Langsung ke konten utama

Sendiri Lagi #1 (217)

#Part 01

Jangan tanyakan kenapa aku berubah. Kemana harus pergi berlindung. Seolah semua jalan sudah tertutup lantaran percaya. Lagian percaya, tak sesuai gambaran keadaan yang gelap di pelataran rumah kayu. Yang dicat berbagai warna dipadukan menawan. Ada hitam, merah, putih, dan masih banyak lagi campuran. Dipoleskan pada dinding-dinding sebagai seni bercampur mitos bacaan kepercayaan.

Tiba-tiba, datang sebuah badai yang sulit dilupakan bersamaan datang orang dari belakang menempuk pundakku.

"Kenapa mengelamun?"

Jawabku "Aku tak mengelamun." sambil menoleh ke arah sumber suara.
Ternyata yang datang adalah kenalan baikku. Usianya tak jauh beda denganku. Dia berusia 21 tahun, yang biasa dipanggil Raka.

Raka adalah anak anggota DPRD dari kota kelahiranku. Kebetulan kami sama-sama berdomisili untuk melanjutkan pendidikan tinggi di kota yang sama. Tapi berbeda kampus dan jurusan. Raka orang yang pengertian dan punya banyak cara menenangkan hati. Banyak kelebihan yang ia miliki, sehingga tak heran Raka selalu dimintai bantuan oleh kawan-kawannya.

Saat itu, aku dan Raka masih duduk di pelataran depan rumah. Yang dihiasi dengan keresahan kota dan pemandangan sedikit kumuh dengan bau-bau sampah yang mengganggu pernapasan. Beruntung, tempat kontrakanku di lantai dua.

Dengan sikap yang gugup, aku beranikan diri untuk bertanya sosok periang di depan mataku.

"Raka mau minum apa?"

Jawabnya malu-malu sambil garuk kepala "Em... apa ya? Eh... Kopi hitam saja".

Sambil dahi Raka sedikit keringat. Entah kaget dengan pertanyaanku atau memang sudah jadi pembawaannya sejak lahir.

Aku pamit sebentar ke Raka untuk memutarkan kopi. Tapi, aku lupa menanyakan takaran seperti apa, sehingga sesuai keinginan Raka. Di sini, muncul tebakan dan analisa subjektif. Kalau orang seperti Raka, harus meminum kopi sedikit manis tapi tak terlalu pahit.

Sekitar setengah jam, aku bergegas untuk menghidangkan kopi dan cemilan di meja tamu. Sambil berkata kepada Raka "Jangan malu-malu, anggap saja ini rumahmu". Raka pun memberi senyuman sedikit muncul gigi taring putih menawan menggoda hati di kebingungan rasa.

Raka mulai membuka cerita sedikit merapikan baju kameja coklat dan memperbaiki posisi dudukunya. Tapi, ada sedikit pancaran pucat di wajahnya. Sehingga Raka langsung menarik napas dan berkata.

"Sebenarnya saya mau bilang, kalau...!!!

Aku menikmati mimiknya dan sambil menunggu kelanjutan kata-kata yang belum diungkapkan.

Ternyata dia hanya menarik perhatian untuk memikat hatiku. Dengan sontak dan keberanian diri, aku berkata.

"Sebenarnya Raka mau bilang apa?"

Tapi Raka malah tak memberi jawaban sedikitpun.

Kondisi sore itu, mulai ramai dengan mainan-mainan. Anak-anak yang berumur sekitar 7 tahun menikmati pertandingan bola kaki di dalam lorong dan dijagai oleh orang tua mereka. Lalu-lalang sepeda-motor para penjual sedikit mengganggu permainan anak-anak kecil itu.

Aku dan Raka pun mengalihkan perhatian pada permainan yang sedang mereka lakukan. Seolah masa kecil ini yang sudah pernah aku alami di 14 tahun yang lalu bersama teman-teman mainku masa kecil.

Tak lama kemudian, Raka meminta pamit.

"Dil, saya pulang dulu ya?"

Soalnya sudah janjian sama kawan-kawan untuk agenda diskusi.
Raka pun menjabat tanganku sambil mengucapkan.

"Assalamualikum..."

Aku menjawab.

"Waalaikumsalam... hati-hati ya? Banyak anak-anak yang main di sepanjang lorong." Sambil mengunci pintu pagar.

Tangan ini, merasakan kehangatan sambil menatap kepergiannya. Tangan yang begitu halus seperti anak rumahan yang jarang kerja. Tapi setahuku, Raka adalah anak yang baik dan rajin bekerja.

Aku tak pernah merasakan hal terkesan seperti yang telah lewat. Karena ketika sebelum masuk kuliah. Aku habiskan waktuku di perpustakaan milik ayah. Banyak ribuan buku yang berjejer dan tersusun rapi. Mulai dari buku biografi para tokoh dunia, politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, filsafat, dan masih banyak lagi.

Membaca adalah agenda rutin yang diatur dalam rumah tangga. Sebab ayahku seorang Politisi dan ibuku seorang kepala sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan. Setiap pulang sekolah pukul 13.00. aku masuk dalam perpustakaan dan keluar setelah menjelang sholat Magrib.

Sebelum azan, biasa ibu mengetuk pintu.

"Dil... Ayo mandi dulu...!!! sudah mau azan.

"Iya bu..!!! Sisa dua paragraf lagi bu. Nanggung kalau tidak dihabiskan".

Aku dan ibu pergi sholat berjamaah di masjid. Sepanjang jalan, aku menundukan kepala untuk menjaga, biar wudhuku tidak batal.

Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Nama lengkapku Faradillah Abdul Malik. Yang biasa disapa dengan "Dillah". Umurku 20 tahun sama dengan Raka. Banyak kesamaan antara aku dengan Raka. Tapi, yang menjadi pembeda adalah Raka seorang lelaki dan aku adalah perempuan.

Ketika aku masuk di dalam kamar kontrakanku. Hpku berdering memberi kode, kalau ada chatt yang masuk. Tak sabar mendekati Hp dan membuka. Ada chatt WA dari kontak baru menyapaku
"Assalamualaikum... Bagaimana keadaanmu hari ini Dil?"
Lanjutan dari chatt itu...
"Besok kalau tidak sibuk, gabung sama kawan-kawanku, kita diskusi di sekretariat organisasi kami"
Kebetulan besok hari Sabtu dan tak ada aktivitas yang aku agendakan.

Tanpa nama sebagai identitas. Aku jadi penasaran. Tapi alamat yang tertera pada tempat tersebut, tak asing lagi. Sebab ketika pulang kampus, aku melihat banyak orang-orang berkunjung dan keluar-masuk. Ternyata inilah tempat yang biasa dijadikan tongkrongan para aktivis untuk pertemuan dan diskusi.

Walaupun aku mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, tapi aku lebih tertarik dengan dunia gerakan. Tapi gerakan yang murni dan berjuang bersama rakyat. Bukan gerakan yang ditunggangi atau dibayar. Aku berucap dalam hati "Inilah cita-cita, inilah yang aku cari-cari, dan keinginan yang iklas untuk bergabung" Gumamku dalam hati.

Aku tak akan mengabari ayah dan ibuku. Karena mereka pasti akan marah. Apalagi ibu seorang pendidik pasti selalu berpesan "Nak, jangan telibat dalam organisasi gerakan. Karena akan menghambat kuliahmu" Pesan ibu suatu ketika. Tapi itu adalah logika alamiah yang dipakai oleh ibuku. Karena sepengetahuanku, tak ada satu orang hebat pun tanpa melibatkan diri lewat diskusi dan organisasi.

Aku pun mempersiapkan diri untuk menghadiri undangan diskusi melalui pesan chatt kemarin. Sesuai undangan, maka diskusi dimulai pukul 15.00-selesai. Dengan agenda diskusi 'Ekonomi-Politik'. Ini adalah materi yang tak diajarkan di dunia perguruan tinggi yang mengupas tuntas. Karena dalam tuntutan yayasan selalu menekan untuk tak membuka kedok. Biar dalam tiap mata kuliah.

Tiba di sekretariat yang terletak di Suka Mulya VI, aku berjabat tangan ke semua kawan-kawan baru yang berjumlah lebih dari 30 orang. Mataku tertuju pada sosok lelaki yang duduk di samping papan tulis sambil menekan androidnya. Ternyata dia adalah Raka.

Giliran mendekati Raka, aku ingin bertanya, tapi malu-malu. Karena banyak kawan-kawannya di sekelilingku. Walaupun nanti akan tetap jadi kawan juangku. Apalagi banyak juga perempuan yang hadir di diskusi ini. Pasti mereka akan selalu jadi teman sekaligus kawan terbaik.

Diskusi pun dimulai, moderator (Aldy namanya yang kuketahui kemudian hari) membuka diskusi sambil membacakan fasilitator (pemateri) Ekonomi-Politik yang akan dibawakan oleh kawan Raka Abdillah Aziz.

Ternyaa tak salah kata orang. Kalau Raka adalah sosok lelaki yang dikagumi dan berkarismatik. Bagaimana tidak, beliau mampu menjadi seorang penengah dan kawan diskusi bersama kawan-kawan seperjuangannya. Termasuk aku di dalamnya.

Di sini, aku memaknai hidup. Kalau kesendirian itu tak semestinya berlarut-larut. Karena di kala meninggalkan orang yang kita sayangi, setidaknya banyak pengelaman baru dan masalah datang menyapa di depan mata. Sebagai kesyukuran hari-hari sebelumnya kesendirianku. Mampu aku bertemu dengan sosok Raka yang membawaku keluar dari ingatan masa laluku. Sebab tidak, maka aku akan menjadi sosok yang selalu mengikuti aturan keluargaku yang membatasi ruang gerakku untuk berorganisasi.

Sebab, perubahan itu bukan hanya dimulai dengan bekerja sendiri-sendiri. Tapi masalah akan mudah diselesaikan bila dikerjakan berasama-sama. Apalagi, perkumpulan (organisasi) yang membicarakan perubahan besar, yaitu bangsa dan negara.

Jikalau aku bersikukuh dengan jabatan orang tuaku, maka kemungkinan aku akan terlibat dalam kompromi yang maha berang lewat politik pragmatik. Karena ketika di usiaku yang sudah dewasa tapi masih jomblo, aku tak pernah bersikap santai dan jadi anak cengeng. Aku ingin menjadi perempuan yang berjuang, perempuan yang berdiri di garis depan, dan perempuan yang mampu berbicara kemudian dilaksankan dengan praktik yang berkali-kali.

Makassar
Jumat, 30 Maret 2018
By: Djik22

Komentar

Populer

FILOSOFI DAUN PISANG

Harapan dan mimpi dari setiap kepala tidak semua terpenuhi dengan usaha dan praktik. Tapi masih membutuhkan untuk saling dekat dan merespon segala polomik. Di masa yang akhir ini, perutmu telah melahirkan bayi yang masih merangkak dipaksa berjalan di kerikil jalan persimpangan. Dari rawat dan buaian, telah membuka mata batin, mengevaluasi adalah jalan yang tepat. Karena kurangnya menilai dari setiap sisi. Sehingga lahir dua persimpangan kiri kanan jalan. Mata telah terang, langkah sudah tepat, bersama sudah terpupuk, kesadaran mulai bangkit. Berdiri dan bergerak. Saatnya cahaya jadi penerang. Titipan amanah 20 21 11 14 jadi bahan belajar bersama. Filosofi "Daun Pisang dan Bidikan Panah yang Tepat" telah ditemui jawaban dan makna yang dalam. Dia bukan sekedar kata, tapi dialah nyawa setiap yang di dalam. Makassar, April 2017 By: Djik22

TOGAKU TAK IBU SAKSIKAN

Perjuanganmu ibu Mengantarkanku meraih mimpi Mataku lembab berhari-hari Setiap saat mengingat ibu Harapan ibu Aku tetap kuat Aku tetap melaju Tapi ibu Saat bahagiaku Takku tatap lagi ibu Wajah bersinar hadir dalam mimpiku Kala itu ibu Ibu Toga dan pakian kebahagiaanku Semua untuk ibu Togaku tak ibu saksikan Karena ibu telah tiada Yakinku ibu senyum melihatnya Tetap tersenyum di sisiku ibu Dua puluh tiga November dua ribu tiga belas Dua kali dengan angka tiga Ibu telah berbaring bergegas Makassar Minggu, 1 Oktober 2017 By: Djik22

PERLUKAH JEMBATAN PALMERAH?

Sedikit menggelitik, ketika wacana pembangunan jembatan Palmerah. Wacana ini, hadir di beberapa tahun terakir. Di tahun 2017, tidak kala seksi pendiskusian jembatan Palmerah. Maka muncullah pro dan kontra. Padahal merefleksikan wacana ini sangat penting. Kenapa Wacananya Jembatan Palmerah? Mari kita menganalisa secara seksama. Pertama, jembatan Palmerah adalah sejarah pertama di Indonesia bila terbangun. Karena menyambungkan dua pulau, yaitu Pulau Adonara dan Pulau Flores (Larantuka). Jarak jembatan Palmerah dengan panjang bentangan 800 meter akan dipasang turbin 400 meter. Kedua, persoalan proses pembangunan jembatan Palmerah dibutuhkan dana tidak sedikit. Diperkirakan dana mencapai Rp. 51 triliun. Hal ini, perlu dipikirkan. Karena Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTT pada tahun 2016 hanya mencapai Rp. 3,8 triliun. Sama halnya pemerintah mengajak kita mengutang dengan investor (swasta). Ketiga, jembatan Palmerah bukan proses meninabobokan masyarakat Flores Timur

ADONARA DALAM PUISI

Petuah kata sejarah Masih temani kaki untuk melangkah Dalam bayang-bayang ibu kuatkan hari Dalam jelmaan ayah pancarkan cahaya hati Hingga tebal awan kota Ingatkan suasan desa Dihimpit berdiri megahnya Ile Boleng Didekatkan Bukit Seburi tanah kampung Karena kitalah gunung yang berdiri Karena kitalah bukit yang menyapa Membawa bisikan bahari Ketika menghadap ke arah pantai Sampai kata dan petuah terus mengikut Wariskan api dari generasi ke generasi Tentang pentingnya menjaga kata Tentang indahnya memakai tenun ikat Maka... Tak kulupakan petuah indah dan keramat Tak kuingkari segala kata-kata bernyawa Di atas alam ditaburi darah dan air mata Karena air mata Bukan hanya tentang tangisan Bukan hanya tentang derita tanpa rasa Namun air mata darah tanda perjuangan Maka... Untuk mengingatmu yang di gunung Untuk mengenangmu yang di pantai Aku mengisi kata-kata lewat puisi Karena darah dan bisikan kata terus diasa Biar perang telah terganti buka dan pena

ANTARA (576)

Sering ada perbandingan pada kata 'antara' ketika diapit oleh kalimat. Antara kau dan aku ternyata banyak perbedaan, antara kau dan dia memiliki banyak kesamaan. Antara pacar dan mantan adalah orang yang pernah berlabu dan sementara bertahan. Baik terkandas di tengah jalan, mau pun mampu melewati batas getir yang melampau kesabaran. Namun, pada kata 'antara' seolah jadi misteri yang tersembunyi. Serupa kolom kosong yang disembunyikan dengan untain doa. Lalu, dipercaya menjadi sebuah legenda atau mitos. Bagaimana sesuatu yang dipercaya tapi tak pernah diinderai? Apakah setan yang berpenampilan putih pada malam Jumat hanya menakut-nakuti? Kemudian muncul pertanyaan, siapa yang menjahit pakian putih yang dipakai setan? Ulasan ini, aku dapati saat duduk di bangku SD. Sang guru selalu menakut-nakuti pada setiap siswa. Bahwa malam Jumat selalu ada tanda ketika melewati tempat-tempat gelap. Saat itu, aku dan kawan-kawan sebayaku selalu percaya. Namun, batang hidung p

KARYAMU TETAP MEMIKAT

Foto: Abdul Rahim (Khalifah05) Ketika doa-doa Telah kau panjat Dengan lemah-lembut Pada Tuhan Yang Esa Tak lupa pula Pintamu Pada para pendahulu Dengan merinding bulu-bulu Begitu dalam penghayatan Bersama angin Bersama waktu Bercampur masa lalu Maka... Yakin pun mendalam Tak secuil akan buram Tampak pada kaca belaka Namun ia selalu melekat Selalu mempererat Antara roh dan jasat Hingga karyamu tetap memikat Makassar Jumat, 21 September 2018 By: Djik22

PEMUDA SAHABAT PERUBAHAN (397)

Indonesia adalah negara yang terdiri dari ragam perbedaan. Baik suku, ras agama, budaya, dan corak berpikir. Inilah bagian kekhasan dari bangsa ini. Dengan kekhasan tersebut, maka tak heran bangsa Indonesia dikenal dengan kemajemukan dan menjujung tinggi perbedaan. Sebab perbedaan adalah varian dari semangat menuju persatuan. Belum lagi menerobos batas wilayah yang terdiri dari beberapa provinsi. Perlu kita menelisik lebih jauh lagi tentang bagaimana membangun tatanan bangsa. Supaya mampu keluar dari zona ketertinggalan. Ternyata, ketertinggalan adalah salah satu masalah dari apa yang dirasakan setelah revolusi Indonesia didengungkan. Walau merdeka secara pengakuan sudah memhudata sampai ke telinga anak cucu. Tapi pertanyaan besar yang harus dijawab, Kenapa merdeka secara praktik/ penerapan jauh panggang dari api? Ketika secara penerapan dalam kehidupan berbangsa mulai melenceng dengan dasar negara, maka harus kembali mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang telah diletakan oleh