Langsung ke konten utama

Sendiri Lagi #3 (279)

#Part 03


Keesokan sore, pelataran rumah dipancarkan kondisi yang mendukung. Menatap langit, senyum membalas tujuanku. Apalagi kupandang sebelah kiri,  tampak seorang bocah laki-laki menendang bola ke arahku. Lalu si bocah itu, menghampiriku dan berkata. "Kak... Kenapa senyum-senyum sediri? Boleh tidak kak menemaniku bermain bola?"

Sebelum kumemberi balasan, tanganku mengelus rambutnya yang disisir rapi. Langsung aku teringat kepada adikku. Banyak kesamaan antara mereka berdua. Bagaimana tidak...! Si bocah ini, menghabiskan waktunya dengan riang gembira. Pakian yang dikenakan selalu berpasangan antara baju dengan celana. Saat itu, sang bocah mengenakan baju dari salah satu club sepak bola tersohor dunia. Iya... Ia menggunakan baju Barcelona dengan nomor punggung 10 tertulis namanya, yaitu Faruqh Al-Habsyi.

Lalu si Faruqh pergi meninggalkanku tanpa mengingat lagi ajakannya. Mataku terus memandang, menatap dengan sedikit haru. Ternyata si Faruqh begitu mencintai bola sampai tak mengenal lelah dalam berlatih.

"Andaikan aku lelaki, maka bakatku dibagian olahraga mampu aku kembangkan. Tetapi sayang, aku ditakdirkan menjadi seorang perempuan. Apalagi ruang publik selalu memberi batasan sekat pemisah." Gumamku dalam hati, sambil menyeka air mataku yang membanjiri pipi tanpa kusadari.

Ketika dilahirkan sebagai perempuan, banyak kalangan yang menganggap remeh. Kata-kata sinis selalu berlaku untuk golonganku. Kami (perempuan) digolongkan sebagai kaum yang lemah, kaum yang selalu membuat kerusakan dengan penampilan. Baik menutup tubuh sepenuhnya, mau pun setengah telanjang. Tapi kenapa kebanyakan orang menilai dari sisi luar?

Apalagi banyak aturan yang menguntungkan pihak lelaki. Lelaki yang selalu menduduki posisi strategis. Yang lebih fatal adalah kebanyakan lelaki yang mensahkan aturan untuk mengebiri hak-hak perempuan. Lalu merasa bangga kalau perempuan hanya diam dan tak berani memberi perlawanan.

Inilah suatu pandangan kerdil yang sudah membudaya untuk merusaki pola pikir generasi pelanjut. Sebab pola pikir yang objektif akan menjadi penentu sebuah perubahan. Tidak hanya berpikir, tetapi pikiran yang cemerlang harus diaktualisasikan dalam bentuk tindakan. Sehingga tak hanya tersimpan untuk bahan doktrin dan ajaran sesat. Kenapa menjadi ajaran yang sesat? Karena kecerdasan tak dapat diwariskan. Tetapi kecerdasan hanya digunakan untuk menipu orang lain.

Semoga saja, Raka dan kawan-kawannya memandang perempuan sebagai kawan juang sejati. Kawan yang bukan sesaat, tetapi kawan sampai selamanya menuju kemenangan yang telah didengung-dengungkan. Baik itu, di forum diskusi maupun di dalam aksi demonstrasi.

Aku kaget, kalau hari ini ada pertemuan yang telah kukabari pada Raka. Pertemuan itu, dilaksanakan di taman kampus universitas Hasanuddin Makassar. Dengan langkah yang kaget, sambil mengambil Hp-ku di meja belajar. Aku menelpon Raka.

“Assalamualaikum... Raka di mana?”

“Maaf kalau aku sedikit terlambat, soalnya aku lupa kalau hari ini ada diskusi.”

Dengan suara yang lembut dan penuh kesabaran. Aku dapat merasakan lewat pilihan diksi yang digunakan dan layangkan lewat suara.

“Aku sudah di taman... Tidak apa-apa aku menunggu. Lagian aku belum sampai sebelas menit yang lalu.”

Jawabnya dari jarak yang berjauhan, tetapi kurasa begitu dekat. Seolah ia memberikan kenyamanan yang tak ada dua di dunia ini.

Aku menyiapkan diri. Kali ini, kebingungan menimpaku lagi. Sebab aku yang menyita waktu luangnya, tetapi aku yang terlambat. Tapi tidak jadi soal, lagian Raka adalah sosok lelaki yang pengertian. Apalagi ia adalah salah satu pengagum rahasiaku. Tapi tak ada satu pun yang tahu. Hanya aku yang menyimpannya dengan rapi tanpa harus diungkapkan.

Setelah selesai menyiapkan diri. Aku mengendarai motor kesayanganku. Dia adalah harta kesayanganku selalu menolong untuk melangkah. Sekaligus sahabat tersetia setelah buku. Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di taman Unhas. Belum lagi kemacetan di sore hari ketika kebanyakan orang pulang kerja. Butuh kesabaran yang tinggi untuk menerobos kepadatan pengguna kendaraan. Jadi kehati-hatian adalah kunci selamat menuju tujuan.

Dari depan pos satpam. Aku menatap sosok yang tak asing lagi. Sosok yang banyak membuat orang-orang terinspirasi, aku termasuk salah satunya.

“Tetapi kenapa ada perempuan berhijab yang belum pernah kulihat dikala diskusi?”

“Rupanya ada tambahan kawan baru. Semoga dia menjadi kawan kaligus curahan hatiku.”

Saat memandang di arah kiri-kanan. Ternyata banyak orang lalu-lalang. Ada yang berjualan, ada yang berdiskusi, ada yang berolahraga, dan masing-masing menjalankan aktivitasnya. Maklum aku heran, sebab baru pertama kali aku berkunjung.

Mengenal Raka, banyak hal baru yang aku dapatkan. Ia adalah orang pertama menunjukan dunia gerakan, diskusi, dan sedikit romantisme. Walau tidak pernah diucapkan, tetapi ia tunjukan lewat gerak-geriknya. Apalagi saat bertemu, Raka selalu memberikan senyuman sambil menggodaku.

“Tanganmu mulus ya! Pasti suka perawatan.”

Ucapan ini, ia katakan ketika kami bertemu di sekretariat yang kedua kalinya.

Aku menghampiri Raka dan perempuan yang berhijab tersebut.

“Hy... Raka... Maaf aku terlambat !!! Soalnya tadi ditambah macet.”

Sambil aku menyodorkan tanganku memberi salam. Raka pun memperkenalkan perempuan berhijab itu.

“Dil..! Kenalin, ini Dina.”

“Hy... Dina... Aku Dila. Senang berkenalan denganmu.”

Tapi firasatku merasakan lain. Seolah ada yang telah mengguncang bersama tarikan napasku.

“Kenapa aku pucat dan malu ketika bertemu Raka dan Dina?”

“Apakah ada hal yang Raka sembunyikan? Atau jangan-jangan Raka ingin memperkenalkan kalau Dina adalah pacarnya...!!!”

Biar Dina adalah pacarnya Raka. Tak ada hakku untuk mencari tahu. Karena aku dengan Raka tak ada hubungan istimewa. Lagian Raka adalah lelaki yang tak mudah jatuh cinta. Karena ia ingin berjuang tanpa dibatasi oleh perempuan. Apalagi perempuan berhijab.

Bagi Raka, memperbanyak kawan adalah jalan untuk mempermudah segala urusan. Apalagi Raka dan kawan-kawannya memiliki mimpi yang mulia. Pasti ia tak tergiur pada perempuan yang membatasi ruang geraknya. Karena dua hari yang lalu, ia menceritakan tepat di depan halaman kontrakanku.

Kami bertiga mulai bediskusi tentang ‘Strategi taktik’ memenangkan panggung politik di dalam kampus. Karena kampus hari ini, menambah bobot mahasiswa seperti ‘Mesin robot’ yang tak bisa berbuat apa-apa. Belum lagi, ditambah aturan kampus yang membatasi ruang demokrasi. Kami berdiskusi bagaimana penerapan ‘Demokrasi sejati’ mulai digerakan secara perlahan. Jikalau banyak mahasiswa di dalam kampus mulai bersikap acuh tak acuh, maka pola dan metode mengorganisir massa harus dirubah.

Sebab belakangan ini, rezim boneka mulai mengalihkan dalil propaganda yang menenangkan gerakan mahasiswa. Padahal mahasiswa sebagai ‘Pelopor’ yang mampu membawa bangsa ini menuju masyarakat adil dan makmur sesuai dengan keinginan para pendiri bangsa dan dasar negara Republik Indonesia.

Ragam stratregi taktik yang kami hasilkan dari diksusi mini ini untuk mengisi ruang-ruang ideologis harus dimulai dengan forum yang kecil. Karena perlawanan sekarang harus diserang lewat berbagai sisi untuk menghapus sistem penindasan dan perbudakan bertambah jadi setelah pemerintah mendatangkan tenaga kerja asing untuk dipekerjakan di bumi pertiwi ini. Dengan upah yang lebih tinggi dibandingkan kaum buruh yang ada di Indonesia itu sendiri. Begitu miris dan kejam, hidup di negeri yang kaya tetapi sengsara lalu menjerit sambil meratap tangis.

Kondisi sekeliling kami mulai gelap. Orang-orang menuju jalan pulang. Menatap suasana semakin sepi, tatapanku tertuju pada air mancur yang tak jauh dari tempat duduk Raka. Seolah air itu memancarkan makna tentang keterikatan. Tapi kata-kataku tak bisa kulanjutkan untuk memaknai filosofi air mancur. Setidakanya air sebagai penyejuk dan mampu mendinginkan keadaan yang gerah.

Tanganku memaini air sambil aku membacakan puisi tiga bait. Puisi yang kutulis dalam ruang satpam sebelum aku bertemu dengan Raka dan Dina. Tulisan ini kuangkat dari kisah nyata, lalu kupadukan dengan imajinasiku sendiri.

         Senja yang mulai sepi,
         Mendatangkanku dalam keadaan,
         Yang tak tepat pada alam keramaian,
         Seolah aku menolak,
         Kalau ini bukan duniaku.

         Kenapa orang-orang lalu-lalang?
         Kenapa mereka menyibukan diri?
         Apakah mereka mencari kebahagiaan?
         Atau hanya mencari angin segar.

         Jauhkan aku,
         Oh... alam yang tak berbohong,
         Bila hati tak mampu dimengerti,
         Maka aku memilih untuk sendiri lagi.

Aku yang keasyikan. Sempat menoleh ke arah Raka dan Dina, ternyata mereka berdua sambil memegang tangan dan memberi cubitan kecil. Lalu aku berpura-pura untuk tak melihat. Raka kemudian memanggilku.

“Dil... Ayo gabung!"

Sambil menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakan. Aku memberi kode kepada Raka dan Dina kalau aku tak mengganggu kenyamanan mereka.


Makassar
Minggu, 22 April 2018
By: Djik22

Komentar

Populer

FILOSOFI DAUN PISANG

Harapan dan mimpi dari setiap kepala tidak semua terpenuhi dengan usaha dan praktik. Tapi masih membutuhkan untuk saling dekat dan merespon segala polomik. Di masa yang akhir ini, perutmu telah melahirkan bayi yang masih merangkak dipaksa berjalan di kerikil jalan persimpangan. Dari rawat dan buaian, telah membuka mata batin, mengevaluasi adalah jalan yang tepat. Karena kurangnya menilai dari setiap sisi. Sehingga lahir dua persimpangan kiri kanan jalan. Mata telah terang, langkah sudah tepat, bersama sudah terpupuk, kesadaran mulai bangkit. Berdiri dan bergerak. Saatnya cahaya jadi penerang. Titipan amanah 20 21 11 14 jadi bahan belajar bersama. Filosofi "Daun Pisang dan Bidikan Panah yang Tepat" telah ditemui jawaban dan makna yang dalam. Dia bukan sekedar kata, tapi dialah nyawa setiap yang di dalam. Makassar, April 2017 By: Djik22

TOGAKU TAK IBU SAKSIKAN

Perjuanganmu ibu Mengantarkanku meraih mimpi Mataku lembab berhari-hari Setiap saat mengingat ibu Harapan ibu Aku tetap kuat Aku tetap melaju Tapi ibu Saat bahagiaku Takku tatap lagi ibu Wajah bersinar hadir dalam mimpiku Kala itu ibu Ibu Toga dan pakian kebahagiaanku Semua untuk ibu Togaku tak ibu saksikan Karena ibu telah tiada Yakinku ibu senyum melihatnya Tetap tersenyum di sisiku ibu Dua puluh tiga November dua ribu tiga belas Dua kali dengan angka tiga Ibu telah berbaring bergegas Makassar Minggu, 1 Oktober 2017 By: Djik22

PERLUKAH JEMBATAN PALMERAH?

Sedikit menggelitik, ketika wacana pembangunan jembatan Palmerah. Wacana ini, hadir di beberapa tahun terakir. Di tahun 2017, tidak kala seksi pendiskusian jembatan Palmerah. Maka muncullah pro dan kontra. Padahal merefleksikan wacana ini sangat penting. Kenapa Wacananya Jembatan Palmerah? Mari kita menganalisa secara seksama. Pertama, jembatan Palmerah adalah sejarah pertama di Indonesia bila terbangun. Karena menyambungkan dua pulau, yaitu Pulau Adonara dan Pulau Flores (Larantuka). Jarak jembatan Palmerah dengan panjang bentangan 800 meter akan dipasang turbin 400 meter. Kedua, persoalan proses pembangunan jembatan Palmerah dibutuhkan dana tidak sedikit. Diperkirakan dana mencapai Rp. 51 triliun. Hal ini, perlu dipikirkan. Karena Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTT pada tahun 2016 hanya mencapai Rp. 3,8 triliun. Sama halnya pemerintah mengajak kita mengutang dengan investor (swasta). Ketiga, jembatan Palmerah bukan proses meninabobokan masyarakat Flores Timur

ADONARA DALAM PUISI

Petuah kata sejarah Masih temani kaki untuk melangkah Dalam bayang-bayang ibu kuatkan hari Dalam jelmaan ayah pancarkan cahaya hati Hingga tebal awan kota Ingatkan suasan desa Dihimpit berdiri megahnya Ile Boleng Didekatkan Bukit Seburi tanah kampung Karena kitalah gunung yang berdiri Karena kitalah bukit yang menyapa Membawa bisikan bahari Ketika menghadap ke arah pantai Sampai kata dan petuah terus mengikut Wariskan api dari generasi ke generasi Tentang pentingnya menjaga kata Tentang indahnya memakai tenun ikat Maka... Tak kulupakan petuah indah dan keramat Tak kuingkari segala kata-kata bernyawa Di atas alam ditaburi darah dan air mata Karena air mata Bukan hanya tentang tangisan Bukan hanya tentang derita tanpa rasa Namun air mata darah tanda perjuangan Maka... Untuk mengingatmu yang di gunung Untuk mengenangmu yang di pantai Aku mengisi kata-kata lewat puisi Karena darah dan bisikan kata terus diasa Biar perang telah terganti buka dan pena

ANTARA (576)

Sering ada perbandingan pada kata 'antara' ketika diapit oleh kalimat. Antara kau dan aku ternyata banyak perbedaan, antara kau dan dia memiliki banyak kesamaan. Antara pacar dan mantan adalah orang yang pernah berlabu dan sementara bertahan. Baik terkandas di tengah jalan, mau pun mampu melewati batas getir yang melampau kesabaran. Namun, pada kata 'antara' seolah jadi misteri yang tersembunyi. Serupa kolom kosong yang disembunyikan dengan untain doa. Lalu, dipercaya menjadi sebuah legenda atau mitos. Bagaimana sesuatu yang dipercaya tapi tak pernah diinderai? Apakah setan yang berpenampilan putih pada malam Jumat hanya menakut-nakuti? Kemudian muncul pertanyaan, siapa yang menjahit pakian putih yang dipakai setan? Ulasan ini, aku dapati saat duduk di bangku SD. Sang guru selalu menakut-nakuti pada setiap siswa. Bahwa malam Jumat selalu ada tanda ketika melewati tempat-tempat gelap. Saat itu, aku dan kawan-kawan sebayaku selalu percaya. Namun, batang hidung p

KARYAMU TETAP MEMIKAT

Foto: Abdul Rahim (Khalifah05) Ketika doa-doa Telah kau panjat Dengan lemah-lembut Pada Tuhan Yang Esa Tak lupa pula Pintamu Pada para pendahulu Dengan merinding bulu-bulu Begitu dalam penghayatan Bersama angin Bersama waktu Bercampur masa lalu Maka... Yakin pun mendalam Tak secuil akan buram Tampak pada kaca belaka Namun ia selalu melekat Selalu mempererat Antara roh dan jasat Hingga karyamu tetap memikat Makassar Jumat, 21 September 2018 By: Djik22

PEMUDA SAHABAT PERUBAHAN (397)

Indonesia adalah negara yang terdiri dari ragam perbedaan. Baik suku, ras agama, budaya, dan corak berpikir. Inilah bagian kekhasan dari bangsa ini. Dengan kekhasan tersebut, maka tak heran bangsa Indonesia dikenal dengan kemajemukan dan menjujung tinggi perbedaan. Sebab perbedaan adalah varian dari semangat menuju persatuan. Belum lagi menerobos batas wilayah yang terdiri dari beberapa provinsi. Perlu kita menelisik lebih jauh lagi tentang bagaimana membangun tatanan bangsa. Supaya mampu keluar dari zona ketertinggalan. Ternyata, ketertinggalan adalah salah satu masalah dari apa yang dirasakan setelah revolusi Indonesia didengungkan. Walau merdeka secara pengakuan sudah memhudata sampai ke telinga anak cucu. Tapi pertanyaan besar yang harus dijawab, Kenapa merdeka secara praktik/ penerapan jauh panggang dari api? Ketika secara penerapan dalam kehidupan berbangsa mulai melenceng dengan dasar negara, maka harus kembali mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang telah diletakan oleh