Langsung ke konten utama

HARI DEPAN #1 /PTJ/ 189

Adalah keringat yang meleleh
Adalah usaha tanpa henti
Sebrangi tantangan hutan belantara hari
Lewati batas patok keadaan bersejarah

Muncullah sebuah teguran di awal
Saat kaki melangkah penuh semangat
Saat itu juga sebuah kata-kata menjepit
Menghajar kemalasan diri yang kebal

Dan sebuah insiatif baru untuk tetap maju
Biar segala tantangan datang merayu
Namun tak mudah patahkan semangat
Songsong hari depan dengan berusaha laju

Dunia modern menampakan diri dengan segala kemudahan. Banyak yang ditawarkan untuk menjangkau semesta. Dengan modal sebuah android di tangan, serta kekuatan data GB menerawang batas-batas yang tersembunyi. Semua mudah diakses. Tinggal kenakalan tangan dan bendungan pikiran jernih yang menghalaui.

Dan hari ini terbukti. Banyak hal yang menampakan diri dalam jelmaan rupa-rupa. Ada yang mengajak, ada yang menghasut, dan ada yang mencoba berdiri netral. Ialah semua tantangan zaman penuh kepentingan. Semua yang terjadi saling kait mengait dan saling berhubungan.

Titik star sudah dipencet lewat keyboard android yang suka terang-benerang. Merayu dengan hilang-timbul layar yang mau terkunci. Menggoda dengan keinginan manusia jelajahi dalam penacarian di nenek Google. Serta aplikasi lain yang tak kala canggihnya.

Kecanggihan itu harusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dengan menggambil segala kebaikan. Dan membuang yang buruk. Hingga otak terus terlatih tanpa duga-sangka persembunyian bukti. Dalam dunia gemerlap carut-marut kegaduhan yang tiada henti. Maka, marilah menggunakan pikiran jernih untuk meneropong segala hal. Singkirkan kepala batu dan benalu yang suka mengadu-domba.

○○★★★○○

Kembali ke sepuluh tahun silam. Sebuah masa lalu yang pelik. Penuh tekanan dan cobaan kala kaki melangkah. Mencoba menerobos batas-batas terlarang yang dianggap keramat. Semua karena faktor budaya dan kebiasaan yang dipercaya secara turun-temurun. Sampai, nasib anak cucu terbelenggu dalam dogma kepasrahan. Tanpa harus mencari titik makna yang tersembunyi dibalik semua itu.

Dalam deras angin di hutan belantara. Seorang pengkenala ingin menjelajahi semua yang masih tersembunyi. Dengan kepercayaan "Jika jalan yang ditempuh adalah tetap berdiri kebenaran, maka semua akan menuai hasil yang dicita-citakan" walau kelelahan akan menjara menguras tenaga.

Pengkelana itu tetap percaya pada segala petuah-petuah. Dan ia masih saja berjalan di tengah hutan yang penuh siulan burung-burung malam. Tapi, tak ada ketakutan sedikitpun. Sampai, ia bertemu sebuah terang yang tepat berpijar pada gubuk peninggalan. Nampak senyum dari rautnya yang dialiri keringat itu.

Ternyata, itulah peninggalan masa lalu para pendahulu. Yang sering berkumpul untuk melepas kepenatan. Dan melahirkan kesepakatan-kesepakatan yang sakral. Sampai sang pengkelana tunduk memberi hormat atas sebuah keajaiban dan usaha para pendahulu meninggalkan sebuah bukti. Hingga ia tak kesasar. Seolah-olah ada bisikan untuk mendekati gubuk tua itu.

Dan ia menghabiskan malamnya untuk menjemput pagi. Terbayang dalam pikirannya. Dunia nyata seolah dalam mimpi. Dari nasib terbaik para penjelajah yang mencoba memecahkan teka-teki. Dengan konsekuensi maut akan menjadi bayaran. Tapi, ia tak takut demi sebuah penemuan.

Ada kebahagiaan tersendiri terpancar. Saat cahaya bulan turun pelan-pelan. Saat-saat terindah mengantarkan bayanganya tentang hutan belantara. Ia mampu berpijak dengan kakinya yang lelah dan tenaganya yang tersisa. Sambil, menyandarkan bahunya di tiang tua itu. Lalu, pagi menyongsong. Ia pulang ke tempat awal-mulanya. Ialah rumah.

○○★★★○○

Akhirnya, sang pengkelana menceritak ulang kisah itu kepada generasi dan penerusnya. Kalau disusun kembali, maka akan seperti ini:

Dengarlah wahai genenasi pelanjutku. Aku, tak bisa wariskan kalian harta-benda yang melimpah. Tapi, aku wariskan semangat dan kebulatan tekad untuk tetap berdiri pada kebenaran. Karena, sedikit tidaknya aku pernah menjelajahi hutan belantara yang dianggap tempat terlarang. Di situ kutemukan sebuah ilham menjadi generasi yang tetap menjunjung tinggi sebuah prninggalan peradaban.

Jika, terdapat kekurangan dalam ceritaku. Maka penuhilah dengan sebisa tenagamu. Dan kalau terdapat beberapa kekeliruan, maka segerahlah mencari kawan untuk didiskusikan bersama. Biar, cerita kebaikan ini tak mati dimakan waktu. Apalagi, ini tentang sebuah penemuan.

Karena hidup adalah soal keberanian. Berbahagialah orang-orang yang mengelilingi dunia. Dan menemukan sebuah temuan baru yang dijadikan contoh kepada generasinya. Maka, pesan yang akan aku teruskan adalah "Saling merangkul sebagai manusia, jangan pandang buruk antarsemesa, jangan perdebatkan sesuatu yang hanya membuang waktu. Tapi, carilah sebanyak-banyaknya kebaikan. Karena hidup hanyalah sementara. Dunia dan semeta bukan untuk diperdebatkan. Apalagi, yang kita debatkan adalah Pencipta."

Masih banyak yang harus dibenahi. Walau keadaan sering menindas. Baik penindasan manusia atas manusia dan penindasan bangsa atas bangsa. Tapi, ketika hatimu bergerak untuk memberantas semua itu, maka banyak pengelaman baru yang kau lalui. Setidaknya, perjuanganmu bukan untuk dirimu sendiri. Tapi perjuanganmu adalah untuk orang banyak.

Jangan harapkan balasan atas apa yang kau kerjakan. Tapi, serahkanlah semua balasan dari Pencipta. Yakinkan dirimu, kalau batas patok zaman akan berbeda setiap perputaran waktu. Jika, saat zaman dan generasiku penuh kekurangan, maka lengkapilah dengan sebisa tenagamu.

Apalagi, duniamu sekarang lebih cangggih. Memasuki sebuah zamab modern. Dengan segala kelengkapan dan cobaan yang tiada henti. Semua penuh kepentingan dan saling kait-mengait. Asalahlah keberanian dan nalar kritismu. Biar tak terjebak pada kebodohan dan kemanjaan dunia. Sebab, kalian kudidik dengan keringat dan darah sebagai petarung yang siap bertempur. Kiranya, bertempurlah dengan menggunakan perhitungan matang. Jangan angkat lagi parang dan tombak saling melukai. Tapi, angkatlah pena menari dalam kata. Dan sediakanlah lembar demi lembar kertas untuk ditulis.

Dan kalau kau temukan semua kecanggihan dari tawaran zaman. Maka, bersikap adillah memetik hikmah dibalik penyedian globalisasi. Dan ingat, globalisasi bukanlah suatu keniscayaan. Semua adalah kekuatan daya saing dari para pemilik modal. Yang tiba mencari ruang-ruang bari demi pemasaran dan penambahan modal. Ingat, negeri kita adalah salah satu bidikan setiap negara yang punya kepentingan.


Makassar
Sabtu, 23 Februari 2019
By: Djik22

Komentar

Populer

FILOSOFI DAUN PISANG

Harapan dan mimpi dari setiap kepala tidak semua terpenuhi dengan usaha dan praktik. Tapi masih membutuhkan untuk saling dekat dan merespon segala polomik. Di masa yang akhir ini, perutmu telah melahirkan bayi yang masih merangkak dipaksa berjalan di kerikil jalan persimpangan. Dari rawat dan buaian, telah membuka mata batin, mengevaluasi adalah jalan yang tepat. Karena kurangnya menilai dari setiap sisi. Sehingga lahir dua persimpangan kiri kanan jalan. Mata telah terang, langkah sudah tepat, bersama sudah terpupuk, kesadaran mulai bangkit. Berdiri dan bergerak. Saatnya cahaya jadi penerang. Titipan amanah 20 21 11 14 jadi bahan belajar bersama. Filosofi "Daun Pisang dan Bidikan Panah yang Tepat" telah ditemui jawaban dan makna yang dalam. Dia bukan sekedar kata, tapi dialah nyawa setiap yang di dalam. Makassar, April 2017 By: Djik22

TOGAKU TAK IBU SAKSIKAN

Perjuanganmu ibu Mengantarkanku meraih mimpi Mataku lembab berhari-hari Setiap saat mengingat ibu Harapan ibu Aku tetap kuat Aku tetap melaju Tapi ibu Saat bahagiaku Takku tatap lagi ibu Wajah bersinar hadir dalam mimpiku Kala itu ibu Ibu Toga dan pakian kebahagiaanku Semua untuk ibu Togaku tak ibu saksikan Karena ibu telah tiada Yakinku ibu senyum melihatnya Tetap tersenyum di sisiku ibu Dua puluh tiga November dua ribu tiga belas Dua kali dengan angka tiga Ibu telah berbaring bergegas Makassar Minggu, 1 Oktober 2017 By: Djik22

PERLUKAH JEMBATAN PALMERAH?

Sedikit menggelitik, ketika wacana pembangunan jembatan Palmerah. Wacana ini, hadir di beberapa tahun terakir. Di tahun 2017, tidak kala seksi pendiskusian jembatan Palmerah. Maka muncullah pro dan kontra. Padahal merefleksikan wacana ini sangat penting. Kenapa Wacananya Jembatan Palmerah? Mari kita menganalisa secara seksama. Pertama, jembatan Palmerah adalah sejarah pertama di Indonesia bila terbangun. Karena menyambungkan dua pulau, yaitu Pulau Adonara dan Pulau Flores (Larantuka). Jarak jembatan Palmerah dengan panjang bentangan 800 meter akan dipasang turbin 400 meter. Kedua, persoalan proses pembangunan jembatan Palmerah dibutuhkan dana tidak sedikit. Diperkirakan dana mencapai Rp. 51 triliun. Hal ini, perlu dipikirkan. Karena Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTT pada tahun 2016 hanya mencapai Rp. 3,8 triliun. Sama halnya pemerintah mengajak kita mengutang dengan investor (swasta). Ketiga, jembatan Palmerah bukan proses meninabobokan masyarakat Flores Timur

ADONARA DALAM PUISI

Petuah kata sejarah Masih temani kaki untuk melangkah Dalam bayang-bayang ibu kuatkan hari Dalam jelmaan ayah pancarkan cahaya hati Hingga tebal awan kota Ingatkan suasan desa Dihimpit berdiri megahnya Ile Boleng Didekatkan Bukit Seburi tanah kampung Karena kitalah gunung yang berdiri Karena kitalah bukit yang menyapa Membawa bisikan bahari Ketika menghadap ke arah pantai Sampai kata dan petuah terus mengikut Wariskan api dari generasi ke generasi Tentang pentingnya menjaga kata Tentang indahnya memakai tenun ikat Maka... Tak kulupakan petuah indah dan keramat Tak kuingkari segala kata-kata bernyawa Di atas alam ditaburi darah dan air mata Karena air mata Bukan hanya tentang tangisan Bukan hanya tentang derita tanpa rasa Namun air mata darah tanda perjuangan Maka... Untuk mengingatmu yang di gunung Untuk mengenangmu yang di pantai Aku mengisi kata-kata lewat puisi Karena darah dan bisikan kata terus diasa Biar perang telah terganti buka dan pena

ANTARA (576)

Sering ada perbandingan pada kata 'antara' ketika diapit oleh kalimat. Antara kau dan aku ternyata banyak perbedaan, antara kau dan dia memiliki banyak kesamaan. Antara pacar dan mantan adalah orang yang pernah berlabu dan sementara bertahan. Baik terkandas di tengah jalan, mau pun mampu melewati batas getir yang melampau kesabaran. Namun, pada kata 'antara' seolah jadi misteri yang tersembunyi. Serupa kolom kosong yang disembunyikan dengan untain doa. Lalu, dipercaya menjadi sebuah legenda atau mitos. Bagaimana sesuatu yang dipercaya tapi tak pernah diinderai? Apakah setan yang berpenampilan putih pada malam Jumat hanya menakut-nakuti? Kemudian muncul pertanyaan, siapa yang menjahit pakian putih yang dipakai setan? Ulasan ini, aku dapati saat duduk di bangku SD. Sang guru selalu menakut-nakuti pada setiap siswa. Bahwa malam Jumat selalu ada tanda ketika melewati tempat-tempat gelap. Saat itu, aku dan kawan-kawan sebayaku selalu percaya. Namun, batang hidung p

KARYAMU TETAP MEMIKAT

Foto: Abdul Rahim (Khalifah05) Ketika doa-doa Telah kau panjat Dengan lemah-lembut Pada Tuhan Yang Esa Tak lupa pula Pintamu Pada para pendahulu Dengan merinding bulu-bulu Begitu dalam penghayatan Bersama angin Bersama waktu Bercampur masa lalu Maka... Yakin pun mendalam Tak secuil akan buram Tampak pada kaca belaka Namun ia selalu melekat Selalu mempererat Antara roh dan jasat Hingga karyamu tetap memikat Makassar Jumat, 21 September 2018 By: Djik22

PEMUDA SAHABAT PERUBAHAN (397)

Indonesia adalah negara yang terdiri dari ragam perbedaan. Baik suku, ras agama, budaya, dan corak berpikir. Inilah bagian kekhasan dari bangsa ini. Dengan kekhasan tersebut, maka tak heran bangsa Indonesia dikenal dengan kemajemukan dan menjujung tinggi perbedaan. Sebab perbedaan adalah varian dari semangat menuju persatuan. Belum lagi menerobos batas wilayah yang terdiri dari beberapa provinsi. Perlu kita menelisik lebih jauh lagi tentang bagaimana membangun tatanan bangsa. Supaya mampu keluar dari zona ketertinggalan. Ternyata, ketertinggalan adalah salah satu masalah dari apa yang dirasakan setelah revolusi Indonesia didengungkan. Walau merdeka secara pengakuan sudah memhudata sampai ke telinga anak cucu. Tapi pertanyaan besar yang harus dijawab, Kenapa merdeka secara praktik/ penerapan jauh panggang dari api? Ketika secara penerapan dalam kehidupan berbangsa mulai melenceng dengan dasar negara, maka harus kembali mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang telah diletakan oleh