Langsung ke konten utama

CERITA SEMESTA #3

Ketika kemarin satu tangga aku telah naik dengan senyum dan renungan, maka hari ini apakah tetap tersenyum atau air mata. Namun doa terbaik dibutuh tabah dalam menambah cerita semesta. Karena pulau pesona menawan hati sedang menanti. Tapi belum juga aku sampai di dermaga tempat berdirimu. Tataplah aku wahai penyejuk hati, biar kebahagianmu bersama semesta yang menyulam intaian gemuruh doa setiap kaki ini melangkah. Apakah iklasmu dalam bisikan kata suara yang dikirim? Atau masih ada jelmaan lain dalam diriku?

Jika memang masih ada jelmaan dalam diriku, maka kukira butuh waktu untuk menghilangkan ingatanmu tentang pulau lama. Bukan juga aku ingin segera ingatanmu hilang begitu saja. Akan tetapi, masa lalumu bagian dari sejarah panjang penuh dendam dan pelajaran berharga. Maka ambillah pelajaran menawan sukma menambah laju berpikir. Biar jalan menelusuri arus gelombang kehidupan tetap dinikmati tanpa keluh. Sebab, mengeluh sebagai dasar berdiri, maka kebosanan dan pasrah menyayat-nyayat semangat lalu terpola menjadi tak berdaya menghadap tantangan zaman.

Apalagi zaman semakin memanjakan banyak raga. Aku jadi takut kala dirimu terjebak menjadi manusia yang lupa diri, lupa tugas sebagai generasi pembenah, dan lalai pada arah gerak perubahan. Lalu, untuk apa diberikan nafas dan raga? Apakah hanya menikmati semerbak harum mewangi, menghirup udara yang berpolusi, dan menjelma jadi manusia yang lupa pada kepentingan banyak orang. Bukankah perjuangan adalah kesamaan antara kau dan aku? Sehingga cinta pun kita memaknai sebagai 'perjuangan' tanpa protes.

Ketika kata 'protes' sering kutemui di jalan-jalan, sambil para massa aksi menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Dengan gagah berani para demonstran memberi nada kritis atas kebijakan pemerintah yang tak pro terhadap rakyat. Semoga kau dan golonganmu tak mengganggap miring tentang demonstrasi. Karena mereka rela kucurkan darah, keringat, dan suara melawan senjata yang dikalungkan di leher para aparat berdiri berjejer. Seolah-olah, suara lewat corong megafon dibendung dengan peluru emas. Lalu kemana hak kita sebagai warga negara? Atau kau memilih diam untuk melihat pebindasan? Ternyata, dunia kebebasan suara pun direnggus oleh kepentingan golongan. Hingga menggunakan rupiah menghambur menutup mulut.

Terus alam pun menderita akibat huru-hara kejar-mengejar kepentingan. Tapi, apa hendak dikata kalau alam lebih memilih diam serupa dirimu yang tak suka nada kasar. Karena bagimu "hal yang paling kau takutkan adalah berlaku kasar hidup sebagai manusia" di atas muka bumi. Karena trauma masa silammu belum bisa sepenuhnya kau hilangkan dari ingatan berlianmu. Maka, satu poin penting yang kupetik dari dirimu adalah "kau menolak berlaku kasar tak berprikemanusian, tapi kau lebih menyukai kelembutan dan kasih sayang sepanjang waktu".

Kemudian mataku menatap dalam-dalam keadaan yang sedang mengamuk. Ternyata ada bara api yang marah dengan kuatnya. Rupanya, ada kebakaran terjadi di lahan baru pulau baru. Maka sontak hatiku berkata "semoga ini bukan tanda buruk untuk langkah kedepannya" hidup sebagai akar yang mulai kekurangan siraman air. Tapi, api itu terus menjalar. Ketika ditelusuri, ternyat tangan manusia sering nakal untuk menyuliti bara api pada hutan baru yang sedang tenang. Lalu untuk apa punya tanah luas kalau tak dimanfaatkan dengan baik? Apakah pulau baru akan terus dihantam badai saat musim kemarau?

Pertanyaan tentang kebakaran terhenti sekeketika. Karena sapamu terlalu lembut di durasi waktu pukul 15.33 bertepatan dengan hari Senin. Tanyamu "Apakah masih ada lanjutan cerita semesta tentang kebakaran akibat ulah nakal tangan manusia?" Kemudian kutarik nafas dalam-dalam. Sambil membuka buku di lembar terakhir kuberi jawaban "Inilah cerita semesta tentang kebakaran yang sedang kurangkai dengan sedikit polesan sayang yang tak berkesudahan". Tanyamu lagi "Biar apa?" Jawabku "Biar kasih dan sayang mewakili perawatan cinta kasih untuk semesta".

Sudah saatnya, alam jalan cerita ini harus ditaburi dengan benang sastra yang bukan hanya mengotak-atik kata, mempermanis bahasa, dan memperindah kalimah yang jauh dari realitas. Tapi, cobalah tiduri gubuk-gubuk petani yang lahannya dibakar, dipaksa pindah tanpa ganti rugi suara dibungkam. Maka kau akan temukan derita yang sebenarnya. Sebab sayang tak hanya sebatas merapatkan bibir, mememluk dengan nafsu seolah dalam film-film menguci iman. Tapi baiknya adalah memeluk si lemah dengan berlian konsep. Lalu kau mrngajak aku dan si lemah tetap satu barisan perlawanan.

Tepat di tanah sengketa, tempat aku berdiri yang dianggap tamu lantaran budaya bisu nyanyian ala picik. Kisaksikan gemerlapan tangan yang dengan pongah tanpa prikemanusian mengusir dengan wajah-wajah kasar. Hingga menyeret-nyeret kesakitan dan pertolongan merupai jeritan. Tapi, tetap saja usiran tambah keras di tanah yang sudah lama ditempati. Apakah kau pun ikut prihatin kemudian diam? Atau kau satukan kepalan tanganmu menguatkan bara jiwa untuk terus melawan menuju keadilan?

Untuk kesekian derita luka alam yang kucatat masih buram dan samar. Maka perlu sebuah analisi yang tajam dalam kelam. Biar kekelaman di mana pun tempat segera terbenahi dengan arak-arakan semangat yang tak usang digilas kondisi kekinian yang sedikit manja. Sebab, kau pun pasti tak setuju sejuta konsep untuk sepakan hidup sebagai tamu di tanah sendiri. "Di manakah kau berpihak? Apakah pada ketenaran atau kebenatan?" Tanyaku semakin tajam di baria akhir cerita semesta dengan jiwa yang muali bergelora.


Perjalanan Lembata-Maumere
Senin, 10 September 2018
By: Djik22

Komentar

Populer

FILOSOFI DAUN PISANG

Harapan dan mimpi dari setiap kepala tidak semua terpenuhi dengan usaha dan praktik. Tapi masih membutuhkan untuk saling dekat dan merespon segala polomik. Di masa yang akhir ini, perutmu telah melahirkan bayi yang masih merangkak dipaksa berjalan di kerikil jalan persimpangan. Dari rawat dan buaian, telah membuka mata batin, mengevaluasi adalah jalan yang tepat. Karena kurangnya menilai dari setiap sisi. Sehingga lahir dua persimpangan kiri kanan jalan. Mata telah terang, langkah sudah tepat, bersama sudah terpupuk, kesadaran mulai bangkit. Berdiri dan bergerak. Saatnya cahaya jadi penerang. Titipan amanah 20 21 11 14 jadi bahan belajar bersama. Filosofi "Daun Pisang dan Bidikan Panah yang Tepat" telah ditemui jawaban dan makna yang dalam. Dia bukan sekedar kata, tapi dialah nyawa setiap yang di dalam. Makassar, April 2017 By: Djik22

TOGAKU TAK IBU SAKSIKAN

Perjuanganmu ibu Mengantarkanku meraih mimpi Mataku lembab berhari-hari Setiap saat mengingat ibu Harapan ibu Aku tetap kuat Aku tetap melaju Tapi ibu Saat bahagiaku Takku tatap lagi ibu Wajah bersinar hadir dalam mimpiku Kala itu ibu Ibu Toga dan pakian kebahagiaanku Semua untuk ibu Togaku tak ibu saksikan Karena ibu telah tiada Yakinku ibu senyum melihatnya Tetap tersenyum di sisiku ibu Dua puluh tiga November dua ribu tiga belas Dua kali dengan angka tiga Ibu telah berbaring bergegas Makassar Minggu, 1 Oktober 2017 By: Djik22

PERLUKAH JEMBATAN PALMERAH?

Sedikit menggelitik, ketika wacana pembangunan jembatan Palmerah. Wacana ini, hadir di beberapa tahun terakir. Di tahun 2017, tidak kala seksi pendiskusian jembatan Palmerah. Maka muncullah pro dan kontra. Padahal merefleksikan wacana ini sangat penting. Kenapa Wacananya Jembatan Palmerah? Mari kita menganalisa secara seksama. Pertama, jembatan Palmerah adalah sejarah pertama di Indonesia bila terbangun. Karena menyambungkan dua pulau, yaitu Pulau Adonara dan Pulau Flores (Larantuka). Jarak jembatan Palmerah dengan panjang bentangan 800 meter akan dipasang turbin 400 meter. Kedua, persoalan proses pembangunan jembatan Palmerah dibutuhkan dana tidak sedikit. Diperkirakan dana mencapai Rp. 51 triliun. Hal ini, perlu dipikirkan. Karena Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTT pada tahun 2016 hanya mencapai Rp. 3,8 triliun. Sama halnya pemerintah mengajak kita mengutang dengan investor (swasta). Ketiga, jembatan Palmerah bukan proses meninabobokan masyarakat Flores Timur

ADONARA DALAM PUISI

Petuah kata sejarah Masih temani kaki untuk melangkah Dalam bayang-bayang ibu kuatkan hari Dalam jelmaan ayah pancarkan cahaya hati Hingga tebal awan kota Ingatkan suasan desa Dihimpit berdiri megahnya Ile Boleng Didekatkan Bukit Seburi tanah kampung Karena kitalah gunung yang berdiri Karena kitalah bukit yang menyapa Membawa bisikan bahari Ketika menghadap ke arah pantai Sampai kata dan petuah terus mengikut Wariskan api dari generasi ke generasi Tentang pentingnya menjaga kata Tentang indahnya memakai tenun ikat Maka... Tak kulupakan petuah indah dan keramat Tak kuingkari segala kata-kata bernyawa Di atas alam ditaburi darah dan air mata Karena air mata Bukan hanya tentang tangisan Bukan hanya tentang derita tanpa rasa Namun air mata darah tanda perjuangan Maka... Untuk mengingatmu yang di gunung Untuk mengenangmu yang di pantai Aku mengisi kata-kata lewat puisi Karena darah dan bisikan kata terus diasa Biar perang telah terganti buka dan pena

ANTARA (576)

Sering ada perbandingan pada kata 'antara' ketika diapit oleh kalimat. Antara kau dan aku ternyata banyak perbedaan, antara kau dan dia memiliki banyak kesamaan. Antara pacar dan mantan adalah orang yang pernah berlabu dan sementara bertahan. Baik terkandas di tengah jalan, mau pun mampu melewati batas getir yang melampau kesabaran. Namun, pada kata 'antara' seolah jadi misteri yang tersembunyi. Serupa kolom kosong yang disembunyikan dengan untain doa. Lalu, dipercaya menjadi sebuah legenda atau mitos. Bagaimana sesuatu yang dipercaya tapi tak pernah diinderai? Apakah setan yang berpenampilan putih pada malam Jumat hanya menakut-nakuti? Kemudian muncul pertanyaan, siapa yang menjahit pakian putih yang dipakai setan? Ulasan ini, aku dapati saat duduk di bangku SD. Sang guru selalu menakut-nakuti pada setiap siswa. Bahwa malam Jumat selalu ada tanda ketika melewati tempat-tempat gelap. Saat itu, aku dan kawan-kawan sebayaku selalu percaya. Namun, batang hidung p

KARYAMU TETAP MEMIKAT

Foto: Abdul Rahim (Khalifah05) Ketika doa-doa Telah kau panjat Dengan lemah-lembut Pada Tuhan Yang Esa Tak lupa pula Pintamu Pada para pendahulu Dengan merinding bulu-bulu Begitu dalam penghayatan Bersama angin Bersama waktu Bercampur masa lalu Maka... Yakin pun mendalam Tak secuil akan buram Tampak pada kaca belaka Namun ia selalu melekat Selalu mempererat Antara roh dan jasat Hingga karyamu tetap memikat Makassar Jumat, 21 September 2018 By: Djik22

PEMUDA SAHABAT PERUBAHAN (397)

Indonesia adalah negara yang terdiri dari ragam perbedaan. Baik suku, ras agama, budaya, dan corak berpikir. Inilah bagian kekhasan dari bangsa ini. Dengan kekhasan tersebut, maka tak heran bangsa Indonesia dikenal dengan kemajemukan dan menjujung tinggi perbedaan. Sebab perbedaan adalah varian dari semangat menuju persatuan. Belum lagi menerobos batas wilayah yang terdiri dari beberapa provinsi. Perlu kita menelisik lebih jauh lagi tentang bagaimana membangun tatanan bangsa. Supaya mampu keluar dari zona ketertinggalan. Ternyata, ketertinggalan adalah salah satu masalah dari apa yang dirasakan setelah revolusi Indonesia didengungkan. Walau merdeka secara pengakuan sudah memhudata sampai ke telinga anak cucu. Tapi pertanyaan besar yang harus dijawab, Kenapa merdeka secara praktik/ penerapan jauh panggang dari api? Ketika secara penerapan dalam kehidupan berbangsa mulai melenceng dengan dasar negara, maka harus kembali mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang telah diletakan oleh