Langsung ke konten utama

DALAM BAYANG-BAYANG PERBEDAAN [6]

surat keenam

Turun dari Pos Tujuh
Sang raja siang, sedikit condong ke arah barat. Mulai pergi perlahan-lahan. Sambil kaki kami pun melangkah. Kondisi mulai berbeda, ketika di sekeliling kami mulai sedikit gelap. Hingga seolah terlihat malam mulai dekat lagi. Sempat melihat waktu di jam tangan. Waktu menunjukan pukul 16.30. Kami pun turun dari pos tujuh.

Dengan persedian makanan yang terbatas, kampung tengah pun mengamuk sejadi-jadinya. Kondisi kami semakin melemah, ditambah lagi arah langkah kami perlahan lambat. Namun, kami tetap berjalan dengan sukaria. Biar dengan hati yang riang sambil berjalan sepeti menghitung waktu, maka aku meminta bantuan kepada Heni, Raya, Ian, Tian, dan Jo ke pos lima terlebih dahulu untuk mencari tambahan makanan. Karena tidak bisa dipaksakan, jika keadaan semakin lemas, baru kami memaksa untuk tetap berjalan.

Ian yang memahami gerak tubuhku dan langkah si dia yang semakin lemah. Maka, Ian berkata.

"Biar kami berlima turun duluan ke pos lima" jelas Ian.

"Ok... !!!" jawab Raya.

Dengan suara sedikit keberatan melepaskan kelima temanku turun. Maka, aku tetap berpesan kepada mereka tetap hati-hati. Karena bukan soal ketakutan, tapi soal menjaga lebih baik dari pada terkena musibah lalu mengobati. Kelima anggota tim pun pamit turun.

"Daus ... !!!" panggil Heni.

"Iya, Ni ..."

"Tetap jaga dia, Ya? Awas kalau dia kenapa-kenapa ... !!!"

"Bagaimana kalau aku macam-macam? Jika dia ibarat bidadari yang jatuh dari langit. Biar dalam keadaan apa pun, aku akan tetap menjaganya. Karena sebagai tugas dan tanggung jawab pengelana ketika sedang menikmati perjalanan," Ucapku dalam hati.

Dengan rasa haru, aku dan dia saling menatap kelima teman tim kami. Mereka begitu komitmen dengan prinsip yang disepakati. Demi sebuah kebersamaan, mereka relakan tenaga untuk kami tidak menjadi korban kelelahan karena kekurangan makanan. Seingatku, kami belum makan siang. Kami hanya sarapan pagi ketika mau turun dari puncak pos sepuluh.

Pandangan aku dan dia semakin tajam menatap kelima teman tim kami yang semakin jauh meninggalkan kami. Dengan doa yang kulantun dalam hati, sambil kuhirup udara segar di perjalan pos tujuh ke pos lima. Besar harapanku, doa yang kubisikan dalam hati semoga diterima oleh Yang Kuasa dan didengar oleh semesta yang sedang menyaksi dua pasang anak manusia.

Semesta memberi kode akan adanya jalan terang untuk mendapatkan rasa. Lalu, mengayuh layu rumput-rumput ketika aku dan dia lewat. Seolah, rumput pun memberi hormat kepada sepasang sayap patah yang ingin menyatu. Dengan senyum terbuka, aku berjalan sambil mengandeng tangannya. Dia pun tak keberatan. Sepertinya, ada kenyamanan yang keluar dari lubuk hatinnya. Sampai, tangannya begitu lembut kurasi. Harus kuakui dengam jujur, kalau baru kali ini aku fokus pada genggaman lembutnya.

Tenaga mulai terkuras, namun aku dan dia selalu komitmen sambil bercerita lepas. Jika, puncak tertinggi pun kita daki dengan rintangan yang sili berganti datang. Maka, ketika turun pun, kita harus siapkan segala cara. Biar tak terperosot jauh dan jatuh lagi. Aku tak ingin jatuh lagi; ketika dia yang sedang lemah; aku tak ingin ada bahasa tanpa keajaiban. Maka, aku dan dia selalu menghibur diri. Sehingga kelelahan tak begitu terasa.

Padahal, gelap perlahan mulai mengelilingi kami berdua. Aku selalu perhatikan dia dengan kelembutan. Ternyata, dia adalah perempuan tangguh yang pernah kutemukan di atas lempengan bumi pertiwi, disaksikan oleh tanah Karaeng. Seketika, dia menoleh dan menyapaku.

"Kenapa kau bawa aku begitu jauh Daud? Apakah ini salah satu caramu untuk mengajarkan aku tentang menghargai waktu? Bagaimana tentang waktu Daud? Jika jalan ini, masih panjang untuk ditelusuri. Namun, keburaman antara kau dan aku perlahan tampak jelas. Aku tak ingin keburaman itu menjadi raja Daud. Aku ingin kau jadi dewa, dan aku jadi dewi di istana cinta yang kita bangun," tegas dia penuh harap.

"Jika itu adalah inginmu, maka biarkan kita terus berjalan. Karena komitmenku sudah kokoh tentang kata mengatasnamakan 'cinta' dan 'rasa' dari lubuk hati yang tak bisa diukur. Aku menunggu waktu yang tepat untuk kita memutuskan wahai dewiku. Maka, janganlah risau; janganlah mengeluh; janganlah bimbang. Sebab kau dan aku terlahir untuk menemukan dua kata itu. Memang, kini saatnya mulai terang kalahkan buram. Tapi, aku takut terburu-buru di hutan para pemburu," jelasku pada dia yang semakin bercahaya.

"Daud, rasa ini selalu bergelora menanti ... !!! sudah sejak lama kau dan aku sering bersembunyi dibalik diam, Daud. Terkadang aku berharap kau datang. Namun, rasanya begitu lama. Aku menunggumu untuk bercerita kala keadaan mulai hening. Tapi ... !!! kau begitu lama menghampiriku, Daud."

"Wahai dewiku, dengarlah dengan cinta; rasakanlah dengan jiwa. Aku janji, tak membuatmu berlarut-larut. Sampai kau dan aku memilih jalan masing-masing. Tapi janjiku, kau dan aku akan menjadi KITA, di sebuah purnama atas nama ikrar yang sakral."

"Daud ... !!!" dia memanggil dengan sayu.

"Iya, tetaplah kuat; janganlah lemah dengan kata. Jarimu akan terus kugenggam. Biar kau dan aku menikmati jalan ini. Masih banyak pos yang harus kita lalui. Setidaknya, pos enam sedang menanti. Mari kita bersatu tanpa kaku dengan kata yang sempat terucap. Jadikanlah kata untuk menguatkan hati menuju titik persinggahan."

Singgah di Pos Enam
Tak butuh waktu lama untuk aku dan dia beristirat di pos enam. Sekitar dua puluh menit melepas kecapean, pada arah jarum jam tangan sudah menujukan pukul enam lewat sepuluh menit. Sembari kutarik rokok dengan perenungan sampai mengeluarkan asap menari di langit Bawakaraeng. Lalu, kukeluarkan air dari samping kerel untuk dia minum.

Muncullah kekhawatiran. Apakah teman-teman mendapatkan màkanan tambahan di pos lima? Kekhawatiran itu, muncul dari raut mukanya yang begitu menawan. Setelah merasa cukup waktu beristirahat, dia mengajak.

"Ayo, kita teruskan perjalanan, Daud ... !!!"

"Sudah tidak lelah lagi?" aku bertanya.

"Tidak lagi, Daud. Bersamamu aku kuat. Begitu juga dirimu." Rayunya sedikit menggoda.

Cahaya mulai gelap kembali ke pangkuannya. Namun hatiku dan hatinya tidak tergoda oleh kegelapan. Malah kutahan cahaya itu untuk bersandar menemani kami susuri garis jalan ini.

Cerita antara Pos Enam ke Pos Lima
Cerita kami berdua seperti dua pasang remaja yang sedang dilanda asmara. Cerita tentang asmara tak membuat aku dan dia lelah dan mengeluh. Jika, sedikit lengah, maka kami akan terjebak dengan waktu yang sedang mengeluh. Namun, aku dan dia tahu batas wajar ketika berada di alam bebas tempat para pendaki.

Jarak yang sedang kami telusuri antara pos enam dan pos lima Gunung Bawakaraeng semakin tak terasa dengan kelelahan. Tak takut lagi pada pengaruh-pengaruh cerita. Namun, aku dan dia lebih terpengaruh pada cerita layaknya seorang dewa dan dewi yang lama tak bertemu. Sehingga menghabiskan waktu dalam cerita untuk menunggu waktu perbatasan. Sayangnya, batasan antara jarak pos enam ke pos lima kami tak mengukur. Sebab, aku dan dia tak memiliki alat canggih mendeteksi berapa jarak sebenarnya.

Cerita semakin menarik. Atas cerita kami berdua,  aku banyak mengerti tentang posisi dia. Karena selama ini, kami tak begitu mendalami antara satu sama lain. Bagaimana tidak rentang waktu ikatan sahabat pada saat 2013 lalu lebih mengedepankan keakraban. Bukan tentang subjektivitas yang mengarah pada rasa yang menggelembung untuk dungkapkan.

Untuk menjaga kisah yang kami alami menjadi bagian dari jalan hidup. Maka, tak kusia-siakan jarak menguasi diam. Tapi, terus mengajaknya tetap kuat; tetap tersenyum. Biar kami tak mau dijuluki yatim piatu berkisah. Maka, diam tak berlaku dan berkuasa di jarak menuju deteksi pos lima.

Tanpa sadar, pandangan ke titik pos lima mulai memancarkan tanda-tanda cahaya. Maka, aku pun memberi kode di detik-detik perjalanan akhir dari pos enam. Kalau pos lima tidak lama lagi akan kita pijaki. Aku yakinkan dia, bahwa di sanalah kebersamaan akan terbukti. Namun, hati kecilku berkata. Bahwa Heni, Raya, Ian, Tian, dan Jo sedang mununggu kedatangan kita berdua.

Semakin dekat, suara-suara yang tak asing bagiku dan dia mulai terdengar semakin jelas. Ternyata teman tim kami lima orang sementara bergurau. Akhirnya, aku dan dia mendekati suara itu di jarak kurang lebih lima meter. Ada bahagia yang berbisik dari masing-masing hati kami. Kalau tak ada pengkhianatan atas janji yang dijalankan pada koridor amanah. Inilah pembuktian mana teman yang setia; dan mana teman yang sukanya hanya berjanji. Aku dan dia sampai di pos lima.

Bertemu Kembali di Pos Lima
Ada kegembiraan dari seleksi alam. Tentang teman setia; tentang kebersamaan dari tim. Maka, hati dan rasa seolah sedang menari di dalam sukma kami. Sudah aku duga, di mana ada kegembiraan, pasti ada kelelahan. Begitu juga tentang keterlambatan tiba. Muncullah pertanyaan dari Ian dengan sedikit mengeledek.

"Kenapa lama?"

"Ya namanya orang sakit dibawa. Otomatis lama" jawabku dengan senyum malu-malu.

Seolah aku adalah tempat pelampiasan dari teman-teman tim kami. Namun, aku tak ambil hati. Karena mereka sudah keseringan mengganggu aku dengan dia. Sampai, ada yang bertanya kenapa aku sama dia sebegitu dekat. Aku hanya menjawab, kalau aku dan dia sebatas sahabat, tak lebih dari itu. Biar berulang kali aku jelaskan. Teman-teman tetap mengganggu. Kali ini giliran Raya yang mengganggu.

"Cie ... cie... ada yang senyum malu-malu ni. Kalau sudah jadian kasih tahu donk. Asik loh, kalau cinta mampu menyatukan rasa di atas Gunung Bawakaraeng.

Kondisi kembali ramai dengan canda tawa dari teman-teman. Setidaknya dengan cara ini, kami tak merasa kelelahan. Heni mulai keluarkan jurusnya. Karena Heni akan gebira bila aku dan dia membawa sebuah hibungan lebih dari sahabat.

"Cieeee ... jangan sampai semesta merestui inginku ...!!!" tangan Heni sambil mencubit lengan sahabatnya itu.

Keadaan kembali ramai. Namun hening lagi setelah tawa mulai pergi. Yang kami rasakan adalah suara-suara angin menghempas daun. Hingga menggoda kami untuk terbuai. Semakin terbuai, Raya sudah menyiapkan makanan yang didapat waktu mereka duluan turun di pos lima. Namun, ada permohonan maaf dari mereka berlima kepada aku dan dia. Kini giliran Tian yang mewakili.

"Maaf ya, Daud ...!!! Kalau tadi kami duluan makan singkong rebusnya. Soalnya, kampung tengah tak bisa lagi diajak kompromi."

"Gak apa-apa kok ... !!!" jawabku.

Kegelapan sedang berkuasa dengan lembut. Sambil gerimis melanda, maka kami bentangkan flyshit untuk membuat tenda. Biar tak diguyur hujan saat menikmati makan malam bersama.


Makassar
Sabtu, 24 November 2018
By: Djik22

Komentar

Populer

FILOSOFI DAUN PISANG

Harapan dan mimpi dari setiap kepala tidak semua terpenuhi dengan usaha dan praktik. Tapi masih membutuhkan untuk saling dekat dan merespon segala polomik. Di masa yang akhir ini, perutmu telah melahirkan bayi yang masih merangkak dipaksa berjalan di kerikil jalan persimpangan. Dari rawat dan buaian, telah membuka mata batin, mengevaluasi adalah jalan yang tepat. Karena kurangnya menilai dari setiap sisi. Sehingga lahir dua persimpangan kiri kanan jalan. Mata telah terang, langkah sudah tepat, bersama sudah terpupuk, kesadaran mulai bangkit. Berdiri dan bergerak. Saatnya cahaya jadi penerang. Titipan amanah 20 21 11 14 jadi bahan belajar bersama. Filosofi "Daun Pisang dan Bidikan Panah yang Tepat" telah ditemui jawaban dan makna yang dalam. Dia bukan sekedar kata, tapi dialah nyawa setiap yang di dalam. Makassar, April 2017 By: Djik22

TOGAKU TAK IBU SAKSIKAN

Perjuanganmu ibu Mengantarkanku meraih mimpi Mataku lembab berhari-hari Setiap saat mengingat ibu Harapan ibu Aku tetap kuat Aku tetap melaju Tapi ibu Saat bahagiaku Takku tatap lagi ibu Wajah bersinar hadir dalam mimpiku Kala itu ibu Ibu Toga dan pakian kebahagiaanku Semua untuk ibu Togaku tak ibu saksikan Karena ibu telah tiada Yakinku ibu senyum melihatnya Tetap tersenyum di sisiku ibu Dua puluh tiga November dua ribu tiga belas Dua kali dengan angka tiga Ibu telah berbaring bergegas Makassar Minggu, 1 Oktober 2017 By: Djik22

PERLUKAH JEMBATAN PALMERAH?

Sedikit menggelitik, ketika wacana pembangunan jembatan Palmerah. Wacana ini, hadir di beberapa tahun terakir. Di tahun 2017, tidak kala seksi pendiskusian jembatan Palmerah. Maka muncullah pro dan kontra. Padahal merefleksikan wacana ini sangat penting. Kenapa Wacananya Jembatan Palmerah? Mari kita menganalisa secara seksama. Pertama, jembatan Palmerah adalah sejarah pertama di Indonesia bila terbangun. Karena menyambungkan dua pulau, yaitu Pulau Adonara dan Pulau Flores (Larantuka). Jarak jembatan Palmerah dengan panjang bentangan 800 meter akan dipasang turbin 400 meter. Kedua, persoalan proses pembangunan jembatan Palmerah dibutuhkan dana tidak sedikit. Diperkirakan dana mencapai Rp. 51 triliun. Hal ini, perlu dipikirkan. Karena Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTT pada tahun 2016 hanya mencapai Rp. 3,8 triliun. Sama halnya pemerintah mengajak kita mengutang dengan investor (swasta). Ketiga, jembatan Palmerah bukan proses meninabobokan masyarakat Flores Timur

ADONARA DALAM PUISI

Petuah kata sejarah Masih temani kaki untuk melangkah Dalam bayang-bayang ibu kuatkan hari Dalam jelmaan ayah pancarkan cahaya hati Hingga tebal awan kota Ingatkan suasan desa Dihimpit berdiri megahnya Ile Boleng Didekatkan Bukit Seburi tanah kampung Karena kitalah gunung yang berdiri Karena kitalah bukit yang menyapa Membawa bisikan bahari Ketika menghadap ke arah pantai Sampai kata dan petuah terus mengikut Wariskan api dari generasi ke generasi Tentang pentingnya menjaga kata Tentang indahnya memakai tenun ikat Maka... Tak kulupakan petuah indah dan keramat Tak kuingkari segala kata-kata bernyawa Di atas alam ditaburi darah dan air mata Karena air mata Bukan hanya tentang tangisan Bukan hanya tentang derita tanpa rasa Namun air mata darah tanda perjuangan Maka... Untuk mengingatmu yang di gunung Untuk mengenangmu yang di pantai Aku mengisi kata-kata lewat puisi Karena darah dan bisikan kata terus diasa Biar perang telah terganti buka dan pena

ANTARA (576)

Sering ada perbandingan pada kata 'antara' ketika diapit oleh kalimat. Antara kau dan aku ternyata banyak perbedaan, antara kau dan dia memiliki banyak kesamaan. Antara pacar dan mantan adalah orang yang pernah berlabu dan sementara bertahan. Baik terkandas di tengah jalan, mau pun mampu melewati batas getir yang melampau kesabaran. Namun, pada kata 'antara' seolah jadi misteri yang tersembunyi. Serupa kolom kosong yang disembunyikan dengan untain doa. Lalu, dipercaya menjadi sebuah legenda atau mitos. Bagaimana sesuatu yang dipercaya tapi tak pernah diinderai? Apakah setan yang berpenampilan putih pada malam Jumat hanya menakut-nakuti? Kemudian muncul pertanyaan, siapa yang menjahit pakian putih yang dipakai setan? Ulasan ini, aku dapati saat duduk di bangku SD. Sang guru selalu menakut-nakuti pada setiap siswa. Bahwa malam Jumat selalu ada tanda ketika melewati tempat-tempat gelap. Saat itu, aku dan kawan-kawan sebayaku selalu percaya. Namun, batang hidung p

KARYAMU TETAP MEMIKAT

Foto: Abdul Rahim (Khalifah05) Ketika doa-doa Telah kau panjat Dengan lemah-lembut Pada Tuhan Yang Esa Tak lupa pula Pintamu Pada para pendahulu Dengan merinding bulu-bulu Begitu dalam penghayatan Bersama angin Bersama waktu Bercampur masa lalu Maka... Yakin pun mendalam Tak secuil akan buram Tampak pada kaca belaka Namun ia selalu melekat Selalu mempererat Antara roh dan jasat Hingga karyamu tetap memikat Makassar Jumat, 21 September 2018 By: Djik22

PEMUDA SAHABAT PERUBAHAN (397)

Indonesia adalah negara yang terdiri dari ragam perbedaan. Baik suku, ras agama, budaya, dan corak berpikir. Inilah bagian kekhasan dari bangsa ini. Dengan kekhasan tersebut, maka tak heran bangsa Indonesia dikenal dengan kemajemukan dan menjujung tinggi perbedaan. Sebab perbedaan adalah varian dari semangat menuju persatuan. Belum lagi menerobos batas wilayah yang terdiri dari beberapa provinsi. Perlu kita menelisik lebih jauh lagi tentang bagaimana membangun tatanan bangsa. Supaya mampu keluar dari zona ketertinggalan. Ternyata, ketertinggalan adalah salah satu masalah dari apa yang dirasakan setelah revolusi Indonesia didengungkan. Walau merdeka secara pengakuan sudah memhudata sampai ke telinga anak cucu. Tapi pertanyaan besar yang harus dijawab, Kenapa merdeka secara praktik/ penerapan jauh panggang dari api? Ketika secara penerapan dalam kehidupan berbangsa mulai melenceng dengan dasar negara, maka harus kembali mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang telah diletakan oleh