Langsung ke konten utama

TERANG YANG BERHENTI (425)

#Part 02

Sudah aku memilih untuk pergi dari kehidupan yang terikat. Baik tentang ikatan berikrar, maupun ikatan yang berantai. Sebab ikatan menguncang hentakan sampai lelah. Seraya berkumandang lantang dalam jalan sunyi.

Jalan antara kau dan aku lalui, pernah disinggahi orang lain. Karena kuberdiri di batas pertemuan, namun aku tersingkir di ajakan menggoda. Kenapa kau goda dalam kata berbalut kalimat? Bukankah sumpah dan kutukan selalu kuterima?

Ternyata, kau bahagia tak kala duka yang kuterima. Lalu kau tersenyum saat sinar yang kutunggu tak kunjung tiba.
Kemana kau bawa hati? Di mana sulam yang kau sembunyi? Rupanya tak secuil pun kutemukan titik memberi kode. Seolah aku yatim dalam sengsara dan hinaan.

Iya... kau yang menghina, sampai di depanku sikap manis tak kau lupa. Kemudian senyummu selalu kuartikan sinis. Karena bola mata dan kata yang kau pilih. Mulai jauh dari pendirian tak kala kumengenal dulu.

Pasti setiap jawabanmu penuh alasan berlogika. Tapi, aku sudah merasa jadi budaya. Hingga kucampuri budaya peninggalan leluhur di tanah Rahim Purba. Tanah yang membesarkan nyawa dan menghaluskan raga. Sampai aku tumbuh dalam keadaan penuh keterbatasan.

Masih dalam waktu yang sama. Di pukul sepuluh lewat dua puluh tujuh menit. Kau menyapaku saat menuju jalan pulang.

"Kapan kau kembali?"

"Sudah lama kukembali, tapi tak kuberi kabar".

Protesmu "Kau adalah lelaki. Setidaknya ada keberanian untuk menyapa dan menegurku. Bagaimana kau ajarkan aku jadi pribadi yang berani? Kalau menyapa pun tak kau lakukan?

"Ah... aku adalah lelaki yang dipojokan. Sama perlakuan yang kau hajar setiap kata yang keluar dari mulutmu".

"Terus kau mau apa?"

"Aku tak menginginkan apa-apa. Namun yang kuinginkan adalah keterangan tanpa terbalut benci yang disimpan hingga jadi dendam".

Suasana malam kembali hening. Sambil kupejamkan mata menarik nafas panjang. Yang kalau diukur, maka mampu melewati batas usia yang terbentang sampai ke ujung samudera. Namun, itu hanya penggalan bahasa tak menyinari malam yang hening.

Jika malam adalah sahabat, maka dengan gembira kutuang resah dalam sunyi. Biar kehidupan alam mimpi tak terbuang sia-sia. Setidaknya, mimpi penuh arti tentang tanda hidup tak bertepi. Apalagi, selama nafasku masih normal seusia muda dua puluh dua tahun. Hingga edaran darahku mengalir seperti aliran cinta yang bermelodi.

Melodi yang kudengar lewat lagu dinyanyikan oleh orang lain adalah bahasa hati dilantun dengan merdu. Serupa ingin terus mendengar hingga menemani diri dalam gembira.

Sampai detik ini. Aku masih mencari gembira dalam persembunyian. Bukan gembira bertemu dirimu menggores luka. Tapi, gembira karena ikatanku telah diputus tanpa meminta pertimbangan. Setidaknya, posisiku tetap menjadi tempat empuk untuk kaki tegarmu menginjak.

Namun, tanpa kau sadari. Kekuatan yang ada dalam dirimu adalah doa terbaik kukirim setiap sujud dan rukukku. Sampai mataku lembab lantaran kubahiskan malam untuk berdoa. Bukan hanya berdoa, tapi semua kenangan pahit dan manis selalu kugores dalam karya. Biar kelak, kau bacai dalam bingkisan persembahan.

Saat pagi menyapa. Kulihat palangi dalam raut linang tanpa air mata. Hingga kutemukan dendam dalam air muka. Kemudian kau bertanya.

"Kenapa usia mudamu kelihatan tua?"

Aku heran. "Emmm...mmm... Tua? Mungkin pandanganmu".

"Terus bagaimana pandangan umum?"

Kujawab dengan hati. "Jika yang kau lihat adalah berantakan rambut ikalku, maka sengaja kubiarkan. Belum lagi, tambahan kumis dan jenggot selalu membuatmu tertawa".

"Kenapa kau sengaja?"

"Karena aku ingin tangan ayah yang mencukur. Biar nasihat dan belain tangan mesrahnya masih mengelus kepalaku. Sebab, aku ditimang dan dibesarkan dengan ayah yang dimusuhi karena berbuat baik".

Kau terus bertanya. "Kenapa orang-orang kebanyakan membenci kala kita berbuat baik?"

Kali ini, aku memilih diam. Sebab, tak ingin kugambarkan aib dalam rumah yang belum kau masuki.

Kau terus bertanya. Tapi aku terus diam tanpa harus memberi jawaban. Karena di dalam rumahku adalah rahasia. Apalagi, orang yang berbuat baik harus diam tanpa memebeberkan. Itulah prinsip 'Kala tangan kanan memberi, maka tangan kiri jangan meminta' seolah menuntut.

Hingga ke baris dua puluh tujuh menuju tiga puluh paragraf karya ini. Pertanyaan terakhirmu tak kujawab. Biar kau rayu dan paksa. Karena percuma kujabarkan dengan rinci. Lagian, tetap tak berguna untuk kau simak.

Karena telinga telah kau tulikan, mata telah kau butakan. Sehingga tak ada lagi sinar di mata berwarna hitam putih penuh misteri. Andaikan matamu memberi sinar, maka aku akan berhenti mencari. Tapi sayang, seratus duka kau gelapkan, lima puluh sakit yang kau racuni dalam berabad lamanya.

Hingga aku berusaha keluar dari derita. Sampai kutemukan sinar dan cahaya. Baru aku berhenti dan berucap syukur tanpa henti kepada alam semesta dan Sang Pencipta.


Papilawe
Jumat, 29 Juni 2018
By: Djik22

Komentar

Populer

FILOSOFI DAUN PISANG

Harapan dan mimpi dari setiap kepala tidak semua terpenuhi dengan usaha dan praktik. Tapi masih membutuhkan untuk saling dekat dan merespon segala polomik. Di masa yang akhir ini, perutmu telah melahirkan bayi yang masih merangkak dipaksa berjalan di kerikil jalan persimpangan. Dari rawat dan buaian, telah membuka mata batin, mengevaluasi adalah jalan yang tepat. Karena kurangnya menilai dari setiap sisi. Sehingga lahir dua persimpangan kiri kanan jalan. Mata telah terang, langkah sudah tepat, bersama sudah terpupuk, kesadaran mulai bangkit. Berdiri dan bergerak. Saatnya cahaya jadi penerang. Titipan amanah 20 21 11 14 jadi bahan belajar bersama. Filosofi "Daun Pisang dan Bidikan Panah yang Tepat" telah ditemui jawaban dan makna yang dalam. Dia bukan sekedar kata, tapi dialah nyawa setiap yang di dalam. Makassar, April 2017 By: Djik22

TOGAKU TAK IBU SAKSIKAN

Perjuanganmu ibu Mengantarkanku meraih mimpi Mataku lembab berhari-hari Setiap saat mengingat ibu Harapan ibu Aku tetap kuat Aku tetap melaju Tapi ibu Saat bahagiaku Takku tatap lagi ibu Wajah bersinar hadir dalam mimpiku Kala itu ibu Ibu Toga dan pakian kebahagiaanku Semua untuk ibu Togaku tak ibu saksikan Karena ibu telah tiada Yakinku ibu senyum melihatnya Tetap tersenyum di sisiku ibu Dua puluh tiga November dua ribu tiga belas Dua kali dengan angka tiga Ibu telah berbaring bergegas Makassar Minggu, 1 Oktober 2017 By: Djik22

PERLUKAH JEMBATAN PALMERAH?

Sedikit menggelitik, ketika wacana pembangunan jembatan Palmerah. Wacana ini, hadir di beberapa tahun terakir. Di tahun 2017, tidak kala seksi pendiskusian jembatan Palmerah. Maka muncullah pro dan kontra. Padahal merefleksikan wacana ini sangat penting. Kenapa Wacananya Jembatan Palmerah? Mari kita menganalisa secara seksama. Pertama, jembatan Palmerah adalah sejarah pertama di Indonesia bila terbangun. Karena menyambungkan dua pulau, yaitu Pulau Adonara dan Pulau Flores (Larantuka). Jarak jembatan Palmerah dengan panjang bentangan 800 meter akan dipasang turbin 400 meter. Kedua, persoalan proses pembangunan jembatan Palmerah dibutuhkan dana tidak sedikit. Diperkirakan dana mencapai Rp. 51 triliun. Hal ini, perlu dipikirkan. Karena Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTT pada tahun 2016 hanya mencapai Rp. 3,8 triliun. Sama halnya pemerintah mengajak kita mengutang dengan investor (swasta). Ketiga, jembatan Palmerah bukan proses meninabobokan masyarakat Flores Timur

ADONARA DALAM PUISI

Petuah kata sejarah Masih temani kaki untuk melangkah Dalam bayang-bayang ibu kuatkan hari Dalam jelmaan ayah pancarkan cahaya hati Hingga tebal awan kota Ingatkan suasan desa Dihimpit berdiri megahnya Ile Boleng Didekatkan Bukit Seburi tanah kampung Karena kitalah gunung yang berdiri Karena kitalah bukit yang menyapa Membawa bisikan bahari Ketika menghadap ke arah pantai Sampai kata dan petuah terus mengikut Wariskan api dari generasi ke generasi Tentang pentingnya menjaga kata Tentang indahnya memakai tenun ikat Maka... Tak kulupakan petuah indah dan keramat Tak kuingkari segala kata-kata bernyawa Di atas alam ditaburi darah dan air mata Karena air mata Bukan hanya tentang tangisan Bukan hanya tentang derita tanpa rasa Namun air mata darah tanda perjuangan Maka... Untuk mengingatmu yang di gunung Untuk mengenangmu yang di pantai Aku mengisi kata-kata lewat puisi Karena darah dan bisikan kata terus diasa Biar perang telah terganti buka dan pena

ANTARA (576)

Sering ada perbandingan pada kata 'antara' ketika diapit oleh kalimat. Antara kau dan aku ternyata banyak perbedaan, antara kau dan dia memiliki banyak kesamaan. Antara pacar dan mantan adalah orang yang pernah berlabu dan sementara bertahan. Baik terkandas di tengah jalan, mau pun mampu melewati batas getir yang melampau kesabaran. Namun, pada kata 'antara' seolah jadi misteri yang tersembunyi. Serupa kolom kosong yang disembunyikan dengan untain doa. Lalu, dipercaya menjadi sebuah legenda atau mitos. Bagaimana sesuatu yang dipercaya tapi tak pernah diinderai? Apakah setan yang berpenampilan putih pada malam Jumat hanya menakut-nakuti? Kemudian muncul pertanyaan, siapa yang menjahit pakian putih yang dipakai setan? Ulasan ini, aku dapati saat duduk di bangku SD. Sang guru selalu menakut-nakuti pada setiap siswa. Bahwa malam Jumat selalu ada tanda ketika melewati tempat-tempat gelap. Saat itu, aku dan kawan-kawan sebayaku selalu percaya. Namun, batang hidung p

KARYAMU TETAP MEMIKAT

Foto: Abdul Rahim (Khalifah05) Ketika doa-doa Telah kau panjat Dengan lemah-lembut Pada Tuhan Yang Esa Tak lupa pula Pintamu Pada para pendahulu Dengan merinding bulu-bulu Begitu dalam penghayatan Bersama angin Bersama waktu Bercampur masa lalu Maka... Yakin pun mendalam Tak secuil akan buram Tampak pada kaca belaka Namun ia selalu melekat Selalu mempererat Antara roh dan jasat Hingga karyamu tetap memikat Makassar Jumat, 21 September 2018 By: Djik22

PEMUDA SAHABAT PERUBAHAN (397)

Indonesia adalah negara yang terdiri dari ragam perbedaan. Baik suku, ras agama, budaya, dan corak berpikir. Inilah bagian kekhasan dari bangsa ini. Dengan kekhasan tersebut, maka tak heran bangsa Indonesia dikenal dengan kemajemukan dan menjujung tinggi perbedaan. Sebab perbedaan adalah varian dari semangat menuju persatuan. Belum lagi menerobos batas wilayah yang terdiri dari beberapa provinsi. Perlu kita menelisik lebih jauh lagi tentang bagaimana membangun tatanan bangsa. Supaya mampu keluar dari zona ketertinggalan. Ternyata, ketertinggalan adalah salah satu masalah dari apa yang dirasakan setelah revolusi Indonesia didengungkan. Walau merdeka secara pengakuan sudah memhudata sampai ke telinga anak cucu. Tapi pertanyaan besar yang harus dijawab, Kenapa merdeka secara praktik/ penerapan jauh panggang dari api? Ketika secara penerapan dalam kehidupan berbangsa mulai melenceng dengan dasar negara, maka harus kembali mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang telah diletakan oleh