Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

AKU MEMBACAMU #1

Sumber foto: Helena Ose Tokan Saat mana pun; di kondisi apa pun. Aku selalu memejam mata sesaat, lalu meminta restu pada semesta. Tentang sebuah garis jalan mengiringi arah yang sedang memanggil. Tapi, panggilan itu terkadang samar-samar. Kemudian menghilang perlahan sampai terbawa angin. Kemanakah suara-suara itu? Apakah suaramu masih direstui semesta untuk aku mendengar kembali? Sayangnya, waktu tak bisa diputar kembali. Aku sadar pada kebisuan malam saat menyendiri di tanah nan jauh tempat pengasingan. Tempat yang menawarkan sejuta harapan dan mimpi. Tapi, aku tak lupa pada budaya tanah lahirku. Karena diri ini, dibesarkan oleh ibu yang bernama Adonara; dibesarkan oleh ayah yang bernama kata-kata lembut berbudaya. Ibu, aku membacamu lewat aksara-aksara indah disulam sejuta makna. Aku terharu kala kurenungi setiap yang kubaca. Seolah-olah, cintamu tertuang pada deretan makna aksara yang ditulis pada dinding-dinding kasih sayang. Namun, dinding-dinding kasih sayang sel

KAU YANG MENGAKHIRI

Pandangan kita semakin jauh Perasaan kita semakin peka Menjadi perekat di dua rasa Hingga bertahan menjadi tali yang indah Aku dan dirimu Merasakan keindahan Menikmati liku proses deras menghujan Di akhir bulan November segera berlalu Apakah kita saling bertahan? Masihkah percaya pada bahasa hati Atau masing-masing pertahankan solusi Yang berujung pada corak perpisahan Aku yang bertahan Sedangkan dirimu mulai menjauh Dengan pandangan Yang mulai kabur mengganggu resah Iya... Kita sama-sama resah Pada curiga tanpa bukti tentang petanda Pada siapa yang salah dan siapa yang benar mengarah Jika bertahan akan membuat retak Maka... Aku tak banyak katakan salah berkala Sampai tak tahan, kau yang mengakhiri semua ini Makassar Jumat, 30 November 2018 By: Djik22

AKU TANPAMU

Kita begitu saling mencintai Di dua perbedaan kutub Di dua nama aksara dalam kitab Sebagai sinar dan pijakan kembali Aku yang dulu hilang Kau yang dulu mencari Tentang siapa diri ini Tentang siapa yang mengambang Namun kita telah kembali Kau dan aku kembali bertemu Terkadang rasa bisu menjadi semu Ramai menjadi diam tanpa temali Kaulah temali itu Yang terus mengingat kita Yang terus memanah luka Kemudian menjadi sukma yang pilu Kini kita tak lagi bertahan menjadi satu Kau dan aku jadi berbeda Yang tak lagi diikat cinta Yang tak lagi dirayu-rayu Karena padamu akulah cinta sejati Aku bagimu... Adalah cinta setengah hati Sampai aku menjadi malu Bukankah kita pernah menjadi satu? Bukankah kita pernah bertahan tentang rasa? Yang mengait hati menyulam raga Membuat utuh kisah tak lagi berpisah Sayangnya... Setelah bahu yang baru kau temui Setia yang murah kau dapati Membuat diriku tak berteman kasih tanpamu Makassar Jumat, 30 November 2018 By: Djik22

BERSELANG PERTEMUAN KITA SALING RINDU

Sumber foto: Kartini Lia Masa laluku berasama Riki, sudah aku kubur dalam-dalam. Sampai aku melatakan di batu nisannya dengan tulisan. " Sudah saatnya kita saling melupakan. Aku tak ingin terus terjebak dengan drama yang kau sutradarai. Seolah peranku terus menjadi melankolis. Lalu, air mata dan lara begitu dekat denganku. Aku ingin menyandar di bahu yang berbeda, tapi tak menyepakati dengan segala macam ikatan." Maka, aku bertemu lagi dengan sosok lelaki kelahiran bulan November. Dia sering disapa dengan Edo. Ternyata Edo mampu menghipnotis aku dengan mantra kata-katanya yang memikat. Aku dibuatnya terus nyambung dalam bercerita. Ibaratnya, akulah kekurangan, maka dia adalah kelebihan yang siap mengisi; jika aku adalah kekuatan kata, maka dia menyulam dengan semangat makna yang bersembunyi di setiap tulisannya. Tepat akhir bulan November. Edo mengatakan dengan terus-terang padaku. Saat itu, Edo melayangkan aku dengan pertanyaan-pertanyaan pancingan. Sebelum mel

LUKA TAK BERTUAN

Luka yang kemarin masih jadi penjara Terus menjepit hati mengunci gerak Kerdilkan rasa kedepankan kuasa Pada pendirian subjektif yang licik Aku tak mau lagi lagi kau tabur luka Aku tak mau kau simpan dendam Hingga jadi pemecah-belah bagi pemuda Yang berenggus ruang dialektika Jangan lagi kau tabur benih murka Di tanah pertiwi yang kaya-raya Di negeri khatulistiwa yang mulai miskin etika Dengan permainan tentang kuasa Apalagi... Kau dambakan kuasa dengan kepentingan Sampai banyak pihak rugikan Sebatas dengan janji-janji berelegi Jika lula tak bertuan Maka... Tuan jangan sembunyikan tangan Kemudian palingkan muka Sampai aku dan mereka Jadi santapan jual-beli Dengan kepentingan bisnis belaka Tanpa memandang sejahtera pertiwi ini Sudahi saja luka lama Jangan kau tambahkan luka baru Dengan warisan budaya masa lalu Yang mengebiri demokrasi dianut bangsa Terus... Untuk apa kau tabur luka? Untuk apa kau dengungkan rasis Kalau luka ini pun tak bertuan setia

KISAH KEKASIH

Sumber foto: Rati Sumarsya Dusta telah melayang dengan bahasa Janji telah dilalui dengan diksi Sampai kau lupa cahaya pada mataku Sampai kau lupa detak jantung ini berseri Tataplah dalam-dalam ke dasar hati kekasihku Lalu... Rasakanlah detak jantung yang sedang merindu Pada sebuah permulaan yang indah Dengarlah kekasih... Hidup tak hanya tentang keindahan Hidup tak hanya tentang luka dan sumpah Yang terus menuntut meneken berujung perseteruan Kekasihku... Teruslah kau berkisah Teruslah menuntun jalan menjadi kisah Sampai kau tak kenal lelah Namun sayang seribu kata telah berlalu Seratus janji telah ternodai Dengan kesombongan menjaga diri Sebagai kekasih tapi jadi piatu Kisahmu akan terus jadi aksara Mengalahkan janji yang dikhianati Mengobati luka yang kau titip pada diri Sampai perlahan kusembuhkan dengan kata Maaf telah dua puluh dua kali terucap Hingga titik jenuh menjadi biasa Hingga tinggal api cinta berbentuk lara Membakar yang baik, menggan

MENEMUKANMU DI DINDING ITU

Sumber foto: jempretan Astrid Bagi mereka hidup harus dinikmati Tanpa banyak mengeluh Tanpa harus kedepankan resah Namun tetap santun dan santai menjalani Tapi... Bagaimana tetap santai? Jika hari-hari terus menyiksa raga Sampai menyulam kata jadi puisi Untukmu yang sedang berusaha Untukmu yang sedang bergelut asa Yang penuh kejutan seperti drama Menuruni dinding kata itu Kehidupan memang keras Kehidupan terkadang tragis Tapi... Aku percaya pada kuasa Ilahi Sembari kutemukan jawaban Penuh dengan kelelahan Di atas semesta kita menjalani hidup Yang kadang cerah, yang kadang redup Inilah hidup Di ketinggian mana pun Di posisi mana pun Harus mensyukuri tanpa saling menekan Inilah jalanku Bagimu mungkin hina Bagimu mungkin jijik dan berdebu Sampai aku jadi tonton ramai tanpa dusta Untukmu yang sedang menonton Untukmu yang sedang merasa tertekan Buatlah drama dalam hidupmu Namun jangan mudah pasrah berlaku kak

AKU SUDAH BEBAS

Aku lupa saat dimana  kau datang Aku lupa sudah berapa kali kau sakiti Sampai luka dan duka terus menghantui Sebatas mimpi dan hanya ilusi Kau pernah hadir dalam doa-doaku Di sepertiga malam yang tak kelam Menjemput pagi yang begitu suram Ketika mataku terbuka dari diri yang kaku Jika memang benar Kau pun menghabiskan waktu lewat doa Sekiranya tak ada kenangan menjalar Mengganggu mimpi yang sedang kuasa Cukuplah sudah getir dan dramamu Yang menjelma jadi kisah nyata Sampai aku terombang dengan duka Terbawa jauh ke ingatan masa lalu Aku ingin melupakan yang sudah-sudah Aku tak ingin kembali ke hal yang sedih Menguras tenaga penuh tekanan Kemudian membuat air mata jadi murah Maka... Sudah saatnya kau dan aku saling lupa Biar tak ada lagi kisah berbalut lara Sampai kita saling menyiksa Aku syukuri segala yang telah lewat Atas pemberian penuh ikhlas Atas penjagaan yang begitu ketat Dengan kenangan yang sedikit tragis H

SELAMAT TINGGAL MASA LALU

Sumber foto: Kartini Lia Dulu , kau dan aku adalah adalah tinta dan kertas yang terus mencari makna setiap puisi yang kita tulis. Dalam persembunyian makna setiap kata-kata yang diukir dengan hati. Sampai di titik tertentu, kau dan aku mampu menemukan makna itu. Tapi, itu adalah kisah masa lalu. Apakah masih pantas untuk dikisahkan? Atau mengulang kembali jika sudah berpisah? Aku memaknai segala keputusan yang telah lewat. Walau pun bagimu. "Keputusanku adalah sebelah pihak. Hingga dirimu terprosot jauh sampai aku tak menjelaskan secara detail. Kenapa kita harus berpisah? Dan untuk apa ada pertemuan kalau berakhir luka yang mengedepankan ego?" Namun, pertanyaanmu tak kujawab dengan penjelasan yang meyakinkan. Karena aku tahu, jika aku menjelaskan dengan cermat, maka dengan mudah kau tenangkan aku lewat sikapmu yang lemah-lembut. Sampai aku kembali merasakan nyaman. Biar aku kembali,  tapi, tidak lagi menggunakan perasaan. Maka, aku hanya memberimu ujian den

SUDAHI SAJA SEGALA YANG GELAP

Sumber foto: Kartini Lia Kepada yang bernama Lia. Dengarlah dengan hati; resapilah dengan jiwa. Ada pesan yang ingin aku tulis; ada kisah yang ingin aku bagi. Maka, janganlah mengunci hatimu dengan teka-teki. Biar segera bertemu dalam jawaban sebagai tamu di rumah persinggahan. Aku ingin, kau dan aku menyinggahi sebuah tempat yang dinamai 'nyaman.' Lalu, kita sama-sama sepakat untuk melepas segala yang gelap. Kisah gelapmu tak terhitung bila hanya sebatas diingat. Jika dihitung mengandalkan ingatan, maka banyak penggalan kisahmu yang pernah membuat haru dan air mata. Karena yang kau lalui adalah kepedihan; yang kau alami adalah sebuah perpisahan. Entalah, siapa yang memilih perpisahan. Aku tak punya hak mendakwa tentang perpisahan yang kau alami. Kemudian memutuskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Sebab, masa lalumu adalah sebuah rahasia. Yang kutahu secuil darimu adalah sebatas cerita terungkap dari bibir manismu berwarnakan merah. Dan, yang bisa kumakna

GENGGAM ERAT

Sumber foto: Kartini Lia Kalau kemarin tatapanku membuat kita saling kaku. Sampai aku menunggu kapan senyummu menebar jantung hilangkan ketegangan. Ternyata, kau tak kehabisan cara untuk menghipnotis suasana. Maka, kita mulai saling senyum menatap antara satu sama lain. Untukmu yang sering disapa Lia. Aku menemukanmu di antara serpihan luka dan bahagia. Aku mencoba berdiri di tengah-tengah. Tanpa ada kepentingan yang bersembunyi. Namun, kusembunyikan yang sudah-sudah; kumulai dengan yang baru. Biar kau dan aku menggenggam sebuah tiang yang dinamai kekuatan. Apa sebenaranya yang membuat optimismemu di anatara malam bercerita? Atau senyum di wajahmu masih kabur kupandang? Semoga kekaburan pandangan pun kita tak saling curiga. Karena kecurigaan hanyalah ketakutan untuk saling percaya. Maka, aku memulai dengan sebuah kepercayaan. Sampai tanganku terus mengeja; tanganku terus menyusun aksara. Lalu, kupadukan cerita dari gambar-gambarmu. Kenapa gambarmu kupadukan dengan k

MENOLEH KE RANTING ITU

Sumber foto: Kartini Lia Jalan yang aku lalui, begitu terbelit-belit. Seperti puisi yang sedang mencari makna; seperti karya yang menyimpan misteri; seperti buku yang dibaca. Setiap kata dalam puisi aku menggoreskan aksara penuh gabungan rasa. Ditambah jadi karya yang saling kait mengait. Maka, selalu ada misteri di jalan yang kulalui. Namun, aku terpaku pada kekuatan seperti tertera dalam buku-buku. Jika akulah jabarkan dari puisi, karya, dan buku. Maka, kaulah yang digandeng dengan ketiga hal itu. Saat aku berjalan di pinggir pantai sambil melihat ranting yang menawarkan rindu. Kenapa ranting menawarkan rindu? Bila aksara menyentuh hatimu yang penuh kenangan? Apakah kau susah melupakan kenangan itu? Semoga, aku selalu dalam jelmaan nyaman. Biar kau tetap tersenyum mengalahkan kenangan luka berdarah, air mata, dan resah. Kemudian aku hadir untuk kau monoleh pada kenangan baik. Aku menyukai segala yang kurang darimu. Aku syukuri segala yang lebih darimu. Biar, kau

DALAM BAYANG-BAYANG PERBEDAAN [6]

surat keenam Turun dari Pos Tujuh Sang raja siang, sedikit condong ke arah barat. Mulai pergi perlahan-lahan. Sambil kaki kami pun melangkah. Kondisi mulai berbeda, ketika di sekeliling kami mulai sedikit gelap. Hingga seolah terlihat malam mulai dekat lagi. Sempat melihat waktu di jam tangan. Waktu menunjukan pukul 16.30. Kami pun turun dari pos tujuh. Dengan persedian makanan yang terbatas, kampung tengah pun mengamuk sejadi-jadinya. Kondisi kami semakin melemah, ditambah lagi arah langkah kami perlahan lambat. Namun, kami tetap berjalan dengan sukaria. Biar dengan hati yang riang sambil berjalan sepeti menghitung waktu, maka aku meminta bantuan kepada Heni, Raya, Ian, Tian, dan Jo ke pos lima terlebih dahulu untuk mencari tambahan makanan. Karena tidak bisa dipaksakan, jika keadaan semakin lemas, baru kami memaksa untuk tetap berjalan. Ian yang memahami gerak tubuhku dan langkah si dia yang semakin lemah. Maka, Ian berkata. "Biar kami berlima turun duluan ke pos lim

UNTUKMU YANG PERNAH MENGKLAIM #1

Sumber foto: Felitsia Oseana B. Gerin Untuk siapa saja yang menemukan patahan surat ini. Segeralah membaca dengan cermat. Surat ini aku tulis dengan sebuah kata yang bernama 'harapan' tanpa titik. Jika surat ini salah dibaca, maka akan salah diartikan oleh orang-orang yang kurang peka. Atas harapan surat ini hadir; atas dasar kesadaran, maka aku menulis. Semoga surat ini jatuh pada orang yang tepat' Dengan harap, Abdu Surat itu pun, segera dibaca oleh Misel. Ketika Misel melewati lorong-lorong menuju indokosnya. Saat Misel hendak membuang tisu di tangannya. Tepat, tisu itu jatuh mengenai surat yang sedikit kumuh berada di atas papan-papan bekas. Misel tak ingin membukanya, ia menanamkan niat untuk membaca ketika sampai di indokosnya. Butuh waktu sekitar lima menit tiba di indokosnya. Saat itu, pukul 15:24 bertepatan dengan suara-suara bacaan kitab suci di masjid-masjid sekitar tempat tinggal Misel. Misel kaget tercampur kesal. Kenapa Abdu senekat it

DALAM BAYANG-BAYANG PERBEDAAN [5]

surat kelima Dalam Perbedaan Aku Merenung Ketika  kau berpijak pada perbedaan. Aku mulai diasingkan dengan sendirinya. Bagaimana tidak? Lantaran berbeda jalan menuju Tuhan, kau semakin menjauh dan namun selalu dekat. Aku keberatan, namum kutemukan nyaman yang tiada tara ketika kita saling dekat. Aku Ingin selalu bersama dia untuk selamnya. Tapi dekatnya aku dan dia hanya dalam hitungan bulan. Aku kira, kita sama-sama memahami dengan perbedaan yang sedikit mencolok. Itu tak begitu penting bagiku, jika perbedaan adalah batas. Maka jalan pembahasan kita selalu terkandas. Aku tak ingin kandas dalam melangkah; tak ingin berhenti karena keburaman pikiran. Tiba-tiba saja pikiranku semakin membias. "Siapa dia sebenarnya?" Tanyaku dalam renungan. Yang kutahu adalah sebatas layang-pandang tentang dia. Yang kuingat adalah jalan baiknya tak bisa terbalas. Sampai aku merasa berhutang budi. Seketika Heni datang bertanya. "Daud...!!!!" "Iya Ni... Kenapa Ni? "Aku bingung

DALAM BAYANG-BAYANG PERBEDAAN [4]

surat keempat Sebelum Turun dari Bawakaraeng Delapan pasang mata bilangan genap. Memberi penghormatan kepada Sang Saka. Kami berdiri dengan penghormatan sepenuh hati. Menyaksikan kibaran Merah Putih. Kapan hatiku berkibar lalu terbang bersanamu? Apakah kau takut menjadi pengelana di atas udara? Jika kau takut, maka mari dekat di sampingku. Biar aku membiarkan bahu kiri dan kananku untuk kau sandar. Tapi, tetap kutunggu di jumlah ke delapan itu. Namun kau belum kunjung bergabung. Aku yang merasa lama, lantaran serpihan hati yang kuharap terlalu bergembira dengan yang lain. Apakah aku hanya berpikiran tanpa bukti? Atau kau malah memilih menghindar? Masih saja dengan premis sinisku. Semoga saja, kau segera datang bergabung menjadi jumlah ganjil. Yaitu, jumlah ke sembilan yang terus berdiri rapi. Bukan tentang rapi karena diukur; bukan rapi karena bersamaan bahu. Tapi, kau dan aku memiliki kesamaan yang sulit dijabarkan. Bahkan, ketika aku jabarkan, maka tak ada akhir untuk