sedangkan para pemain dari Desa Lewobele, mengadakan latihan di lapangan di depan kantor kecamatan Adonara Tengah. Kedua desa ini sebagai contoh dan cikal bakal untuk membangkitkan generasi muda bertarung di ajang olahraga. Bukan juara yang jadi tujuan, tetapi mrngangkat peran para generasi muda mengembangkan potensi lewat sepak bola. Sebab, hari ini harus menanam bibit kepad

JANGAN LAGI TIBA (404)

Kukira kau sudah hilang Terbawa angin lalu Terhempas sepoi lirih Hingga tanpa jejak Tapi... Kenapa kau ragu? Seolah takut kuasai diri Sontak kau berontak Biar saja amukanmu mahadasyat Yang penting tak kau ganggu Kehidupan yang layak Pada keamanan yang lunak Sebab... Prinsipku hanya berbuat baik Entah kepada kawan dan lawan Yang menganggap remeh temeh Kau dan aku harus dibatasi Seolah baju terpeleh dasi Sampai menolak... Jangan lagi tiba Papilawe Minggu, 17 Juni 2018 By: Djik22

TAK PERNAH AKHIR (403)

Ketika mata malam Menyulam hening Di sudut layar Tertancap sebuah kode Bukan tentang bahagia Apalagi... Sebatas kata menggoda hati Sampai membawa rasa kasih Tapi... Hanya membawa luka Membakar jiwa Sampai terpojok di sudut rumah Setiap yang datang adalah luka Yang singgah adalah amarah Tertanam di dasar dada Menyeka nafas ketakutan Jangan lagi tiba Jangan lagi mengadu Hingga rusuh Membawa petaka Sebab yang buruk ditahan Yang baik disingkir Maka... Kehancuran tak pernah akhir Papilawe Minggu, 17 Juni 2018 By: Djik22

DESIRAN OMBAK (402)

Hembusan nafas Mengiringi langkah kaki Yang tenggelam perlahan Di pasir memutih Kukagumi indahmu menawan Terkesima mata ronah Memandang tak habis Seolah lautan teduh Harus kuakui seusai terik Surga yang hilang Mengukir canda tawa Menawan kata dalam hati Riak-riak suara ibu Dibalas senyum manis ayah Tempat bumi bernahkoda Sang ulung pemanah bijak Terus kuukir sampai batas waktu Menjemput maut membuka luka Ingin kuberlindung Di wajah sinar air laut Terlalu indah untuk kulukis Terlalu bahagia bila kurayu Sembari menunggu Di desiran ombak Neren Watotena Neren Watotena Minggu, 17 Juni 2018 By: Djik22

KERINGAT NADI (401)

Jalan setapak Tersusun tangga Galian para warga Dengan gigih tanpa pasrah Di tangga bagian akhir Tergeletak akar pohon Begitu kering kalahkan musim Harapkan hujan tak kunjung tiba Bukan hanya hujan Tapi... Dinanti adalah sumber kehidupan Yang membasahi kemarau panjang Ternyata... Terdapat mata air Yang ditarik ke arah desa Demi keberlangsungan hidup Begitu getir Memanggil yang ada Bergandeng yang bernyawa Tak lupa meminta restu leluhur Tak mudah menoleh... Kalau belum banyak berbuat Dengan usaha tanpa takut Sampai keringat nadi berbisik rayu Papilawe Minggu, 17 Juni 2018 By: Djik22

BUKAN RAJA (400)

Jangan kau nyalakan Cahaya redup jadi gelap Tanpa menembus celah Ruangan yang kau duduki Apalagi... Istana kecilmu Berharap cahaya kekal Yang tak bisa ditipu mendua Sudahi saja ritme drama Yang kau susun curang Dengan kesal tanpa lapang Memanggil hati untuk terlibat Bagaimana materi jadi ukuran? Namun tak pernah kudapat Di tanah surga misteri Menjamin kasih kedamaian Jangan lagi... Semua kau takar Lewat rupiah dihitung tangan Atas usaha keringat nadi Tapi... Iklaslah berjalan memberi Jangan kau tuduh yang benar Hingga bukti tak akur dalam nyata Sebab... Materi bukan raja Apalagi... Uang membuat sekat Tetaplah dengan hati Bertahanlah dengan jiwa Biar jalan bertubi liku Mampu kau bendung dengan senyum Papilawe Sabtu, 16 Juni 2018 By: Djik22

TAK BISA DIAJAK BERHENTI (399)

Kau begitu cepat menghadang Saat kuberjalan penuh luka Di atas cerah air matamu Tampak banjiri diri Hingga tangan terikat Saat sinar menerobos masuk Tanpa izin kuberi riang Lantaran prinsip kupijak Ah... Kaulah baja pengait batu Biar kulawan lunak mengajak Tetap laku menghantam duka Tak lagi dapat terhitung Baik yang kuingat rapi Bertahan di isi kepala Menjerat serabut pikiran Ajaklah aku ke zona nyaman Yang sering kau kutuk murkah Papilawe Sabtu, 16 Juni 2018 By: Djik22

MENANAM BAHAGIA (398)

Hitungan satu bulan Telah lewat menahan diri Dari segala yang dilarang Dengan teguh dan lapang Kini... Mulai pergi perlahan Kehidupan baru tetap berjalan Laksana bayi yang baru lahir Bila memang... Mata sempat terjaga Lidah terasa nyaman Ketika bahasa menggugah hati Maka... Patut ditahan menghadap waktu Hingga jadi budaya Yang baik ditanam bertahan Tapi... Ketika yang buruk tiba Halaulah dengan kebajikan Sampai diri tetap terjaga Di batas waktu Bulan Juni bersejarah Seirama alunan nada Tangga lagu tentang Pancasila Biar limit waktu.... Tak bisa diajak berhenti Setidaknya mampu mengejar Dengan menanam bahagia Papilawe Sabtu, 16 Juni 2018 By: Djik22

PEMUDA SAHABAT PERUBAHAN (397)

Indonesia adalah negara yang terdiri dari ragam perbedaan. Baik suku, ras agama, budaya, dan corak berpikir. Inilah bagian kekhasan dari bangsa ini. Dengan kekhasan tersebut, maka tak heran bangsa Indonesia dikenal dengan kemajemukan dan menjujung tinggi perbedaan. Sebab perbedaan adalah varian dari semangat menuju persatuan. Belum lagi menerobos batas wilayah yang terdiri dari beberapa provinsi. Perlu kita menelisik lebih jauh lagi tentang bagaimana membangun tatanan bangsa. Supaya mampu keluar dari zona ketertinggalan. Ternyata, ketertinggalan adalah salah satu masalah dari apa yang dirasakan setelah revolusi Indonesia didengungkan. Walau merdeka secara pengakuan sudah memhudata sampai ke telinga anak cucu. Tapi pertanyaan besar yang harus dijawab, Kenapa merdeka secara praktik/ penerapan jauh panggang dari api? Ketika secara penerapan dalam kehidupan berbangsa mulai melenceng dengan dasar negara, maka harus kembali mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang telah diletakan oleh

SALAH DIBUAT BUTA (396)

Tiga tahun di penghujung jarak Pertemuan ala menghadap Tunduk haru terkesima Saat fajar menyingsing Tabir tak tampak Hanya lingkaran keliling Sebagai batas duduk Kemudian berdiri lagi Sebegitu cepat memikat Menggema tekanan suara Tenangkan qalbu Besarkan hati Seolah tak ingin usai Pancaran suara tekanan nada Menembus dada lunturkan sukma Yang sementara di hari suci Kapan kau tiba? Sempatkah bertemu lagi? Tabur kebaikan dengungan prinsip Semua kepala tunduk haru Tapi... Kenapa ada pertemuan? Yang bukan dipinta Yang tak dirayu tiba Maaf telanjang pasang Tak surut membelok Tangan yang engggan berjabat Pada salah dibuat buta Papilawe Jumat, 15 Juni 2018 By: Djik22

KEMENANGAN (395)

Lapar telah dilawan Nafsu mampu dilewati Di dalam bulan yang suci Di garis batas perintah Tuhan Kapan bulanMu tiba? Dengan nama yang sama Dengan manusia yang berbeda Di bumi tempat sementaraMu Setidaknya... Sedikit yang sadar Berjalan atas izin Kewajiban sebagai hamba Atas cipta dan cinta Yang tertuang bagai bintang Menerangi cahaya dalam hari Terhitung menghalau si bayi Keluar dari fitra Dengan penuh kemenangan Papilawe Jumat, 15 Juni 2018 By: Djik22

YANG BERBEDA (394)

Nafas batas Kutelusuri garis jalan Baru sebagian kupijaki Sampai malam dahulu menyapa Tak kusalahkan malam tiba Dengan condong memutar arah Serupa sebuah penggulingan Kuasa yang tak kusangsikan Padahal... Di tanah lahir Malam begitu menggigil Tak kurasai setelah tiga tahun Memang betul... Angka ganjil Identik dengan luka Sial, penipuan, dan kuasa rakus Percuma... Ramalan manusia Tentang prediksi kelam Ditafsir lewat angka keramat Kalau toh... Pembangkangan bercumbu Menjara ciptaan Tuhan Yang dinamai manusia berbeda Papilawe Kamis, 14 Juni 2018 By: Djik22

BERPIJAK DI ROHMU

Ketika perjalanan tertati Beribu kisah tertuang Di bataa senja rapat Berdengung suara panggilan Kakiku ingin bergerak Saat kupandang tanahmu Mata hatiku bergeta Seolah kedatuan darah mengalir Atas sangsi berabad Aku dibuai ibu purba Yang ikhlas menimang Hingga kepulangan Wahai para pengabdi Yang telah mengukir sejarah Tanpa nama tertera Di atas kertas-kertas kusam Tapi... Aku percaya Panggilan tanahmu Dengan tenang menyambut Oh... Para penghuni Restumu adalah jalan terang Hingga aku tetap berpijak di rohmu Larantuka Rabu, 13 Juni 2018 By: Djik22

LAMA MENANTI (392)

Terlalu lama kusampai Dengan arah kompas Terpampang di layar Melambai panah merah Sambil diikuti titik tempuh Berteriak para penumpang Yang menunggu begitu lama Dengan waktu yang ditentukan Padahal... Aku dan mereka Sudah di tengah laut Terbawa badai gelombang Semoga saja... Selamat adalah tujuan Walau lama menanti Pijaki kaki di tanah rahim purba Di atas Siguntang Rabu, 13 Juni 2018 By: Djik22

YANG MELUPAKAN (391)

Aliran darah mengalir Di tubuh yang menawan Terhempas melawan waktu Dengan sengit umur bertambah Tapi... Kenapa darah leluhur kau lupa? Bukankah tanah Nusa Nipamu Penuh sejarah di babak alam Sekiranya kau tahu diri Dari mana asalmu Tempat asal muasal Hingga kelak menutup mata Memang benar... Besarmu di tanah rantau Setidaknya sejarah moyang Patut ditelusuri tanpa berpaling Atau kau malu mengakui? Bila bangasamu dijuluki sinis Sampai mata tak memandang Menggoda rasa berdusta Andaikan... Jeritan di kubur menggema Maka... Bisikikan itu selalu datang Biar malam melalui mimpi Atau siang pada jelmaan Membuka rahasia Bertabur suara parau Sambil berbisik... Anakku, cucuku, penerusku Teruslah mengingat satu sama lain Sampai tak ada yang saling melupakan Di atas Siguntang Rabu, 13 Juni 2018 By: Djik22

TETAP KEMBALI (390)

Kaki telah melangkah Menaiki tangga nada Menghitung pada hari Yang telah ditentukan Walau batas patok Telah dipasang waktu Dengan tanda bersua Di beberapa saat lagi Cepatlah malam Lalu... Berganti menjadi pagi Dengan senyum memukau Tetaplah bertahan Dengan gembira menggoda Tapi... Tak mudah goyah keropos Biar pagi lama pergi Namun aku memahami Panggilan alam bersemayam Merasuki sejagat edaran darah Iya... Aku masih tetap di titik nadi Antara sadar dan bahaya Hingga kuputuskan tetap kembali Di atas Siguntang Rabu, 13 Juni 2018 By: Djik22

GEMBIRA TERPENDAM (389)

Ibu tanah mata surga Yang lahirkan kotak suci Dengan lembut belai mimpi Hingga menuju nyata bernyawa Aku pulang ibu Ingin kuterima lagi mesra Tentang bertahan dengan jujur Sebab... Kejujuran adalah ilmu Kebenaran adalah tujuan Untuk bertahan di pelataran bumi Berilah senyum menawanmu ayah Biar jalan setapak ini bersemangat Walau gembira terpendam Bertahan di lubuk hati Di atas Siguntang Selasa, 12 Juni 2018 By: Djik22

DI TENGAH GELOMBANG (388)

Seolah kehidupan terasa kosong Di antara ada yang mengada Sampai tetap memaksa Hati yang membisu Di tengah hening Melambai tangan Pada pinggiran dermaga Kota Angin Mamiri Oh... Laut biru malam Terdengar suara menjerit Panggilan peringatan pulang Iya... Aku tetap kembali Memeluk pangkuan rahimmu Walau jarakku masih jauh Kuyakin dengan hati terdalam Diiringi gembira terpendam Di tengah gelombang Sebagai saksi Di atas Siguntang Selasa, 12 Juni 2018 By: Djik22

TANAH PURBA BERSEJARAH (387)

Panggilanmu terus berbisik Hanyutkan gendang telinga Yang sedang bergulat dengan pena Menuai mimpi lautan cinta bertinta Tangan ini... Terus menggores iklas Bertabur hati besarkan jiwa Di setiap waktu hembusan napas Atas tanahmu... Gelombang bayi dibesarkan Dengan udara timangan merdu Yang terus dibaca nada lembut Lembutkanlah hati yang beku Cerahkanlah pikiran lesu Biar terus bertahan... Dengan laju lagu kebenaran Bukan hanya tentang kata Yang dibalut manis bertutur Tapi... Bahasa dan laku harus sejajar Seperti barisan perang Dipasang bertahan Membela sengketa di rahimmu Mengukir juang keramat raya Oh... Tanah purba bersejarah Aku, dia, mereka akan kembali Membasuh peluh menghapus air mata Makassar Selasa, 11 Juni 2018 By: Djik22

DETIK YANG MENUNGGU (386)

Sehabis sisa keringat mengering Di larut bahasa tak mengikat Menggenggam jemari Yang hanya sesaat Kenapa begitu cepat? Belum genap jumlah umur Yang terputar angin malam Berganti terik siang kurasai Seolah perasaan menolak Tentang ketuaan massa Dan keriput linang bergaris Di pangkuan semesta dedaunan Tapi... Ketika semua rasa dan cipta Mulai pasang yang menyurut Larutkan jiwa jadi bertahan Ribuan pijakan telah ditepati Ratusan ranting-ranting kuat Telah diapit dengan imaji Yang membawa indah menawan Saat semua sudah dihirup Dirasai dengan pendalaman Sampai tak lupakan diri Di detik yang menunggu Makassar Minggu, 10 Juni 2018 By: Djik22

MERUBAH SEGALANYA (385)

Di pertengahan malam Cerita yang sedikit malu Membelai rambut hitam Serasi lipatan kamija Kau yang datang Aku yang membuka jalan Lalu... Kau dan aku bersandar rasa Tapi... Terhanyut di gelombang Arus gerogi tersipu Senyum menampakan putih Kenapa kau mampu memikat? Padahal... Diri dilanda badai Dibawa putaran angin malam Kemana lagi kau bawa diri? Kalau dekatmu... Memberi makna kehidupan Yang mampu merubah segalanya Makassar Sabtu, 9 Juni 2018 By: Djik22

TIBA-TIBA DIAM MERENUNG (384)

Delapan belas kali Tanya tak terjawab Membuat sepi hingga hening Menunduk bosan tanpa kata Bayang-bayang berkuasa Menuju pembaringan Yang memanggil pulang Memeluk rasai cemburu Padahal... Tak ada yang membelok Di antara pilihan sulit Mengapit sempit alam udara Untuk apa hembuskan napas? Bila semua menaburi racun Kukira tak apa-apa Di akhir tanya Yang ke sembilan belas Dengan tiba-tiba diam merenung Makassar Sabtu, 9 Juni 2018 By: Djik22

DIGIRING PUTARAN WAKTU (383)

Menjerit-jerit suara memanggil Di jarak tatapan bola mata Kemerahan hitam putih Samar yang menyamar Bagaimana kujabarkan kisah? Di atas keramik sedikit kotor Dilalui berkali melangkah Yang dipijak lembut Kaki ini... Terus menepis Segala yang tajam Sengaja terpasang Andaikan kuterbuka Maka... Banyak yang muncul Sebagai jebakan kata Kau giringku... Ikuti pikiran tenanangmu Hingga kuterjebak sendiri Di putaran waktu azan Subuh Makassar Sabtu, 9 Juni 2018 By: Djik22

HINGGA MEMBUAT TENANG (382)

Belum kumenggali Dengan penuh menghepas Di pelataran bergaris putih Seisi relung-relung jiwa Keheningan membuat ramai Ulah labil misteri lahir Yang kau tata Pada keajabain menguap Tangan yang tak tenang Kaki yang melangkah Membuat luka Di kaki kirimu Ah... Kau yang kuajak diam Mendekati posisi dudukku Hingga membuat tenang Makassar Sabtu, 9 Juni 2018 By: Djik22

DOA PARA LELUHUR (381)

Angin ribut kuhirup menembus batas Di tanah berlumpur amukan badai Permulaan kehidupan manusia Dari ada ke tiada hingga ada Berabad kumenelisik Di barisan anak darah Yang mulai tumbuh Menyamai ukiran alam indah Tentang linang air mata darah Perlahan membuka mata Besarkan lewat juag Dalam memgais secercah harapan Ketika dihitung dengan bijak Tak ada kecanggihan Dibalut majunya dunia Memberi tapak batas usia Hinga malam berganti pagi Tampak begitu banyak perubahan Atas restu dan usaha bernadi sunyi Yang dibuat sakral memakan waktu Wahai para leluhur Di bagian mana pun datangmu Dari timur lima mata penjuru Atau dari barat tujuh batas berlapis Lapisan-lapisan mulai tampak tua Termakan ditelan waktu menggoda Pada linangan hingar-bingar Pulau ara pembunuh Azimatmu begitu sakti Mengalahkan tembakan senapan Menangkis paras mengeras Ketika ditusuk tombak dibacai doa Doamu adalah kekuatan Bisiku adalah penambahan energi Bagi generasi anak pulau Yang ma

KUBALUT DENGAN DOA (380)

Kau besarkan diriku Sampai tujuh malam Berturut tunduk menyimak Atas petuah bahasa menggugah Kau lantunkan kata berpoles doa Menyerang masuk tak kubendung Hingga kubuka lapang Menerima nasihat Yang kueja adalah pengantar Yang kudengung adalah pelanjut Sebagai arah menitip amanah Di pundak sang perantau Semua yang mengalir Dalam warisan bersusun Terus kudengung lantang Dalam nyata bernyawa Biarlah... Pilihanmu telah berubah Ajaranmu sendiri kau telan Tapi... Tetap kubalut dalam doa Yang baik tetap kubawa Yang buruk kubuang jauh Tanpa menoleh bersedih Karena jiwa dan raga mulai takut Kalau aku adalah boneka Maka... Lebih baik menghindar Sebelum terjebak mengikat Diriku bukan dijadikan... Sebagai batu loncatan Menuju kuasa kekuasaan Hingga membuat lupa diri Makassar Kamis, 7 Juni 2018 By: Djik22

KAU MENITIP KARYA (379)

Ajaran berlantun... Bahasa hati menumpah Jadi baris-baris semangat Dalam gerak mencari jati diri Diri yang pernah kau besarkan Di atas ratap kesusahan menggigil Kala dingin datang di musim hujan Yang kurasai menyerang sukma Namun tantangan hidup Tetap dijalani dengan tabah Tak ada kata menyerah berbisik Walau sekecil tak dapat ditatap mata Apalagi... Kau timang menggoda Dalam secercah harapan Lewat cerita penuh kekuatan Sampai di titik yang jauh ini Tanganku terus menggores Yang kubalut dengan doa Seperti kau menitip karya Makassar Kamis, 7 Juni 2018 By: Djik22

TELAH LEWAT (378)

Sebuah perjalanan Sempat bertabur cahaya Di antara gemuruh mengamuk Namun tetap takluk sebagai saksi Apalagi... Sinar-sinar Membias tanpa keluh Protes lantaran mengiringi Jalan setapak tempat biasanya Jalan itu... Masih ada menanti Sembari diperbaiki menyambut Sebuah pasang yang kini hilang Kenapa secepat ini? Oh... Rupanya takdir lebih berpihak Lantar lantunan doa dan usaha Mengaku kalah bersaing Setidaknya... Kau mampu membawaku Mengelilingi selusin muara Yang mengalir perlahan tenang Belum lagi... Kau menitip karya Yang kugores dalam kata Hingga jadi catatan sejarah Tetaplah meraih yang nyata Namun jangan termakan janji Sebab... Yang telah lewat pernah didustai Makassar Kamis, 7 Juni 2018 By: Djik22

YANG PERNAH MENENTANG (377)

Foto latar Bung Wiji Thukul Semesta ini suaramu pernah membara Dalam cacat yang penuh kekurangan Dalam lenyapan tak dilupakan gema Tentang kebenaran terus dicari-cari Kaulah kebenaran yang berbisik Seperti terus memburu Dikejar-kejar getir ketakutan Pada kata-kata yang mengutuk Selimutilah ketika lalai menghalau Sengaja lupa dengan prinsip Hingga seolah perut... Adalah urusan utama Api yang sempat menyala Sampai kini pun tak padam Walau jasad telah jauh Dengan tanah menghadap Tuhan Marahmu dengan naikan suara Penjiwaan di ruang-ruang waktu Bersama senasib lantaran serakah Negeri yang kikir kesejahteraan Apalagi... Banyak telah melupakan Tentang ibu dan ayah Tempat bernapas Berpijak Serta pembaringan Lantas kau setuju? Ketika yang muda membelok? Bermain tertutup Demi kepentingan pribadi Ah... Politik punya mau Yang dulu dijuluki aktivis Yang dulu dijuluki si bijak Rupai guru tanpa digaji Mulai belajar menanam bibit Yang seharusnya dilawan

BIMBANG (376)

Saat yang mudah Telah diarungi samudera Membawa jauh di lautan lepas Hingga pulang penuh waspada dada Bagaimana dermaga penungguan? Yang selalu diimpikan alam maya Menggoda yakin menjadi nyata Yang bukan tentang imaji hati Kau dan aku butuh kepastian Di garis-garis tembok sunyi Kau ukir dengan tinta biru Kusulam hitam tak pekat Masihku tetap bertahan Pintamu dengan sabar Biar kumencari ganti Tentang hati yang... Telah berpindah Atau kau ragu Tentang jiwa Yang rapuh Dinantikan Makassar Minggu, 3 Juni 2018 By: Djik22

DALAM BAYANG-BAYANG (375)

Rindu tertanam membuat ingatan Yang susah dilupakan pada jarak waktu Atas nama dunia berkecimpung suara Pada sapa tanpa tatap memijat jemari Tapi kenapa selalu kuingat? Apakah kepulangan menjadi obat? Lantaran benar jadi patokan Melawan rasa yang menggebu Maka... Sedikit berburuh Tanpa ada bekal Menuju kepulangan Dalam lubuk begitu jauh Tak bisa diajak berjumpa Dalam waktu hitungan detik Hingga butuh bertahun menatap Kenapa aku begitu jauh? Dihempas angin melambai Sepoi serpihan di kota Mengingat hingar di desa Kaulah mata elang pena bertinta Kutulis dalam garis hitam Berlarut putih dalam bayang-bayang Merindu ingat pada sembilan bulan Makassar Sabtu, 2 Juni 2018 By: Djik22

DI HIDUPMU YANG ABADI (374)

Segala kemewahan mentereng Telah kau tolak dengan bijak Tak biasa diterima lalu diam Tanpa ada penanda Apalagi... Tentang penanda garis waktu Dari benturan demi benturan Haluan yang diimpikan Menjelma perlahan Di batas batu Di kala tua Yang bukan tentang umur Kuingin api yang kau nyalakan Air yang kau padamkan Dingin yang dihangatkan Gelap yang diterangkan Dalam ragam sumber penjuru Yang terus memuja Tapi tak menghamba Oh... yang telah gugur Hilang yang bukan ajal Takdir dikandang paksa Atas campur tangan Lucutan demi lucutan Sontak berteriak Menggema tentang damai Hilang kemudian datang lagi Tapi... Bukan jasat menjelma Melainkan ajaran dan semangat Makassar Sabtu, 2 Juni 2018 By: Djik22

MEMBIAS LALU PADAM (373)

Nama yang kau agungkan Dalam semarak cerita prahara Pada bulan yang tak tersenyum Bercumbu malam semakin larut Termangumu... Di samping kasih tak dipeluk Rupai kehilangan begitu besar Di kanca sunyi mulai dingin Bagaimana caramu bertahan? Ketika sendiri berteman layu Saat kembangmu tak tampak Apalagi dirasai dengan nyawa Kau ingin kembali di pagi berelegi Tapi... Aku terlebih dahulu tiada Tinggalkan kenangan tanpa bayang Yang kau ingat... Hanya hampa menyapa Cahayaku cepat membias Tapi bukan untuk waktu lama Hanya tiba menyinggahi Di hidupmu yang abadi Makassar Sabtu, 2 Juni 2018 By: Djik22

PARA PELUPA (372)

Yang tua pura-pura lupa Yang muda ikut-ikut pikun Sampai tak ada moral Yang dicanang sejak dini Harusnya... Nilai-nilai budaya dilestari Dari bangku sekolah Dari masyarakat ke pemerintah Kalau pemerintah tak buta Jika pemuda lalai Maka... Harus ada yang memberi contoh Bukan mencari nama Apalagi.... Mendoktrin yang salah jadi benar Yang benar disalahkan Hingga hidup dalam abu-abu Tanpa arah penopang Dengan tujuan jelas Sampai makmur Hei... Para pelupa Jangan lagi sengaja lupa Kalau kesengajaan Ingatlah wahai pelupa Bangsa ini milik semua Bukan yang satu untuk satu Tapi... Dari semua untuk semua Makassar Jumat, 1 Juni 2018 By: Djik22

KEMBALILAH KE DASAR NEGARA (371)

Atas dasar keragaman Dari ras seribu beribu Terbentang luas Hingga hilang Perlahan Lalu... Bagaimana jati diri bangsa? Kalau hanya jadi penonton Yang terus didikte Apa yang bangsa ini miliki? Kalau semua aset dijual Membuka keran pasar bebas Terus berduyun menghampar Sampai tak diterima Bagaimana penjajah terus ada Sampai ruang-ruang sempit Dalam limit tembok dan jeruji Penjara atas nama perintah Jalanya bangsa penuh liku Terombang-ambing biji kepentingan Hidup yang terus dalam bahaya Seperti strum kabel telanjang Kembalilah ke dalil kebenaran Berlandaskan Pancasila Dalam penerapan Roh ke jasat Kata ke perbuatan Makassar Jumat, 1 Juni 2018 By: Djik22