Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2018

HILANG

Untukmu yang pernah kulihat, yang pernah kutulis, dan pernah kudengar. Mata indah ini ingin terus menatap tanpa harus terpeleh buramnya malam. Tapi, apa hendak dipuja kalau malam begitu deras tak dibendung membuat gelap. Namun bukan menolak malam datang merubah keadaan. Sebab, malam pun memiliki makna mendalam berterang cahaya bintang yang sedang merayu. Untukmu yang pernah kutulis, jangan ada penyesalan yang tak berkesudahan. Karena kata yang tersulam lewat jemari masih begitu jauh dari sebuah kata 'sempurna' bersaring ranting-ranting pohon yang jatuh. Sampai pelosok yang kupijaki begitu jauh dari kemerosotan keadaan. Sehingga tangan tetap merindu dengan sulaman berbalut bahasa penyejujuk jiwa. Maka, sesuai umur dan hitungan hari yang bertahan akan diberi kepanjangan dalam bernafas. Bila pergi tak disangka, itu merupakan kekhilafan dalam tak menjaga merawat. Untukmu yang pernah kudengar dengan jarak dan kedekatan yang tak habis dipuja-puji. Tetaplah berapit-mengapit dalam

KEMATIAN

Isak tangis Basahi tanah mengganas Dari tanah asal mula Kembali ke tanah lagi Maka... Tak ada penolakan takdir Menuju kematian berkala Yang tak terungkap jujur Papilawe Rabu, 29 Agustus 2018 By: Djik22

ADA APA?

Sejuta pertanyaan tak habis diukir dengan kanfas yang tak rapuh. Belum lagi, tinta basah selalu bersahabat tak mau pergi. Maka, pertanyaan terus berdatangan mengganghu separuh ketenanganku. Bukankah kau mengerti tentang segala kesibukan diri ini? Atau sengajamu mewakili arus gelombang menjelang pemilu? Sehingga ramai berirama mengiringi kolom komentar dan postingan berita. Perlu kuingatkan dirimu yang masih dalam kesegaran dan denyut lirih yang tak berkesudahan. Bahwa "Manusia mana pun pasti memiliki kebosanan, namun janganlah terus mengorek seolah ada lubang hitam yang tersembunyi" pada deretan zaman yang sedang bergejolak. Karena tak banyak yang berani mengungkap dengan kejujuran. Semua ini, lantar politik punya mau, ego kelompok punya ingin, dan sederet golongan yang berkepentingan dengan jubah partai politik. Kemudian aku bertanya di siang dan malam kala kau dan aku bertemu di bawah kibaran merah putih "Apa yang menimpa dirimu? Apakah kaummu dilindungi dengan ja

BADAI #1

#Part 01 Kehidupan seperti konspirasi alam semesta yang telah digariskan. Lantaran, berbuat baik pun dianggap sebuah kesalahan. Apalagi, sedikit noda kala perbuatan di alam semesta, maka hujatan tak berhenti dalam hidup yang penuh dengan rupa-rupa. Ada yang berpura-pura baik dan ada yang pura-pura buta dengan keadaan. Sehingga tetap berjalan seirama desiran debu. Tepat di bawah pohon, renungan datang dengan sisa bacaan menuju akhir. Namun, selalu saja kalimat-kalimat indah mengorek apa yang pernah terjadi. Sampai bacaan terhenti pada halaman dua ratus delapan puluh empat. Apakah kisah yang kubaca merupakan ulangan masa lalu? Atau buku besampul merah merupakan sebuah badai diputar kembali oleh semesta? Semua penuh makna dalam kucuran keringat dan pandangan mata. Bagaimana tidak, setiap yang kupandang adalah kenyataan, yang kudengar adalah isak tangis. Tapi, hati ini selalu kuat untuk menghadang di samping batu yang tersusun. Mataku tetap tertuju pada arah batu. Karena di atas batu

BADAI #2

#Part 02 Bukan aku menolak badai di tahun-tahun sebelumnya diputar kembali bersama sang waktu. Tapi, langkah kakiku sudah jauh bersama ranting-ranting pohon yang bertahan pada batang. Maka berharap angin tak datang menggganggu, biar nafasku tetap menghelai bersama daun-daun yang sedang bernyayi. Karena nyanyian selalu terus berkobar, melantungkan syair-syair indah menusuk sum-sum tulang belakang penguasa yang lalim. Pasti pikiran bijakmu bertanya "Untuk apa meneriakan syair perlawanan? Bukankah hidup ini berjalan untuk dinikmati?" Oh... badai sejarah yang menyimpan banyak tabu dan cahaya. Kalau memang badai masih tabu, maka segera diluruskan untuk jadi bahan pertimbangan anak cucu. Namun badai sejarah penuh dengan cahaya, maka terus dipertahankan jadi pedoman generasi pelanjut. Karena aku, kau, dia, dan mereka tak ingin berpijak pada kesalahan. Maka mari berjalan terus di atas pundi-pundi kebenaran yang sedang dikumpulkan. Karena hidup merupakan pecahan logam mata uan

PENYAIR

Kala kata kau lantun Pengaruhi jiwa Lembutkan raga Untuk terus bertahan Dalam babat keringnya tanah Meraih panjangnya sejarah Yang terus dikaji Sampai hari ini Setidaknya... Kau adalah catatan legenda Yang jadi bahan refleksi Tapaki pristiwa demi pristiwa Wahai kau penyair tua Jika ragamu telah tiada Maka... Aliri darah juangmu bercahaya Biar tintaku tiada kering Saat merajut kalimah Yang terus benerang Lanjutkan cintamu bergelombang Namun... Bila ragamu masih utuh Maka... Jadilah inspirasi alirkan kata Melawan dengan kertas Bersabar mengejar ketertinggalan Terus berkarya dengan ikhlas Tanpa mengharap akan pujian Papilawe Minggu, 26 Agustus 2018 By: Djik22

TANPA ADA DAFTAR

Nafas terus mengembus Kala kata rindu bergelora Di pahatan jiwa yang membekas Sampai semesta ikut berkata Tentang kejujuran Tanpa menyayat hati hari ini Yang sempat memotong sunyi Pada teba-teba jalan Namun... Jalan ini masih panjang Tentang baik yang bergelombang Membawa semesta ikut bertahan Katamu... Rindu adalah perkiraan Bertahan adalah kesabaran Yang tak mungkin layu Termakan waktu Antara jarak yang semu Titipkan barisan kata Gambarkan alam raya Tapi... Aku tak sedang curiga Aku tak lagi berbahaya Dalam pikiran yang berisi Penuhi hariku yang datar Tanpa ada daftar Yang dipayungi belenggu Sampai terus menunggu Papilawe Sabtu, 25 Agustus 2018 By: Djik22

PERIHAL NASIHAT #1

#Part 01 Kehidupan bahagia mulai menjauh dari sisi alam semesta yang merindu. Seolah janji berbalut sakral, pergi berduyun bersama arah geraknya angin. Sehingga pendirian mulai kendor dari tali bahaya melaju. Lalu, dimana laju sederhanamu? Terus kemana pesan datarmu? Semua terasa hampa di bawah terik matahari. Belum lagi, pembelaan begitu kuat sampai menyalahkan satu sama lain. Bukankah mengalah adalah pilihanmu? Lantas dimana aku diposisikan? Apakah harus tersingkir atau bertahan? Kalau memang restunya semesta tetap kau genggam, maka kukira berdirimu pada pesan aman tanpa ada gangguan. Namun, kesabaranmu jauh panggang dari pada api yang menyala-nyala tanpa arang yang bertahan. Buat apa kau nyalakan api kalau padam begitu cepat? Siapakah yang harus disalahkan? Semoga dirimu bukan hakim memutuskan perkara sederhana. Karena aku pun tak ingin sebuah putusan spontan tanpa pertimbangan matang. Atau kau lupa janji dengan nama Tuhan kala malam datang? Semoga dirimu masih bersandar d

MENJELANG BAHAGIA KAU PERGI

Foto: Almarhum Junianti Sri Loding, S. Pd. Sajakku... Tak mampu mewakili Tahun diputar kembali Sampai dua ribu tiga belas lalu Saat yang menggoda Pada tangga-tangga kampus Yang disulam tanpa keropos Masa kuasa berganti kuasa Sampai di tangga ke empat Kita bersama telah sepakat Untuk akhir yang bahagia Dari mentari pagi yang ceria Kenapa malam begitu lambat? Hingga waktu mulai memusuhi Kebersamaan yang erat Di dunia hitam putih mengelabui Bukankah kau memilih dahulu? Tapi... Tak untuk selamanya layu Namun tegar tanpa gentar bermimpi Untuk apa kau bermimpi? Lalu... Mengajak kami Rasakan pahit manis masa lalu Kalau waktu diajak kembali Hanya seketika Hitungan menit segera sampai Di waktu bahagia Bukankah esok adalah bahagia? Sampai kau dan sebagian Sudah meraihnya Dengan toga dan pengabdian Untuk apa kau pergi? Apakah membuka lembar baru? Atau menuju tanah berdebu? Yang sedang bernyanyi Oh... Kawan sekaligus saudara Doa dan harap memenja

TERINGAT PESAN AYAH

Jeritan terus mengeras Pada kesakitan begitu mengenas Di duri-duri batu dan kayu Sekian hari semakin layu Termakan tanah dan angin Yang tiba dengan perlahan Mengenai genangan air Mulai mengalir Dengan membawa sampah Menghapus sumpah Melupakan dosa Yang disengaja manusia Tapi... Pesan itu selalu bermelodi Hingga mengajakku tetap sabar Tanpa harus membalas membakar Sampak sejauh ini... Memakan dari keringat sendiri Adalah jalan dan pilihan Tergabung amanah dan komitmen Yang kupupuk begitu rapi Dengan bediri di kebenaran Sebagai sàndaran Atas pesàn ayah begitu suci Papilawe Rabu, 22 Agustus 2018 By: Djik22

BERSAMA DUA-DUA

Sontak pagi Menghadap pemilik bumi Dengan kalimah-kalimah indah Dari pengulangan sejarah berpuluh-puluh Yang berkorban Yang diuji dari kepentingan Sampai diajak menengok peringati Bersama-sama sebagai insani Wahai Pemilik Semesta DariMu menyadarkan hati Sebagai sumber ada dan tiada Yang tak bisa disetarakan pengganti Padahal... Ujian melimpah berdarah Gantikan hewan berbulu tebal Untuk menguji seorang ayah Namun... Apa pun yang terjadi Bagi siapa yang dilahirkan Dan bagi siapa yang dikorbankan Sebagai hamba Yang dilahirkan suci Yang dibalut dosa Tetap tercatat bersama dua-dua Papilawe Rabu, 22 Agustus 2018 By: Djik22

INSPIRASI

Juang yang menjulang Pada langit-langit rumah Yang mulai meraung Di dalam rumah Kenapa kau hadir? Dengan hitam yang manis Yang tak mengejar Di balutan gelas Oh... Hitam yang memikat Pada suluh tak berkeluh Sembari meratap tembok pengikat Andaikan hitam tanpa manis Maka... Sedari awal mengelak tiba Pada detak jantung yang beringas Namun... Manismu membuat godaan Sampai tak menolak Kala kerikil dan bambu mengajak Maka... Kugabungkan hitam dan putih Biar kotor ikut bersih Yang bersih tetap menyapa Sampai aku tergoda Dengan inspirasi Di desa asal mula Yang selalu melambai Klibang Selasa, 21 Agustus 2018 By: Djik22

MATAMU MATAKU

Jauhnya malam Membawa larutan haus Sampai membuat buram Di batas-batas sisa dan bekas Kemudian... Masih terus memandang Dengan mata yang terang Di bawah kolong langit peradaban Lalu... Untuk apa berteduh? Di bawah cahaya bersih Yang digilas zaman kelabu Kalau memang... Mata mengiyakan roda Pada putaran hati dan rasa Teruslah membawa ke penerang Biar kutahu tentang kejujuran Yang tak dibalut buru-buru Pada sulaman Sempat dikotori dengan debu Apakah matamu masih bersedia? Bila rayunya raga Untuk terlelap Bersama mimpi yang berselip Tapi... Matamu dan mataku Masih terang dengan pilu Sampai sulit ditutupi Papilawe Selasa, 21 Agustus 2018 By: Djik22

GEGAP GEMPITA KE-73

Merdunya suara Dari sudut-sudut lapangan Mengingat Mengenang Proklamasi Yang dibacakan pendiri bangsa Dengan gagah berani Tanpa ada ketakutan Di bawah tekanan para penjajah Lalu... Tenaga terkuras habis Ketika bambu runcing Melawan senjata-senjata canggih Rupanya... Bukan hanya tenaga Kalau dipikir dengan akal sehat Sampai memasuki relung-relung jiwa Alam pun ikut berjuang Sembari doa-doa suci Berlangsung untuk meraih merdeka Hingga dirasakan sampai detik ini Ketika yang kami ingat Adalah pengulangan masa lalu Yang kami lakukan Adalah penghormatan Atas jasamu tanpa pamrih Di segala lini kemudahan tiba Harmoni dalam hubungan Berbangsa dan bernegara Maka... Suara harus dirawat Dengan keberanian Sampai gegep gempita ke-73 Air mata terasa murah Raut berganti sedih Mengenang pengorbanan Tanpa berbalas dari waktu ke waktu Papilawe Jumat, 17 Agustus 2018 By: Djik22

MENJULANG KE LANGIT

Dahaga Bahaya Bahaya Bahaya Dahaga masih terasa Sayatan luka-luka Akibat ulah manusia menyerang Sampai tak dilupa pilih berselang Padahal... Luka itu masih sedih Dengan apit-mengapit rasa kebal Hingga berontak tak menjerit Kenapa yang baik dihalang? Yang buruk dirawat subur Hidup... Sebagai warga desa gemilang Namun selalu saja Disindir Dihantam Dilengserkan Jalan ini sebagai saksi Dari pristiwa ke pristiwa Yang menjulang ke langit Sampai digulingkan begitu pahit Tapi... Alam raya tak pernah buta Dengan kebajikan Menepi tak bertepi Duduk di rumah dianggap tamu Lantaran kuasa menjerit-jerit Seperti anak tunggal Yang kehilangan ibu dan ayah Kehilangan orang tua terkasih Papilawe Jumat, 17 Agustus 2018 By: Djik22

PERSEMBAHAN

Deru bercampur debu Ditumbuhi rerumpan menghijau Pada tanah Nubalema Sebagai saksi bisu tak buta Matamu mataku dan mata para penjuru Dengan kesan berlantun baris dahulu Kala senjata perang bangsa Melawan dengan gempita Oh... Para pejuang setia Sejarah tetap mencatat naskah Menggelegar bunyi-bunyi perasa Untuk apa luka kau tahan? Untuk apa tenaga membara? Kalau anak bangsa Mulai serang tertikam menekan Bukankah usahamu diapit doa? Yang dilantun dengan ikhlas Mahakaya baris-berbaris Sajak layu penuh tenaga Jika memang... Tanah adalah asal mula Jangan lupa Udara air mata tanah benerang Terus melaju Bersama cahaya Menyala-nyala tanpa keluh Di baris-baris dinding tokoh Persembahan ini Sebagai cinta kasih yang kurang Menyamai kuburan-kuburan pertiwi Menyimpan misteri bergelombang Papilawe Jumat, 17 Agustus 2018 By: Djik22

PERPISAHAN

Tinta yang jatuh Dari ujung pena tak memanah Bahayakan kertas dan tuannya Kala jemari mengukir kata Namun dengan cinta Yang lembutkan bahasa Sampai canda kau artikan tegang Sampai menggila ditafsir serius Oh... dunia cinta sepasang kasih Bersulam malam terbuai pagi Sampa canda mulai pergi Bersama hari jadi sejarah Ramuan cinta menyulam mabuk Hari jadi melankolis Drama cinta semakin memaikan peran Menghanyutkan Sampai bersatu jadi tercecer Dengan lakon di panggung sandiwara Yang indah jadi petaka Dalam kalimah tanpa definisi Mencibir mendawai senar kecewa Merisih tapaan sendu Menggigit rajutan cinta Semakin ciutkan hati Kerutan teman penantian Memerangi perpisahan Lewati lintas rambu kerinduan Dengan selimut malam bertabur bintang Adonara-Kupang Kamis, 16 Agustus 2018 By: Djik22 & BL22

LUNTURKAN GELISAH

Nada sumbang telah kau dengar Sempat mata menatap mengejek Seolah akulah musuh Yang sedang menyanyi sedih Di keadaan yang tak pantas Lalu... Sontak suara Protes mengutuk hati Kata-kata kurangkai Pada ujung tangkai gelisah Pada nyayian suara lesuh Membasuh kebimbangan Bergumam dalam nada Yang katamu... Ini cuma kepalsuan Sarang petaka Namun petaka tak pernah layu Menyamai pohon yang bernyanyi Di musim panas penuh nada Antara kata puja hina Yang dikoyak-koyak menghalus Hingga sindiran beranak cucu Jadi cerita tabir hitam Di kondisi ramai mencoba lucu Mencumbui tiap canda Sembari beri kecupan lembut Menawar keadaan Menyapa tanya yang bertamu Lalu... Menyeret jiwa merasuk Mendobrak hentakan hina Itu katamu Adonara-Kupang Kamis, 16 Agustus 2018 By: Djik22 & BL22

MERDEKA DI LEMBAH HIJAU

Lautan mata memandang Jutaan rupa bersolek riang Di atas rumput-rumput hijau Tanah subur menyimpan kemilau Oh... Tanah purba para pejuang Dari hari ke minggu Dari bulan ke tahun meruang Maka... Kau memanjat doa Aku berlantun sajak perjuangan Atas pristiwa silam berduyun Ingatkah tentang merdeka? Dari usaha kucuran darah Dari luka sampai nanah Meraih mimpi republik bernada Tahankah tenagamu berjuang? Relakah pikiranmu berkorban? Atas usaha pertahankan bangsa Demi damainya negara Maka... Mari menggenggam tangan Satukan niat dan tekad membara Dari laut sampai ke pegunungan Jangan kau lukai Pagi yang bercahaya Sambil berdiri menyaksi Sang Saka Peringati kemerdekaan di Lembah Hijau Papilawe Kamis, 16 Agustus 2018 By: Djik22

PERSINGGAHAN

Batas tanah ibu Telah dilalui dengan luku Tanpa ada ketakutan Dalam hati yang menekan Hati yang penuh hati-hati Sampai terhenti Di bawah ketapang Sambil layar mendayung Oh... Bunyi yang rayu mendayu Dalam keadaan lelah Namun tak mengeluh Saat tenaga tak lagi bersahabat Maka... Jalan ibu dan ayah Terus kutatap mengapit Terus... Aku dipanggil dengan nada datar Yang penuh cahaya panas Di rumah-rumah sejajar Seketika aku tertawa lepas Kala mengenang masa lalu Seolah jadi sejarah mendayu Tanpa mengoyak raga menipis Semua penuh nostalgia Sambil menunggu di persimpangan Debu kelikir di Wewit Ledo Hukun Dalam babat zaman penuh asa Wewit Kamis, 16 Agustus 2018 By: Djik22

MENGAJAK

Entalah... Keberanian dari mana berduyun Berlomba hampiri pelupuk mata Terus kupandangi Dalam-dalam Semua mulai mengerti Hingga terus mendekat Sampai ke zona nyaman Tapi... Raga mulai bergetar kaget Perubuhan menggunung tak bertepi Terus mencari masuki zona hidupmu Sampai kau menyapa dengan berani Di bulan perlawanan Di detik-detik sejarah bangsa Yang terus dikenang Kemudian... Datang lagi di hari ini Kuizinkan bumimu dan bumiku Menyulam benang kata tak kaku Sampai berbelit Sukar ditebak Di terik matahari hari Kamis Kau mengajakku untuk menulis Bele Kamis, 16 Agustus 2018 By: Djik22

MENUNGGU DI PEMILU

Ajakan selalu tiba tanpa diundang, lalu berhenti di kening keinginan yang bergelora. Sepertinya, dua pilihan membutuhkan komitmen di percikan api dan air. Biar saat berhenti di gurun mampu disirami air tanpa amarah. Lalu membakar api dari kayu bekas sisa potongan para petani. Sehingga raga ini tak diserang dingin dalam kehangatan. Akan tetapi, api yang kau nyalakan bukan karena kepentingan meraut suara. Sampai-sampai kau selipkan rupiah di dalam amplop untuk memasukan di kntongku. Dengan tegas kukatakan di depan matamu disaksikan pasir yang berdesir "Bahwa mataku tak gila pada warna rupiah, dan pola pikirku tak mampu kau bujuk dengan bahasa manis memanas rasa." Kemudian rautmu tersipu malu dengan tangan gemetar. Kumelihat ke belakang, ternyata ada rombongan tuan bawa. Iya mereka adalah tim sukses yang tuan sewa dengan memakan gaji dari sisa hasil korupsi. Apakah tuan menggap uang negara dijadikan bisnis? Atau tuan mau buat rakyat Indonesia jadi kaya? Hahaha... aku tert

JARGON LICIK

Momen pemilu Selalu ditunggu-tunggu Dari berjuta anak bangsa Terbuai dalam janji belaka Apakah janji sudah kebal? Hingga daya kritis jadi lemah Adu domba menguat bersikukuh Sampai tetap pertahankan lebel Bagaimana janji tuan khianati? Lalu... Mulai menyoal pelupa seolah tuli Sebagai manusia berbalut tabu Oh... Jangan memecah belah Dengan identitas dan warna Membuat keadaan jadi duka Atau politik tak mengenal rupa Membuat muka tetap mendua Di zaman genting Seolah kampanye tetap serang Sudahi saja... Tentang siapa tetap kuat Namun jangan menjilat Ludah yang jatuh di tanah purba Tengolah Ingatlah Warisan bangsa berlian Atas usaha dari kemajemukan Bele Rabu, 15 Agustus 2018 By: Djik22

ALAM RAYA BERSUARA PADA MAYA

#Part 01 Lantunan suara di genteng masjid, tenangkan hati sejukan jiwa. Sampai ingin diputar ulang setiap telinga terbuka. Namun saat ini, waktunya telah lewat. Hingga terus menunggu menjemput esok. Biar jalan tertati sambil berusaha menghadap keabadian. Lantunan itu, terbawa sampai ke alam mimpi. Bergelora pada buih-buih indah sajak yang ditulis. Tangan ini gemetaran kala desakan terus menekan, rayuan terus menipu, dan bisikan membuat ketakutan. Tapi lantunanmu mengalahkan segalanya. Maya... Apakah kau tahu tentang keburukan? Sampai di dinding hatimu tergambar jubah putih dikalungi tasbih. Bukankah kau artikan putih dan hitam sampai mata mengenal warna dan rupa? Kalau memang suara kau lantun dari atap menara menjulang langit, maka kepercayaan selalu ada mengapit makna di sajak alam raya berdahan. Tapi buahnya belum banyak dinikmati. Hanya kebanyakan yang merasakan dengan sambil lalu. Sampai di dinding tubuhmu dicoreti kata-kata sesuka hati. Maya... Apakah kau mendengar

TELUSUR

Jalanmu penuh liku Yang terus kudaki Dari batas senja menunggu Memanggil dengan hati tiap hari Tapi... Kaki tetap melangkah Dan mata ingin menatap lagi Seolah jalan ini penuh sejarah Kupuji pulau kasih sayangmu Yang memberi ketenangan Sampai jauh begitu dekat sisimu Belum sepenuh dilukiskan Namun tetap kuukir... Alam indah nan pesona Bersama angin sepoi menggoda Memasuki alur pikir yang tak kikir Sampai aku diajarkan... Tentang surga mahakaya Yang tak ada tara Di hari sunyi yang bermusuhan Kenapa aku diajak mengembara? Melewati kerikil dan debu Sepanjang hamparan gurun laju Hingga terus menelusuri masa Lamanele Selasa, 14 Agustus 2018 By: Djik22

ANTARA (576)

Sering ada perbandingan pada kata 'antara' ketika diapit oleh kalimat. Antara kau dan aku ternyata banyak perbedaan, antara kau dan dia memiliki banyak kesamaan. Antara pacar dan mantan adalah orang yang pernah berlabu dan sementara bertahan. Baik terkandas di tengah jalan, mau pun mampu melewati batas getir yang melampau kesabaran. Namun, pada kata 'antara' seolah jadi misteri yang tersembunyi. Serupa kolom kosong yang disembunyikan dengan untain doa. Lalu, dipercaya menjadi sebuah legenda atau mitos. Bagaimana sesuatu yang dipercaya tapi tak pernah diinderai? Apakah setan yang berpenampilan putih pada malam Jumat hanya menakut-nakuti? Kemudian muncul pertanyaan, siapa yang menjahit pakian putih yang dipakai setan? Ulasan ini, aku dapati saat duduk di bangku SD. Sang guru selalu menakut-nakuti pada setiap siswa. Bahwa malam Jumat selalu ada tanda ketika melewati tempat-tempat gelap. Saat itu, aku dan kawan-kawan sebayaku selalu percaya. Namun, batang hidung p

JARUM MALAM (574)

Di sela sebuah cerita Angin malam yang melambai Dingin jadi hangat berjiwa Pada redup terangi yang sepi Namun... Tetap saja dingin bersiul Lewat pori-pori masuki pergelangan Terus dirasakan bersama pegal Padahal... Bunyi-bunyi selalu berikan simbol Tutur kata menjelma bukti Yang dicampur burung malam bersiul Tapi... Keheranan terus melotot Pada setiap bahasa tak bertepi Dan pada mata yang ketat Teruslah berputar... Wahai sang jarum malam Biar esok tak kelam Dirajut rasa berdiri berjejer Papilawe Kamis, 9 Agustus 2018 By: Djik22

TERLINTAS MENUJU MALAM (565)

Rupanya keributan... Membuat getir tertahan Pada hamparan kerikil Yang terus memanggil Kenapa kau yang melintas? Sedangkan hatiku telah tertutup Bagi siapa yang ingin berkedip Dengan mata tak memanas Ternyata... Jilbab hitam yang lewat Dengan rombongan kerabat Namun mataku tak tertarik sapa Sebab... Kau begitu meninggi Dengan munafik raut lembab Mengikuti langkah kaki Namun malam selalu berbisik Untuk dekati cahaya Yang berpancar dan bertanya Tentang tubuh yang lekuk Biarkan malam kunikmati Dari pada menatap kelam Yang disiram tanpa hati Hingga percayaku tetap menyulam Dengan bahasa hati merendah Tanpa ada kata kompromi Perbaiki yang telah dilewati Pada noda yang tak lagi bersih Papilawe Minggu, 5 Agustus 2018 By: Djik22

SEMESTA (562) #2

Sumber foto: Djik22 Saat batu-batu hitam tertanam begitu panjang di dataran tanah keramat. Mata ini, selalu ingin terus menatap biar arah jalan tetap memantau dengan bisikan teruslah berjalan. Tapi, menghormati keindahan semesta adalah tugas manusia. Bukan hanya tahu merusak hasil ciptaan Yang Kuasa. Akan tetapi, keindahan harus dirawat biar daun pun tak ikut berserakan tanpa arah. Masih saja tentang semesta yang tak habis dipuji dengan kata-kata berlantun majas. Tapi, harus dipupuk dengan semangat pelestarian dari setiap generasi. Biar tak ada penebangan, pembakaran liar, bahkan perusakan lain yang lebih fatal. Karena bila tidak, maka kering kerontak akan menyamai musim kemarau yang begitu getir. Ketika batu-batu mulai hilang dari pandangan, terlihat jelas sepanjang alam luas alang-alang menguning berbaris rapi. Seolah kecemburuan ikut bergabung untuk bertanya pada sang tuan tanah. Karena alang-alang tersebut sisa sedikit dari bekas pembakaran lahan. Apakah yang akan dicer

SEMESTA (561) #1

Sumber foto: Djik22 Saat berdiri di jarak yang begitu jauh. Merenung indah menawan alam yang dihiasi pohon sejukan jiwa. Belum lagi, barisan peninggalan rahim purba menyimpan ribuan makna yang belum sempat dikaji. Bagaimana menikmai sisa peninggalanmu oh para pendahulu? Apakah harus menjaga atau membinasakan? Sekiranya kami adalah anak cucu yang mulai lupa. Sebab, banyak ajaranmu tergilas roda zaman melewati kerikil-kerikil tajam. Ditambah lagi dengan kotoran budaya terbawa dari negeri seberang. Lantas di mana berdiri dengan tegak atas keringat darah yang jatuh? Kalau memang segan adalah alasan ketakutan, maka desiran debu pun akan protes kala tanah tandus ditiup angin pantai bercampur pegunungan. Lalu tangan ini, memetik tiga daun di atas kendaraan. Saat terhitung berjumlah sembilan garis. Jika digandeng dengan dahan yang sebelah, maka akan tegak sembilan puluh sembilan tertulis angka. Oh... indah ciptaanMu ditambah dengan tanah sakral lewat perjuangan. Ibarat peran

SEDERHANA JADI PILIHAN (560)

Manusia memang tak puas Dengan apa yang dimiliki Seolah terus mengejar Harta dunia yang melimpah Pada batang emas Tinggal warna dan cerita Di babak sejarah terarah Sampai lupa daratan berpijak Di ketinggian tahta Dan kursi jabatan sogokan Lantaran uang jadi raja Biar yang lain dikecewakan Tapi... Raut tetap bercahaya Karena meminta pada Esa Dan berlindung di bawah perintah-Nya Biar dengam cara apa pun Memghela nafas dengam sabar Sampai tak ada kebencian Yang jadi biasa suburnya lahan Ketika amplop berdatangan Janji terus dilantunkan Saat pertemuan di pintu Yang mulai tertutup laku Sayangnya... Tak mengikit siapa-siapa Kepercayaan pada kebenaran Karena sederhana jadi pilihan Adonara/ Bidara Rabu, 1 Agustus 2018 By: Djik22

YANG DIGULINGKAN (459)

Bertubi-tubi... Daun-daun jatuh Mengotori halaman surga Dalam hening sepi mencekam Tapi... Haus kekuasaan sedang berlomba Dalam taring politik dan jabatan Gengsi antarkubu mulai terasa Sampai tegur sapa mulai hening Pada hajatan pertarungan Menusuk berlagak wibawa Saat kamija dan tisu melakat Oh... Begitu rapi Kalahkan pejabat birokrasi Yang memakan uang haram Kemudian sembunyi tangan Sambil senyum Raut muka menebar pesona Seolah salah tak jadi apa Yang penting pamor demi terkenal Namun... Sederhana tetap jadi pilihan Biar tawaran beribu ibu Dan hasutan mengaya ayah Sampai... Orang tua tinggal nama Jabatan tinggal cerita Karena diguling dengan sadis Adonara/ Bidara Rabu, 1 Agustus 2018 By: Djik22

KENANGAN DAN INGATAN SEMESTA (458) #1

Pegunungan adalah dunia main yang penuh ketenangan di hempas angin ribut tak mengganggu. Tapi, jatuhnya daun lebih terasa ketimbang bunyi sunyi bisik kerabat membangun peradaban yang pernah membuming. Dalam bahasa haru, tercacat getir dan air mata. Hingga tak mampu berjalan pada lorong indah dibangun dengan senyum. Kenapa senyum mulai redup saat usia mulai tua? Apakah ada kenangan pahit? Ternyata hidup ada dua baris hitam dan putih. Hitam sebagai pristiwa kelam masa lalu yang mengucurkan air mata. Sedangkan putih sebagai kebaikan dalam pengabdian batas senja. Tapi batas-batas itu, kian terang membuka tabir. Hingga tetap terang tempat berdiri dalam langkah dan ayunan tangan. Ingatan masih segar dalam alur pikir yang tersimpan rapi di memori otak. Tapi tak ada unsur hitam menodai pandangan objektif saat problematika kata dan bahasa. Sampai sejauh ini, tanah tempat berpijak masih membela dengan hati dan air yang mengalir masih memberi kehidupan bagi yang menimbah. Hidup h