Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

MENUNGGU DETIK KOSONG-KOSONG

Setahun lalu akan bergganti Perputaran waktu begitu cepat Bak terbangnya pesawat Luncurnya ludar diluncurkan Hanguskan lautan manusia tak berdosa Hantamkan kecanggihan teknologi Ingin putar kembali waktu Ingin tersenyum Ingin gulingkan bantal keempukan Saat-saat manusia purba punah Saat-saat gencarnya demonstrasi Bagian kampus jadi tongkrongan Tamannya jadi diskusi Kantin dipenuhi aktivis Menggodok strategi Membedah polemik birokrasi Yang lalim Yang merampas hak mahasiswa Anak kandung yang ditirikan Miskin di tanah penyuburan Kurus di kebun berlimpah Jadi penyakit menjalar Jadi hama merambat Viruskan yang sehat Pengaruhi yang tegak berdiri Adakah lagi di tahun depan? Atau malah menambah keburukan Menjalarkan penyakit lama Lamanya bernamamakan aksen Bertuliskan detik-detik perlawanan Gulingkan pemerintah yang tamak Turunkan birokrasi bertahta Adakah? Adakah lagi generasi pelanjut? Renungilah Refleksilah menanti detik kosong-kosong Berikan kabar

MENINGGALKAN BEKAS

Temui dalam perjalanan Bergandeng kekasih baru Munculkan kenangan Ingatan kembali kambuh Angkatan perintis Di jalan perintis dinamai Pertemuan yang lama Pertemuan dulu pernah terjadi Deretan peristiwa besar Deretan nostalgia Yang coba paksa dilupakan Dalam jujur bahasa hati Rasa itu masih tersimpan Kuasa ini masih terawat Meninggalkan bekas Seperti kaki raksasa Seperti tanduknya rusa Sekali tusuk berbekas Sekali luka tetap teringat Mau diapakan Kalau tak lagi milik sah Tak lagi kekasih setia Maka tak mau meninggalkan Bekas yang sama Menemukan yang baru Mencari pengganti sosok Tapi dengan sembunyi Supaya tak ada yang ketahui Biar diketahui di panggung Saat menjabat tangan Bertanda tangan sah pengesahan Makassar Minggu, 31 Desember 2017 By: Djik22

SELINGKUHI IDEOLIGI

Koar bermentalkan keberanian Meninggi omongan berlagak Padahal secuil didapat Padahal baru memulai Pemikiran ini Persembahkan jalannya taring Bukan mencari popularitas Bukan mencari sensasi Dimanapun tempat jadi cerita Dimanapun keadaan tetap perintah Selingkuhi tubuh kebugaran Selingkuhi pemikiran jenius Tapi ingat Jangan selingkuhi ideologi Jangan permainkan yang rapi Jangan jadi bunglon Jangan pertontonkan kepikunan Baik siang Malam Serta senja kehujunan Di tempat pesta Di atas ranjang pelukan mesra Di deretan barisan berkecimpung Inikah gaya anak muda? Inikah dibilang pelacur gagasan? Ataukah kritikus perampok? Jagalah tutur berkawan Jagalah tindakan memalukan Tundai dulu niat Kalau belum siap Kalau dibodohi cinta Kalau dikekang hubungan Makassar Minggu, 31 Desember 2017 By: Djik22

JANJI KEBOHONGAN

Deritanya rakyat Di pandang cuek Dibiarkan miskin Dibiarkan melarat Kemana nurani disimpan? Mata buta Telinga tuli mendengar Malah besarkan perut Malah tambahkan gaji Perkuat saham Permantap koalisi Dengarlah wakil rakyat Naikmu adalah kehendak Naikmu adalah maunya rakyat Lupakah pada janji? Rakyat butuh bukti Rakyat menginginkan perubahan Bukan dengan janji Bukan dengan harumnya parfum Yang mewangikan tubuhmu Yang mengharumkan namamu Hei... Yang lagi di kursi kuasa Dengarlah Indonesia milik rakyat Dari Sabang sampai Merauke Dari desa sampai ke kota Jangan pandang bulu Jangan senonoh berbuat Berhentilah main drama Tontonan yang membosankan Tontonan mendidik kemalasan Layar kaca tempat memanipulasi Gedung megah bertikar kebobrokan Lihatlah Resapilah tiap dengungan lebah Derasnya gemuruh tuntutan Ajaklah rakyat terlibat Berhentilah meninabobokan Berbagilah terhadap sesama Buatlah catatan baik Agar rakyat menyenangi Agar rakyat tak membe

MEMINTA IZIN

Aku tertarik bahasamu Mengagumi tubuh Mengidolakan semangat Dalam mata binar Dalam darah sangkaran Sejuta iringan nasihat Menintaku izin Tuliskanlah sesuka Gambarkanlah jangan ragu Hiasilah jangan gentar Sebab kekuatan selalu ada Dalam diri Dalam lautan karang Mainan masih luas Jagat ini tak sempit Tak ada batas Tak punya ketenangan Semua penuh kecurigaan Semua penuh polemik Meminta izin Maukah merubahnya perlahan? Atau mengutuknya menambah? Kembalilah Jangan lupakan diri Jangan sombongkan nafsu Meminta izin Kubacakan sajak Sajaknya Menolak Doktrin Yang ditulis Beranginkan Mamiri Bergayakan bahasa cemberut Maukah izin diberikan? Iya...pakailah sajaknya Lantunkanlah lewat bacaanmu Itulah karya bersama Yang penting jujur Yang penting berikan kabar Makassar Minggu, 31 Desember 2017 By: Djik22

MENGHADAP TUHAN

Semesta bergambarkan tulus Lautan keindahan Ribuan kekayaan Ratusan jenis manusia Semua adalah kehendak-Mu Semua berasal dari-Mu Ada yang ke masjid Ada yang ke gereja Ada yang ke tempat lain Demi menghadap Demi meminta pertolongan Demi memperkuat hubungan Ingatlah hamba yang lalai Ingatkanlah yang lupa Sebab masih memegang ego Masih menyibukan diri Di kekuasaan Di meja hijau Di gedung senayan Di taman kampus Di pabrik-pabrik Di jalanan berliku Hanya pada-Mu meminta Hanya pada-Mu kebenaran puncak Sumber yang kekal Sebab yang tak bersebab Makassar Minggu, 31 Desember 2017 By: Djik22

REFLEKSI AKHIR TAHUN

Di penghujung bulan Diterpa badai Dilanda kesialan bertahan Dihujat mencuat bejat Dari politik Dari cinta Dari kehidupan Berkisahkan kebenaran Berkisahkan keakraban Tapi tak semua kutemui Tak semua kulalui Inikah petanda buruk? Teruslah belajar Teruslah setia Atau diam dalam ketertindasan Diam dikatakan salah Bergerak dikatakan pemberontak Bergerak dengan slogan Berpijak pada panji kebenaran Refleksi akhir tahun Bawalah kemorosotan Bawalah kegaduhan Biarkan kebaikan bertahan Biarkan kebenaran berlabu Sanggupkah meninggalkan kenangan? Perjuangan satu tahun Begitu melelahkan Begitu membuka pemikiran Bergelut di lapangan bebas Berperan dalam kebingaran Jayalah niatan tulus Railah cita Raihlah mimpi indah yang tertunda Ajaklah cahaya bersinar Ajaklah matahari Ajaklah air Ajaklah api Ajaklah angin Ajaklah udara Agar menyertai tiap hembusan napas Agar jadi penyeimbang Tetap berpijak pada tanah Dengan kepercayaan tekad Makassar Minggu, 31 De

PACAR PERJUANGAN

Lewat kata kutukan tiada henti Menyusuni baris berirama Menuliskan kemarahan Menuliskan kegelisahan Mengatur balutan berlembaga Mendewakan ajaran pertahanan Tampilan kerdil menghitam Keriting sedikit ikal Berkhaskan penyair kondang Mencocokan yang telah gugur Memberi julukan kepada yang hilang Entah dimana kuburnya Masih hidup atau dihidupkan Dibunuh atau dihilangkan Pacar perjuangan Garis tangan bertintakan emas Tiada hari tak menulis Bertemankan kertas Bersahabatkan pena Tangan yang bersemangat Semayamkan kedamaian Menegakan kemerataan Rindu-merindukan tak berakhir Di belakang berdiri berbisik Kapan romantis berduyun? Seolah belakang adalah nyawa Di kejauhan adalah materi Tidak Yang mulia Kerinduan segera terjawab Kegelisan segera terpenuhi Jangan gusar Jangan bosan dalam penungguan Akan datang masa Akan tiba kesempatan Seperti impian keadilan Seperti mimpikan kemakmuran Pacar perjuangan Jalanan adalah mainan terindah Alam raya adalah seko

SAJAKKU TELAH DIBACAKAN

Tanahmu adalah keramat Rahimu adalah pengabdi Di dekat gunung Kediaman membangun berlindung Lautnya biru Gelombang memainkan suara Dari tampak kejauhan Tatapanmu memukau Dalamnya sajak Dalamnya makna Berselubung membunuh Seperti julukan pulaumu Yang haus air mata darah Yang menelan banyak luka Yang menggores banyak duka Sajakku telah dibacakan Sajak bertuliskan keresahan Dalam gambaran kutukan Bukan menolak ampun Bukan meminta sembah Sedikit rasa gerogimu Berlutut Di hadapan mata Di hadapan tuan pemilik Menyaksi bergembira Menepukan tangan Melihat tampilanmu Pakianmu adalah modern Baju merah bersemangat Celana hitam kedalaman Menutup tubuh juang Menutup pemberani hawa Sajakku telah dibacakan Bacakanlah pada tuanmu Bacakanlah pada alammu Kabarkan ke mereka Tentang kepulangan Tentang pengabdian Tentang penghargaan Saat akan tiba Gandengan menguat Bertambahnya keadilan Suara yang tak terdengar Hadir dalam berdahak Hanya menatapi Tak kusa

MENGINGAT

Petir mengamuk dengan derasnya Guyuran air hujan membanjiri Membias masuk Lewati jendela menuju dinding Basahi tubuh Sedikit kaget kedinginan Tangan sementara membawa mimpi Mengobati luka Memberi semangat Lukanya tentang luka lama Terbuat dari kejauhan Badan pegal mendengar petir Mengolesi minyak tak mempan Merasai madu begitu pahit Kemana lagi harus dicari? Itulah peringatan Itulah cobaan Jangan takut Jangan luntur semangat Luruskanlah niat Kesakitan begitu nikmat Di dalam kamar neraka Ulu hati membara Menembusi tulang belakang Tak mempan mengoles air Tak mempan mengoles minyak Mengingat Apa yang salah? Inikah derita menuju kematian Inikah akhir kegembiraan? Pada hubungan sanak Pada para leluhur Pada pejuang Semua telah dimintai restu Sampai dimana mengingat? Yang terbaca terlupakan Biar diulang Biar dibolak dibalik Kembalilah penyembuhan Dengan keyakinan keadilan Dengan kepercayaan pada Pencipta Jangan lupakan ajaran Jangan lupakan tek

ASYIKNYA PENGASINGAN

Keramat rayanya alam Dibacakan doa bermulia Bak bacaan doa pewaris Dilantunkan mantra Ditambahkan kekuatan gaib Dalam sangkar objektif Dalam stigma subjektif Sambil melantunkan lagu Dayunya suara Terdengar menyejukan perasaan Pada awal hembusan Bertambah panjang Kemarahan Keresahan mulai tampak Dengan muka memerah Mata melotot Diangkat dicelupkan Dalam comberan dalam Menelan sisa kotoran Menghirup bau tak sedap Ditinggalkan Diasingkan dari keramaian Asyiknya pengasingan Dicurigai Dituduh membelok Ditambah bumbu bicara Artikulasi meyakinkan Mimik yang meyakinkan Suara gagap berima Diasingkan dari kolega Hanya perasaan Praduga tak berbukti Terus lancarkan fitnah Buanglah Tinggallah gemerlap gelap Cahaya mengotori Lama kelamaan terpencar Maukah kesatuan mengecil? Menikmati pengasingan Ada ragam kenangan Dari belakang berbisik Sampai di liang kubur Setia ini bersama Yakin ini bersahabat Kendorkanlah tali sangka Lapangkanlah tali cahaya Pupuk dalam menggema Makassar Jumat, 29 Desemb

RAKYAT MENAGI

Dengungan perubahan Terus bergelora kampanye Jargon mengikuti zaman Akar rumput didagangkan Perluas jaringan basis Jualan diperlancar memanipulasi Tempat diperhimpit memahal bayaran Mahasiswa dimanjakan berdandan Gerakan yang momentum Satu bergema Trisakti Yang lain menuntut korupsi Sisanya jadi penonton pertandingan Laga yang mengerikan Memakan korban penembakan Memakan korban pengejaran Siapa lagi yang jadi dalang? Saat Trisakti digelorakan Nawacita membumi Rakyat ditakluk blusukan Nawacita atau duka cita? Kalangan pelopor menagi Akar rumput menagi Buruh menuntut Kapan terjawab? Resah penindasan dalil Angkutan dipersempit ruas jalan Dipenuhi mobil kemewahan Hasil produk menggila Jalankan usaha bisnis Dimana pelopor berpijak? Kalau rakyat menagi Percayakah janji politisi? Ini lahir pemikiran Positif negatif Rakyat menagi Terjawabkah di tahun baru? Semua umbaran Semua janji Gerakan terus dimasifkan Strategi terus diperbaharui Kekuatan pe

TENTANG CERITA SEDERHANA (Bagian 1-4)

Bagian 1 Akhir Bulan Desember Lama telah kuuikir pena kanfasku. Tiap balutan kertas, bercakan tembok, dan ukiran bersenjata yang bersemayam dalam takdir tanganku. Seolah tangan ini tidak ada hentinya terus menggores: kisahmu, kisahku, dan kisah mereka. Kupadukan dalam larutan bermakna menuai asa dalam bayangan wajah. Seperti sandaranmu padaku saat di ranjang bersobek. Berbisik "Jagalah diriku, hari ini sampai kelak", nyatanya ingatanku masih normal dikuasai oleh napsu sedikit nakal. Pembaringanmu di bahu kiriku, ialah bak roh penembak tembakan menggores. Bila di kejauhan selalu merindu merinding berlarut sakitnya tenggorokan. Sambil kau oles dengan garam dan meminum air hangat yang di cok pada dispenser. Airnya hangat menyengatkan, menghilangkan suntuk, menghilangkan obatan terlarang dalam tubuhmu. Larangan telah kau langgar, nasihat telah kau abaikan. Begitu juga musibah yang menimpa kemalangan diriku. Tentang cerita sederhana: akhir bulan Desember. Darah dan memar,

DEMOKRASI PENANDA

Carut-marut percaturan Langkahnya pion dibidik Di meja hitam bergaris putih Berangkulan bersila membahana Senyum sinis Mengais cemilan tersisa Sambil mengeduk alkohol Hilangkan kejujuran Satukan pandangan bermanipulasi Biarkan saja Rakyat miskin Rakyat terlantar tercecer Itu sebab kemalasan Itu sebab banyak bicara Demokrasi penanda Dari rakyat untuk rakyat Berganti koruptor Berganti baju tahanan Menambah perbudakan politik Raut tak malu Badan tegar Muncul berganti di layar kaca Itulah wajah demokrasi Inilah wajah penegak Inilah wajah alat negara Terkadang rela mati Terkadang mematikan Bukan musuh Bukan lawan Tapi rakyat sendiri Demokrasi penanda Gagasan dulu digali Para pendiri bangsa Berjuang relakan tenaga Berat ya menjaganya? Dengan pikiran murni Dengan strategi kedewasaan Ini zaman duit Dengan uang jalan mulus Dengan menipu jalan lancar Menambah koruptor Membiarkan maling berdasi Tegakanlah demokrasi sejati Rakyat bukan mainan Jeba

DISELIMUTI KERAGUAN

Badai hampir berakhir Mengganggu pikiran Bergentayangan datang bertanya Kapan berlalu? Pertanyaan berduyun berbondong Tapi tawar tanpa ragu Dari jarak kejauhan Antara langit dan bumi Antara pulau timur dan barat Matahari terbit dan terbenam Muncullah bayangan Lewati durasi pertanyaan Bolehkah sebagian tanyamu takku jawab? Sepertinya roh tulisan Bermakna bersembunyi kata Gambarkan keluhmu Gambarkan badaimu Gambarkan dukamu Sepuluh terakhir Tanya dayu mendalam Bahasa hati Sedikit susah menjawab Berawal tanyaku teringat Langkah ke depan Tetap maju melaju Melangkah karena manis Di depan menanti Pulau keindahan alam Dihiasi lukisan keramat Peninggalan purba Entah siapa yang melukis Banyak patahan kata Sesaki hari berganti Membungkus ragu Malu tapi mau Terlalu cepat datangmu Seolah lama mengenal Menanti Menunggu merdumu Bahagia singgahmu terbatas Alur ini diselimuti keraguan Telah hadir mengukir cerita Perkenalan yang manis Jangan habis dim

TAKDIR PERLAWANAN

Pengajaran bergentayangan malu Mimpi yang belum tersampai Terus mengejar bayangan Dalam keadaan berdesakan Dalam kondisi penyakit hati Sebagai manusia sederhana Yang bisa melanjutkan perjuangan Dari jalanan menuju politisi Masihkah takut? Kondisi tubuh menyerang kesehatan Badan melemah lesu Seperti pengejaran berbedil Pada perburuan mangsa yang nakal Pada keadilan yang menipu Pada pundak harimau yang kelaparan Yang tak tega memakan anaknya Yang ganas beringas batas Takdir perlawanan Ceritanya berbelit berputar Kumalai dari hujan bulan Juni Peristiwa kehujanan berputus asa Menjalani tanamkan bersama Tapi tercapaikah mimpi? Bertanyaku pada ayam jantan dari timur Julukan kampus Unhas Tempat bercerita kritis Proses melawan tirani bersanding Cerita ini tetap berlanjut Kutambahkan dua jadi angka genap Seperti Desember berangkakan satu dua Inilah bulan pembelaan Nyawa kurelakan membela nelayan Nyawa kuikhlaskan membela petani di perkamungan Tapi... Di

BERALIH KEBINGUNGAN

Berhijau hunian pertemuan Tempat pertemuan berkesan Tempat yang mengingatkan Membawa ke alam mimpi Menemui kerajaan Menemui raja dan ratu Istana yang megah Istana yang indah berseri-berseri Berjalan di sekitaran halaman Tatapan sederhana kesopanan Sejauh memandang Sejauh topi terbalut di kepala Dari raut yang bahagia Tersembunyi gelisah Saat mengitari jalan setapak Memberi kesempatan Belum dirasai ketika harus memilih Ditakuti malu kecuekkan Mulai hilang kepercayaan Mulai terbang pergi kenangan Nantikanlah kedatangan Nantikanlah penakluk baru Menyambut kegembiraan baru Ada yang datang Ada yang menghampiri Inilah kebingungan Berhenti atau bertahan Berilah petunjuk Lewat warna memerah Lewat kehitaman rasa mendalam Makassar Rabu, 27 Desember 2017 By: Djik22

SAJAK MERAH DAN BIRU

Enam belas tahun lalu Berlalu dalam sejarah Penuh perdebatan bijak Berdampingan kepala memikirkan Lewati tahun berganti bulan Lewati minggu berganti hari Lewati menit berganti detik Oh...ibu Dalam nyawa abstrakmu Dalam haru keganasan kota Angin Mamiri nan ribut Udara kadang panas mendingin Pertahanannmu begitu apik Perjuanganmu dimaknai anggota Kutulis sajak ini Kunamai sajak merah dan biru Kugenggam erat setiap makna Dari setiap warna ibu... Di dada sloganmu Di apit selendang pengikat Perekat persatuan tetap terikat Bertuliskan nama akronimmu ibu Sajak merah dan biru Lahirmu bertanda bulan perjuangan Seperti saat republik ini didirikan Pernah dinakhodai perempuan Itulah kebenaran kearifan lokal Bukan hanya tentang merah dan biru Merahmu melambangkan perjuangan Birumu melambangkan kedalaman pengetahuan Putihmu melambangkan kesucian ketulusan Hitammu melambangkan kedalaman hati Dahimu dihiasi parang dan tombak Buku dan pena selendang pengikat Be

KEJAMNYA BARA KEHIDUPAN

Hidup gemerlap penuh kesakitan Penuh kepahitan mengecam mati rasa Penuh kekesalan keluh Keluargaku dihina Saat detik nadi tak berputar Meminta mengintai menengok Kepada sanak terdekat Kepada orang yang terdekat Kepada orang yang kupercayai Tapi kuraih cemooh pongah Bagaimana rasanya tak punya ayah? Telah lama pergi ke panggilan Telah berdiam di pembaringan Ah... Kumerindukan sosokmu ayah Kenapa ayah berlarut? Kenapa ayah meninggalkan kehangatan? Darah anakmu masih berharap Darah mengering menyerang sakit mengurus Kejamnya bara kehidupan Keberatan hasrat dipojokan dipikul Bermimpi telah kutanam Di tanah perantauan Dengan kemandirian kuusaha Dengan kesedihan membadai Pada gelombang deras Pada pelaut ulung menjelajah Ayah... Dimana tempatmu? Surgakah menimpah Nerakakah pembenci Lekaslah doaku diterima Lekaslah kutemui di alam firdaus Kejamnya kehidupan Kenapa mereka bahagia? Kenapa saudaraku sederhana? Inikah suratan gairah tangan Inilah takdir

TUNAS DI BATAS PERKAMPUNGAN

Terpaan musim hujan Membuat kedinginan sekucuran tubuh Rumah warga Penghuni yang setia bertahan Inilah musim hujan Inilah tanda kecintaan leluhur Inilah kecintaan tanah perkampungan Lahirkan generasi Wariskan api semangat pengabdian Tunas di batas perkampungan Masikah percaya sabda perubahan? Masihakah percaya kemajuan? Masihkah menghargai pucuk nakhoda? Jiwamu diciptakan dari gemohin Ragamu diracik dari kegigihan Jangan siakan masa mudamu Jangan menyalahkan keadaan Inilah wajah perkampungan Inilah wajah ibu kedinginan Di atas tanah ini Kurasai gemetaran badan Dihempas ditiup angin malam Masikah sibuk mainkan gitarmu? Janganlah jangan bangga Bila berdiam diri Perkampungan perlu pengabdian Entah pemuda Entah pemudi Kitalah tunas harapan Kitalah anak lewotana Mainkanlah gitarmu berlantun gairah Kuciklah sekeras semangat leluhur Hantamkan gemuruh suaramu Ajaklah yang lain Berbuat baik merubah Atau sibuk bermusuhan? Hei pemuda bergandeng pemudi J

IKRAR PELANGGARAN

Atas nama Tuhan Atas nama keyakinan Pertegas dalam kepercayaan Berhadapan dalam tempat berdoa Kembali mengingat Kata-kata memanis Kepercayaan yang dicurigai Meraih menggenggam Sebatas manis di bibir Tak menyukai senyuman Tak menginginkan kecupan Berharap pengertian Berharap penjagaan Banyak yang ditinggalkan Di leher Di bibir Di dada yang berbelahan Bukan tentang romantika Bukan cerita tentang tabu Ia hanya sebatas luka Ia hanya kenangan berduri Jangan lagi berikrar Jangan lagi berjanji Hilangkan tatapan menilai Memalukan bila menjawab Kenapa diri dikotori? Sedangkan semua belum ternoda Percayalah Yakinlah jangan setengah-setengah Yakinlah jangan menyiakan Tujuannya begitu mulia Merelakan nyawa Merelakan tenaga bermalam Dengan segala tumpahan Ikrar pelanggaran Jagalah selama bernapas Jagalah selama masih kesatuan Takut ditinggal Takut dipermainkan Semua telah jadi milik Maukah mendekap? Maukah memberi nyaman? Inilah ikrar Inilah jan

AKULAH IBU BANGSA

Persembunyianku dibalik Tulisan mengganas bersembunyi Pada tembok Pada bacaan merayu Pada lembaran kusam Pada komunikasi berlatar manja Medanku berilalang berbukit Memanjat meminta restu Di atas bukit ketinggian tak terjangkau Kupaksakan langkah Kupaksakan kenangan pahit Akulah ibu bangsa Rahimku dari petarung Belulangku dari kotoran Pakianku dari kebudayaan bermartabat Terus... Kenapa aku jadi mainan? Kenapa aku dipermalukan? Diabaikan begitu mematikan Diterlantarkan kelaparan panjang Lampiaskanlah napsumu Lagukanlah kebohongan menyengat Balaslah dengan pengkhianatan Agar kujuluki si durhaka malang Generasi lupa pengorbanan Anak yang dikelilingi kemewahan Akulah ibu bangsa Rusukku tak sempurna Kekuatanku melemah Maukah generasiku mengobati? Saat-saat terakhir Saat maut menghadang Aku butuh keyakinan dari milikmu Dari lingkaranmu berwarna perjuangan Dari pengaguman perbedaan Maut telah mendekatiku Harapan terakhirku padamu Berbuatlah pada ke

PEREMPUAN JADI SANTAPAN

Bahasa klasik membahana Melambung terbawa teriakan Lewati ajang pesta petinggi Hampiri lalat pada tubuh berdasi Seri-seri pemutaran koalisi Di gedung meriah Di tempat penistaan dunia Di jalan tamaknya suara protes Di kendaraan mewah hasil merampok Inikah watak membudaya? Lelaki selalu mendominasi merangkak Perempuan jadi dagangan komoditi Yang selalu ditimpah ruang Yang selalu dihujat benci Yang selalu berlaku kaku Bangsa ini bukan milik lelaki Negara ini bukan khayal Bangsa ini bukan kisah pendongeng Lalu? Menutup mata bernostalgia Bertemu bidadari Meniduri kemolekan tubuh Berpolitik Perempuan dikebiri Berganti peran sistem pasar bebas Perempuan Ha...ha...ha... Jangan berharap banyak Inilah santapan Berserikatlah di kasur Sebab... Tubuh yang lemah Pihak yang kalah disalahkan Mudah ditaklukan Wajarkah perempuan bersekolah? Mengikuti tren kelas elit Meninggalkan budaya keaslian Tak berkarakter kewibawaan Sedangkan poligami kian berserakah

MIMPI PETARUNG TINTA BIRU

Gadis manja berkeras kepala Pejuang tangguh tanpa kenal lelah Berbalut kebiruan ketertarikan biru Meraih cita-cita impian Akulah calon kuli tinta Rela melayang nyawa tegak kebenaran Mendobrak merangkai kalimat Menyusun kata berbalut kritik Pada pangkuan saudaraku Pada kehangatan kedua orang tuaku Meraihnya atas apa yang jadi mimpi Petarung tinta biru Bersama keluarga Belajar menyungguh segala lini Ayah dan saudaraku sumber kekuatan Sisi burukku tak terkendali emosi Masih bergantung pada keluarga Karena akulah gadis Agustus Terkejut menimbang mencari solusi Aku benci bualan lelaki penggoda Aku berantas koruptor bertopeng Mimpi petarung tinta biru Adakah keadilan berselubung? Di negara para pedebah Di bumi nusantara menaruh sejarah Tak ada yang tak mungkin Tak ada yang berludah menyeberang Dalam lampiasan pengguna jalan Mengganggu kenyamanan pengemudi Jangan agungkan tanganmu Jangan menyombongkan harta Karena akulah kutukan Terlahir dari kesederhanaan Terdidik dari kedisiplinan

GETARAN PERMULAAN

Pemukulan yang diingat Kekejian yang disengaja Kepercayaan penuh dibuat-buat Sukses yang bisa membahagiakan orang-orang Mau jadi orang sukses? Bekerjalah sesuai profesi Yang berpenghasilan berkeringat halal Ketergantungan adalah tiap hamba Baik lelaki maupun perempuan Entah dia budak Entah dia anak jelata jalang Jangan takut getaran penguasa Masihkah serius berjalan? Bertahan terus merela Mengeluarkan air mata Mengeluarkan aliran darah Karena apa? Mungkin getaran Mungkin perasaan bahasa hati Penguasa itu bergetar Panglima itu egois Yang suka membuat tersinggung Biarpun mati jadi bangkai Biar buta pada keadaan Menghadapi yang aneh Dengan modus rupa-rupa Dengan cara yang beringas Perlakuan yang bernaungan kepentingan Lewat gelanggang politik Mencederai demokrasi Tanpa musyawarah mufakat Inikah keadilan? Menyukai warna hitam Abu-abu Merah maron Dan cokelat Bermakna berarti tersembunyi Masikah membekas? Saat kecupan kehangatan Ah... Sudah dibe

GERIMIS MENGAKHIRI DESEMBER

Kemarahan langit berkepanjangan Membasuh peluh punggawa Membasahi tokoh berkarismatik Terlarut langit meneriaki bising Sejuta pecahan beling bermutiara Seribu kenangan pahit berseri Sangkarnya berbelit memiluh Berterbangan angin sepoi mengecil Ada harapan menyandar Masih dapat terpatahkan Dibawa deru diri berduri Pahitnya bak rasai secangkir kopi Kutiduri malammu Kutelanjangi dalam terangnya ruang Terbangun lesu memucat Mencoret tumpahan dengan ukiran Gerimis mengakhiri Desember Cepatlah berlalu Tinggalkanlah kelikir bertusuk Seperti lebah menyengat mangsa Saat badai bulan ganjil Gerimis bertanda kesuburan Tetap ada yang menolak Tetap ada yang membenci Sebab berbunganya mawar baru Merahnya mawar berduri Menunggu undanganmu Menanti simpati setelah Desember Palsunya catatan berlatar hitam Kini berganti potret baru Beginilah kegersangan kening Ketika otak berlagak kaku Darimu oh Desember Telah menitipkan ilham Telah mengajari kekuatan Telah mend

DERU DI KEDINGINAN BUKIT

Angin membawa riak Menyampaikan salam berkalung selendang Suhu udara kedinginan Bernyanyikan burung-burung Bersiulan binatang malam Di perbatasan kesepian belukar Semak-semak pintu kulewati Berucap salam menunduk haru Deru di kedinginan bukit Bertebaran sinar bintang-gemintang Memberi napas panjang kehidupan Deru di kedinginan bukit Kusaksikan alammu yang subur Ditanami keanekaan bibit Tetap bersemayam anak penghuni Deru di kedinginan bukit Tersimpan karun berharta berlian Tak terjual bergadaikan nyawa Merinding tak kala dicabut Airnya mengalir berwarna keemasan Tumbalmu penuh kehormatan Mata darah perkokohnya alam Demi harga diri rahimmu Deru di kedinginan bukit Berabad mata menyaksi tajam Pandangan menerawang Merinding bulu kudukku Sembari gonggongan anjing menghitam Mengejar seolah musuh turun-temurun Padahal bertanda peristiwa Bertandanya mala petaka di perkampungan Baik nyawa atau dilahirkan Penuh serbuan mendapat jatah Deru di kedinginan bukit Suburnya tanahmu menanami poh

SENJA TAK MENGELUH

Akulah garuda yang terlupakan Dalam suara nyanyian Menjelma suara tak bermusik Berselip kulitku hitam Rambutku keriting Akulah Akhe Mimpiku tak sebesar menerbangnya rajawali Dan tak sekecil kupu-kupu Yang terbang melupakan sangkar Teman mainku Pendatang bersetianya lilin Terkadang galakku Jikalau dipeluk dipegang Saat ibu meninggalkanku tiga bulan Saat Ayah melepaskan tanggung jawab Akulah senja tak mengeluh Tolakanku pada majunya zaman Tak biasa berirama Lamanya penyesuaian keakraban Tapi aku tak mengeluh Tapi aku tak patah-arang Menunggu bertumbuh Menjaganya makhota kepala Sebab curahan Sudahku tak percaya Sahabat telah jadi pengkhianat Menikam dalam sukma Sahabat penusuk dekam Bawalah lari jauh Sebab akulah bekas Akulah tempat penodaan Dengan tak malumu bergandeng Kuteriaki pada langit Jiwaku lebih kuat berdahaga Mata tetap melebar meluas Pendengaran membawa ke lautan Penerimaanku pada senyuman Jalanku adalah semangat Tubuhku adalah ce

MENGENANG PEMBARINGAN

Empat tahun lalu Semua mata berkaca haru Memanggil menyapa luka Di pembaringan kaku Teringat sekali Tahun berganti Desember terus berganti Empat tahun kisah itu Penyebrangan meraih ilmu Pulau jawa jadi tanah rantau Mungil belia lugu Sakitnya tak jelas Suara hilang mengeras Leher membesar membekas Mulai berhenti bernapas Disapa Fransiska Jawa Corebima Tenanglah di alam sana Di sini terpanjat doa Jadilah penguat Jadilah penyemangat Hadirlah setiap mimpi Walau tak bertemu lagi Mengenangi Mengasihi Bersyukur mereka yang hidup Berbahagia mereka yang lahap Perlu mensyukuri tanpa ratap Apalagi dengan mata tertutup Mengikhlaskan arwah Jadilah penuntun arah Ridhoi cita meraih Dalam cinta kasih Makassar Selasa, 19 Desember 2017 By: Djik22

SEMBOYAN SANG BUNDA

Kaulah petarung ulung Dari dalam rahim Kubisikan kalimat nan indah Kata bermakna menguatkan Generasi harapan bangsa Kelak berperang dengan sehat Bukan senjata Bukan dengan kontak fisik Perlawananku Kumulai dari pembuahan Bersemedi pada alam Di bawah kolong langit Pada musim kemarau menancap Saat darah berganti air Saat nyawa berganti kemenangan Masihkah jadi nyawa pelanjut? Apabila kelak besarmu Tolaklah dengan pikiran Rawatlah dengan kebijakan Jangan hunuskan lagi Pedang kebanggaanmu perkasa Turunkanlah tak kala genting Saat penyerangan mendadak Bergunakah didikan kekerasan? Yakinku Akan mencipta kemalasan Akan menjelma kebosanan Akan menarik kebencian Ingatlah saat di tanah Di liangmu Di seberang pulau Dari tanah awal bermula Kembalimupun ke tanah Semua tak kotor Semua perlu dihormati Makassar Selasa, 19 Desember 2017 By: Djik22

KUAKUI TANPA KEMUNAFIKAN

Aku suka Setiap kisahmu Setiap perjalanan hidup Mengurai dalam lewat kata Tiba-tiba Hentakan kalimat yang dingin Aku akui tanpa kemunafikan Semua tulisanmu Semua yang dikisahkan Aku ingin jadi pembaca setiamu Lalu muncullah Seninya orang sastra Setiap kata punya makna Setiap pujian ada hinaan Untuk kali ini Tidak ada hinaan Hatiku bergetar Hatimu bergetar Berkisah tentang masa lalu Bercerita dari keterbukaan Sampai kata pahit Menampar lalu pergi Lebih baik jauhi diriku Biar kubakar sejarahmu Kalau jujur Teringatkah masa lalu? Ha...ha...ha.. Sudah lupakan yang ini Gantilah yang baru Kukaji katamu Begitupun sebaliknya Dalam malam Sajak tak bertuan Permulaan tanpa sapa Samakan kisahku Satukan kisahmu Biar tetap hidup Biar tetap jadi tinta Kuakui tanpa kemunafikan Darimu inspirasi mengaya Darimu kutemukan asa Semua adalah permulaan Makassar Senin, 18 Desember 2017 By: Djik22

GADIS PELAWAN KANKER

Lahir dari rahim tani Tak mengenal ibu Hanya mengenal ayah Kemana ibu pergi? Menjawab dengan linang Sambil tangan mengelus pipi Di pelosok Nusa Tenggara Barat Di ruang gelap Tetap nyaman dalam kesakitan Berteman ruang dekam Usia belia seharusnya Bahagia bersama keluarga Namun nasib berkehendak lain Musibah yang melanda Dari kejauhan Air mata mengalir Menyaksi pada gambar Menyaksi pada kronologi Inilah kisah kehidupan Saat usia tiga belas tahun Disapa dengan Yati Apriati Setahun lalu Kanker mata menyerang Tak menyerah melawan Dengan kuat ayah mengasihi Bagaimana cara memanggil ibu? Bila sejak kecil Meninggalkan rumah Entah apa salah Gadis pelawan kanker Cepatlah sembuh Lekaslah membantu ayah Sapulah mata binar ayah Kenapa takdir menimpa? Inilah kuasa Tuhan Tegakah ibu melihat? Atau sengaja buta? Seolah hidup tak adil Sekian cobaan menerjang Panjangkanlah nafas Kuatkanlah tenaga PadaMu harapan akhir Dengan segala usaha Dengan segal

RAKUSNYA KECERDASAN

Beragam pemikiran berlian Penuh warna berarti Bermakna tiap penjabaran Inilah keberagaman Merahanya memerah Putihnya memutih Hitamnya menghitam Hijaunya menghijau Kuningnya adalah cahaya Semua adalah pembeda Tapi bukan membuat sekat Semua adalah tiang Tapi bukan perbudakan Jangan ada pengakuan Kalau berbuat saja jarang Berbuat saja takut Lantaskah kecerdasan berlian Lucutan demi lucutan Hadirlah Setiap yang membutuhkan Jangan menunggu momentum Jangan membalas dendam Jangan merasa hebat Semua pada taraf Semua pada proses pembelajaran Rakusnya kecerdasan Ilmu jadi dagangan Pengetahuan hanya alat Demi apa? Menipu generasi penerus Sudahi saja kebencian Sudahi segala buruk Gantilah dengan persaudaraan Yakinlah sambil berusaha Atau cerdas butuh usia? Yang kakak Cintailah adik mungil Yang adik Hargailah sang kakak Jangan kakak menindas Jangan melenceng marwah Sebab adik bukan dungu Berilah ruang Berilah kesempatan Sama-sama dalam budaya

PENYEMANGAT

Penderita dukanya rakyat Lantang suara bergemuruh Di kala terik Di kala memanas Di kala dingin menggerogoti Ingin sandaran memukau Tak berharap memulai Hanya ingin Getar memarah bercerita Beri pembelaan Beri kehangatan Tangan ini Jiwa ini Terus menggores lesu Suara berbisik membaca Meletakan paha Berikan sedikit bersandar Sambil menyusun untaian kata Kapan penaklukan berakhir? Bila hanya memberi harap Kapan memulai? Menanti hari berganti minggu Jangan ajak terus bermimpi Jangan ajak larut memalsu Yang diinginkan kesedihan Yang diharap keterbukaan Dari sayapnya keringat Mata lampionnya bersayup Raut paras memerah Sedih gagapnya bertutur Cintanya cinta Dengan cinta bersama massa Hadirlah di setiap keheningan Kuatkanlah kepal sayap berharap Atas cinta Dada tak sesak Marilah memberi terang Sebab Julukan perjuangan Ialah aktivis Makassar Sabtu, 16 Desember 2017 By: Djik22

KEBERSAMAAN PALSU

Bicaranya melambung awan Berwarna kegelapan pekat Di rerintik tetesan membias Mengenai tubuh kedinginan Menahan diri Sambil memainkan gitar Bicaranya kebersamaan Kebersamaan pecah-belah? Pupuklah dengan hati Pupuklah dengan tindakan Jangan terus bicara berbusa Jangan terus perbanyak konsep Toh...satupun nihil Ha...ha... tamu Jadi tuan rumah Tuan rumah jadi tamu Berselingkuh kebersamaan palsu Napak tilas Pernah ditampar dihujat Dilecehkan diasingkan Masihkah punya rasa? Kebersamaan buatan Kebersamaan berkepentingan Maka bertahan sesaat Maka berlagak mondar-mandir Untuk siapa kebersamaan? Lelakikah Perempuankah Si tuakah Atau si muda Masih penuh ambigu Cepat temukan penerang Nyalakan dengan batin Ikutilah dengan barisan Jangan mengikut si tua Sebab penggerak Mudah berganti wajah Takut jebakan Takut digiring melebur Benteng Somba Opu Jumat, 15 Desember 2017 By: Djik22

MAJUNYA ZAMAN BERPIKIRNYA MUNDUR

Mimpi setinggi melangit Meraihnya harap Tertoreh lahap-perlahan Generasi milineal Peradaban kemajuan memudah Instan Siap saji Tak butuh tenaga Tak kuras dahi Tak mengkerut banyak Sisanya jiplak Sebagian menitih bermandiri Inikah penerus bangsa? Maukah dipermainkan? Berjiwalah muda Bersemangat baja Berpikirlah melebar Analisislah setajam busur Biar ke dalam luka Dasarnya ilmu Akarnya pengetahuan objektif Masalah ketimpangan Duka melanda bangsa Buat apa diperjuangkan? Bagaimana berjuang? Hanya berpikir saja malas Menuakan diri mengungkung Tak melebar bergandeng Membela merawat sekitar Lewat otak Lewat tindakanlah pengabdian Berdampakah generasi? Majunya zaman Mundurnya berpikir Selaraskanlah mata kail Dapatilah pancingan Senangnya berhura-hura Bukan larangan Sedikitlah bertenaga Bangsa ini Butuh jiwa muda Butuh kaum muda Makassar Jumat, 15 Desember 2017 By: Djik22

MENGEMIS DI NEGERI KAYA

Berdirinya republik Dari masa perlawanan Menuju zaman proklamasi Beralih tangan besi Fase kegemilangan nan elok Berkumandang dambaan Namanya tersohor mendunia Jadi ketakutan kala genting Entah sudah berapa yang gugur Rimba semak pembuangan Sisa belulang menuai nama Di kemudian sedikit terkuak Di lautan Di jeruji berterali besi Di bebatuan menumpuk Itulah kisah mengerikan Yang muda Yang tua Inilah mata logam Tak saling melepas tepis Kaya isi perut membuai Jadi bidikan berdatangan Katanya negeri kaya Melonjak penghuni berdesir Sebab apa? Semua saling bersembunyi Mencari benar Menutup salah sedikit rapi Mengemis di negeri kaya Wajarkah rakyat miskin? Dari perut bunda Piutang telah tertera Siapa yang menanggung? Bertanya setiap yang sadar Cukupilah pendidikan Lestarilah budaya Jaminlah kesehatan Mandirilah berekonomi Jujurlah berpolitik Mampukah terpenuhi? Mendukungkah sistem? Ajaklah seksama Ajari azimat bermusyawarah Gendonglah Dalamnya bergotong-royong Maka lahirlah? Penuh

PEJUANG YANG TERLUPAKAN

Tragisnya kisah silam Pertumpahan demi pertumpahan Darah membanjiri Tanah pertiwi tercinta Lucutan senjata merobek Tak gentar tak takut Patriotisme Nasionalis yang utuh Demi mempertahankan kemerdekaan Untuk siapa bila merdeka? Pejuang yang terlupakan Catatan juang jadi hangus Termakan waktu Terbakar cemburu sosial Perjuangan dibayar nyawa Keringat air mata Desik kemilau peperangan Hingga tak kenal takut Senja keramaian Jadi saksi Julukan pahlawan Telah berubah Sebab negara tetap merdeka Saatnya penghormatan Saatnya belajar dari sejarah Perlu pelurusan analisis Hormat atas jasa terobosan Dengan tulus Generasi penerus ada Maukah hidupmu diabaikan Saatnya negara membuka mata Makassar Kamis, 14 Desember 2017 By: Djik22