Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Betulkah Aku Barang Dagangan? (126)

Tak puas disiksa Di ranjang diganas paras Tubuhku... Hanya dicicipi Aku jadi... Lahan basah berdesah Demi napsu Gerogoti uang germo Padahal... Aku butuh perlindungan Yang katanya... Sebagai dua sayap pasang Lelaki adalah kawanku Tapi banyak juga... Manfaatkan momen Sandar perlahan lalu olesi Betulkah aku ditindas? Kenapa perempuan didagangkan? Terlalu kejam menusuk Durinya menjara... Nasib kaumku Mata dunia memandang Kepala tunduk beri hormat Kalau aku... Adalah separuh stamina lembut Maukah aku dilindungi? Biar pemerkosaan... Diberantas perlahan Makassar Rabu, 28 Februari 2018 Djik22

Perempuan Ditekan Brutal (125)

Seksi menawar mata Membuat rayu memuji Ada yang menggoda Melirik mengabari tanda Tubuhku... Lelaki mata elang menikam Kau kotori badan Kau goyang tubuhku Lalu... Kau pergi dengan senyum Rakusnya para lelaki Hanya berkoar basi bahasa Padahal... Ada maksud berselubung Akulah perempuan ditekan brutal Di bidang politik Tenagaku dipandang... Cengeng sebelah mata Lantas dimana setara? Dimana negara sebagai pelindung? Ah... Negara mulai melepas tangan Segala macam rayu Pernah kurasai usia Atas nama cinta Kata mereka Bagiku ini obralan murah Kalau benar Kenapa aku dibuli? Kenapa saudaraku dieliminasi? Seolah... Harga diri sebatas... Perawan atau bukan Jangan lagi... Bermanis bahasa basi Hei lelaki... Wahai sekalian semua Dengarlah seksama Aku bukan barang dagangan Mulutku bukan politisi Rayuku bukan calon dewan Tapi... Akulah perempuan berani Hargailah... Aku adalah ibumu Akulah penunjuk jalan Mari... Berjuang bergandeng Makassar Rabu, 28 Februari 2018 Djik22

Kisah Anak yang Dilupakan (124)

Kau larangku menangis, kau pintaku jangan mengeluh. Semua telah kupenuhi, sebab kau didikku saat bangsa ini sedang dilanda krisi ekonomi. Sama kondisi serupa menimpa raga layuku. "Jangan menangis, jangan malas" Itulah pesanmu untuk kuhabiskan hidup. Bagaimana bangsa ini bisa dirubah? Kalau anak-anak diserang busung lapar? Kenapa aku yang berkulit hitam selalu jadi bahan olokan? Rambutku hitam sama seperti ampasnya kopi yang kau keduk di sore hari hilangkan penatmu. Rambutku keriting menyamai jalan likumu. Jalanan panjang telah kau lalui sebagai pejuang ulung di daerah yang bukan tempat lahirmu. Baru amanah telah disandarkan dengan sedikit sopan berkedok hubungan keluarga. Bila kaulah pejuang sejati, maka ada darah juang yang mengalir di ragaku. Ketika kau gabungkan aku dengan kesucian dan amanat kotor. Nah... saat ini, berdiriku dengan tegar. Kau gabungkan aku dengan lentik jemari dan hidung mancung saat busur dan tombak ditusak patah di dada kirimu. Protes tak terbat

Pertiwi Dibohongi (123)

Rahim purba Alam para pejuang Relakan nyawa Kuras tenaga menahan dahaga Pertiwi mulai dirayu Ditawar harga... Jadi jual-beli Didagangkan mendunia Kenapa pertiwi diganggu? Kemana anak bangsa? Yang katanya progresif Yang mau melindungi bunda? Ternyata... Anak bangsa lebih kejam Suka memangsa Bermain nikung rebut makan Pada piring nusantara bersih Tikus berdasi keliaran Dari desa ke kota Bicara lantang menggema Tapi nihil setelah angkat sumpah Pertiwi dilanda badai Indonesia didesain rapi Seolah aman-aman saja Lihatlah saudara... Menolehlah kawan... Maka akan kita temukan Siapa sebenarnya penjahat? Yang mengatur urat nadi nusa Semoga bukan hanya doa Ekonomi dirampok berduyun Politik bualan penuh caci Hukum berdiri memihak Pendidikan mahal melanda Untuk siapa pertiwi ini ada? Untuk pengusaha? Atau raja-raja singa yang lapar? Bila pertiwi bisa bertutur Maka sudah lama mengeluh Makassar Selasa, 27 Februari 2018 By: Djik22

Rindu Bertemu (122)

Kemarin kuantar Hari ini... Kujemput dengan  sepeda buntut Yang hitamkan kilat Rindu bertemu Ingin terus menatap Saat lamunan berubah Sedihku jadi bahagia Pada jarak Kau malu mengabari Takut menggangguku Kukira tak ada masalah Mengapa harus rindu? Mengapa ada pertemuan? Kau ingatkanku Pada durhaka pemerkosa Di bawah pohon kelapa Daunnya melambai meminta rayu Rindulah pada penderitaan Bertemulah sama kaum miskin Biar kau dan aku Menikmati perjungan malam Atau kau lebih memilihku? Lalu takut berjuang? Tanjung Bunga Selasa, 27 Februari 2018 By: Djik22

Suara Tanya (121)

Suara malam Diganggu gugat pengguna Dengan congkak ala modern Lewati penerang Berbaur remang-remang Kunikmati setiap letih Kuhargai sepak juang Tapi janganlah... Lupa pada pejalan kaki Sambil duduk Di emperan jalan Kutanya pada malam Kumemuji bulan yang gelap Malam tak bercahaya bintang Bahkan danau biru... Dengan tenang menggoda Para pencari hasil air Saat ini Kau temaniku bernapas Coretkan jemari Berganti layar mungil Kenapa suara terus berbising? Dimana kedaimaian kota? Tanjung Bunga Selasa, 27 Februari 2018 By: Djik22

Negara Neraka (120)

Hutan suburku ditebang Laut biruku dilacuri Mengambil mutiara berwarna Tanah luasku digusur Demi perintah pemodal Hei kau durhaka berdasi Bukankah janjimu berlantun sopan? Kenapa setelah kau naik... Yang diterima omong kosong Pahlawan akan menangis Pendiri bangsa turut berduka Lantaran anak cucu... Begitu nakal mengusik Kemana hasil alamku dibawa? Lantas... Kenapa harus dikirim ke luar negeri? Ah... Katanya Indonesia kaya Surga dunia belahan negara Tapi lihatlah sekarang Indonesia tak jauh beda... Dengan neraka Penipu tumbuh subur Kebenaran disalahkan Kesalahan fatal dibenarkan Maukah terus digilas? Beranikah rela taruhkan nyawa? Makassar Selasa, 27 Februari 2018 By: Djik22

Maling Berganti Rupa (119)

Indonesia sedang dikuasai Bukan hanya Cina Amerika tak tinggal diam Diperparah... Para pelacur bangsa sendiri Nehaga dicicipi saham Bawa pergi hasil alam Atas nama ekonomi Hasilnya manipulasi Korupsi dipelihara Maling teriak maling Yang mencuri uang rakyat Yang brutal tamak napsu Maling berganti rupa Reformasi masih ngambang Pemain lama dilengser Rombak tahta yang muda naik Apa hukuman yang pantas? Dengan uang menutup mulut Atau teror hilangkan nyawa Negeri ngeri tertati Tuan berdasi sibuk... Tebar pesona menawan Lantas siapa yang salah? Bila hukum dijualbelikan? Ketika pasal jadi pasar Saat sidang hanya syarat Maukah pelihara maling? Atau bergandeng melawan? Makassar Selasa, 27 Februari 2018 By: Djik22

Berjuang dengan Riang (118)

Aku dari sini Tanah yang kau pijak Air yang sejuk mengalir Api semangat memancing memantik Berjuang dengan riang Arungi sama ampas napas Biar terengah sesak Mencoret dengan antusias Untuk apa berjuang? Mengapa berjuang? Relalah nyawa kucuri keringat Sambil bernyanyi mengutuk Ketika aku sadar Berjuang adalah pilihan Sebab... Kuhabiskan dengan api juang Pada siapa bergandeng? Apakah bersama rakyat? Kaum miskin, rakyat jelata Bahkan yang dipinggirkan Berjuanglah selama tegar Hunuslah senjata kata Lebih baik... Menanam sejarah Dari pada... Sebatas penikmat buta analisis Maukah kau berjuang kawan? Atau kau takut mati muda? Makassar Selasa, 27 Februari 2018 By: Djik22

Mati di Ujung Tombak (116)

Getir hidup memudar Gelisah berseri meniru Hidup yang tak berujung Kisah tragis tiada lupa Matiku di ujung tombak Darah aliri ujung pedang Parang dan tombak Simbol mahakuat Saudara jadi lawan Keluarga berpecah-belah Oh...dunia tua mendua Perang tanding tak usai Kapan perang berakhir? Di tanah gunung Dikelilingi bukit Pepohonan rupa tumbuh layu Bila di ujung pedang... Adalah kematian Meraih kebenaran Maka... Boleh aku meminta sabar? Ternyata tak bisa ditawar Jika musyawarah mufakat... Jadi lambang sepakat Maukah mati di ujung pedang? Atau memilih darah mengering? Makassar Selasa, 27 Februari 2018 By: Djik22

Berdarah di Ujung Pedang (115)

Hitam yang diwariskan Angkatan muda harus berani Dalam keadaan apa pun Di tanah perantauan Akulah anak nakal Masa kecil kuhabiskan Saat remaja kuterlibat... Angkat pedang berperang Tanah adalah darah Perang adalah pembuktian Biar momentum bersepakat Sampai penuh ritual Aku berperang Tapi belum mati Karena demi kejujuran Ditaburi halia yang dikunya Aku harus bijak Jalan kupilih... Adalah sekolah Adalah merantau Aku ingin... Menghapus darah Benahi diri Biar perang kuganti ilmu Ada saat... Suara harus berontak Tapi bukan berhari-hari Makassar Senin, 26 Februari 2018 By: Djik22

Nurani Telah Mati (114)

Bengong menutup mata Hitungan angan berbaring layu Di pasir-pasir putih Di sawah milik pengusaha Di kebun ditanam batu Keringat sering berkucur Tapi... Tak cukup bertahan Dua hari apalagi Nurani telah mati Para golongan kaya Bermusuh golongan miskin Karena miskin harus disingkir Oh... Kejam rupanya stigma Ternyata feodal menjara Demokrasi sebagai simbol Pancasila dikebiri Nurani kami tak mati Hanya para elit yang lupa Kalau kesombongan mereka... Atas nama kuasa rakyat Maka... Mereka telah duli Mereka jadi bandit berdasi Rakyat jadi korban kebodohan Makassar Senin, 26 Februari 2018 By: Djik22

Kelaparan (113)

Kugoyang dengan kaku Suara keras... Kuhantam di telingamu Tapi kau berjanji duit Suara si lapar Perut keroncong kurang gizi Hidup miskin di negeri pelit Mati kelaparan... Di negara subur harta Partai jadi lahan pembodohan Sekolah jadi lahan benalu Kantor dewan jadi dadu Perintah rakyat seperti babu Kapan kelaparan diberantas? Nanti dulu... Biar kami berusaha ucap Yang lemah harus tunduk Aduh nestapa petani Orang miskin dijengkeli Pemodal ditampung selingkuh Mulut berzina kaki menyilang Makassar Senin, 26 Februari 2018 By: Djik22

Tak Berujung (112)

Tiba-tiba... Kau berbalik arah Sambil berucap rayu Menatapku sedang menulis Hening menemani baring Tak lupa... Kulirik kedipan mata Menghirup bau parfum Di baju kameja Ujung malam bergurau Kulayangkan petuah tanya Penasaran bulatan makna Seolah tak berujung Biar cinta tak didusta Maka hitam ditahan pilih Yang sebenarnya... Bukan warna kesukaanmu Atau ragumu beralasan? Sehingga tak berujung? Jadi pegangan bahasa Makassar Senin, 26 Februari 2018 By: Djik22

Malu Membuka (111)

Elegi berputar cerita Entah siapa yang memulai Menunggu berdiam diri Sambil melirik malu Malu membuka Dikira apa... Nyatanya bertanya salah apa Dan masih tersipu Ah... si rambut ikal Tangan bergelang Telinga beranting hitam Janganlah malu-malu Takutkah kau aku marah? Sepertinya aku telah berikrar Lantas bagaimana dilanggar? Aku takut... Dijuluki pembohong Dihujat pemarah pemaki Makassar Senin, 26 Februari 2018 By: Djik22

Romantismedi Tanah Amarah (110)

Latarku berbaris merah Warna yang menyala Seperti kesukaanmu Yang memadukan hitam Di belakang androidku Kau berdiri memberi kode Dua jemari sambil senyum Dikalungi gelang di tangan kiri Romantisme di tanah amarah Kau batasiku marah Kau larangku mencaci Semua demi erat Tanah amarah Hubungan kian membaik Curiga mulai berkurang Semua atas pintamu Kaulah cinta Aku adalah cinta Kitalah sepasang... Pada hitam dan merah Kenapa amarah kau larang? Dimana aku harus tuangkan? Semoga aku tahu cara menawar Di setiap hening Dalam kondisi terdesak Aku mampu bertahan bidik Makassar Senin, 26 Februari 2018 By: Djik22

Bicara Ala Pendosa (109)

Di tempatku tak ada harimau Tak ada gedung megah Apalagi deretan pelacur berjejer Sambil menawari berliur birahi Tertinggal mitos Cerita ke cerita Jadi turun-temurun Naskah... Sangat sulit ditemukan Tapi kepercayaan tak hilang Seni harus mencium... Bau darah pertengkaran Bidikan senapan rakitan Jadikan pelindung hidup Hei kau... Manusia bertopeng hitam Jangan ajari cara berdosa Bicaramu penuh janji Sikapmu penuh menggaet Cukuplah penipu... Yang keliaran di kota Jangan kau taburi di sini Bila kau politisi Maka berpotik secara sehat Bila kau alat negara Jadilah benteng keamanan Bila kau birokrat Maka layani dengan nurani Makassar Minggu, 25 Februari 2018 By: Djik22

Ilmu Menipu (108)

Isi kepala berbobot bakat Kencangi ucap berapit Pada bibir-bibir basah Pertemuan sebegitu seksi Ilmu menipu Omongan berbaris miris Bila ditelaah bentangi pelangi Lahirkan beragam warna Tapi tak kau tahu diri Di dalam menyimpan duri Jangan lagi... Mata terang kau butakan Telinga bersih kau tulikan Badan kekar kau loyohkan Aku, dia, dan mereka... Ingin merdeka Bebas di atas tanah subur Mulia dibaluti terik matahari Memakan dengan usaha Tidur di bawah kedamaian Ilmumu menipu Kau dekati durasi Berceloteh sampah Berdiri di mimbar kempanye Jangan kau suapi Kami tak lagi bodoh Maka bersihkan bicaramu Sederhanakan penampilanmu Makassar Minggu, 25 Februari 2018 By: Djik22

Jiwa Menyapa (107)

Pulanglah ke sangkar Rahim lahirmu berteriak Datanglah pada bahuku Dekati yang berbaring kaku Jiwa menyapa Baik kau hitamkan Manis kau pahitkan Lewat kutukan Bersumpah tujuh turunan Sapalah selayak mengajak Biar kau tarik Aku tak mengikut Berdiam adalah pilihan Panggilan jiwa... Akan kurestui Bila tak cemburu duka Bermata hias palsu Jiwa adalah kedalaman Menyapa adalah budaya Tapi... Sesekali hilangkan kutukan Agar tak banyak kau laknat Aku akan kembali Tanahmu telah menunggu Mata hatimu telah merindu Maka akan ada pertemuan Makassar Minggu, 25 Februari 2018 By: Djik22

Bumi Berbunyi (106)

Putaran waktu Menuju tenggelam fajar Warnakan jingga Perlahan menipis Bumi berbunyi Bukan tentang putaran Tapi petanda celaka Tangisan alam tak kesudahan Bumi mulai marah Alam mulai mengamuk Tanah tempat berpijak Dijual mendapat untung Digadai demi jabatan Kemana lagi? Kalau bumi terus bernyanyi Tak takutkah bila musibah? Lumpur batu Banjiri porak-poranda Peperangan tak usai Politik menjara penjara Hukum licik kerdil berkaca Manusia jadi pelupa Kemana penenang ribut? Atau hadir jadi tokoh? Sutradarai cederai lagi Lantaran kuasa napsu Bumiku Bumimu Ini bumi kita Maka jagalah jangan acuh Rawatlah jangan terlena Makassar Sabtu, 24 Februari 2018 By: Djik22

Rahim Alam Kelam (105)

Negaraku kaya raya Bangsaku beragam budaya Perlahan digilas Dirakusi tangan nakal Nenek moyangku Pejuang tangguh Berdiri di gunung Memanggil di laut Bahari ulung melawan gelombang Kini hanya cerita Semua tersisa duka Generasi pemimpi Tapi tak berbuat merawat Malah jadi perusak Kian laju menyerah Rahim alam kelam Demi budaya Atas nama jiwa raga Kurela mati Hidupi kembali ajaran Kujalani semua yang terkikis Rahim alam kelam Datanglah dari laut Turunlah dari gunung Mari menari Dengan tarian memikat Makassar Sabtu, 24 Februari 2018 By: Djik22

Berjuang Bersama Nyawa (104)

Perjuangan pemuda adalah tongkat perubahan bangsa dan negara. Pemuda yang militan dan berintegritas pada dengungan suara pemberontak. Menyampaikan dengan lantang, bila kebijakan tak lagi mendukung kepentingan publik. Maka pemuda menambah bobot gerakan. Yakin dan percaya kalau gonjang-ganjing regulasi mampu ditepis. Sosok pemberani lahir dari kondisi yang tertekan. Maka orang akan bosan pada keadaan. Bila situasi sudah membosankan, maka banyak yang menumpuk menuju satuan gerak secara sistematis. Gerakan berdasarkan analisis kritis dan pemilihan strategi yang matang, maka akan merobohkan tirani bertopeng kelabu. Pada alam raya, tempat pijakan menghantam hasrat manusia sejahtera. Menjaga solidaritas hubungan tetap pada rel demokrasi sejati. Demokrasi yang menerima suara tangis; suara keluah; suara resah dari hulu ke hilir. ... ¤ ¤ ¤ ... Darah juang telah banyak didengungkan. Gegap-gempita nyanyikan bersemangat baja. Lirih napas menepis tak kala banyak yang merelakan perjuangan

Siapa yang Kejam (103)

Kehidupan manusia seperti perputaran roda. Manusia tidak bisa hidup secara terpisah. Karena manusia adalah makhluk sosial. Maka saling mendukung dan membutuhkan (ketergantungan). Sebagai makluk yang berakal budi, seharusnya beragam pesoalan mampu diretas dengan 'kepala dingin'. Jangan mengambil keputusan berdasarkan libido keegoisan. Bertambahnya usia, cara berpikirmu semakin menurun. Padahal, tumpukan bukumu tersusun rapi di balik kamar tidur. Hari-hari kau memegang pena sambil mencoret garis-garis buku yang kosong. Tapi kenapa bacaanmu tidak kau tuangkan dalam bentuk sikap dan bertutur? Kenapa kau semakin sombong ketika kuliahmu semakin meningkat? Aku kehabisan cara berpikir untuk menenangkan lajunya arus amarahmu. Bukankah dulu saat bulan puasa kau kabari aku menjaga kesetian? Kenapa kau meningalkanku memilih pelabuhan yang lebih besar? Dan ingatkah tangisanmu meminta sandar di pundakku lagi? Sambil kau kirim foto linangan air matamu menerobos pipi kiri kananmu. Ka

Menyapa Lara (102)

Berisik suara Jauh menggaung.. Secepat kilat menyapa Hilang ketika menoleh sadar Yang suka hilang Malu menyapa sesama Tak merasa diganggu Berdiam diri dasari hati Sapaan tak berbalas Lara duka menjiwai Getarkan selaput mata Rontohkan helaian rambut Yang dulu sering terurai Menyapa lara... Kapan kau pergi menghilang? Jangan rasuki mengingat Jangan lancarkan... Nadi berjalan begitu cepat Tak mau lagi... Tak ingin mengulang Pada sapaan bernoda Lantas rakus menganga? Atau minta kata iba? Ohh.. tidak Bila berat... Maka waktu akan menjawab Siapa yang kejam? Makassar Kamis, 22 Februari 2018 By: Djik22

Merindukan Sosokmu (101)

Kegilaan masa remaja, membuat kebanggaan tersendiri terus diingat. Suka duka hidup dirasakan bersama saat di sekelilingku diapit para sahabat. Seperti sepasang saudara tapi beda air susu. Padahal antara aku dan mereka, banyak berbagai karakter berbeda. Tapi itulah keberagaman dengan candaan  gokil   yang sulit terulang lagi. Warna putih kesukaanku melambangkan kemurnian hati; kesucian niat. Tapi hidup tak semudah mengembalikan 'telapak tangan'. Putih hanya sebatas simbol memutus harapan berlinang air mata. Tangisan seperti seorang kewae  (Perempuan) Adonara yang dipukul pilu tanpa bedil. Mendengar kabar ayah telah meninggal saat aku kelas VI SD. Kenapa derita mengahadangku di teba jalan? Pada siapa aku harus mengadu kalau hanya berteman ibu? Ayah meninggal di tanah perantaun. Hanya kudengar kabar lewat angin duka; menitihkan air mata tanpa ragu. Sontak teriak tapi tak ayah dengar. Oh...pulau Adonara pijakan pejuang. Kali ini aku lemas dahaga bersama pelukan hangat. Me

Menunggumu di Pulau (100)

Batas telah diikrarkan memberi kode. Tangan halus ingin terus mencoret. Sebab malam ini beda merasakan kerinduan. Rindu yang menunggu lama menahan napas. Aku ingin memeluk tanpa memberi batas waktu. Jangan tanyakan pada putaran limit detik. Jalan jawabanku akan lebih cepat menjama memberi kabar. Kabarkan isi isu alam belantara yang bersekongkol dengan pemuja leluhur. Biar kau dan aku berpijak pada ajaran budaya rahim purba. Rahim yang melahirkan anak berbakat melalang buana mengais. Bakatnya sesuai adab dan kesantunan. Aku merasakan manisnya Jagung Titi yang dihantam batu dengan kucuran keringat. Dulu batu sebagai benteng; sedangkan jangung sebagai pengalas lapar. Biar tak mati kelaparan, maka kau dan aku harus mengunyah. Aku ingin mencicipi makanan khasmu yang dibacakan mantra mutiara. Sekarang kau dan aku mulai menikmati makanan dengan simbolik pulau air mata darah. Menunggu pulau, kapan perkumpulan dimulai? Bila tibaku belum menentu. Maka izinkanlah doa dari batin dalammu me

Jarak yang Menyapa (99)

Datangmu membuat senyumku lebih lebar; semangatku bertambah ketika kau ceritakan tentang kotamu. Maka aku beri kabar pada soal senja tiba membawa ceritamu. Aku tak hanya ingin  'jarak'  menguasai kerinduan, tapi kita terlarut dalam cinta. Seolah aku merasakan bahumu sedang bersandar di lenganku. Pulau mengirimkan aku sepucuk  'surat permohonan'  untuk tetap menjaga hati. Laut biru membawa sepucuk bernadi melawan gelombang badai. Gelombang adalah ujian untuk bertahan dalam rasa percaya. Sebab kesabaran yang tinggi akan membuat keyakinan tak goyah. Jarak menyapa untuk kita saling mendukung. Walau kau dan aku hanya mengirimkan simbol  'jempol'  di layar android. Inilah cara yang baik kau dan aku dewasa memberi kabar. Akan aku kabari tentang keadaanku 'kalau rinduku mewakili simbol jempol'. Ternyata kau lebih tahu tentang bagaimana menjawab rindu pada jarak. Maka kau kirimkan kata-kata semangat berapi-api. Sapaan kau dan aku menyimpan sejuta doa. Sep

Akhiri Hari (98)

Bila pertentangan tak terdamaikan, maka banyak waktu yang dihabiskan untuk berceloteh; menghabiskan waktu yang sia-sia. Padahal hadirnya kita di muka bumi adalah menjalankan tugas besar; menyelesaikan pekerjaan, biar beban tak jadi mahadewa menggerogoti pikiran. Aku ingin mengakhiri hari dengan berkarya; mejalani rutinitas dengan menulis. Entah kapan napas terakhir memanggilku. Aku ingin menghirup asap belerang seperti Shoe Hok Gie; aku ingin diracuni di udara seperti Munir. Tapi mengakhiri hidup dengan pasrah, maka lebih baik menolak untuk dilahirkan. Kelahiran adalah buah perjuangan dari sang ibu. Membawaku hadir di dunia. Aku bersyukur, setidaknya dirawat, dibesarkan tangan halus kasih sayang. Biar aku tahu cara menghargai balas jasa. Mati muda adalah keinginan banyak orang. Termasuk aku di dalamnya. Tapi setidaknya sudah banyak berbuat. Kalau masih sedikit berbuat kebaikan, maka aku takut yang namanya kematian. Sebab semua ragaku akan bertanggung jawab di alam lain ketika d

Rahasia Pencipta (97)

Hei...manusia Lupakah kamu pada asalmu? Bukankah asalamu dari sari pati? Lantas berpaling bertanya Dimana Tuhan? Kenapa Tuhan didiskusikan? Raga ada dari Pencipta Jiwa tak terlihat Tangan nampak berbulu Semua punya asal Pertemuan ovum dan sperma Melahirkan bayi Menangis getir berkulit merah Soalah tak terima dunia baru Rahasia Pencipta Sejuta makna Yang harus ditelusuri Maka pelajarilah dengan teratur Jangan hanya tahu ciuman Jangan hanya suka pelukan Apalagi menyemprot air mani Ah...manusia lupa diri Kembalilah mengingat Jangan lupa Bertaubatlah segera Anggaplah kiamat segera tiba Makassar Selasa, 20 Februari 2018 By: Djik22

Hitam Putih Mimpi (96)

Tinggalkan kampung dengan kepercayaan diri yang teratur. Lewati beberapa pulau; lewati lautan berlayar di atas kapal. Aku membayangkan seperti berlayarnya kapal Titanic. Bedanya kapal Titanic menabrak gunung es, sedangkan kapal yang kutumpangi mengantarku dengan selamat. Perjalanan yang melelahkan demi meraih mimpi; dapatkan ijazah demi permudah masa depan. Kenapa harus memilih jauh? Kenapa tidak di provinsi mengais pengetahuan? Padahal di sini banyak menyimpan sejuta rahasia, seperti Sasando yang ada di museum. Aku tak ingin segala kekhasan budaya hanya sebatas pajangan tanpa melatih generasinya. Hitam putihnya hidup, menelisik lebih jauh menambah pengetahuan. Lebih baik jauh tapi berbobot, dari pada dekat tapi bobrok. Itulah alasan kenapa kejauhan adalah kedekatan keinginan. Sedangkan kedekatan hanya membuat kemalasan. Yang penting aku tak lupa pengabdian. Seperti ibu melahirkanku sedang menangis. Tangisan pertamaku rertanggal enam bulan Maret. Maka akan kubalas tangisan per

Jadilah Penguat Semesta

Perkenalkan dalam kenodaan diri. Kuraih dalam bahasa chat masuk melamuni ajakan bazar. Saat itu, pikiran sedang bergejolak mengajak satu meja memecahkan problematika. Baik subjektivitas dan objektivitas. Dengan singkat balasan chat dilayangkan. Itulah awal permulaan singkat jalan kemarin. Inilah kisah kepongahan. Inilah kisah sayombara. Alkisah yang getir, bahagia, dan kemalu-maluan. Cerita sepasang remaja yang sedang jatuh dalam penggulingan rasa. Jatuhnya tidak di tebing berkedalaman ribuan meter, jurang yang ratusan dalam menakutkan. Tapi ceritanya tentang perjuangan merubah bangsa dan negara. Bagaimana merubah bangsa? Inilah pertanyaan yang dianalisis lewat cerita. Lewat sepasang kepala remaja. Keduanya adalah sosok kelahiran bulan November. Sedikit tidaknya memiliki sifat dan mimpi yang mirip. Seolah pasangan burung yang ingin terbang, tetapi belum menyatukan kekuatan sayap.

DATANGKU DARI JAUH (95)

Larantuka lahir bayimu Berangka enam Berbulan Maret Sembilan Tujuh... Tahun tibamu Kaulah gadis desa Periang hati berbudi luhur Datangku dari jauh Tiba menanti tambah Jalani bersama walau sesaat Ingin kutiup lilin berangka Kaulah gadis desa Suka warna hitam Disertakan warna putih Cita-citamu mulia Jadi pegawai bank Kaulah gadis pemimpi Lanjutlah jangan menyerah Jagalah niatmu Jagalah inginmu Jangan lupa jaga kisah kita Aku ingin berlayar bersamamu Sambil mengucap Selamat ulang tahun Selamat bertambah umur Lewat puisi aku persembahkan Lewat kata-kata aku beri kado Makassar Senin, 20 Februari 2018 By: Djik22

MINGGU MEMBELENGGU (94)

Tiba-tiba aku disapa lewat chatt  instagram. Sapaan  'ama'  membuat tanganku gemetar; membuat hati sobek bertambah luka. Kenapa kau menyapaku di hari Minggu dini hari? Kenapa kau mengoles kekuatan tapi tak lagi milikku? Dimana aku bersandar ceritakan sakit yang selama ini belum tertuang? Minggu membelenggu; kematian tapi masih hidup. Orang-orang telah menganggapku mati; telah gugur di medan laga melawan berjuang; bertahan ingin memiliki. Tapi aku tak bisa menjaga dengan baik seperti harta berharga dalam hidup. Harta yang selalu membuat kosa kataku terus bertambah. Kaulah kamus ter- update yang terus kubuka, lalu kumenghayati setiap pengertian dibalik simbol dan makna sederhana. Namaku sudah terkubur di dalam air terbawa arus sungai dimakan buaya. Jasadku jadi tulang-belulang tercecer sepanjang aliran sungai menuju laut Losari. Maka kematianku tertanam nisan tanpa nama yang dipandang oleh puluhan nelayan dan kapal pesiar milik saudagar ulung. Aku yang dulu telah termaka

BERHENTI MEMAKAI (93)

Jurang dalam Amarah tak usai Terus menghunus Seperti pedang pembunuh Jangan lagi... Kau pakai yang diberi Jangan lagi bercantum paksa Sebab kuberi dengan ikhlas Berhentilah memakai Dengan senang hati Lembaian tangan Mengangkat hormat Yang kutahu Nama adalah pemberian Insial adalah doa Gabungan nama lengkapmu Saatnya kau memilih Berlagak bohong Atau terpaksa tertera Aku tak berharga Semua telah usai Masihkah kau berjalan? Teruskah kau sengaja protes? Makassar Minggu, 18 Februari 2018 By: Djik22

MEMBUNUH DENGAN PERTANYAAN TERAKHIR (92)

Teka-teki sedang berlaku menjara; menguasai pemandangan sawah petani. Lahan yang tanpa tuan; ia pergi ke negeri tetangga mengais rupiah. Hiduplah dengan warna putih suci, taburi warna merah kesukaanku. Gerogi jadi penguasa yang sedang bermain petak-umpet berangka ganjil. Tebak-tebakan perlahan konyol, seperti kau tanyakan "Siapa pasanganmu? Apa warna kesukaanmu? Tulisan apa yang paling digemari?" Cerita kau dan aku dibatasi waktu dua menit lima puluh detik; guyonan diganggu bisiknya sedikit jaringan. Aku suka; kau suka dengan kegilaan ini. Gila yang berkamuflase sembunyikan kejujuran. Padahal, sebelum kau ungkapkan; aku tahu banyak tentangmu. Harus kuakui, "Bahwa, kau jatuh pada lubang ketika disambut kebijaksanaan lewat serangan kata memuja". Membunuh pertanyaan. Tiba-tiba kau katakan jujur tentang apa yang tersembunyi dibalik nama penamu. Kaulah anak pertama dari tiga bersaudara. Antara kau dan aku ada kecocokan angka berlambang cangkul sebagai tanda lahir.

PEREMPUAN LAMA NAMA (91)

Hei !...kau lelaki yang lupa daratan; lupa pada asal-muasalmu. Dari mana lahirmu? Siapa sebenarnya patut kau hormati? Suasana hening di ufuk timur. Di lereng gunung ditumbuhi pohon-pohon hijau. Kau kubersarkan dari buaian ikhlasku; sembilan bulan sepuluh hari. Aku membawamu pergi menaiki bukit menuruni gunung. Sambil kupegang tongkat dari dahan kayu. Sebab kakiku tak lagi kuat berjalan. Kenapa semakin kau tumbuh dewasa budi adat telah kau lupakan? Bagaimana cara kau menghormati leluhurmu? Kalau kerjamu setiap hari mabuk-mabuk dan jalan tak tentu arah. Bila jalanmu tak bertujuan, maka kau sama dengan lautan yang tak berujung. Masih bersyukur laut dirasai asin. Tetapi kau akan tenggelam. Karena dirimu tak tahu berenang. Karena kau tak pernah belajar dengan sesama saudaramu dari timur, barat, tengah, dan lain-lain. Dengarlah bisik laraku. Aku memohon kau, dia, dan mereka 'kembalilah; ajarilah tanah suburmu; dekati saudaramu; mereka butuh uluran tangan abdi mulia. Sebab kau, dia,

POLITIKUS BERDASI RAKUS (90)

Ilustrasi: Djik22 Gonjang-ganjing Indonesia dihujani kuasa Jabatan bernoda uang haram Hidupi keluarga besarkan perut Politikus berdasi rakus Laparnya meminta lebih Perut-perut berisi tamak Wakil rakyat doyan seksi Suara tangis rakyat Tak ada yang peduli Tak ada yang mendengar Politikus sibuk koalisi Apalagi pemilu berajang nakal Semua tenaga terkuras benci Tampan halus Berhati srigala lapar Para politikus tak sadar Kalau jabatan kuasa... Adalah amanah rakyat Sebab demokrasi mencontoh moral Banyak politikus berjubah ustat Bertopeng agama mencuat Alibi tiada henti Demi dunia glamor... Peroleh suara Kenapa dasi politikus begitu rapi? Dari mana uang diperoleh? Korupsi adalah sahabat Teriak menolak sogok Malah memberi suap Lucu memang para potisi Banyak calon dicegat Rupa gadang kepala banteng Hanya modal utang naiki tahta Oh...politikus nakal Dari ujung kaki Pakianmu adalah keringat rakyat Pundi mewahmu omong kosong Maukah kembali ke jalan yang benar? Atau kau jual lagi suara r

KARENA PENDATANG BARU (89)

Bukan soal gugatan keluh; bukan tentang menerawang batas-batas kesabaran. Bagaimana tidak? Kejayaan yang sudah bertahun-tahun telah kutaburi, eh…malah kau larutkan abu panas ditiup angin. Ini bukan soal penolakan, tapi soal kepercayaan. Kenapa aku yang selalu dituduh berbuat salah? Padahal sudah jelas kukatakan berulang kali, ‘kalau pelabuhanku adalah dalam dirimu’ Saat aku bisikan di telinga kananmu sambil meremas-meras tanganmu di hari Sabtu pagi. Kau dan aku sudah saling percaya tanpa keraguan. Kenapa harus ada pendatang baru? Dimana letak prikemanusian berbudaya? Ketika semua berlumbung kesucian dirampas oleh sosok lain, maka mengharapmu tapi tangan dan badanmu ditiduri oleh lelaki lain. Bagaimana aku tidak percaya? Kalau aku pernah melihat film kau dan dia mainkan di dalam kamar sempitmu. Ini bentuk kekurangajaran yang sengaja kau lihatkan; sengaja kau tampakan dalam drama semumu. Kalau memang ada bayangan lain, maka itulah pilihan bejat menodai dirimu dalam zina. Sayangnya ka

BERDAMPING MENDUKUNG (88)

Adalah kau mengajar tentang sakit; biar aku tahu cara mengobati. Adalah kau sejarah yang mengantarku lubang dalam cahaya ilmu. Adalah kau yang buta; membuat mataku terang. Adalah kau benci yang kau poleskan biar aku tahu cara merindu. Garis hitam bentangi lorong menuju hati. Berkaca mata pikiran tak pernah sepakat atas ucapanmu bila bohong. Tapi aneh, kenapa kau dan aku bertahan sampai sejauh ini? Aku suka, ketika banyak bahasa ­ chatt- ku tak pernah kau balas; berarti kau menghabiskan banyak waktu belajar membaca. Akhiri hari-harimu dengan bersama alam semesta. Banyak tokoh dunia yang telah kau diskusikan sambil meminum hangatnya kopi. Aku bersyukur, Tuhan menciptakanmu saat sedang senyum. Sehingga banyak orang yang menggodamu; merayu karena paras cantikmu. Tapi aku memilih untuk tak mengagumi wajah binarmu. Karena wajah akan tua dan bergaris. Aku memilih otakmu, karena isi kepala tak akan lekang oleh waktu. Hanya ilmu yang bisa kau wariskan kepada biologis hasil cipta k