Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

KISAH #2

Kita terjebak pada pertemuan pertama Kita yang diaatukan oleh gubuk tua Kini mulai saling diikat rasa Dengan segala aksaramu begitu terasa Apakah kau menulis dengan hati? Apakah kau sengaja membela diri? Biat aku terus digoda rasa Untuk mencari tahu siapa dirimu Jika kau hadir dengan rasa Maka... Detak dan kode pertemuan pertama Kita sudah memulainya dengan cinta Aku terkesima saat membaca tulisanmu. Seolah-olah kau tahu segalanya tentangku. Membuat hati tersobek dengan detak jantung tak menentu. Apakah ini sebuah tanda? Bagaimana jika detak jantung tak mampu kukontrol dengan baik? Kenapa secepat ini rasa diikat oleh bahasa? "Tenanglah wahai diri. Ini adalah sebuah permulaan. Biar, pertemuan pertama itu berkesan. Tapi, jangan terlalu buru-buru menaruh harap." Aku coba menenangkan diri sendiri. Harapanku, esok kita akan bertemu kembali. Aku semakin rindu dengan segala kisahmu lewat cerita empat mata. Aku ingin terus didekatmu mendengar curahanmu da

MENJAGA BUDAYA; MERAWAT GENERASI

Sumber foto: Sakinah Kain kusam terus membalut Nyeri dan segala penat Tak kuhiraukan dengan keluh Demi merajut merawat sejarah Ketika di pelataran rumah orang Hampir tenaga tak tertolong Namun tangan tetap bertahan Sambil meminta restu Tuhan Rera Wulan Wahai generasi penikmat budaya Dari air susuku yang kalian minum Dari tetes keringat dan darah menjara Sebagai ibu pulau aku lahirkan anak beraneka Tangan kiriku dikalungi besi putih penuh tanda keramat untuk menjaga diri. Kala penat tiba sepulang dari kebun. Di sana kujatuhi keringat; kulawan rasa tak pernah mengeluh. Sebagai seorang ibu dari anak beraneka aku tak pantas menampakan kesedihan. Karena aku takut para generasi akan murung dan putus asa melihat kepenatanku. Maka, kutarik nafas perlahan di pelataran rumah para penghuni untuk menambah lagi tenaga. Jalanmu telah kutunjuk dengan ikhlas. Tanpa banyak memutar-balikan sejarah. Karena ketika kebenaran kujadikan sebuah kebohongan, maka aku t

AKU MEMBACAMU TAK USAI

Sumber foto: Ama Galang Lamahoda Hamparan alam luas Membuat orang semakin buas Atas segala kerakusan Atas segala kekerasan Namun aku tetap membacamu Aku tetap menari denganmu Biar kau tetap merasa bahagia Biar kau tak lagi jatuhkan air mata Maka... Kau kujadikan segala sumber asa Kujadikan puja yang tak ada usai Biar semua kekayaanmu terus dicuri Kekasihku yang tercinta. Tempat aku berpijak dan menghembuskan nafas. Biar kau tak sering mengeluh; biar kau tak suka marah. Namun, kau terlalu berani tampungi segala anak manusia. Dengan hati kau beri kami sinar penerang untuk menikati kemerdekaan. Tapi, merdekanya kami masih saja sebatas pengakuan. Sebab, secara realitas tekanan di semesta ini tak pernah usai dari zaman pra revolusi sampai dengan revolusi industri 4.0. Angin ribut pun belum bisa diusir pergi dari negeri ini. Mungkin alammu mulai marah atas ulah tangan sejuta manusia yang sering merusakimu. Apakah kemarahanmu akan tetap memberi bencan

MENUNGGUMU DI SINI

Sumber foto:  Khairahayati M. Barek Tokan Berdiriku dengan hati Sambil memandang keadaan di sini Untuk menanti tibamu Demi menjawab segala rindu Maka... Aku tetap menanti dengan rasa Aku tetap menunggu dengan sadar Tanpa mengiyakan yang tak jujur Datanglah wahai kau yang kutunggu Tepat di satu titik dan jarak Kita tak harus mengelak Bahwa aku tetap menunggumu di sini Gedung-gedung megah didandani atas nama pembangunan. Biar mata tetap melihat yang indah dari segala tawar warna terpampang di tembok-tembok itu. Jika, tembok itu menawarkan keindahan, maka aku pun ingin terlihat indah oleh matamu. Maka, dengan sadar aku tetap menunggumu di sini. Apakah kau akan datang sesuai dengan janji? Dengarlah wahai yang kutunggu. Kaki tak akan lelah di berdiriku. Sebab, yang kucinta lebih memikat hati ketimbang segala pembangunan yang penuh omong-kosong dari kemegahan dan kekuasaan. Setidaknya, kita nikmati segala yang ada dengan kejujuran. Dari pada mengagum

MAAFKAN KATA YANG TELAH TERUCAP

Kita lama menghilang Kita lama tak memberi kabar Semua yang pernah terang jadi kabur Terbawa angin dan riaknya gelombang Sampai... Di sebuah tanya yang penuh emosi Tiba-tiba kita saling sapa Namun kita tak kedepankan rasa Untukmu yang pernah kecewa Untukmu yang menyimpan duga-sangka Aku meminta maaf dari pilihan bahasa Karena tibaku air matamu mengalir Sebuah tanya kulayangkan dalam waktu berkala. Di sebuah malam penuh dengan hujan badai. Saat itu, hujan menyertaiku dalam kelabu ingatan di malam Rabu. Semua yang kuingat adalah tentang sebuah persamaan yang kini mulai berbeda kala jarak dibentangkan dengan emosi. Iya... harusnya aku yang mengalah untuk menenangkan emosimu. biar duga-sangka tak mudah muncul dari pikiran berlianmu. Aku yang hadir dengan rasa percaya diri. Mengabarimu lewat bahasa singkat berderet tiga eja. Kau pun membalas dengan tiga huruf tapi dengan bahasa yang sengaja tidak kumengerti. Jika, aku mengatakan mengerti dengan bahasamu,

KISAH #1

Kita yang pernah bersama-sama Kita yang sering berbagi bahagia Dalam belaian kasih tak pandang waktu Dalam ingatan tak sudi jadi masa lalu Maka... Mari kembali lagi ke waktu itu Mari mulai lagi dengan segala rindu Walau hanya sebatas kisah belaka Karena darimu semua jadi bercahaya Dari semua jadi terang tanpa luka Tapi... Semuanya berubah semenjak kau pergi Aku yang pernah terbawa manja. Saat kota tua kudatangi dengan polos, tanpa berbungkus bekal yang matang menjadi sang petarung lembut. Tapi, kata hatiku selalu percaya pada dahaga dan kehausan untuk terus mencari. Maka, kaki terus melangkah dan tangan terus bergerak. Hingga di sebuah jeda, aku diantarkan rasa untuk duduk bersama di sebuah aliran air yang tampak kotor. Untukmu yang pernah menemaniku duduk di samping tembok besar dan pondok tua. Aku hanya sanggup mengatakan dalam hati tanpa berkata langsung saat kau sodori permen relaxa padaku. "Jika terima kasih pun tak mau kau dengar

BUDAYAKU DIRAYU ZAMAN

Matahari masih terbit dari ufuk timur Yang mewakili terangnya dengan jujur Dalam untaian tenun selendang purba Menari dengan jemari di Pulau Adonara Bukan hanya menari-nari Tapi... Terkadang sampai berlari-lari Ke seberang Pulau Solor diringi diri Sayangnya... Gelombang pasang dalam kekangan rasa Membuat hati sungkan ke Tanah Lembata Untuk melihat indahnya budaya lama Hingga zaman terus menggoda Dan selalu mengada-ngada Berhenti seketika di Tanah Larantuka Dengan ragam budaya yang menggema Tapi... Kenapa budaya mulai dijadikan bisnis? Apakah mata kita sudah mulai buta? Hingga ibu Lamaholot sembunyikan tangis Oh... Ibu purba serumpun deretan anak pulau Yang menyimpan sejuta cerita Dalam bahasa tak tertulis naksah Hanya pesan yang terkirim Kala matahari mulai tenggelam Menuju keabadian pencipta Rera Wulan Yang terus-menerus berikan peringatan Inilah pesan kami sebagai anak pulau Kembalikan keaslian budaya lama Biar zaman terus merayu tanpa henti Men

RINDU KE PULAUMU YANG MENUNGGU

Sumber foto:  Diana Kumalasari Anwar Aku yang cemburu Dihantui rindu Ditakuti oleh berbagai rasa Ditampakan dari sederet fotomu Padahal... Sudah kuingatkan tanpa jengkel Jangan dekati yang lain Jangan selalu memasang kemesraan Sayangnya... Kau tak hiraukan kejengkelan kata Kau tak indahkan cemburu menggebu Karena rinduku ke pulamu yang menunggu Kau tinggalkan aku yang berada di Kota Karang. Demi sebuah pengabdian di tanah kelahiranmu. Tak banyak yang aku protes untuk menghentikan langkah dan pergimi. Karena sadarku lebih mendamaikan protesku. Sampai, tanganku dengan sedih melepas kepergianmu untuk sementara waktu. Apakah kau masih ingat kala itu kita mau berpisah? Bagaimana perasaanmu tentang hujan yang jatuh mengaliri pipiku? Pergilah dengan hatimu yang tenang wahai kekasihku. Biar, suatu saat harapan dan cita tetap kau genggam. Biarkan aku menyendiri di sini di taman kota yang tak ditemani kekuatan jiwa. Walau sendiri, aku selalu tampakan seg

TATAPAN #1

Sumber foto: Nurulfa Turrahmah Tatapanku yang dulu Buram termakan bencana Tergoda peristiwa yang menimpa Membuat semua mata menatapku Ialah sebuah masa lalu Ialah tentang tatapan dan ingatan Yang terus menguji keberanian Keluar dari pendapat umum menghina Mereka menghinaku dengan cacian Mereka menganggap aku adalah hina Hidup di atas semesta tanpa cahaya Dari diri yang penub derita Dengan tatapan dan isak tangis dari segala hinaan. Maka, pendapat umum memberi sebuah klaim, bahwa aku adalah 'hina' karena telah berbuat salah. Semoga saja, tak semudah itu kita memberi sebuah keputusan atas segala pristiwa yang terjadi tanpa menelusuri sebab pokok masalah yang terjadi. Aku tetap terima dari segala dakwaan yang menganggapku telah banyak berbuat salah. Bukankah sudah banyak berbuat seperti yang kualami? Kenapa aku dan keluarga jadi kambing hitam? Sampai dengan berani mengusir kami dari tanah lahir leluhur. Membuat orang tuaku malu pergi dari

MAAF KARENA KHILAF

Sumber foto: Ama Galang Lamahoda Negeriku telah memainkan pola Sambil melempar bola-bola Dengan berbagai jargon Dari segala macam kepentingan Semua mengatasnamakan rakyat Semua merasa tertekan terjepit Di setiap limit waktu keluarkan air mata Di setiap hembusan aliri cucuran keringat Membuat aku tak lagi berdaya Dirundung tipu dibalut nyeri Dari segala mimpi dan pesona janji Yang terus meminta harap tanpa ada Karena tuan besarku mulai sibuk Karena mereka mulai merangkak Dengan kempanye-kempanye pemilu Dengan penaburan uang tanpa malu Sayang jika aku Dia Mereka Dan kita semua Hanya jadi santapan tipu Hanya jadi pencuci kala tangan kotor Karena semua tak lagi jujur Dihajar pergi angin kepentingan Maka... Maafkan aku yang khilaf ini Aku berikan simbol setengah telanjang Kalau negeriku sedang digoda nafsu Makassar Minggu, 27 Januari 2019 By: Djik22

DENGAN SENYUMAN

Sumber foto:  Adelgonda Margaretha Nana Aku yang sedang mencari Untuk membenahi diri Dari segala pergulatan keadaan Dari segala ragam kesombongan Hingga sandaranku mulai kuat Pada beberapa helai ikatan yang memikat Lalu... Aku bersandar penuh hati tanpa ragu Mataku mulai terbuka Jiwaku mulai besar tanpa banyak berkata Dan kunikmati segala tekanan Menghadapinya dengan senyuman Datangku dari jauh, mewakili diri penuh kesabaran.Tanpa harus menyalahkan siapa-siapa. Karena diriku tak mau didikte dan dicumbui paksaan. Maka, kubesarkan hati dan jiwa menjalani hidup di atas semesta. Biarkan mereka-mereka merasa bangga atas apa yang didapat dengan pemberian dan warisan, tapi aku ingin terus mencari tanpa harus menyerah segera dan berlarut dengan kesedihan yang berkepanjangan. Kuselami gelombang tekanan penuh sabar. Kurubah haluan cara mempertahankan diri dengan terus mengasa. Biar diri tak dibawa jauh terseret ke dalam budaya manja-pasrah. Karena aku dia

RINDUKU KE PULAUMU

Sumber foto:  Diana Kumalasari Anwar Kita yang pernah menatap Kita yang pernah bersama tanpa penutup Di sebuah perjumpaan yang penuh kaku Di sebuah kenangan dan cerita masa lalu Aku ingin menulis untuk bertemu Aku ingin bercerita biar kita tetap ceria Untuk pertahankan hubungan kita Yang sudah dimulai dari dulu Maka... Tetaplah menungguku di pulaumu Kita akan bertemu di Nusa Nara Adonara Tempat kita berasal dari awal mula Apakah rindu itu masih ada pada puan? Bagaimana rindu itu telah tiada? Semoga saja... Rindu tak hilang dengan segala pilihan Karena aku mencintaimu Dengan ajaran budaya para pendahulu Yang diracik dengan lilitan tenun Yang disulam dengan rasa kedalaman Maka... Tahanlah rindumu untuk menungguku Tahanlah hatimu biar tak ke lain hati Pada sebuah perjanjian yang sudah sejati Tak banyak kukatakan Untuk mengantarkan malam Untuk tetap berharap dan tetap tersenyum Kalau saat ini aku sedang rindu ke pulaumu Makassar Sabtu, 26 Januari

SPERMA DAN VAGINA DI NEGERI JERUJI

Kuracik kata di atas penderitaan Kutabur bahasa dalam isak-tangis Merajut di atas tanah Sulawesi Di atas tanah Daeng Tertampung dalam naskah Laga Ligo warna Putih Di sini perjuangan tak ada henti Di sini permainan kelamin secara gratis Dalam dunia hura-hura pacaran anak remaja Menganggap segala pemerkosaan jadi hal biasa Nafsu jadi budaya yang merajalela Keberanian hanya bermental buah dada Yang digenggam dengan senggama Larut dalam pergulatan vagina dan sperma Budaya itu masih merajalela Membuat kami jadi anak manja Yang terus pasrah pada setiap keadaan Yang terus menghayal Memainkan di setiap titik Memainkan di dalam WC Memainkan di dalam ranjang Memainkan di dalam apartemen Dengan harga yang disediakan Belum lagi... Pembunuhan Pembantaian Tanpa ada henti di bumi air pertiwi Buku kiri diberenggus Dengan alasan berbahaya Oleh mereka yang berbaju loreng Oleh mereka yang memakai senapan Dor... Dor... Dor... Negeri ini bukan hanya milik lelaki Neg

BERPISAH

Kita telah bersama begitu lama Menyatukan hati menyamakan cinta Dalam tantangan roda zaman modern Dalam kondisi diri yang terus ditekan Tapi... Kita tak menyerah pada tekanan Kita tak pasrah pada keadaan Dengan sekuat tenaga kita melawan Apakah kau terus melawan sayangku? Bagaimana jika kita kalah manisku? Janganlah lemah Janganlah lengah dan terus bersedih Setidaknya dengan melawan Kita lebih terhormat dari pada diam Kita lebih tahu dari pada terus ditekan Hingga kita anggap segalanya jadi kelam Biarkan lembar sejarah terus mencatat Biarkan tinta kusam terus menulis Di waktu-waktu yang begitu ganas Di masa-masa yang begitu terhimpit Paling tidak kita terus berusaha Dengan sekuat tenaga dan asa Hingga bertahan dengan kebersamaan Walau ujungnya kita harus berpisah Makassar Sabtu, 26 Januari 2019 By: Djik22

TEMU

Kita yang saling berharap Tanpa saling tertutup Untuk membuka diri dengan rasa Dalam balutan cinta tertawan bahasa Kau tawan aku Kemudian membuat rindu Pada jeda dan jalannya cerita Pada titik dan jalannya bahasa Maka... Bahasakanlah jeda dan titik itu Biar kita selalu cair untuk bercerita Kemudian membangun ikrar bersama Iya... Kita sepakat untuk bertemu Dengan raut gembira menghapus lesu Hingga menjawab rindu dengan temu Biarkan kita bertemu di lokasi itu Biar kita saling menatap tanpa batas Untuk menyelami kedalaman rias Dari segala dandanan yang menderu Makassar Sabtu, 26 Januari 2019 By: Djik22

TAJAMKAN TATAPANMU

Etalase gedung megah Sering menggiur hati tanpa sedih Dengan seyum menawan kepalsuan Melupakan mereka yang tertekan Jangan kau lupa pada tekanan Jangan kau lupa pada sengsara Yang terjadi di atas semesta Yang menimpa anak manusia Karena ketika kau lupa Maka... Jalan sejarah akan tertutup Hingga butakan tatapan bercahaya itu Malam meggoda pada hamparan tempat persinggahan. Hingga aku sedikit dirayu untuk bertahan dalam sebuah gedung putih penuh bayangan. Entah bayangan apa, tapi aku masih mengenali beberapa dari bayangan itu. Karena dari bayangan itu aku lahir penuh dengan kesederhanaan. Berselang beberapa menit, dua kali dalam waktu berkala jepretan cahaya kamera merayu manja. Seolah-olah, diriku tak mampu menabur senyum. Karena kondisi di sekitarku penuh dengan tekanan yang digilas oleh aturan penguasa. Memang, penguasa selalu punya cara untuk menyingkirkan orang-orang yang mencari hidup. Dengan alasan 'penertiban para pedangan yang menggang

ANJUNGAN MENAWAN

Kita yang menikmati malam Kita yang memandang cahaya Sambil menatap dengan rasa Dari deru suara para pengunjung berudara Kaulah alasan aku menatap Seolah tanpa kedip Pada hitam-putih bola matamu Raut menawan dibalut jilbab kuning tua Semoga kuningmu tak terus cemburu Memeriksa layar bercahaya meminta ganti Dengan rasa yang penuh menderu Dari barisan kata yang kutulis jadi puisi Hingga kita tetap bertahan Memandang seisi panorama mencekik Dikelilingi kubah sembilan puluh sembilan Dari sebelah kiri tempat kita duduk Iya... Kita duduk di atas tempat romantisme Kita menikmati angin pantai Tetap bertahan di anjungan menawan Makassar Jumat, 25 Januari 2019 By: Djik22

Tentang Pertemuan

Dari rumahmu karya ini lahir. Atas hentakan cerita dan bahasa. Dari pergulatan bincang yang terus berganti. Hingga kita sama-sama tahu tentang diri ini. Kalau kita tak bisa berbohong antara satu sama lain di sebuah pertemuan. Karena kita bertemu di sebuah awal dari kelamaan berkenalan. Untuk menghargai segala cerita yang ada di malam sampai pagi itu. Aku memberi nama tanpa lagi jeda pada tulisan tanpa akhir. Yang kuberi nama 'Tentang Pertemuan' dipupuk tanpa lapuk termakan bencana. Makassar, 24119 | Djik22 1 Kita menghabiskan waktu Untuk saling bercerita Untuk saling berbagi rasa Dari sebuah rayu tak layu Maka... Pertemuan itu Akan tetap membara Dalam goresan tentang asa 2 Dari awal yang ada Kita bermuara bara Kita berlarut pagi Dengan penglihatan tak bertepi Membuat cerita tanpa sadar Kita saling terbuka Kita saling jujur Berteman pagi jadi lahan ajar 3 Entahlah... Kenapa kita tak bersua? Di sebuah janji yang berkala